Review Buku: Bidadari Tak Suci

Assalamu'alaikum semuanya, selamat pagi, sore dan malam sesuai dengan waktu teman-teman membaca tulisan saya ini :D.


Oke, kali ini saya akan menuliskan review buku novel "Bidadari Tak Suci" yang ditulis oleh Fissilmi Hamida. Buku ini diterbitkan oleh Nea Publishing pada tahun 2020. Buku yang saya baca ini merupakan cetakan yang ke-3 dengan jumlah 320 halaman. Tidak begitu tebal bagi kamu yang menyukai membaca buku. Oke langsung saja masuk ke bagian review buku.


Review buku (saya menggunakan bahasa bebas agar tidak terkena coppyright, namun tidak jauh dari isi buku yang sebenarnya)

Kembang Mayang namanya, seorang gadis yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga. Pekerjaan yang merupakan sumber penghasilan utama ini Ia gunakan untuk membantuk mencukupi kebutuhan orang tuanya di desa. Namun malang tak dapat dihindar, kejadian yang menyakitkan menimpanya, sehingga memaksanya untuk kembali ke kampung halaman dengan berbadan dua.


Seluruh warga, tua muda mencemooh, memojokkan, menganggap Ia pendosa yang hina, bahkan tak segan-segan melukainya. Orang tua Mayang pun tak menerima keadaan sang anak yang telah mencoreng kehormatan mereka. Pun ketika Mayang mengaji, hinaan demi hinaan Ia terima. Ia yang tidak suci dianggap tidak pantas untuk mengaji lagi. Dan akhirnya seorang ketua RT beserta istrinya dengan suka rela dan senang hati menyediakan tempat tinggal untuk Mayang. Mereka menganggap Mayang anak mereka sendiri, tersebab anak mereka merupakan teman bermain Mayang saat kecil.


Semua orang di desa penasaran siapa ayah dari si jabang bayi yang dikandung oleh Mayang. Sampai kemudian tibalah waktu kelahiran. Seorang bayi tampan dengan mata kehijauan dan rambut keemasan membuat geger warga desa. Oleh pak RT bayi mungil itu diberi nama Seno Aji. Seluruh warga penasaran bagaimana rupa dari bayi bule tersebut. Mereka yang semula datang mengecam, kini mereka ngantri untuk melihat wajah tampan anak Mayang.


Demi melihat tampang sang bayi, gunjingan warga desa kian menjadi. Pak RT pun meminta warga desa untuk berkumpul di balai desa. Ia ingin menjelasan kepada warga desa siapa ayah dari sang bayi sebenarnya. Hal yang harus Ia lakukan, agar Mayang bisa terlepas dari prasangka dan kejahatan warga.


Setelah semua warga berkumpul, Pak RT mulai menjelaskan asal usul dari sang bayi yang ternyata merupakan anak hasil dari korban pem******. Semua warga kini bersimpati dan iba, meminta maaf atas apa yang mereka lakuan, termasuk kedua orang tua Mayang yang kemudian bisa menerimanya dengan rasa simpati serta rasa sedih yang tak terkira.


Oscar William Dexter merupakan majikan yang telah melakukan pem****** itu. Tersebab pengaruh alkohol yang Ia minum, Ia mengira jika Mayang yang saat itu mencoba pakaiaan pemberian Clara, merupakan istrinya. Sehingga terjadilah hal yang memilukan.


Menjadi buruh di sawah Mayang lakukan demi mencukupi kebutuhan sang anak yang kini sudah beranjak besar. Namun pekerjaan itu ternyata tidak mencukupi kebutuhan untuk keluarganya. Hingga akhirnya Ia menerima tawaran untuk bekerja sebagai pembantu kembali di Jogja. Ia akan bekerja menemani sang majikan yang lumpuh tidak bisa berjalan.


Alexander merupakan majikan baru Mayang yang lumpuh akibat kecelakaan. Lara sang majian kian besar akibat kehilangan sang istri dan anak sekaligus dalam kecelakaan tersebut. Hal yang membuat Ia terpuruk dengan keadaan. Semangat hidupnya kian redup.


Beberapa bulan setelah bekerja di majikan baru, Seno Aji ingin mampir ke tempat kerja sang ibu. Pak RT dan sang istri yang ingin mengunjungi anak mereka yang kuliah di Jogja ingin mengajak Seno serta untuk bertemu dengan ibunya. Sebagai seorang majikan yang telah kehilangan anak, kehadiran Seno ternyata mampu mengobati sedikit rasa sepi yang Alexander rasakan. Seno dan Alexander kemudain saling menyanyangi, termasuk kini Alexander mulai menyimpan rasa dengan Mayang.


Bagaimana ending dari cerita ini? Apakah Mayang akan menikah dengan Alexander ataukah malah menikah dengan Oscar? Teman-teman bisa membaca langsung bukunya ya.


PoV


Menurut saya novel ini recomended untuk dibaca. Bagi kamu yang suka membaca novel, judul buku ini bisa masuk dalam list buku yang akan dibaca. Buku ini sangat menarik, bahkan saya menamatkan buku ini kurang dari 12 jam:D.


Maaf saya tidak mereview sampai tuntas. Semoga spoiler tentang buku ini akan menambah rasa penasaran teman-teman tentang buku sebenarnya yang sangat jauh lebih lengkap, lebih baik, dan lebih mendebarkan jika dibandingkan dengan sinopsis yang 'seuprit' ini. 


Membaca buku secara langsung merupakan cara kita menghargai penulis. Penulis yang telah menuangkan ide, gagasan, waktu, tenaga dan semuanya yang membuat tulisan ini hadir di tangan kita. Agar para penulis lebih semangat dalam berkarya yang karyanya bisa dinimati oleh masyarat pembaca.
Jika teman-teman ingin membeli bukunya, bisa langsung pesan melalui instagram Neapublishing. Happy reading.

Botol Bekas dan Selang Bensin

 Matahari kian menyengat. Pakaian yang aku kenakan terasa basah oleh keringat yang mengalir deras seperti air hujan. Ini bukan kali pertama aku harus menuntun motor yang tiba-tiba mogok di tengah jalan. Terhitung sudah tiga kali selama bulan ini. Huft, aku kesal, kesal dengan diri sendiri kenapa dulu aku membeli motor ini.


    Motor butut yang aku beli saat mendapatkan gaji pertama ini, ternyata tidak bisa diajak kompromi. Permasalahannya hampir sama, sangat moody, sering ngambek tidak mau jalan. Keputusan untuk membeli motor second memang tiba-tiba aku lakukan. Pekerjaan menjadi seorang sales dengan aktivitas di luar memaksaku untuk segera mengambil pilihan ini. 


    Jika aku hanya menawarkan peralatan memasak di area kos tempatku tinggal, maka pendapatkan yang aku peroleh akan lebih sedikit dibandingkan pekerja yang memilih menawarkan produk mereka ke daerah lain yang lebih jauh. Sehingga aku memutuskan untuk membeli motor butut ini setelah mendapat gaji pertama. Berbekal dengan pengetahuan yang tidak ada sama sekali tetang otomotif, aku tertarik dan membeli motor yang terlihat cantik saat ditawarkan di media sosial.


    Tanpa perlu survey terlebih dahulu, besoknya aku meminta penjual untuk mengirimkan motornya ke kos tempatku tinggal. Terlihat sempurna awalnya, ternyata motor itu benar-benar ‘sakit’, hal yang baru aku ketahui setelah motor aku terima. Mau komplain juga tidak bisa, penjual sudah mengeblock nomorku, apesnya aku sudah terlanjur melunasi pembayaran motor ini. Asas percaya ternyata membawa kecewa karena ketledoranku dan tentu saja berbuah omelan dari kedua orang tuaku.


    Setengah jam sudah aku menuntun motor. Sesekali aku naiki motor dengan mengayuhkan kaki. Saat jalanan turun, perjalanan terasa ringan. Namun, ketika jalan sedikit menanjak, barulah terasa betapa beratnya motor ini. Jarak rumah dan kostku memang  tidak jauh, hanya dua jam jika ditempuh dengan motor dan akan lebih lama jika aku menggunakan kendaraan umum yang biasanya akan ngetem cukup lama sampai bus penuh dengan penumpang.


