My Elevent Years of Journaling and Still Counting

Beberapa menit lagi tahun baru masehi akan segera berganti. Berganti dengan bilangan baru yang diharapkan juga kebaikan-kebaikan akan ada di dalamnya. Kali ini saya akan sedikit menuliskan cerita tentang buku catatan harian yang sudah saya tulis sejak lama. Tidak ada hal yang spesial, namun bagi saya, ada kebahagiaan tersendiri ketika saya saat membaca kembali catatan perjalanan yang sudah saya lalui itu.


Ide untuk meresume buku harian yang saya tulis, datang begitu saja ketika saya sedang membereskan buku. Menemukan satu persatu buku diary yang wajahnya sudah tidak lagi cerah akibat tergerus oleh waktu. Dan beberapa diantaranya tidak diketahui lagi keberadaanya, buku tahun 2010 dan buku catatan perjalanan tahun 2017-2020 yang tidak sempat saya bawa pulang saat selesai studi di Bogor (masih tertinggal  di Jakarta). 

Ketika semesta meng-aminkan dan Allah mengijabah doa


Artikel ini tidak tentang cerita bahagia dan sedih yang saya alami setiap tahunnya, namun lebih kepada manisfestasi syukur saya karena Allah telah memberikan langkah kaki yang kuat hingga sekarang dan tentu saja atas kebaikan yang Allah berikan karena masih memberikan kesempatan untuk bisa menikmati kehidupan sampai saat ini.


Alasan utama saat awal menulis buku harian dipicu oleh kelas motivasi yang saya ikuti. Kelas tersebut menekankan pada fenomena "The low of attraction", menuliskan impian-impian yang ingin digapai melalui hukum ketertarikan dari apa yang kita tuliskan. Prinsip-prinsip dasar dalam konsep the law of attraction diantaranya 1) Apa yang kau pikirkan, itulah yang kau dapatkan 2) Pikiranmu menentukan bagaimana engkau hidup 3) Pikiran yang positif mendatangkan kehidupan yang positif 4) Pikiran yang negatif mendatangkan kehidupan yang negatif (rangkuman dari kajian Dr. Fahruddin Faiz). 


Teori yang sangat terkenal dari buku The Secret dan sebenarnya di dalam agama Islam, hal ini sudah sangat kita kenal sejak dulu "Aku sesuai dengan prasangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau (HR.Ahmad)". Apa yang kita fikirkan, itu yang kita dapatkan. 


Cara afirmasi positif yang saya lakukan adalah melalui tulisan. Sejak saat itu sampai sekarang (tahun 2010-2021), meskipun tidak setiap hari, terdapat tulisan-tulisan singkat yang saya tuliskan, sebagai moment untuk pengingat. Selain tulisan di buku, tentu saja di blog ini juga.


Dulu, saat saya belum punya laptop, buku menjadi satu-satunya tempat saya untuk mencurahkan cerita-cerita yang menyenangkan, menjengkelkan, atau hanya sekedar ingin curhat saja, mengobrol dengan diri sendiri melalui buku :D. Pada tahun 2012, setelah memiliki notebook, saya masih menuliskan cerita perjalanan saya hanya di buku harian. Pada tahun itu juga, kegiatan nge-blog saya juga pertama kalinya dimulai dengan isi yang masih alay dan tidak jelas tata bahasa serta isinya :D. 

Buku yang lainnya belum ditemukan


Pada tahun 2013 catatan perjalanan saya tidak hanya di buku harian, melainkan di laptop juga. Jadi, ada 3 catatan harian. Ketika lagi mager, saya menuliskan di laptop, ketika pengen latihan memperbaiki bentuk tulisan (tulisan yang sampai saat ini belum ada indah-indahnya) baru saya menuliskan di buku harian, dan ketika saya ingin berbagi cerita yang menarik saya menuliskan di blog :D.


Saat membaca ulang catatan harian pada tanggal 10 Nopember 2011, saya mendapati tulisan dengan font yang besar dan cukup eye catching " IPB kampus impian buat S2". Dua hal yang saya ingat kenapa saya menuliskan hal tersebut adalah satu, karena melihat foto teman di koin IPB, tempat iconik yang selalu rame saat wisuda di gedung Graha Widya. Kemudian terbesitlah keinginan untuk menuliskan impian. Kedua, karena ada saudara jauh yang kuliah di tempat tersebut. Saya yakin tulisan itu hanya bercanda, asal menuliskan saja dan ternyata Allah mengijabah hal yang menurut saya sendiri mustahil untuk digapai yaitu lanjut studi S2 di IPB pada tahun 2017.


Lepas dari tahun tersebut, saya menuliskan impian untuk menjadi seorang guru pada tanggal 9 Oktober 2012 dan alhamdulillah pada tahun 2020  Allah memberikan kesempatan untuk saya mengabdi di almamater sebelumnya di Gresik 


Selain menuliskan impian-impian yang ingin digapai, journaling menjadi media yang menurut saya tepat untuk menorehkan kisah dan pinta yang kemudian kita langitkan dalam lantunan doa-doa yang terkadang tipis kemungkinananya untuk dicapai. Namun, pada  kenyataanya tidak ada yang mustahil bagi Allah. Tugas kita hanya  berusaha dan berdoa, selebihnya Allah yang akan menyelesaikan semuanya. (Semoga suatu saat saya bisa menuliskan manfaat journaling ya). 

Selamat datang lembara baru :D


Selain itu, tulisan quotes yang dibuat sendiri ataupun mengambil dari buku, film, ceramah, seminar dan sumber lain yang sampai saat ini masih bisa dinikmati. Liku perjuangan disetiap episode yang dilalui menjadi pengingat bahwa Allah menggariskan segalanya terjadi karena alasan yang baru diketahui setelah puluhan purnama terlalui. Berprasangka baik atas segala ketetapan-Nya menjadi cara terbaik untuk menunggu akan hadiah yang Allah persiapkan dikemudian hari. 


Kegiatan journaling ini pun juga tidak rutin saya lakukan. Sejauh ini, satu buku saya gunakan untuk menulis cerita dua sampai tiga tahun, tergantung dari ketebalan buku dan mood untuk menulis juga :D.

Kalau kamu suka menuliskan catatan harian juga, sudah sejak kamu memulai journaling-nya?


Terima kasih sudah membaca blog saya sampai dengan tahun ini, sampai jumpa tahun depan dengan cerita yang berbeda. InsyaAllah


Review Buku: Awe-Inspiring Us


Setelah selesai dengan buku Awe-Inspiring Me, kali ini saya akan mereview buku kedua karya dari Mbak Dewi Nur Aisyah. Buku kedua ini menjadi satu paket, ketika saya membeli buku ini beberapa bulan yang lalu (Januari dong belinya, Desember baru kelar baca :D).

Buku yang meninspirasi


Jika pada buku Awe-inspiring Me fokus pada peningkatan kapasitas diri, baik dalam hal agama, pendidikan, sosial dan lain sebagainya. Maka berbeda dengan buku yang kedua ini. (Baca Review Buku Awe-Inspiring Me). 


Tentang buku Awe-Inspiring Us. 

Sesuai dengan judul buku 'Awe-Inspiring Us' menitik tekankan peran  keluarga yang dapat saling mendukung dalam kebaikan dan kebermanfaatan untuk sesama. Pada halaman sebelum daftar isi terdapat tulisan kecil di bawah judul, 'Sebuah perjalanan mengukir cinta, merenda asa, menggapai pernikahan mulia'. Jadi bisa sekilas tergambarkan bagaimana isi dari buku yang akan dibaca.

Bersandar pada penilaian Allah, bukan manusia


Pada buku ini, Mbak Dewi menuliskan secara gamblang tentang pernikahan dan tentu saja lika-liku perjalanan yang beliau alami selama menjalankan perannya sebagai mahasiswa S3 di University College London. Beliau juga membagikan cerita tentang perannya sebagai mahasiswa, ibu, dan istri sekaligus. Jika dibandingkan dengan buku sebelumnya, buku Awe-Inspiring Us lebih tebal dan memiliki 370 halaman.


Isi Buku

Bab 1 "Masa Penantian". Bab 1 memiliki sub bab di dalamnya. Diataranya 1) Maksimalkan masa single-mu,  jangan jadi pemuda biasa. 2) Lanjut kerja, kuliah, atau nikah? 3) Menunggu ternyata tak semembosankan itu. 4) Ikhtiar menjemput takdirnya. 5) Kriteria mencari pasangan. 6) Dalam masa pencarian.


Masya Allah ya. Pada bab 1 saja sudah sangat terasa bagaimana vibe dari isi buku, kita tahu kemana penulis akan membawa para pembaca untuk mengikuti jalan cerita. Bab 1 memberikan insight tentang bagaimana memaksimalkan potensi diri sesuai dengan tahap optimal yang bisa kita gapai. Selanjutnya setelah lulus, pilihannya apakah mau lanjut kuliah, kerja atau menikah. Kemudian bagaimana mempersiapkan diri dalam masa penantian/masa pencarian sang belahan jiwa. Apa saja yang bisa kita lakukan dalam masa penantian tersebut dan hal-hal lainnya yang dapat meng-upgrade diri.Termasuk pembahasan tentang kriteria mencari pasangan.


Menebar kebermanfaatan


Bab 2 'Jodohku adalah dia'. Nah loh, makin baperkan :D. Mbak Dewi menuliskan hal-hal yang harus diperhatikan selama menerima pinangan seseorang atau sedang dalam proses menuju pernikahan. Diataranya luruskan niat, bersikap jujur setiap saat, jangan meminang yang sudah terpinang, libatkan orang tua, jangan lama-lama awas godaan setan menerpa, jaga jarak sampai halal menyapa. Poin-poin tersebut dijelaskan secara gamblang dan mudah dimengerti. 


Selain itu, terdapat juga terdapat sub bab penting lainnya seperti 1) Taaruf apa via keluarga? 2) Stop poin 3) Drama beda suku 4) Menyampaikan rencana: Karena cinta perlu dibangun bersama 5) Prinsip supermarket: Belum tentu semua ada 6) Membangun visi dan misi bersama saat kata aku dan dia telah menjadi kita. Dalam sub bab Taaruf apa via keluarga, penulis menjelaskan ketika proses pertama yaitu bagaimana menentukan mediator (orang tua, teman, guru ngaji), menggali data calon pasangan (melalui CV taaruf, bertanya dengan teman, kerabat saudara dan lain sebagainya) yang biasanya berisi tentang kriteria calon pasangan, gambaran fisik, gambaran karakter diri, latar belakang pendidikan, harapan, dan seterusnya.


Suka baca buku? Buku ini waajib kalian coba


Bab 3 ' Membangun rumah tangga sebuah jalan menuju surga'. Sub bab pada bab ini adalah 1) Karena fitrah aku dan dia berbeda 2) Menikah itu tak sesederhana dunia milik berdua 3) An epiloge: Gas dan rem 4) Mengatasi konflik 5) Rules for conflict 6)Tentang cemburu 7) An epiloge: Saat istri ngambek 8)Tentang mengejar cita: Istri paruh waktu atau hamba sepenuhh waktu 9) Memberi ruang 10) An epiloge: A happy marriage is.. 11) Pernikahan mulia adalah pernikahan yang menuju surga.


Pada Bab ini penulis memberikan gambaran kehidupan setelah menikah.  Tentang bagaimana up and down nya pernikahan. Riak yang menyatukan dan tentang mengatasi permasalah dalam rumah tanga. Penulis juga memberikan tips-tips untuk mengatasi permasalah tersebut.


Bab 4 'Another miracle' dan Bab 5 'Phd mom and dad: sebuah catatan perjalanan'. Pada 2 bab terakhir ini, saya tidak akan spoiler tetang isi dari bab ini biar tambah penasaran dan pengen baca bukunya :D. 


Membaca buku Awe-Inspiring Us ini ibarat makan kue brownies, makannya pelan-pelan. Tidak seperti makan kerupuk atau snack yang cepat habis. Terkadang ada perasaan 'Kok ngga pengen cepet-cepet selesai baca buku ini ya' atau 'kalau buku ini nanti selesai dibaca, buku apa ya yang menarik lagi'. Selalu seperti itu ketika ada buku yang menarik, pasti ada perasaan 'sayang kalau bukunya selesai dibaca nanti'. Yah, meskipun bisa diulang-ulang lagi membaca buku tersebut, namun berbeda rasanya jika buku itu dibaca untuk pertama kalinya. 


Buku self improvement yang super lengkap


Buku Awe-Inspiring Me dan Awe-Inspiring Us merupakan buku self improvement yang wajib kamu baca. Didalamnya banyak sekali ilmu yang bisa kita aplikasikan sehingga dapat membentuk pribadi kita menjadi lebih baik. Buku ini banyak menceritan tentang perjalanan Mbak Dewi. Tentang target-target yang dituliskan, tetang mengatur waktu menentukan prioritas utama. Oh ya, bagi kamu yang ingin lanjut kuliah di University College London, buku ini juga sangat cocok sekali untuk dibaca. Meskipun Mbak Dewi tidak menuliskan tentang 'review kampus' namun dari kisah perjalanan beliau yang dituangkan dalam tulisan, dapat membuat pembaca seakan ikut berada di sana :D.


Bagi yang suka buku self improvement, yuuk mulai agendakan beli seri buku ini, dijamin kamu tidak akan kecewa. Untuk Mbak Dewi, terima kasih sudah menuliskan cerita perjalanannya yang luar biasa dan saya ucapkan selamat atas diterimanya Penghargaan Perempuan Inspirasi Indonesia 2021 serta Gatra Awards: Ikon Apreasi Prestasi Anak Negeri di Masa Pendemi.

My Mother is My Hero

Waktu terus bergulir. Wajah yang dulu tampak segar itu kini mulai terlihat keriput perlahan, tak tertinggal bintik hitam di wajah menemani akibat sengat cahaya matahari karena seringnya bekerja di ladang dan terkadang berjualan hasil panen di kota lain.