    Jalan yang aku lalui ini memang bukan jalan raya yang ramai dilewati oleh lalu lalang kendaraan, hanya beberapa penduduk desa yang pergi bekerja ke ladang. Namun, saat ini aku berada di tengah-tengah hutan yang jauh dari area pedesaan. Kakiku sudah tak kuat lagi melangkah sehingga aku putuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon rindang di tepi jalan.


    Sejuk, semilir angin bertiup lembut. Nyanyian burung menambah lengkap suasana. Perlahan aku pejamkan mata. Memoriku berkelana mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
“Ayah kenapa selalu bawa botol bekas dan selang di jok motor?” tanyaku penasaran.
“Coba tebak?” yang tanya malah balik tanya.
“Ya sudah Nina ngga mau tau.” Jawabku dengan pura-pura memasang wajah kesal. Ayahku terkekeh melihat tingkah lakuku.
“Duh cah ayu. Begitu saja nesu.” Sambil tangan kanannya menepuk-nepuk pelan kepalaku.
“Jadi, botol bekas ini buat wadah bensin dan selang ini untuk menyedot bensin yang ada di tangki motor.”
Aku masih diam tidak tahu maksud jawaban Ayah.
“Ayah mau jualan bensin?” tanyaku dengan pede-nya
    Ayahku terpingkal-pingkal mendengar jawabannku. Sampai-sampai tubuhnya ikut bergetar. Aku hanya melihat dengan tatapan sinis. Merasa kalau anaknya mulai marah, Ayah cepat-cepat menjelaskan lagi.


“Bensin itu bukan Ayah jual. Melainkan Ayah berikan kepada orang yang membutuhkan. Misalnya saja di tengah-tengah jalan ada orang yang kehabisan bensin, maka Ayah bisa menawarkan bantuan memberikan bensin yang Ayah miliki. Meskipun Ayah tidak bisa berbuat banyak kebaikan seperti orang lain yang mampu memberikan sedekah berjuta-juta atau bahkan milyaran rupiah, Ayah hanya ingin melakukan sedikit kebaikan yang bisa Ayah lakukan untuk orang lain” 


    Aku mengakat keempat jari jempolku, termasuk jempol jari kaki, sambil mengucapkan “Keren”.
    Ayah yang melihat responku, bersikap seolah-olah menyibak rambut poninya, yang sebenarnya tidak ada karena baru saja Ia cukur plontos rambutnya. Tidak tertinggal Ia menjawab “Ayah siapa dulu dong”


    Aku hanya terkekeh melihat tingkah polah Ayah yang usianya terpaut 40 tahun denganku itu. Ia memang menjadi sosok Ayah yang mencoba membaur dengan anak-anaknya. Berkaitan dengan bensin tersebut, aku jadi teringat sebelum Ayah ke luar rumah, Ia selalu memastikan tangki bensin motor yang Ia kendarai selalu penuh. Ternyata ini alasannya.


“Jadi, Kakak bisa meniru apa yang Ayah lakukan ini. Siapa tahu di tengah jalan nanti Kakak bertemu dengan orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan” Ayah memintaku dengan senyum simpul diwajahnya.
    Aku hanya tersenyum mengiyakan. Hal yang belum aku lakukan sampai saat ini.
Tiba-tiba pundakku ditepuk perlahan
“Nduk, bangun” lamat-lamat terdengar suara laki-laki asing terdengar.
Aku masih memejamkan mata, setengah tertidur.
“Nduk, bangun nak” kini berganti dengan suara seorang perempuan.
Aku membuka mata. Karena wajah mereka hanya berjarak lima belas senti dari wajahku, aku berteriak dengan kencang yang membuat kesadaraanku kembali sepenuhnya.
“Bapak Ibu siapa?” Suaraku masih terdengar parau
“Oh kami tadi baru pulang dari sawah ketika kami melihati adik tertidur di bawah pohon. Kami kira adik tadi terluka” Sang ibu paruh baya mencoba menjelaskan.
Dengan wajah yang menahan malu, aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Oalah, padahal jalan sepuluh menit lagi, adik bisa bertemu dengan bengkel di sebelah sana.” Sang lelaki mencoba menunjukkan lokasi bengkel dengan arah tanggannya.
“Wah dekat ya pak. Tapi saya terlajut capek Pak tadi, jadi saya mencoba istirahat, ternyata malah kebablasan dua jam” jawabku dengan tersenyum.
“Ya sudah nak, kamu naik motor bapak saja. Bocengan dengan Ibu, nanti Bapak yang akan bawa motormu ke bengkel.”
“Jangan Pak, biar saya sendiri” jawabku segan merepotkan orang yang baru aku temui juga tidak aku kenal.
“Nggak papa Nak. Kami juga punya anak yang merantau. Kami membayangkan anak kami berada di posisi adik, pasti sangat kesulitan” Sang istri mencoba meyakinkanku.


    Setelah melihat kesungguhan wajah kedua orang asing tersebut, Aku akhirnya meng-iyakan bantuan mereka.


    Kami pun kemudian bergegas berkendara menuju bengkel yang mereka maksud. Tiga puluh menit kemudian motorku berhasil dinyalakan. Ternyata bensinku benar-benar habis, ditambah lagi dengan oli yang sekarat yang membuatku harus menggati dengan oli baru.


    Rumah pasangan suami istri yang menolongku ternyata berada tepat di samping bengkel. Mereka mengajakku mampir kerumah mereka dan memberiku makan siang saat motorku diperbaiki. Mungkin mereka merasa iba dengan tampang melasku.


“Terima kasih pak bu untuk bantuannya” Kataku sebelum berpamitan
“Ngga usah sungkan besok-besok mampir ya kalau pas pulang”
“Bawa ini juga. Bisa dimakan bareng-bareng di kos dengan teman lain” Sang ibu menyodorkan tas yang terlihat sangat berat.
“Nggak usah bu. Terima kasih banyak sudah membantu saya” Jawabku dengan cepat, mencoba untuk tidak merepotkan mereka lagi.
“Nggak boleh menolak rezeki nak. Ayo diterima”
    Aku pun menerima tambahan kebaikan yang mereka berikan. Motor yang aku kendarai mulai melaju, meninggalkan bengkel dan orang baik tersebut. Di tengah jalan aku menguatkan niat di dalam hati “aku juga akan berbuat baik seperti Ayahku dan berbuat kebaikan lain yang bisa aku lakukan, seperti bapak ibu tadi.” 


    Kendaraan pun melaju meninggalkan rasa kecewa yang berganti dengan rasa syukur atas kejadian yang sudah menimpa.

Review Film: Ranah 3 Warna

Assalamu'alaikum semuanya. Setelah kemarin saya menulis cerpen perdana, kali ini saya akan mereview film yang berjudul 'Ranah 3 Warna' yang diangkat dari judul buku yang sama karya A. Fuadi.
Film ini merupakan trilogi dari buku Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. Karya pertama juga difilmkan beberapa tahun yang lalu. Film Ranah 3 Warna mulai tayang di bioskop tanggal 30 Juni 2022.


Review
Film dibuka dengan menampilkan dua orang anak laki-laki yang mengobrol di tepi sebuah danau (Danau Maninjau kalau di novel).
'Mau kuliah di mana setelah lulus Pesantren?' tanya Randai 'kamu kan tidak punya ijazah SMA, mau ikut SMPTN pakai apa?.' Tawanya mengejek Ali.

'Kalau aku berusaha ya bisa.' jawab Alif dengan nada tinggi, kesal melihat tampang songong Randai yang saat itu sudah di terima kuliah di Institut Teknologi Bandung.
 

Sementara beberapa anak laki-laki lain yang berada di atas pohon menyahut '' Jadi guru ngaji saja lif, ngga usah kuliah.' yang lainnya juga menambahkan 'atau jadi nelayan saja lif' mereka tergelak bersama kecuali Alif.


Tidak mendapatkan ijazah saat lulus dari Pesantren, membuat Alif harus berjuang keras untuk mengikuti ujian paket C yang kemudian dilanjut dengan ujian SMPTN. Berbekal tekat kuat, kerja keras untuk belajar materi-materi pelajaran yang belum pernah Ia dapatkan membuatnya berjibaku dengan buku-buku.