Hari ini saya membantu memanen sayur krai atau biasa juga disebut dengan sayur pare belut (sayuran yang mirip sekali dengan mentimun). Dimulai saat mengantarkan sarapan pukul 07.15 pagi dan dilanjutkan dengan panen sampai pukul 12.30 WIB. Sarapan sederhana yang tampak istimewa karena berpiringkan daun jati, yang terkadang menjadi hal yang dirindukan saat jauh dari rumah. Cukup dengan sambal teri dan kerupuk, serta suasa pagi, maka sarapan itu terasa nikmat ketika dimakan bersama-sama.


You are my hero

Ini kali pertama saya membantu full sampai panen selesai. Biasanya, pukul 9 atau 10 sudah pulang karena tidak kuat panasnya terik matahari. Namun hari ini berbeda, saya ingin menge-tes diri saya sendiri seberapa kuat saya dalam satu hari. 


Peluh keringat mulai membanjiri pakaian dan kerudung. Padahal caping bambu yang saya kenakan cukup lebar, tetapi ternyata tidak mampu menghalau sinar terik matahari. Pukul 9 pagi, terlihat cukup sejuk jika berada di rumah atau di dalam ruangan, namun berbeda halnya jika bekerja di luar ruangan (di sawah, tempat konstruksi, tempat penambangan emas dan lain sebagainya) akan sangat terasa sengat panas matahari pada waktu tersebut. 


Enam orang membantu untuk panen, termasuk saya dan ibu. Pekerjaan optional ketika saya mudik, namun tidak bagi ibu yang menghabiskan masa mudanya hingga kini bekerja di ladang. Ibu, adalah cahaya bagi keluarga kami selain bapak tentu saja. 

Krai, saudaranya timun

Saat kami berhenti sebentar untuk menikmati es m*****s, ibu berkata "Lihatlah nduk, beginilah kehidupan petani kecil seperti kami. Untuk mendapatkan uang/rezeki kita harus bermandikan peluh. Maka, tetaplah berjuang pada proses yang kamu jalani saat ini. Agar ada kebermanfaatan untuk kami dan tentu saja bagi dirimu sendiri". Obrolan seperti ini tidak sekali dua kali, ketika ibu memberitahu saya alasan mengapa beliau menyekolahkanku hingga saat ini. Dan tentu saja respon saya hanya diam, speechless


Terlahir dari keluarga petani sederhana, dan menjadi pembuka untuk sekolah ke perguruan tinggi menjadi hal yang mustahil bagi keluarga kami. Bagi saya sekali pun, kuliah tidak menjadi prioritas utama pada awalnya. Alasannya? salah satunya adalah tidak adanya contoh di sekeliling tempat tinggal  kami yang  melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. Sehingga, bekerja menjadi satu-satunya opsi yang saya lakukan sejak lulus SMA.


Seringnya meninggalkan rumah untuk merantau ke beberapa tempat, terkadang menjadikan kita tidak sadar bahwa orang tua yang kita tinggalkan di kampung halaman akan semakin menua. Keriput mulai tampak, punggung yang sedikit membungkuk, mata yang mulai tidak awas, terlewat begitu saja tidak kita perhatikan, yang terkadang kita akan bekata di dalam hati "Ya Allah, ternyata ibu bapakku sudah semakin tua, namun aku belum bisa memberikan apa-apa untuk mereka".  


Ibu, bapak, menjadi katalisator utama yang memicu diri untuk terus melangkah. Contoh dari kerja keras yang beliau lakukan menjadi bukti tidak ada proses instan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Ianya peluh, tangis, tawa, nestapa turut meramaikan setiap episode kehidupan yang dilalui. Ibu, yang mencintai tanpa diminta, yang mendahulukan anaknya sebelum dirinya sendiri, yang menyayangi dengan sepenuh jiwa, yang darinya lahir jiwa-jiwa pengelana pencari makna.


Semoga Allah memberi umur yang panjang untuk ibu, bapak, agar ada kesempatan bagi saya untuk membahagiakan beliau. Agar ada kesempatan untuk membalas segala kebaikan dan pengorbanan beliau. Agar bakti kami yang pergi saat merantau bisa kami tunaikan saat ini.


Ibu, terima kasih atas segala pengorbanan yang engkau lakukan untuk kami. Meski tidak mudah, engkau selalu mendukung apapun yang kami lakukan, selama itu baik dan tidak bertentangan dengan agama. Semoga kelak, Allah memberikan surga terbaik untukmu. Terima kasih sudah menjadi ibu untuk kami dan kami beruntung memilikimu sebagai ibu kami. Selamat hari ibu untuk ibuku dan ibu-ibu hebat di luar sana. Happy mother's day

Rekreasi Di Tengah Polusi

Polusi, hasil lain dari kemajuan teknologi yang tidak dapat terelakan lagi. Jika tidak ditangani dengan baik, tumbuhan, hewan, bahkan manusia akan terkena dampak yang tak terkira. 


Jika kamu pernah pergi ke kota Gresik, pasti tidak asing lagi jika melihat deretan pabrik di sepanjang jalan pantura, meskipun sebagian banyak juga yang masuk ke wilayah-wilayah yang tidak terlihat dari jalan utama. Menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2015, jumlah pabrik yang ada di kota Gresik mencapai 603 perusahaan dengan serapan tenaga kerja mencapai 93.942 orang. 

Semoga kelak ada kebaikan yang bisa kita berikan untuk sesama

Selain menjadi kota tujuan bagi para pekerja, keberadaan pabrik-pabrik ini akan sangat terasa jika kita berada di lokasi utama pabrik-pabrik besar beroperasi. Misalnya pabrik pupuk, semen, mie instan dan lain sebagainya. Aroma dari emisi yang dikeluarkan oleh pabrik sangat terasa. Bahkan dengan cerobong asap yang tinggi menjulang tampak mengepul dengan gagahnya mengeluarkan emisi CO2 yang sejak lama menjadi persoalan pelik yang harus diatasi.


Dulu, saya tidak tahu mengapa perusahaan besar memiliki area hijau di wilayah perusahaan mereka. Saya dengan sederhana berfikir bahwa area hijau bisa digunakan masyarakat untuk berolahraga dan melakukan aktivitas alam lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai paham jika fungsi dari area hijau di perusahaan mereka tidak hanya untuk sekedar area rekreasi saja.


Pepohonan yang di tanam di area pabrik, menjadi 'tokoh utama' dalam menyerap polusi dalam bentuk gas dan menjerap polutan dalam bentuk debu yang dihasilkan oleh pabrik. Jadi tidak heran jika kita menemukan banyaknya pepohonan besar di sekitar pabrik. Duduk di bawah atau berada di area pepohonan ini tentu sejuk, namun berbeda halnya dengan di perkampungan yang letaknya tidak jauh dari pabrik.

Bagaimana rasanya hidup di lokasi seperti ini?

Aroma menyengat dari asap pabrik sangat terasa, bahkan mata terasa perih saat saya bersama dengan teman-teman mengadakan wawancara dengan para nelayan. Ada area pohon mangrove, area wisata geladak Balai Keling yang biasanya digunakan warga untuk berwisata,  dan pelabuhan  meskipun tidak benar-benar berwisata karena ditemani dengan polusi udara, polusi air dan polusi suara.


Dibandingkan mangrove yang terdapat di Banyuurip Mangrove Center dan mangrove di Kali Mireng, jumlah mangrove yang terdapat di wilayah ini jauh lebih sedikit, padahal jumlah pabrik besar banyak terdapat di area pemukiman warga. Jumlah vegetasi yang tidak memadai tentu mengakibatkan efek yang secara langsung mempengaruhi kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar pabrik. Selain itu, keberadaan biota perairan terutama ikan yang  menjadi komoditas utama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar juga sangat sulit didapatkan.


Banyaknya pabrik yang beroperasi di wilayah ini, menjadikan nelayan harus menangkap ikan jauh dari pelabuhan tempat perahu mereka bersandar. Alasannya apalagi kalau bukan karena pencemaran yang mengakibatkan biota air khususnya ikan konsumsi tidak dapat tumbuh optimal di wilayah tersebut. Selain itu, terkadang jika mereka bertemu dengan para nelayan dari wilayah Madura, mereka diancam dengan celurit, karena dianggap mengambil ikan di wilayah mereka. Padahal toh masih satu wilayah Indonesia menurut saya. Namun, memang begitulah yang terjadi.

Sedikit oase di tengah polusi

Baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 1-12 November 2021 telah diadakan CPO26 (Conference of the Parties) yang ke-26 berlokasi di Glasgow, Skotlandia,  Inggris Raya. Merupakan pertemuan yang membahas perubahan iklim sebagai isu utama. Jargon yang diambil dari pertemuan ini adalah Net Zero Emission/NZE emisi nol bersih pada tahun 2050. 


Sejak Revolusi Industri pada tahun 1760 sampai tahun 2020 pemanasan global telah meningkat sebanyak 1.3°C. Jumlah yang tampak tidak signifikan, namun menimbulkan bencana alam nan menakutkan. Dalam tayangan film dokumenter dalam channel The Economist bencana alam yang besar akan dihadapi manusia ketika pemanasan global naik menjadi 3°C.

Para nelayan yang mulai merapat


Pada saat ini, kenaikan 1.3°C mengakibatkan banyak bencana seperti kekeringan, naiknya permukaan laut yang mengakibatkan banyaknya wilayah tenggelam, mencairnya es di kutub, gelombang panas (heat wave), banjir, kebakaran hutan dan dampak buruk lainnya. Apatah lagi nanti ketika pemanasan global naik menjadi 3°C, bencana apalagi yang akan manusia hadapi?


Apakah Net Zero Emission akan benar-benar tercapai atau hanya janji kosong yang tidak berarti?

 
#PrayforSemeru. Teruntuk saudara kita yang terkena dampak akibat letusan gunung Semeru, semoga Allah SWT  memberikan kekuatan, kesabaran, kesembuhan dan keikhlasan bagi keluarga yang ditinggalkan.


Seberapa Beratkah Perjuangan Kita?

Musim hujan telah tiba. Beberapa daerah di Indonesia bahkan mengalami banjir, tanah longsor dan peristiwa alam lainnya yang mengakibatkan kerugian harta benda bahkan sampai kehilangan nyawa. Saya sendiri punya kenangan yang kurang menyenangkan saat musim hujan beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika saya berkunjung ke Curug Daun di Bogor (cerita lengkapnya bisa baca di sini).

Ngeri T T (Pic Kumparan)


Ide tulisan kali ini terjadi ketika saya melewati jalan berlumpur  saat perjalanan kembali ke Gresik. Jalan yang dapat menyebabkan kendaraan yang melaju di atasnya tergelincir jika tidak berhati-hati. Tidak hanya kendaraan, ketika ada anak sekolah yang melewati jalan seperti ini, mereka juga harus ekstra hati-hati. Meski pun tidak di jalan yang sama seperti yang saya lalui, namun sekolah-sekolah yang ada di desa biasanya memiliki akses jalan yang berlumpur saat hujan. Anak-anak sekolah, demi menyelamatkan sepatu mereka, akan memilih untuk berjalan kaki tanpa alas, dan menenteng sepatu mereka. Untuk kemudian memakai sepatu tersebut saat sudah sampai di sekolah.


Berbicara tentang sekolah, saat kecil (atau pun saat ini), seberapa berat perjuangan yang sudah kita lakukan untuk bisa mencapai sekolah yang kita tuju? Pernahkah kita menggunakan flying fox  atau harus mendaki tebing yang terjal terlebih dahulu untuk mencapai sekolah yang kita tuju?


Beberapa cerita berikut semoga menjadikan kita lebih banyak bersyukur dengan episode kehidupan yang kita alami.


Cerita berikut saya ambil dari film dokumenter di youtube.


Dokumenter pertama menceritakan tentang perjuangan dua orang anak yang harus menempuh perjalanan sejauh 100Km dengan suhu -30C untuk sampai di sekolah mereka. Kisah ini terjadi saat musim winter. Dua orang anak sekolah dasar yang berasal dari Himalaya melakukan perjalanan yang ditempuh selama empat hari bersama dengan tiga orang dewasa yang menemani mereka. Perjalanan berat itu mereka tempuh dengan berjalan kaki. Sesuai dengan medan yang mereka tempuh, mereka memakai sepatu boot dari karet yang akan membuat kaki mereka aman saat berjalan. 

Alangkah dinginnya (Pic Anehdidunia)


Seorang pemandu akan memastikan bahwa jalan yang mereka lalui aman, lapisan es tidak tipis, sehingga mereka tidak terperosok ke dalam air danau yang super dingin. Selain lapisan es, mereka juga menghadapi terjalnya pegunungan karena tidak memungkinkan untuk menyeberangi danau. Namun, jika tidak ada jalan lain yang dapat dilewati, maka mereka memutuskan untuk melewati aliran air yang sangat dingin. Kemudian mereka akan meneruskan perjalanan hingga bertemu dengan kendaraan yang akan membawa mereka ke sekolah yang mereka tuju. Di sekolah ini, para siswa akan tinggal selama 9 bulan (asrama), jadi tidak pulang pergi setiap saat.


Dokumenter kedua berlatar di Nepal. Untuk mencapai sekolah, sebagian siswa harus menyeberangi sungai dengan menggunakan alat yang pengoperasiannya mirip dengan flying fox. Flying fox menjadi satu-satunya sistem transportasi yang bisa mereka gunakan untuk menyeberangi sungai selebar 60m itu. Jika dalam satu kali perjalanan terdapat anak yang usianya lebih tua, mereka harus naik di atas tali sedangkan yang lainnya duduk di dalam keranjang (bentuk alat tersebut seperti keranjang). Jika di tengah perjalanan macet, maka anak yang lebih dewasa akan mendorong alat tersebut.