Sebuah bus Harmoni yang dinanti tak kunjung datang. Pasalnya pengumuman ujian SMPTN dimuat di koran, sang ayah pesankan ke pak sopir yang datang dari kota. Lama yang ditunggu kemudian datang, satu per satu nama diperiksa, namun tak jua mereka menemukan nama Alif pada daftar mahasiswa yang diterima. Merasa bahwa Alif tidak diterima, sang ayah memberikan koran sepenuhnya ke Alif.


'Kita pulang saja' Sang Ayah terlihat tidak bersemangat.
Alif masih mencoba memeriksa koran tersebut
'Ayah, masih ada halaman yang belum kita periksa' Ia berteriak mencegah ayahnya berjalan lebih jauh lagi.
 

Bersama-bersama mereka memeriksa halaman tersebut dan ternyata nama 'Alif Fikri' tertera. Serentak mereka melakukan sujud syukur di tepi jalan raya, tempat mereka menunggu bis Harmoni yang terbiasa lewat.


Perjalanan Alif menuju Bandung untuk melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro pun dimulai, Ia mengambil jurusan Hubungan Internasional. Sang ayah membekalinya sebuah sepatu yang didapatkan dari menjual motor butut satu-satunya yang Ia miliki. Perpisahan yang mengharukan terjadi. Sang ayah memeluk Alif sangat lama sekali, seperti merasakan bahwa itulah pelukan terakhir untuk anaknya. Sang ibu juga berpesan "Di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung. Berbuat baiklah di tempat lain."
 

Sebuah payung berwarna merah tiba-tiba terlempar menghampiri Alif. Hujan yang cukup deras membuatnya ingin memakai payung tersebut. "Itu payung saya" sebuah suara perempuan membuatnya mendongakkan kepala. Perempuan yang kemudian Ia kenal dengan nama Raissa.


Sebuah majalah kampus menjadi tujuan Alif untuk bergabung dengan kelompok Unit Kegiatan Mahasiswa tersebut. Berbekal dengan kemampuan yang Ia miliki saat masih menimba ilmu di Pondok Madani. Ia pun memberanikan diri mendaftar.


"Kamu yakin mau menulis?" Bang Tohar pimpinan dari unit tersebut bertanya tanpa menatap Alif yang sudah duduk di ruangan.
"Saya ingin pergi ke Amerika Bang, seperti foto Abang itu" tangannya menunjuk foto  Bang Tohar yang terpampang di atas lemari. Sebuah foto yang memiliki daya tarik bagi Alif
"Itu bukan Amerika, itu Australia."
"Iya bang, saya ingin ke luar negeri."
"Baiklah aku akan melihat kemampuanmu. Sekarang kamu bisa menulis di sini."
"Sekarang bang?" Alif mencoba meyakinkan
"Ya sekarang, mau besok?"


Alif mulai menulis pada sebuah lembar kertas, yang kemudian mendapatkan predikat tulisan 'sampah' oleh Bang Tohar. Ia pun diberikan kesempatan lagi untuk menulis, namun harus menggunakan referensi yang tepat sehingga tulisan itu nantinya tidak hanya terbit di majalah kampus melainkan media cetak. Kesungguhan dan usaha keras Alif membuahkan hasil. Tulisannya kini dimuat di koran.


Sebuah telegram datang, mengabarkan bahwa sang ayah sakit keras. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang sementara waktu. Takdir tak dapat dielakan lagi, sang ayah akhirnya meninggal dunia meninggalkan keluarga mereka. Demi melihat sang ibu yang berjuang keras mencukupi kebutuhannya dan adik-adik, Alif berencana untuk tidak melanjutkan kuliah yang tengah Ia jalani. 


"Ayahmu itu selalu menenteng tulisanmu ini ketika bertemu dengan teman-temannya. Ia merasa bangga dengamu Lif." Sebuah potongan koran terpampang di sebuah figora. Tulisan Alif di dalamnya.
"Ibu bisa bekerja keras kebutuhan kalian atau ibu juga bisa berhutang ke siapapun untuk mencukupi kebutuhan kalian. Jadi jangan berhenti Lif. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai."


Segala macam pekerjaan Alif lakukan untuk membantu biaya kuliah dan kebutuhan adik-adiknya di rumah. Mulai dari menjadi pelayan di rumah makan dan berjualan kain khas Padang yang Ia jual di ibu-ibu PKK. Malang tak dapat dihindar. Ia mendapatkan perampokan, semua barang dan uang yang Ia bawa ludes.


Hal ini yang menjadikan Alif berada pada titik terendah hidupnya. Ia mulai kalut dengan apa yang terjadi. Nelangsa hidupnya semakin memuncak. Ditinggal pergi sang ayah dan kesialan yang dialami membuatnya tidak semangat menjalan hari-harinya. Ia putus asa.



Raissa mencoba membujuk Alif untuk kembali kuliah. Namun Ia masih bergeming. Bang Tohar kemudian memberikan sepucuk surat kepada Alif saat Ia berkunjung ke Unit Bang Tohar. Ia baca, air matanya kemudian mengalir. Itu adalah sebuah surat yang ayahnya kirimkan langsung ke Bang Tohar. Sebagi bentuk terima kasih telah mau menerima Alif menulis di tempatnya. Sejak saat itu Alif bersemangat kembali untuk memperjuangkan apa yang Ia cita-citakan.


Waktu terus berjalan, sebuah informasi pertukaran pelajar sedang diadakan.
"Wah bagus sekali ini Lif, kamu mau ikut ini ngga?" Rusdi teman Alif mengambil sebuah selebaran yang menempel di dinding kos mereka.
"Kemana?" tanya Alif tidak bersemangat.
"Kanada"
"Ngga tertarik. Aku maunya ke Amerika bukan ke Kanada."
"Kamu bagaimana sih. Kanada kan bagian dari benua Amerika" tergelak Rusdi menertawakan tanggapan dari Alif.


Setelah melalui seleksi ketat, Alif, Raissa, dan Rusdi akhirnya menjadi bagian dari mahasiswa yang menerima kesempatan untuk pertukaran pelajar. Jordan menjadi tempat mereka transit untuk beberapa saat. Di sana ternyata Alif bertemu dengan ust. Salman yang merupakan gurunya saat di pesantren dulu.
Sang ustadz membawa ALif, Rusdi dan Raissa pergi ke barak pengungsi. Di sana mereka membagikan bantuan. Saat akan kembali seorang Ibu menangis meminta dicarikan anaknya yang terpisah kepada Raissa. Selembar foto menjadi petunjuk bagaimana rupa anak yang Ia cari tersebut. 


Sebuah bom terdengar ketika rombongan Alif beranjak dari barak. Rentetan senopi tak kalah mengagetkan mereka. Sebuah peluru tiba-tiba merangsek mengenai tepat kepala salah satu relawan yang ikut di dalam mobil. Raissa menangis ketakutan. Kejadian yang baru saja mereka alami membuat agenda mereka di Jordan dipercepat.


Kanada menjadi tujuan utama dari kegiatan pertukaran perlajar itu. Alif ditempatkan di sebuah lokasi peternakan. Tempat yang sangat tidak Ia sukai, Ia ingin bekerja di dunia pertelevisian meliput berita seperti Raissa, atau Rusdi di pemerintahan. Nyatanya sudah terbang jauh ke Kananda, Ia hanya mendapatkan kesempatan membersihkan kandang dan memberi makan ternak.


Setelah beberapa waktu berlalu, Alif memutuskan untuk mundur daripada harus terus berurusan dengan kotoran sapi. Segera Ia pergi pertemu si pemilik, tak sengaja Ia mendengar jika peternakan akan segera disita. Ia yang merasa kasihan dengan pemilik peternakan tak berani lagi mengajukan mundur dari aktivitas yang telah ia lakukan sejak datang meskipun akhirnya Ia tahu jika posisinya tertukar oleh Francois Pepin. Seharusnya Ia yang berada di dunia pertelevisian, namun Ia masih tidak  mau bertukar tempat. Ia sudah bisa menerima.


Untuk mencegah disitanya lahan peternakan, Alif meminta Raissa dan Pepin untuk mewancarai pemilik. Setelah tayangan wawancara mereka mengudara, peternakan tersebut tidak jadi disita. Yang lebih mengagumkan lagi ternyata pemilik peternakan mengenal seseorang yang ada di foto yang mereka miliki. 


Diantarkan oleh Pepin, Raissa dan Alif akhirnya pergi ke rumah orang yang telah mengadopsi Laila, gadis yang mereka cari selama ini. Gadis yang sangat di rindukan ibunya, yang mampu mereka temukan melalui selembar foto yang Raissa dapatkan di barak pengungsian.