Ada yang mau mencoba (Pic Freedocumentaries)


Tidak hanya untuk aktivitas sekolah, masyarakat desa setempat juga menggunakan transportasi ini untuk melakukan jual beli hasil panen dan kebutuhan sehari-hari mereka. Jika saat musim hujan tiba, debit air sungai bertambah besar, yang mengindikasikan bahwa ancaman bagi para siswa, ketika tiba-tiba ada yang terjatuh ke sungai, mereka akan sulit untuk menyelamatkan diri.


Dokumenter ketiga terjadi di Ethiopia.Saat berangkat sekolah, para siswa akan berjalan melewati gurun pasir. Tantangan yang mereka hadapi seperti panas matahari yang mencapai 40C, badai pasir dan kurangnya suplai air di wilayah tersebut. Pendidikan di lokasi yang masuk dalam film dokumenter juga tidak merata. Banyak orang tua tidak menyekolahkan anak mereka. Bahkan dalam satu keluarga, jika terdapat lebih dari satu anak, maka anak laki-laki menjadi prioritas utama untuk sekolah. Meski pun, ada juga keluarga lain yang menyekolahkan anak mereka.


Film dokumenter yang terakhir memperlihatkan seorang anak laki-laki yang berasal dari China harus menempuh perjalanan sejauh 3 mil (atau setara dengan 4.8 km) melewati jalanan bersalju. Dalam keterbatasan pakaian yang Ia miliki mengakibatkan rambutnya tertutup oleh salju, sehingga Ia dikenal dunia sebagai 'snowflake boy atau ice boy' . Karena sebegitu dinginnya, rambut sang anak sampai membeku.

Bahkan rambut anak ini ikut membeku (pict straitstimes.com)


Tidak hanya kisah perjuangan di luar negeri, di dalam negeri pun banyak kisah haru bagaimana para pejuang sampai di sekolah mereka. Beberapa tayangan telah viral seperti beberapa siswa yang menyeberangi sungai dengan melewati jembatan yang telah rubuh, yang kondisi jembatan tersebut sangat mengerikan. Beberapa lainnya menggunakan kano/perahu untuk sampai di sekolah mereka. Ini hanya dua cerita  diantara kisah perjuangan yang lainnya yang mungkin lebih berat.


Melihat film dokumenter dan kisah perjuangan para siswa di atas , membuat saya sadar bahwa banyak hal yang belum saya syukuri. Perjalanan saya saat SMP yang saya tempuh dengan berjalan kaki sejauh 5km itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kisah di atas. Jika saya dulu tantangannya cuma satu, yaitu harus berani untuk berjalanan sendirian melewati ladang-ladang para petani, yang memang jauh dari jalan yang ramai dilalui oleh warga atau pun kendaraan. Sedangkan, kisah mereka di atas taruhannya hanya satu, yaitu nyawa mereka. Ketika mereka terjatuh dari perjalanan terjal yang mereka lalui, terjatuh dari flying fox, atau bahkan sakit ketika tidak kuat dengan badai salju atau after effect lainnya yang akibatnya fatal.


Namun, apa pun kisah perjuangan yang sudah atau sedang kita lalui. Semoga masih ada rasa syukur yang terucap atas apa yang  sedang  kita lakukan. Karena, bisa saja di luar sana masih banyak orang yang kisah perjuangannya lebih berat dibandingkan kita saat ini. Pun bagi kita yang kisah perjuanganya tidak seberat cerita di atas, semoga banyak kebaikan yang bisa kita lakukan untuk sesama. Karena kita tidak pernah bisa memilih di mana dan bagaimana kita dilahirkan, tugas kita hanya menjalankan peran kita sebaik mungkin.


Untuk kita yang saat ini sedang berjuang untuk menggapai apa yang kita cita-citakan, semangaat. Semoga dikuatkan untuk proses yang dijalani saat ini. InsyaAllah hasil akhir kebaikan menanti di ujung perjuangan.

Kalau kamu punya kisah perjuangan yang menarik saat sekolah, boleh juga share ceritanya di kolom komentar ya.


Wisata Mangrove Kali Mireng

Mengistirahatkan diri sejenak dari aktivitas yang melelahkan menjadi salah satu alasan mengapa kita melakukan wisata. Salah satu tempat yang menjadi pilihan adalah wisata alam, yang identik dengan suasana yang asri dan menyegarkan mata.


Gresik kota industri, begitu saya sering mendengar julukan untuk kota ini. Sesuai dengan nama yang disandang, ratusan pabrik ada di sini, tepatnya ada di pusat kota Gresik. Meskipun di sepanjang pantura, juga terdapat banyak pabrik.

Hati-hati jalanan berlubang

Jika di ibu kota, untuk berwisata warganya bisa dengan mudah menemukan lokasi wisata alam di Kota Bogor. Jaraknya juga tidak jauh, hanya satu setengah jam jika berangkat dari Jakarta Timur dengan menggunakan kereta Commuter line. Biaya perjalanannya juga tidak mahal, hanya enam ribu rupiah. Jika hanya menikmati suasa kota Bogor, biasanya para pengunjung akan menghabiskan waktu di tempat wisata paling dekat dari stasiun yaitu Kebun Raya Bogor.


Namun, berbeda dengan kota Gresik. Meskipun masih dalam bagian kota Gresik, untuk mencapai Pulau Bawean yang terkenal dengan wisata alamnya, pengunjung membutuhkan waktu yang panjang  yang harus dilalui. Mereka harus menaiki kapal terlebih dahulu, kemudian melakukan perjalanan lagi menuju tempat yang di tuju. Atau, jika ingin ke kota Malang, yang terkenal dengan wisata alam yang cantik, membutuhkan waktu yang lama juga. Sekitar tiga sampai empat jam jika berkendara dengan angkutan umum.

Masih berbenah


Dengan banyaknya polusi asap yang disajikan akibat dari banyaknya pabrik yang ada di pusat kota. Gresik menawarkan 'tempat pelarian' yang sedikit menghibur mata. Letaknya juga tidak begitu jauh. Hanya 18 menit jika ditempuh dengan kendaraan roda dua. Tempat wisata ini terkenal dengan nama Wisata Mangrove Kali Mireng.


Berbeda dengan Banyuurip Mangrove Center, lokasi wisata ini mudah untuk dituju dan lebih dekat tentu saja. Wisata Mangrove Kali Mireng, terletak di Kecamatan Manyar. Kecamatan yang menjadi lokasi dari banyak pabrik beroperasi. Jaraknya dengan pabrik pun dekat, bahkan saat menikmati barisan pohon mangrove, kita disuguhkan pula dengan bangunan menjulang pabrik yang dapat dilihat selemparan mata.


Sebuah penanda jalan yang bertuliskan 'Selamat Datang, Wisata Mangrove, Desa Manyar Sidomukti' menunjukkan bahwa kita berada di jalan yang benar:D menuju wisata mangrove. Sepanjang jalan menuju lokasi mangrove, barisan pepohonan yang baru berumur satu dua tahun menemani,  menambah suasana sejuk perjalanan. 

Selamat Datang


Lokasi wisata ini pun mudah ditemukan, karena berada di belokan jalan. Bersama dengan seorang teman yang menemani perjalanan kali ini, kami memakirkan motor yang menurut kami cukup mengherankan karena tidak ada penjaga yang menjaga area parkir ini, yang biasanya disusul memberikan karcis parkir, yang menjadi penanda bahwa kendaraan kami akan mereka jaga. Hal yang mengherankan lainnya adalah kami tidak mendapati tempat penjualan tiket untuk masuk area wisata. Alhasil, kami bisa langsung masuk tanpa membayar sepeser pun. Atau memang tidak ada uang retribusinya ? Ada yang tahu?


Jalan setapak/trecking dari bambu menjadi jalan yang pertama kami lewati. Derit suara bambu dan jalan yang bergoyang cukup mendebarkan ketika kami lewati. Peralihan jalan dari bambu ke jalan yang terbuat dari kayu ditandai dengan sebagian jalan yang tidak terutup, meskipun hanya ditambahkan sepapan kayu sebagai gantinya. Pengunjung harus waspada, karena bisa saja terperosok masuk ke akar-akar mangrove jika terjatuh.

Sebenarnya jalan ini miring, tetapi tidak begitu terlihat


Masih tentang trecking, jalan yang dilewati juga tidak begitu panjang, jika dibandingkan dengan trecking di BMC yang mencapai 700 m. Sehingga hal ini mengurangi banyaknya area yang bisa dieksplore bagi pengunjung. Sebenarnya terdapat dua-tiga trecking yang disediakan, namun yang available hanya satu. Selain itu, di beberapa bagian tracking utama, penyangga kayu juga miring, sehingga pengunjung tidak berani untuk melewati jalan tersebut. Maka semakin sedikitlah wilayah yang bisa kami kunjungi. Lebih baik berhati-hati, daripada kami tercebur ke laut. 


Ketika berkunjung ke BMC, pengunjung akan merasakan suasana hutan mangrove, karena banyaknya pepohonan mangrove yang bisa dikunjungi. Sedangkan mangrove Kali Mireng, jumlah mangrove yang terlihat tidak sebanyak di BMC (mungkin karena kami tidak mengeksplore lokasi yang berbeda dengan menggunakan perahu=> pengelola tidak memberikan layanan untuk mengujungi lokasi mangrove yang lain, kecuali yang terdapat trecking yang memang disediakan untuk pengunjung).


Menurut informasi, jenis mangrove yang ditanam di lokasi ini lebih banyak jika dibandingkan dengan mangrove yang ada di BMC. Namun, selama perjanan, saya hanya melihat satu papan nama yang bertuliskan Rizhopora mucronata (saya tidak hafal juga ciri-ciri jenis-jenis mangrove yang berbeda). Luas daerah yang ditanami mangrove juga tidak seluas BMC. Namun demikian, keberadaan mangrove di lokasi ini sedikit bisa membantu penyerap emisi karbon pabrik yang tidak terkira jumlahnya, yang terkadang menjadikan ilusi pada langit, antara mendung dan asap akibat operasi pabrik.

Melihat sekawanan burung yang bercengkrama


Karena tidak banyak area yang dapat dieksplorasi, kami memutuskan untuk sekedar duduk menikmati pemandangan yang disediakan. Hamparan hijau mangrove di seberang dan sekawanan burung  yang bercengkerama cukup bisa dijadikan obat kepenatan. Lumayan untuk menghibur. Sesekali perahu motor yang selesai melaut juga menemani suasana. 


Di sekitar lokasi mangrove terdapat warung-warung kecil yang dapat digunakan sebagai tempat bersantai menikmati kuliner setempat. Selain itu, mushola juga disediakan. Menurut pemantauan singkat saya yang belum teruji kebenarannya:D, para pengunjung tidak membayar retribusi untuk masuk karena biasanya mereka akan memesan makanan dari warung-warung tersebut kemudian menikmati hidangan di area mangrove. 


Kalau kamu, lebih suka wisata alam atau wahana wisata?

Tips Mudah Menulis Blog

Pada dasarnya, memulai segala sesuatu itu tidaklah mudah (menurut saya), menulis blog misalnya. Namun juga tidak serumit menulis karya ilmiah (artikel ilmiah, skripsi dan lainnya) yang memerlukan aturan baku yang harus diperhatikan:D. Terlepas dari itu, kedua hal tersebut tetap perlu keseriusan. Apalagi jika hal tersebut merupakan hal yang memang benar-benar baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. 


Berbeda dengan saat awal menulis blog ini. Saya hanya mengisi blog se-enak-nya saja, tanpa aturan. Tidak berfikir tentang niche/tema blog yang dibuat. Motonya cuma satu "yang penting nulis", meskipun sampai sekarang tetap menjadi moto andalan. Jumlah kata dalam satu artikel pun kurang dari seratus kata, dengan bahasa yang tidak jelas pula :D. Moto 'yang penting nulis' benar-benar saya terapkan.

Mulai saja dulu, menulis hal-hal yang kamu sukai


Berdasarkan pengalaman nge-blog yang tidak seberapa ini. Saya ingin berbagi tips mudah untuk menulis blog. Let's check this out:

1. Mulai saja dulu
Seperti halnya langkah besar selalu dimulai dengan langkah-langkah kecil terlebih dahulu. Angka 100 yang selalu dimulai dengan angka 1 dalam perhitungannya. Menurut saya, jika kamu memang benar-benar ingin memulai menulis di platform blog, maka "mulai saja dulu" dari tahapan apa saja yang bisa kamu lakukan. Tidak usah pedulikan tata bahasa, jumlah kata, dan lainnya apalagi sampai tampilan blog. Hal  tersebut akan kita pikirkan dengan sendirinya ketika kita sudah terbiasa untuk mengisi blog dengan tulisan-tulisan tentang aktivitas yang kita lakukan.


Mulai saja dulu mengambil satu langkah pertama dari langkah-langkah panjang yang akan kita lakukan setelahnya. Jangan pikirkan banyak hal seperti: Kalau tidak ada yang membaca blog saya bagaimana? kalau tulisan saya ditertawakan orang lain bagaimana? kalau saya dihina karena gaya bahasa saya jelek bagaimana? dan lain sebagainya yang justeru membuat semangat kita untuk nge-blog menciut dan akhirnya mundur teratur. 


Percayalah, selama ini tidak ada yang comment julid tentang tulisan saya. Tentang gaya bahasa, isi dan lainnya. Kalau pun ada, tinggal block atau hapus comment yang bersangkutan, gampang bukan? :D


2. Mulai dari yang kita sukai
Isi dari blog tergantung dari minat dari masing-masing penulis. Ada yang isinya tentang travelling, perkembangan anak, review skin care, cerita sehari-hari dari aktivitas yang dilakukan bisa juga menjadi topik yang akan dibahas di dalam artikel. Namun, semua kembali lagi kepada penulis. Topik apa yang memang akan ditulis. Kalau memang suka tentang masakan, bisa juga menuliskan tentang resep masakan. Meskipun sudah ada situs terkenal yang berisi tentang resep masakan seperti Cookpad, namun menuliskan resep masakan di blog juga banyak sekali peminatnya (bulan lalu saya blogwalking ke penulis yang memang temanya tentang resep masakan, dan pembaca blog beliau sangat tinggi sekali).