Long story short. Mereka akhirnya lulus dari perkuliahan. Alif melanjutkan hidupnya dengan menjadi seorang wartawan. Sedangkan Raissa dan Randai melanjutkan hidup mereka di Jepang. Mereka berencana menikah dan melanjutkan kerja serta kuliah di sana. Film pun ditutup dengan seorang wanita yang menggandeng tangan Alif di sebuah gedung putih Amerika.


**

PoV
Menurut saya, buku asli memiliki cerita yang lebih komplek. Banyak bagian yang diganti, yang mungkin menyesuaikan dengan durasi film dan kesesuaian cerita. Meskipun inti dari film masih sama dengan buku, namun ada baiknya kita juga membaca bukunya jika ingin mendapatkan cerita yang sebenarnya

Pilihan

 “Bu, maaf, apakah saya bisa mengambil gajian saya lebih awal?” gugup, jantungku berdetak tak karuan.
“Mau buat apa?. Kamu di sini baru kerja dua bulan lho” Ibu bos tempatku bekerja masih tak mengalihkan pandangan dari struk pembelian barang yang sedang Ia hitung jumlahnya dengan kalkulator.
“I..itu bu, ibu saya masuk rumah sakit. Jadi saya butuh uang untuk saya kirimkan” Sepi tidak ada jawaban. Dua bulan sudah aku bekerja di toko bahan bangunan ini. Seorang tetangga mengenalkanku dengan pemilik toko yang sedang membutuhkan karyawan. Jarak dari rumahku cukup jauh, sekitar enam jam dengan menggunakan bus.
“Gajimu tidak bisa aku berikan semua. Hanya setengahnya saja. Bagaimana?” Aku masih terdiam berfikir  jika menggunakan semua gaji saja masih belum bisa menutupi semua biaya rumah sakit apalagi hanya setengah saja. Tabunganku juga hanya ada dua ratus ribu. Itu pun untuk biaya makanku bulan ini.
“Mau nggak? Aku ngga mau ambil resiko ya. Jangan sampai setelah aku berikan gaji full, kamu malah kabur ngga lanjut kerja lagi. Seperti dua anak yang kabur kemarin” kesal, aku ingin berteriak demi mendengar jawaban darinya. Benar, aku ingin berhenti kerja, tapi tidak dengan melarikan diri.
“Baik bu. Setengah dari gaji saja.” Otakku berputar, harus pinjam uang dari siapa untuk melunasi biaya opname ibu. Karena penyakit lambungnya, tiga hari sudah Ibuku di rumah sakit. Satu-satunya harta yang kami miliki di rumah hanya sebidang sawah dan induk kambing, yang anaknya ibu jual sebagai bekalku bekerja. Tak mungkin juga kami menjual sawah satu-satunya yang kami miliki. Pilihannya hanya menjual induk kambing yang tersisa.
    Langit temaram mulai datang menghalau kilau cahaya matahari. Bunyi klakson kendaran di lampu merah saling bersahutan, seakan-akan ingin menerobos saling mendahului. Aku duduk di sebuah kursi di samping jalan menikmati lalu-lalang kendaraan.
    Kota ini seakan tidak pernah tidur. Hilir mudik kendaraan tak pernah sepi. Tak heran mengapa  kota ini dijuluki sebagai kota Industri yang upah tenaga kerjanya saja setara dengan UMR Ibu kota. Jangan tanya mengenai gajiku. Hanya lulusan SMP dan tak memiliki pengalaman kerja sama sekali, membuatku tidak bisa menawar besaran gaji yang diberikan. Diterima kerja saja sudah untung bagiku.
    Bekerja di toko ini sebenarnya membuatku tidak nyaman. Lalu lalang sopir yang membeli bahan bangunan yang terkadang menggoda membuatku risih. Bahkan secara terang-terangan mereka meminta nomor handphone ku ke ibu bos sebab tak pernah aku gubris ketika mereka meminta nomorku secara langsung.
**
    Minggu dini hari. Mataku masih tak jua mau terpenjam. Sepi, hanya detik jarum jam yang terdengar jelas.  “Duh Gusti, bagaimana ini. Aku harus cari pekerjaan yang lain.” Aku sungguh ingin ke luar dari pekerjaan ini. Dua minggu lagi, lima bulan sudah aku bekerja di toko ini. Aku sudah berusaha untuk bertahan, namun aku sudah tidak kuat lagi.
“Halo mba, boleh kenalan” seorang laki-laki yang sedang menaiki motor tiba-tiba ada disamping trotoar tempatku jalan.
“Maaf siapa ya?”
“Mba ngga ingat saya ya. Itu lho yang kemarin kita bertemu di toko bangunan.” Ia menyeringai, membuat bulu kudukku berdiri.
“Maaf saya tidak ingat.”
“Boleh minta nomor hpnya mba?. Mba orang mana?” Aku bergeming tidak menjawab.
“Jangan jual mahal mba. Nanti ngga laku lho.” Tiba-tiba Ia menarik tanganku. Mencegahku untuk berjalan lebih cepat lagi. Jantungku berdetak kencang. Tanganku mengepal ketakutan. Warning tanda bahaya sudah menyala.
“Ayo mba saya antarkan pulang pakai motor. Capek nanti kalau jalan kaki.” Ia masih memaksaku. Kini Ia menarikku ke arah motor bagian belakang agar aku mau duduk di sana.
“Maaf mas, saya sudah pesan ojek.” Aku yang tidak sedang memesan ojek, tiba-tiba melambaikan tangan pada abang ojek yang kebetulan lewat. Mungkin karena Ia iba melihat tampangku yang ingin menangis, Ia akhirnya berhenti. Tanpa ba bi bu aku minta abang ojek untuk tancap gas. Motor pun melaju meninggalkan supir yang mencoba menggodaku tadi.
“Mba maaf kalau tidak pakai aplikasi saya tidak bisa mengantarkan.” Aku yang masih gemetaran tersadar.
“Maaf bang, saya turun di depan saja ya. Saya bayar sesuai tarif di aplikasi.” Suaraku masih bergetar. Tidak ada jawaban dari abang ojek. Kendaraan pun masih melaju

Hidup adalah sebuah pilihan (Pict Jolijolidesign)