Kalau memang saat ini belum ada tema yang tepat untuk mengisi blog. Maka, kembali lagi ke tips pertama, mulai saja dulu :D. Seperti kasus saya sebelumnya, saya tidak begitu memperhatikan tema dari blog saya (meskipun ini akan sangat-sangat penting ketika dalam pengajuan adsense nanti). Saya enjoy melakukannya dan seiring dengan lamanya kita menulis, biasanya tema yang akan kita tulis akan terbentuk dengan sendirinya. Namun, menentukan tema tulisan secara langsung jauh lebih baik.


Pada tahap awal menulis, biasanya menjadi tahap latihan untuk menyamakan ritme antara jari-jari tangan yang mengetik dengan otak yang berfikir. Jadi, jangan risaukan hal ini. Lakukan saja. Mulai saja dulu.


3. Blogwalking
Istilah ini memiliki arti 'jalan-jalan dengan cara berselancar melihat blog orang lain'. Baik orang yang memang kita kenal aktif di dunia per-website-an, atau penulis terkenal yang banyak menuliskan cerita-cerita mereka melalui blog, seperti penulis Awe-Inspiring Me dalam blog beliau. Blogwalking akan membuka cara pandang kita lebih jauh tentang hal-hal menarik yang bisa kita tuliskan, gaya bahasa penulisan, atau hal lainnya yang membuat kita bersemangat untuk menulis.


Blogwalking menjadi salah satu sumber inspirasi. Misalnya saja ketika saya merasa stuck/writer block tidak tahu harus menulis apa. Maka dengan cara blogwalking inilah biasanya saya mendapatkan ide tentang tulisan yang menurut saya biasa saja, namun menarik di laman website orang lain (dari melihat antusias para pembaca di kolom komentar), sehingga kemudian saya memutuskan menulis dengan topik yang hampir sama dengan penulis tersebut. Eits, ini bukan plagiat karena kita hanya meniru ide, sedangkan semua isi dari tulisan adalah tulisan kita sepenuhnya.


4. Membaca
Sumber bacaan bermacam-macam. Mau membaca dari buku, website, atau membaca keadaan di sekitar kita. Misalnya saja tentang pergaulan anak-anak remaja yang tinggal di perkotaan, kampung nelayan atau hal menarik lainnya bisa menjadi isi dari artikel yang akan ditulis. 


Membaca buku juga akan membantu untuk membentuk gaya bahasa yang menurut kita pas sesuai dengan selera tulisan yang kita sukai. Semakin banyak membaca, semakin terbentuk keunikan bahasa yang kita tuliskan. Misalnya saja gaya bahasa para penulisan kawakan, seperti Tere Leye, Asma Nadia, Gola Gong, Kang Abik, Andrea Hirata dan lainnya. Mereka memiliki gaya bahasa yang berbeda satu dengan lainnya.


5. Konsisten
Ini hal yang tidak mudah tapi bisa dilakukan. Perlu adanya support system untuk bisa saling mendukung tentang kepenulisan di website, sehingga membuat kita termotivasi untuk menulis. Sharing pengalaman dari para blogger, jatuh bangunnya mereka membangun konten dalam bentuk tulisan, cara pendaftaran adsense, dan lainnya sehingga dapat menjadi pemicu semangat untuk berkarya. 


Menetapkan tingkat konsisten pun juga jangan terlalu tinggi-tinggi. Misalnya menjadwalkan menulis artikel satu dua kali dalam sebulan itu cukup untuk permulaan, atau jika memang mau lebih banyak juga boleh. Perlahan tapi pasti, akan banyak hal menarik yang bisa kita tuliskan.


**
Sebagai seorang muslim, menulis menjadi salah satu cara kita menebar kebaikan, menebar informasi-informasi bermanfaat yang mungkin terbatas jika kita tuliskan di facebook, instagram atau platform lainnya. Bukankah salah satu amalan yang tidak terputus pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat ? mungkin inilah salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menebar kebermanfaatan. Sehingga tulisan yang kita buat nantinya juga dapat menjadi investasi akhirat yang akan terus mengalir pahalanya. 


So, mulai nulis saja dulu.

Pengalaman Pertama Berlayar Dengan Keramba Apung

Jika sebelumnya saya berkunjung ke lokasi budidaya kerang hijau menemani para pejuang tugas akhir dengan menggunakan perahu. Namun, kini berbeda. Pada kesempatan ini saya dan beberapa mahasiswa justeru "mengendarai" keramba apung yang ditarik oleh perahu. 

Berlayar dengan keramba apung


Pembuatan keramba apung untuk budidaya kerang hijau merupakan bagian dari pengajuan proposal yang berhasil didanai oleh pemerintah pada Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D). Program yang diusung adalah pembuatan keramba apung yang memang belum ada di area budidaya. Masyarakat pada umumnya menggunakan sistem budidaya dengan bagan tancap.


Keramba apung yang dibuat oleh mahasiswa dengan bantuan masyarakat ini di tarik menggunakan perahu, untuk kemudian "diletakkan" di area budidaya kerang hijau. Keramba berukuran 12x12 m2 ini dilengkapi dengan drum plastik sebanyak 29 buah yang berfungsi sebagai pelampung dan agar keramba kuat tidak terhempas gelombang, maka di setiap sudutnya diberi jangkar dengan berat 10 kg. Letak keramba apung juga tidak  jauh dari Banyuurip Mangrove Center, hanya berjarak sekitar 3 km.  Keramba ditempatkan pada perairan dengan kedalaman 4-5 m atau mungkin lebih.

Berangkat untuk memindahkan keramba apung


Ini pengalaman pertama kalinya bagi saya. Karena rasa penasaran yang tinggi, saya memberanikan diri untuk ikut saat keramba dipindahkan. Keramba ditarik oleh dua perahu, dengan susunan satu perahu di depan, satu perahu di tengah, dan terakhir keramba apung. Dan semua diikat menggunakan tali. Keramba apung kemudian ditarik dengan kecepatan yang sedang (tidak cepat dan tidak lambat). Sebagai pengaman, kami mengenakan jaket pelampung.


Jika dibandingkan dengan menaiki perahu (seperti yang saya lakukan biasanya). Menaiki keramba apung ini malah lebih mengasyikkan, karena goyangan ombak tidak begitu terasa. Jika dibandingkan dengan naik perahu, biasanya saya merasa pusing dan mual akibat ombak yang cukup kuat (tidak terbiasa). Meskipun riak air saat keramba ditarik cukup membuat waspada, kalau-kalau kami terjebur ke laut. Karena memang lubang yang dibuat antar bambu pada keramba, lebih besar daripada ukuran tubuh saya:D. 'Meleng' sedikit saja, bisa-bisa berenang di laut.