“Turun di sini bang. Berapa ongkosnya?”
“Ngga usah mba. Saya baru sadar dengan apa yang mba alami tadi. Lain kali hati-hati ya mba. Mba bisa berteriak minta tolong ke orang-orang yang ada di sekitar jika ada hal yang membahayakan. Atau bisa juga seperti yang mba lakukan tadi.”
    Jalanan yang aku lalui saat pulang memang sepi, jarang sekali ada kendaraan yang lewat. Beruntung hari ini ada abang ojek yang kembali dari mengantarkan penumpang.
“Mungkin mba bisa pindah kos saja. Kalau-kalau orang tadi masih mengikuti mba besoknya.”  Ia kemudian pergi tanpa mau aku bayar.
    Segera aku berlari memasuki kos. Takut jika sang sopir masih mengikutiku. Kejadian beberapa minggu yang lalu itu membuatku yakin untuk segera mengundurkan diri. Meskipun aku tahu ibu bos akan marah besar karena aku mengundurkan diri secara tiba-tiba, namun setidaknya aku sudah menginfokan lebih awal.
**
    Matahari kian menyengat, udara pun tak mengirimkan angin segarnya. Dua hari sudah aku mencari pekerjaan, namun tak jua kunjung aku dapatkan. Tiga hari lalu aku memutuskan untuk berhenti kerja. Seperti yang sudah aku kira, ibu bos masih tidak mengizinkanku, meskipun sudah aku infokan sejak lama namun tetap saja responnya sama.
“Itu hanya masalah kecil La. Kamu sudah besar pasti bisa jaga diri. Masa karena digoda seperti itu saja kamu mau berhenti kerja.”
“Maaf bu.” Aku hanya meminta maaf. Sekedar formalitas yang harus aku lakukan. Aku yakin jika anak ibu bos yang mengalami hal yang sama, pasti Ia sudah melaporkan pelaku ke polisi.
“Kamu itu sekolahnya ngga tinggi. Mana ada yang mau menerimamu bekerja. Paling-paling nanti juga jadi babu. Sudah untung kamu aku terima bekerja di sini. Namanya bekerja pasti ada resiko.” Ibu bos masih mencoba menahanku dengan kata-kata menyakitkan yang Ia lontarkan.
“Kerja di sini gajinya lebih besar daripada tempat lain. Kamu juga bisa mengirim uang ke desa. Kurang apa lagi? kejadian kemarin kan masih aman, kamu juga tidak kenapa-napa.”
“Maaf bu. Kalau misalnya anak ibu yang ada di posisi saya. Apa ibu juga akan berfikiran sama?” Diam tidak ada balasan.
“Ya sudah kamu bisa berhenti”
“Terima kasih bu sudah mau menerima saya bekerja di sini sebelumnya. Saya pamit. Semoga usaha toko ibu semakin lancar.”
“Kalau anakku pasti ngga akan kerja rendahan seperti ini. Dia pasti berkerja di tempat yang bagus dan aman. Dasar ngga tau berterima kasih” pelan, namun suara ibu bos sudah cukup jelas di telingaku. Inginku berlari dan menghampirinya, namun sudahlah. Lupakan saja. Toh bisa ke luar dari tempat kerja ini sangat aku syukuri.
    Namun, ternyata tidak semudah itu mendapatkan perkerjaan. Dua hari ini sudah lima tempat aku datangi, namun tidak ada yang menghubungi nomor hp ku setelah aku menitipkan lamaran pekerjaan di tempat itu.
“Mba, es jeruknya satu ya” udara sangat terik, membuatku ingin menikmati minuman dingin. Sebuah warung makan menjadi tujuanku. Warung ini terlihat ramai dengan pembeli. Bahkan ada banyak pelayan wanita yang seumuran denganku.
“Ini mba”  kuperhatikan sekeliling. Untuk warung yang berukuran tidak terlalu besar seperti ini saja, pemilik mempekerjakan lima orang. Pasti warung ini sangat ramai pembeli.
“Mba, warungnya ramai sekali ya” tanyaku penasaran.
“Wah kalau malam biasanya tambah ramai mba” aku hanya mengangguk.
“Mba sudah lama kerja di sini?”
“Baru sebulan mba. Kenapa, mba tertarik kerja di sini?” aku diam, berfikir, mungkin aku bisa berkerja di sini juga.
“Gajinya berapa mba?”
“Satu juta” mataku mengernyit. Itu nominal yang besar tidak jauh berbeda dengan pekerjaanku sebelumnya.
“Sebenarnya gaji dari warung kecil. Tapi ada bonusnya kalau mau melakukan hal lain” Jawabnya dengan tersenyum.
“Apa mba?” Ia kemudian berbisik, “kita haru mau memangku pelanggan.”
Aku terdiam tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh si pelayan.
“Kalau ada pelanggan yang mau karaoke, mereka akan memberikan kita bonus, asalkan kita mau duduk dipangkuan mereka.” Ia menjelaskan dengan suara lirih.
“Bonusnya terserah mereka. Kita juga bisa memasang tarif kalau kita sudah bekerja di sini selama satu tahun. Jadi, gaji satu juta itu hanya untuk anak baru. Untuk pelayan yang lama, mereka bahkan dapat dua juta lebih”
Otakku berputar. Mencerna segala informasi yang diberikan si pelayan.
 “Kalau gajinya besar, kenapa tidak ada info lowongan kerja di depan warung?”
Si pelayan terkekeh, “Kalau kami memasang info lowongan kerja, yang ada kami langsung di tangkap polisi mba”
Aku edarkan pandanganku kembali ke dalam warung.
“Itu, tidak ada orang yang pangku-pangkuan mba?”
“Ya ngga kelihatan kalau dari luar. Tempat karaoke plus plusnya ada di dalam.”
    Tik...tok..tik..aku mulai tersadar dengan apa yang terjadi. Aku pun langsung menghabiskan es jeruk yang tinggal setengah, kemudian pamit pergi setelah membayar minuman yang aku pesan.
“Sama saja jatuh ke dalam jurang yang sama kalau aku kerja di sini. Bahkan di sini lebih menakutkan dari tempat sebelumnya.” Kataku di dalam hati.
    Tepat hari kesepuluh barulah aku mendapatkan perkerjaan di sebuah konveksi kecil. Gaji yang ditawarkan lebih kecil jika dibandingkan dengan tempat sebelumnya, karena tugas ku bukan sebagai penjahit melainkan membantu membuang benang yang masih menempel pada baju yang dijahit.
    Yang membuatku nyaman bekerja di tempat ini adalah pekerja di tempat ini semuanya perempuan serta sang pemilik menawaran tempat tinggal untuk karyawan yang rumahnya jauh. Sehingga hal ini bisa mengurangi biaya hidup untuk tempat tinggal dan untuk biaya makan, aku bisa memasak di tempat ini. Siang harinya, pemilik juga menyediakan makan siang gratis.
    Jika aku bekerja di tempat pertama dan menerima tawaran bekerja di tempat kedua, mungkin aku bisa mendapatkan gaji yang lebih besar. Namun, hatiku tidak tenang. Dan bisa saja gaji yang aku dapatkan malah menjadi sumber bencana untuk keluargaku juga. Berawal dari buang benang, aku berharap juga bisa belajar menjahit di tempat ini. Hal baru yang aku cita-citakan agar nanti bisa membuka konveksi juga saat kembali ke kampung halaman nanti.
    Hidup ini tentang pilihan, kita sendiri yang akan menentukan, pilihan mana yang membuat kita nyaman dan bahagia.

Review Buku: Hijrah Ektrem

 Assalamu'alaikum, kembali lagi dengan topik review buku. Kali ini saya mereview buku dengan judul 'Hijrah Ekstrem'. Sesuai dengan judulnya, buku ini memang benar-benar 'ekstrem', seperti jalan cerita dalam dunia persinetronan yang penuh dengan drama. Bahkan begitu dramanya perjalanan kehidupan Penulis, Ia menambahkan kata 'Drama' pada setiap bab yang Ia tuliskan.


Hijrah Ekstrem merupakan sebuah buku non fiksi karya Mirani Mauliza. Berisikan kisah inspiratif, kisah nyata dari sang penulis. Buku best seller yang saya baca ini merupakan buku cetakan yang ke-8, diterbitkan pada bulan Mei 2021 dengan jumlah 198 halaman. Buku ini juga dilengkapi tabel riyadoh yang bisa digunakan untuk mengecek amalan ibadah yang kita kerjakan.
 

Hijrah untuk kehidupan dunia akhirat yang lebih baik

Review Buku
Mirani Mauliza atau lebih dikenal dengan sapaan Mira merupakan perempuan yang lahir di Kota Medan. Ayahnya merupakan seorang Kolonel dengan pangkat yang disegani dan sang ibu merupakan istri ke-3 yang sang ayah nikahi setelah menceraikan istri ke-2. Namun, keberadaan ibu Mira ini disembunyikan atau tidak diakui secara publik, hanya istri pertama saja yang diakui secara sah. 


Kesibukan sebagai abdi negara, kehidupan dengan istri pertama menjadikan hubungan sang ayah dengan Mira bersaudara 'terabaikan'. Peliknya hubungan yang tidak bisa ditunjukkan ke khalayak ramai serta kurangnya kasih sayang yang Ibu dan Mira dapatkan, membuat pernikahan kedua orang tua Mira harus berakhir. Sang Ibu harus memilih melanjutkan hubungan dengan sang Ayah yang tidak ada kejelasan akan kebahagiaan atau harus rela melepaskan dan berjuang sendirian.


Perpisahan ini membuka drama kehidupan yang mengiris hati. Setelah kedua orang tua Mira bercerai, sang ayah merasa tidak rela kehilangan Mira dan sang adik (Mira saat itu masih sekolah di Taman Kanak-Kanak). Sehingga pada suatu hari terjadi penculikan yang dilakukan sang ayah terhadap Mira dan sang adik. Dengan berdalih mengajak main ke rumah saudara, sang Ayah malah membawa Mira dan sang adik selama tiga hari tanpa memberi kabar telebih dahulu kepada ibu Mira. Dan hal ini baru Mira ketahui ketika sang ibu dan polisi menjemput mereka.


Kehidupan kemudian membawa Mira dan keluarga ke Kota Pontianak. Di kota inilah akhirnya sang ibu menemukan tambatan hati dan akhirnya menikah kembali dengan seorang yang kelak Mira dan sang kakak panggil 'Buya' (adik Mira meninggal dunia beberapa hari setelah penculikan). Di Kota ini, keluarga Mira harus berjuangan keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga memaksa Mira harus ikut berjualan keripik di pasar dengan sang Ibu.


Perasaan bersalah sang Ayah karena pernah menelantarkan Mira dan kakak sewaktu kecil membuatnya memberikan fasilitas terbaik ketika Mira (saat SMP) dan sang kakak untuk melanjutkan sekolah di Medan. Uang saku yang berlimpah, rumah yang besar membuat kehidupan dua bersaudara berubah total. Kurangnya pengawasan membuat kehidupan Mira bebas, bahkan Ia menjadi pengunjung diskotek diusianya yang masih belia. Kehidupan malam dan minuman keras menjadi hal biasa yang Ia lakukan, bahkan hingga perkuliahan.


Kehidupan yang Ia jalani di Medan, ternyata tidak membuat Mira bahagia. Akhirnya Ia memutuskan untuk pindah ke Pekanbaru, kota yang menjadi tempat Umi dan Abahnya kemudian tinggal. Ia mencoba melupakan segala rasa sakit yang Ia alami selama di Medan dan mencoba memulai babak kehidupan baru, setelah sebelumnya Ia mencoba mengakhiri hidupnya atas permasalahan yang Ia hadapi di sana.


Setelah lulus Ia mencoba bisnis Multi Level Marketing (MLM) yang menempatkan Ia menjadi sosok yang sangat sukses, hingga Ia sering diundang stasiun televisi untuk menceritakan kisah suksesnya. Namanya sangat terkenal, sepak terjangnya tidak diragukan lagi. Namun, kehidupan membawa cerita yang berbeda. Setelah berada pada puncak kejayaan, Ia harus merasakan perihnya terjatuh dalam kepiluan.


Bisnis yang Ia jalani megalami kebangkrutan. Penipuan dari rekan kerja membuat Mira harus menanggung puluhan milyar hutang, yang menjadikan Ia buronan para debt collector sewaan dari para investor. Hingga akhirnya Ia harus menerima pil pahit untuk dipenjara menebus apa yang Ia lakukan. Ia dipenjara saat usia pernikahannya baru berumur satu bulan. Jika dulu namanya terkenal dengan sebuatan pebisnis muda, namun berubah sebagai seorang 'penipu' yang menggelapkan dana.

Drama perjalanan kehidupan yang Mira alami ternyata tidak sampai di sini. Setelah keluar dari penjara, Ia harus kembali terseok kembali. Mira mengalami penipuan senilai 1 Milyar, saat Ia dan sang suami ingin membangun rumah. Tidak sampai di sini, Mira juga didiagnosis mengidap Leukimia yang membuat kehidupannya semakin berat.

Tabel riyadoh, catatan ibadah yang dilakukan penulis


Setelah mengalami jatuh bangun dalam kehidupan, saat ini Mira tumbuh menjadi sesosok pengusaha yang telah banyak menginspirasi banyak kalangan, termasuk di dalamnya memberikan motivasi kepada para narapidana di penjara. Ia juga aktif dalam kegiatan keagaaman dan telah banyak hal positif lainnya yang Ia lakukan.


My Point of View
Membaca buku ini membuat saya berfikir, cerita kehidupan seseorang terkadang lebih 'kejam' daripada cerita-cerita yang banyak difilmkan di televisi. Selain itu, kisah 'happiness' seseorang ternyata hanya tampak ujungnya saja, di balik itu semua ada liku perih perjalanan yang harus dilewati. 


Apa yang saya tuliskan di dalam review ini tidak cukup merangkumkan semua kisah yang penulis sampaikan. Jika kamu ingin larut dalam kisah kehidupan yang membuat hati teraduk serta termotivasi, maka kamu wajib membaca buku ini. Selamat membaca

Buku Vs Film, Kamu Pilih yang Mana?

Kamu sudah pernah menonton film laskar pelangi? atau membaca bukunya? atau mungkin keduanya menonton dan membaca filmya sekaligus?. Kalau saya hanya menonton filmnya saja. Film Laskar Pelangi merupakan salah satu film yang saya sukai yang bercerita tentang perjuangan dan motivasi anak bangsa yang memberikan semangat untuk menggapai cita. Karena film ini jugalah, salah satu spot syuting menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi di pulau Tajung Tinggi Belitung, yang merupakan salah satu tempat yang pernah saya kunjungi saat berkesempatan bertandang ke pulau tersebut dalam agend Sail Wakatobi Belitong.


Sebagian besar orang mengatakan buku berjudul Laskar Pelangi merupakan buku yang sangat bagus, namun saya merupakan tipe yang tidak tertarik membaca buku ketika buku itu sudah difilmkan. Alasannya? saya juga tidak tahu. Kalau saya sendiri lebih suka membaca bukunya terlebih dahulu daripada menonton filmnya. Tetapi sebenarnya, saya mengambil kesempatan mana saja yang datang terlebih dahulu. Misalnya saat belum membeli buku, ternyata film dari buku tersebut sudah tayang, maka menonton menjadi pilihan.


Kelebihan Buku dan Film
Buku
Saat membaca buku, imajinasi kita akan berkelana, baik tentang tentang karakter, latar cerita, konflik dan lainnya sehingga seakan-akan kita ikut menjadi penonton dalam adegan yang terdapat di dalam buku. Selain itu, kita juga mengimajinasikan wajah tokoh yang ada di buku, meskipun tidak terlihat jelas, namun kita bisa 'mendesain' sendiri wajah tokoh berdasarkan ciri yang disebutkan di buku.


Terkadang hal inilah yang menjadikan saya sedikit tidak menyukai film yang diangkat dari buku. Apa yang ditayangkan di film berbeda dengan apa yang sudah kita imajinasikan (pasti dong, kan bukan sutradara film itu :D). Selain itu, banyak juga bagian atau adegan dari buku yang tidak ikut disertakan di dalam film yang merupakan hal wajib yang biasa dilakukan karena berkaitan dengan durasi dan tentu saja biaya produksi, atau mungkin bukan menjadi hal krusial yang harus ditayangkan di film.

Bener banget ini :D

Film
Kelebihan dari film menurut saya, mudah diakses dan tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli film tersebut (misalnya saja film tersebut sudah tayang di youtube, namun berbayar jika kita berlangganan di aplikasi berbayar seperti Netflix dan jenis aplikasi lainnya). 


Menonton film juga tidak membutuhkan banyak waktu. Kita bisa mempercepat durasi film tersebut, ketika kita ingin cepat tahu ending cerita  yang ditayangkan. Selain itu, menonton film melalui hp bisa dilakukan sekaligus, artinya mudah dilakukan.


Saat ini di youtube sudah banyak sekali channel yang memberikan ulasan film. Mulai dari film yang sudah lama tidak tayang bahkan sampai film yang baru tayang. Menonton ulasan film memiliki durasi yang lebih singkat, kurang lebih 15-25 menit. Bagi para pecinta film yang tidak memiliki waktu luang atau misalnya ingin cepat menamatkan cerita, biasanya lebih menyukai hal ini karena langsung pada inti cerita.


Kekurangan Buku dan Film
Buku
Jika kamu suka buku, maka harus ada uang yang harus dikeluarkan untuk  membeli buku tersebut. Buku orisinil tentu tidak murah. Kecuali jika membeli buku bajakan yang biasanya dijual dengan harga yang menggiurkan namun menyesatkan, misalnya 100rb dapat 6 atau promo lainnya. Membaca buku orisinil menjadi salah satu cara kita untuk menghargai penulis. Meminjam buku bisa menjadi salah satu solusi ketika kita ingin membaca buku namun budget belum mencukupi.


Selain itu, kita juga harus meluangkan waktu yang cukup untuk membaca buku. Tidak bisa dipercepat seperti menonton film. Bisa jadi satu buku menghabiskan waktu berhari-hari untuk diselesaikan, tergantung dari ketebalan buku dan durasi waktu membacanya. 


Bentuk fisik buku juga menjadi salah satu kekurangan (bisa juga memilih mau membeli buku fisik atau ebook). Jika membeli buku fisik, maka ada beban yang harus kita bawa. Bisa jadi, tas yang kita bawa akan semakin berat karena banyaknya buku yang kita masukkan.


Film
Jika film tersebut diangkat dari buku, maka para penonton harus siap-siap kecewa karena banyaknya adegan yang tidak sesuai dengan buku. Hal ini menjadi salah satu kekurangan jika menonton film. Namun, jika film tersebut tidak diangkat dari buku, maka apapun jalan cerita dari film tersebut merupakan hal yang memang menjadi jalan utama dari cerita tersebut.


Dari beberapa kekurangan dan kelebihan di atas, saya lebih prefer buku daripada film. Buku membantu kita untuk mengasah daya imajinasi. Membantu untuk belajar penggunaan kosa kata, membuat alur cerita, membantu membuat cerita yang menarik serta melatih saya pribadi untuk memperkaya gaya bahasa yang kemungkinan besar bisa diterapkan juga untuk menulis blog seperti saat ini.
 

Kalau kamu, lebih suka buku atau menonton film? (Review buku menarik)


Oh ya, Selamat Hari Buku Nasional yang sudah lama berlalu. Semoga semakin banyak buku-buku berkualitas yang bisa kita nikmati dan bisa kita petik 'sarinya' dan semoga nanti kita juga bisa menjadi salah satu penulis buku tersebut. Aaamiin

Setelah Mengikuti BPN 30 Days Ramadan Blog Challenge

Seperti mimpi yang mustahil untuk diwujudkan begitu perasaan saya ketika berhasil menyelesaikan tantangan menulis selama 30 hari dengan 30 topik yang berbeda selama ramadan kemarin. Ada perasaan lega dan tentu saja tidak percaya ternyata apa yang saya anggap 'tidak mungkin' bisa diselesaikan ketika kita mau berusaha dan memaksakan diri untuk terus 'berjalan'.


Bagi saya bisa menulis artikel setiap hari di blog merupakan impian yang sudah sangat lama ingin dicapai yang menjadi wacana tidak tereksekusi. Melalui tantangan yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network (BPN) tersebut, banyak hal yang saya pelajari. Berikut diantaranya:


1. Menambah wawasan
Beberapa topik yang harus peserta tuliskan, ternyata tidak begitu saya mengerti. Alhasil, saya harus membaca banyak referensi untuk mendukung artikel yang saya tulis. Proses mencari referensi atau topik baru tersebut membuat saya mendapat tambahan wawasan baru yang belum atau minim saya ketahui sebelumnya. Salah satunya topik tentang manfaat kurma yang sangat luar biasa. Pemahaman saya terkait buah ini hanya sebatas sunnah ketika kita mengkonsumsi kurma saat berbuka puasa. Ternyata banyak sekali kebaikan dari buah ini selain karena memang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

What'd you get from this challenge?


2. Belajar desain
Keterbatasan foto yang saya miliki karena topik yang dibahas beragam membuat saya mau tidak mau harus belajar untuk mendesain foto atau gambar yang disertakan pada artikel. Aplikasi yang saya gunakan selama BPN ramadan challenge kemarin adalah Canva. Sebelumnya, saya menggunakan Canva hanya untuk membuat brosur atau sertifikat. Setelah mengikuti challenge ini, saya menjadi tahu bahwa Canva memiliki beragam desain yang menarik. Mulailah saya mengakses Youtube untuk melihat bagaimana cara mendesain, keyword yang menarik dan lainnya sehingga hal ini dapat memudahkan dalam mendesain. Selain Canva, Pinterest juga menjadi gudang untuk mengakses gambar-gambar yang menarik dan mendukung.


3. Rasa senang
Mampu menyelesaikan 30 tulisan memberikan kesenangan tersendiri bagi saya. Ada rasa tidak percaya, karena memang ini baru bertama kalinya saya menulis setiap hari dengan topik yang beragam. Ada juga rasa nervous, merasa tidak yakin bisa menyelesaikan target tulisan pada saat pertama kali join tantangan ini. Serta perasaan seperti dikejar-kejar target saat sudah berhasil menyelesaikan satu topik atau upload arikel pasti muncul fikiran 'tulisan untuk besok belum paham sama sekali nih, harus banyak membaca referensi dan lainnya'.


4. Topik menarik
Saat mengelola blog sendiri di luar mengikuti challenge atau lomba, saya sering menghindari topik-topik yang saya anggap kurang menarik atau tidak saya pahami. Sehingga hal ini menjadikan wawasan yang saya miliki terbatas dan tidak berkembang.


Beragamnya topik yang dibahas dalam challenge ini, memaksa saya untuk terus mengupdate ilmu pengetahuan yang belum saya pahami. Hal ini menjadikan tantangan ini menarik untuk diikuti. Memang sebelumnya ada kekhawatiran bisa tidaknya menyelesaikan tantangan ini karena topik setiap harinya berbeda.


5. Bisa dilakukan
Ala bisa karena terpaksa. Hal ini terjadi pada saya. Memaksakan diri untuk mengikuti challenge merupakan hal yang saya lakukan. Awalnya kecil kemungkinan bagai saya untuk bisa menyelesaikan 30 tulisan. Karena memang jumlah tulisan dalam satu bulan yang saya tulis bisa dihitung jari, apalagi sampai 30 artikel, it's ridiculos. Namun, setelah melalui hari demi hari pelaksanaan tantangan, ternyata challenge ini bisa dilakukan.


Demikian beberapa hal yang saya rasakan selama mengikuti BPN ramadan challenge 2022. Kalau kamu juga mengikuti challenge ini, apa saja hal yang kamu rasakan setelah menyelesaikan tantangan ini? Share jawaban di kolom komentar ya. See you.

Keutamaan Puasa Syawal

Bulan Syawal merupakan bulan yang istimewa, salah satu keistimewaan itu adalah puasa Syawal. Sesuai dengan namanya, puasa ini dilakukan pada bulan Syawal, tidak seperti pemahaman saya sebelumnya jika puasa ini hanya dilakukan pada hari kedua setelah Idul Fitri berturut-turut selama enam hari, ternyata ada penjelasan lain mengenai hal tersebut.


Berbicara mengetani puasa Syawal ternyata puasa ini memiliki banyak keutamaan, berikut diantaranya:


Keutamaan puasa syawal
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر
Artinya: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh." (HR Muslim).


Wah menarik sekali ya, pahala dilipatgandakan berkali-kali lipat. Puasa Syawalini juga mengajarkan kita untuk konsisten, istiqomah melakukan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan selama bulan ramadan kemarin. Agar yang sudah kita upayakan tersebut tidak berlalu atau terjadi saat bulan puasa saja maka dengan melaksanakan puasa syawal ini kita bisa menjaga ritme ibadah yang sudah kita lakukan.


Melaksanakan puasa Syawalini juga melatih kita untuk melakukan puasa sunah lain, seperti puasa Senin Kamis, puasa Daud, puasa Arafah, puasa Ayyamul bidh (puasa 3 hari pada pertengahan bulan) dan puasa lainnya.


Selain keutaman puasa syawal tersebut terdapat juga keutamaan untuk puasa sunah lainnya seperti berikut ini:


Nabi Muhammad bersabda Di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut pintu ar-Rayyan. Yang masuk melalui pintu itu di hari kiamat hanyalah orang-orang yang berpuasa, yang lainnya tidak masuk lewat pintu itu. Dan diserukan saat itu, ”Manakah orang-orang yang berpuasa?”. Maka mereka yang berpuasa bangun untuk memasukinya, sedangkan yang lain tidak. Bilamana mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup dan tidak ada lagi yang bisa memasukinya. (HR. Bukhari & Muslim). 


Rasulullah SAW bersabda "Amal-amal akan dihadapkan atau diperiksa setiap Kamis dan Senin. Maka, aku suka jika amal-amalku diperiksa ketika aku sedang berpuasa." (HR Tirmidzi)
Kapan pelaksanaan puasa syawal?

Yuuk puasa syawal (pict ihramasia.com)

Pelaksanaan puasa Syawal:
1. Puasa syawal bisa dilakukan berurutan selama 6 hari  penuh, dapat dilakukan sejak hari ke-2 Idul Fitri atau hari ke-2 Syawal
2. Puasa Syawal boleh dilakukan dengan tidak berurutan
3. Mendahulukan membayar hutang terlebih dahulu
4. Mendahulukan puasa syawal terlebih dahulu jika kita takut akan terjeda dengan 'halangan' bagi perempuan

Bagaimana? tertarik untuk melaksanakan puasa syawal? yuuk mumpung kita masih dalam bulan syawal. Jika memang tidak bisa secara berututan, puasa ini juga bisa kita 'angsur' pelaksanaanya.

Hari Raya Idul Fitri 2022 Kapan?

Saat ini kita telah memasuki ramadan hari ke-29 atau 30. Sama seperti saat awal puasa, masyarakat yang mengikuti pemerintah masih bertanya-tanya kapan pelaksanan sholat Idul Fitri dilakukan. Apakah esok hari atau lusa. Informasi ini insyaAllah akan kita dapatkan saat sore atau malam hari nanti.


Menurut informasi di laman muhammadiyah.or.id masyarakat Muhammadiyah melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri esok hari yaitu tanggal 2 Mei 2022. Sementara masyarakat umum atau Nahdlatul Ulama yang mengikuti pemerintah masih harus bersabar untuk menunggu hasil sidang itsbat.

Kamu sholat Idul Fitri Kapan

Sidang itsbat rencananya diselenggarakan hari ini, pukul 17.00 WIB. Pelaksanaan sidang ini bisa kita ikuti diberbagai saluran resmi, seperti:
1. Live streaming TVRI pada halaman https://tvri.go.id/live
2. Channel youtube Kementerian Agama
3. Instagram Kementerian Agama @kemenag_ri.


Selain media tersebut, bagi masyarakat yang jarang mengakses media masa dapat menyaksikan sidang melalui televisi (di desa saya hampir 99% para orang tua tidak memiliki smart phone, jadi informasi ini hanya diperoleh dari televisi).


Semoga saja pelaksanaan sholat idul fitri antara pemerintah, muhammadiyah dan berbagai organisasi keagaaman Islam lainnya  serentak dilakukan esok hari. Pun ketika berbeda, ini bukan yang pertama kalinya terjadi di Indonesia, sehingga semua akan baik-baik saja.


Momen Idul fitri merupakan hal yang sangat penting bagi umat Islam. Setelah  berpuasa selama satu bulan penuh, menahan haus, lapar, menahan segala kebiasaan yang merugikan dan lainnya. Maka pada kesempatan ini, umat muslim akan 'kembali suci', kembali menjadi pribadi baru yang lebih baik dari sebelumnya.


Puasa telah mengajarkan kita banyak hal, seperti hal-hal yang sulit kita lakukan ternyata bisa dilakukan pada bulan puasa ini. Misalnya khatam membaca Alqur'an (bahkan mungkin ada yang lebih dari satu kali), mampu menahan untuk tidak merokok (bagi laki-laki), meningkat dalam berbuat kebaikan atau membantu orang lain, lebih bisa memanfaatkan waktu dan berbagai capaian lainnya.


Bisa menyelesaikan puasa secara tuntas pada bulan ini, juga merupakan hal yang sangat luar biasa. Apalagi bagi anak kecil yang baru belajar untuk berpuasa, maka ibadah puasa ini menjadi awal bagi mereka untuk melaksanakan ibadah puasa pada tahun-tahun berikutya.


Bagi kita yang saat ini masih bisa mendengarkan suara takbir berkumandang di kampung halaman sendiri wajib untuk mengucapkan syukur. Karena  di luar sana banyak dari saudara kita bahkan tidak mendengarkan sayup suara takbir tersebab tinggal di negeri orang atau ada juga yang sedang tidak bisa mudik karena harus running penelitian yang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan. Sehingga mereka harus menahan rindu. Terkadang mereka pun juga harus menahan derai air mata saat menerima telpon dari keluarga. 


Ya mau bagaimana lagi. Atas perjuangan yang tengah dilakukan ada hal lain yang harus dikorbankan, termasuk berkumpul dengan keluarga saat Idul Fitri. Kejadian ini juga pernah saya alami, ketika saat itu harus menyelesaikan penelitian yang baru dimulai. Pengen pulang, namun tidak mungkin dilakukan. Ternyata setelah sholat Idul Fitri di kampus, banyak juga mahasiswa lain yang juga ternyata tidak mudik.


Kembali lagi mengenai tanggal pelaksanaan lebaran, kalau di daerah kamu, kapan pelaksanaan sholat Idul Fitri dilakukan ?

Mudik, Waktunya Berkumpul Dengan Keluarga

Mudik ke kampung halaman menjadi salah satu momen untuk berkumpul dengan keluarga. Salah satu hal yang dilakukan saat di rumah adalah memasak. Area dapur akan menjadi tempat berkumpulnya beberapa orang perempuan. Ibu, kakak adik, bersama membuat hidangan.


Sama seperti awal puasa, tradisi megengan menjadi acara penutup ramadan yang dilakukan semua orang di desa saya. Saat megengan ini kami akan membuat makanan dengan lauk pauk ala kadarnya, seperti tahu, telur, ayam dan mie goreng. Selain lauk ini, beberapa tetangga ada juga yang menggunakan tempe, urap dan tumis pepaya. Tidak seperti di Gresik yang menggunakan ikan bandeng sebagai maskot utama, kami yang tinggal di Lamongan khususnya yang tinggal di wilayah pegunungan lebih sering menggunakan ayam sebagai lauk pauknya.


Sebagai pelengkap biasanya kami akan menambahkan jajan pasar yang kemudian kami jadikan satu di kantong plastik, tidak ada yang menggunakan kardus makanan. Meskipun penggunaan kardus ini lebih praktis, namun masyarakat lebih suka menggunakan baskom sebagai wadahnya. Karena hal ini, setiap orang pasti memiliki baskom yang sama dengan jumlah yang banyak sekali, sehingga ketika ada acara (kenduri) jarang yang membeli wadah lagi.

Selamat berkumpul dengan keluarga semuanya (freepik.com)

Setelah magrib biasanya para tetangga akan bergantian datang ke rumah untuk berdoa dan pulang membawa makanan tersebut. Kami menyebutnya 'berkat atau ambeng'. Biasanya kami juga memberikan uang (2000) sebagai 'wajik' (saya kurang tahu apa bahasa Indonesianya).  Saat pembacaan doa ini kita akan mengundang kurang lebih dua belas orang yang tinggal di sekitar rumah atau hanya mengundang beberapa orang saja. Jika ada tentangga yang tidak datang, maka kami akan mengatarkan berkat tersebut ke rumah masing-masing.


Selain megengan ini, berkumpulnya keluarga juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak kecil (keponakan). Saat berkumpul mereka bermain kembang api dan petasan. Tidak jarang hanya berlari-larian cukup membuat mereka senang. Bagaimana tidak, karena di tanah rantau biasanya mereka memiliki halaman yang terbatas luasnya, sehingga waktu berkumpul seperti ini menjadi ajang untuk bermain bersama sesuka hati mereka. Apalagi jika rumah tersebut memiliki halaman yang luas serta jauh dari jalan raya, maka ramailah suasana malam akibat riuh canda mereka.


Bisa berkumpul dengan keluarga menjadi hal yang sangat saya  syukuri. Disaat yang lain mungkin terpaksa merayakan Idul Fitri sendiri karena tidak bisa mudik, tidak ada keluarga yang menunggu lagi di rumah saat pulang mudik, salah satu keluarga sudah 'kembali' terlebih dahulu, maka saya sangat beruntung sekali ketika bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga pada tahun ini.


Waktu berkumpul ini menjadi cara untuk berbagi cerita, tentang banyak hal yang dilalui di tanah rantau. Mostly tentang yang baik saja, yang tidak baik disimpan sendiri :D.  Bertemu dengan keluarga merupakan cara terbaik untuk mengecash semangat yang mungkin mulai kendur. Menjadi alasan atas apa yang sedang diperjuangkan saat ini. Menjadi hal yang menguatkan untuk episode kehidupan yang akan dilalui.

Selamat berkumpul dengan keluarga bagi teman-teman yang saat ini mudik dan semoga bagi kamu yang saat ini tidak mudik, semoga Allah berikan kesabaran dan kebahagiaan juga di tanah rantau. Dan untuk kamu yang pada lebaran ini tidak bersama lagi dengan orang terkasih, semoga Allah berikan kesabaran dan pengganti seseorang yang bisa menemani perjalanan ini.