Jarak antar bambu menimbulkan lubang yang ukurannya lumayan besar


Pembuatan keramba apung ini diharapkan dapat menjadi pusat edukasi bagi para pengunjung, pelajar, peneliti dan masyarakat. Meskipun, masyarakat sendiri sudah membudidayakan kerang hijau bertahun-tahun lamanya. Penggunaan keramba apung dalam budidaya diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi kerang hijau. Hal ini secara tidak langsung menjadi contoh bagi masyarakat, bahwa penggunaan metode keramba apung juga efektif untuk meningkatkan jumlah produksi. Sehingga endingnya, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat. 

Pemasangan jangkar oleh Pak Tholib dan crew. Terima kasih pak


Mahasiswa mengikatkan bendera merah putih dan bendera himpunan pada keramba. Hal ini sebagai penanda agar keramba juga lebih mudah ditemukan. Sebenarnya, saat agenda bersih-bersih pantai dan menanam mangrove yang dihadiri oleh ibu Khofifah, Gubernur Jawa Timur pada tanggal 28 Oktober 2021. Berkunjung ke keramba apung masuk dalam agenda kunjungan. Namun, karena sampai sore hari laut masih surut, sehingga tidak memungkinkan perahu untuk berlayar. Selain itu, spat (benih kerang hijau) masih pada tahap 'penempelan' pada urai tali yang dipasang. Sehingga, jika keramba "dibawa" ke arah perairan yang lebih dekat, akan mengakibatkan proses tumbuh kerang akan terganggu. Selain karena terbawa arus saat perjalanan, kedalaman perairan yang tidak memadai (dangkal) juga menjadi permasalahan.

Berjuang bersama mengibarkan bendera

Conclusion


Ternyata apa yang kita takutkan, terkadang tidak begitu mengerikan saat kita mau mencoba. Dalam kasus saya, saat menaiki keramba apung ini. Hal ini juga sama ketika saya mengikuti sidang akhir di perkuliahan. Perasaan takut, cemas akan kegagalan terus menghantui. Akibatnya malah kurang persiapan, tidur tidak tenang, makan juga terasa mencekat di tenggorokan (halah lebay:D). Namun, ketika sidang akhir berlangsung, malah seperti sesi diskusi, cair dan tidak mengintimidasi. Jadi, kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak mencoba. Tentunya mencoba hal-hal yang memang tidak bertentangan dengan hukum agama dan negara.


Mengutip tulisan dari Dr.Dewi Nur Aisyah dalam buku Awe-Inspiring Me "Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat". Alih-alih takut akan kegagalan, dicemooh, dan bahkan tidak percaya diri, kita meniadakan peluang-peluang yang mungkin akan hadir saat kita berani mencoba. Terkadang, kita akan menyesali karena tidak mau mencoba, daripada menyesali kegagalan yang kita dapatkan. Dan terkadang pula kesempatan itu hadir bukan karena kita mampu melakukannya, melainkan karena kita mau mencoba dan mengambil kesempatan itu. Who knows?

Review Buku: Awe-Inspiring Me

Buku karya Dr. Dewi Nur Aisyah ini menjadi buku yang pertama kali saya review. Buku ini saya beli pertama kalinya pada bulan Januari 2021. Merupakan cetakan ke-7 setelah cetakan pertama yang diterbitkan pada tahun 2017. Lumayan lama ya, saya baru membeli buku ini (baru tahu adanya buku ini: D, baca bukunya kurang banyak).

Kamu, sudah pernah baca buku ini?

Tentang penulis


Dewi Nur Aisyah merupakan seorang ibu dari tiga anak yang berhasil menyelesaikan jenjang doctoral/Ph.D nya di University College London, menjadi satu-satunya muslimah (berkerudung) dari Indonesia yang dapat menempuh pendidikan di kampus yang memiliki urutan ke-4 terbaik dunia. Ia menyelesaikan studi (S1) di Universitas Indonesia-Jakarta selama 3,5 tahun, S2 di Imperial College London dengan Beasiswa Unggulan Dikti, dan studi S3 di Inggris dengan Beasiswa Presiden Indonesia (BPRI).


Ia merupakan seorang ahli epidemiologi. Sehingga setelah selesai dari study-nya, Ia menjadi bagian dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di Indonesia. Berbagai ajang telah Ia ikuti, tentu dengan pencapaian yang menajubkan.


Tentang buku Awe Inspiring Me


Buku ini memiliki cover yang eye catching berwarna pink, dengan animasi muslimah sebagai covernya. Pada bagian bawah sampul terdapat tulisan "Dream big, Shine bright, Inspiring more", menjadi penjelasan singkat bagaimana isi dari buku. Pada lembar ke tiga setelah sampul, terdapat tulisan "Duhai ukhti, jadilah luar biasa". Menarik bukan? dari judulnya saja sudah terlihat betapa menariknya buku ini. 

Sangat detail sekali


Daftar isi yang disajikan meliputi: Muslimah kuper, masih zaman?, Menjejak asa menulis rencana, Mengelola masa muda, Menghadapi kegagalan, Mendekat kepada Allah, dan Mengelola hati. Poin-poin di atas tidak akan saya jelaskan semuanya. Saya hanya menuliskan bab-bab yang menjadi topik utama, untuk sub bab yang sangat menarik tidak saya tulisakan sepenuhnya. Semoga hal ini  menjadi sedikit spoiler bagi kamu yang ingin membeli atau belum pernah mendengar judul buku ini sama sekali, agar semangat untuk segera memiliki buku ini: D


Penulis menjabarkan tentang peran seorang muslimah dalam berbagai ranah kehidupan. Ia menceritakan bagaimana perjalanan yang Ia lakukan sejak SMA hingga perkuliahan. Bagaimana ia menuliskan secara rinci tentang target-target yang ingin Ia capai saat S1. Rencana tersebut Ia jabarkan secara rinci tentang kompetensi (aksi) apa saja yang harus Ia lakukan untuk mencapai target tersebut serta capaian yang sudah Ia dapatkan. Di bawah target tersebut terdapat tulisan "Tuliskan rencanamu dengan pensil, lalu berikan penghapusnya kepada Allah. Biarkan Ia menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantikanya dengan skenarioNya yang jauh lebih indah".

Gagal itu biasa, namun bangkit dari kegagalan itu luar biasa


Dalam tulisannya, Ia menegaskan "Jilbab dan identitas muslimah bukanlah suatu hal yang membatasi gerak langkah sosial seorang wanita. Muslimah juga bisa berkarya menuai prestasi-prestasi nyata bagi dunia". Ia menjabarkan tentang bagaimana seorang wanita harus mengatur waktu yang mereka miliki. Bagaimana cara mengelola hati atas benih-benih cinta yang muncul, bagaimana seorang muslimah harus tetap melangkah meskipun banyak kegagalan dalam mencapai apa yang mereka targetkan, dan masih banyak hal yang menginspirasi lainnya.


Buku Awe-Inspiring Me dilengkapi dengan animasi muslimah yang menarik. Selain itu beberapa foto tentang kegiatan/ajang yang Penulis ikuti selama perkuliahan juga ditambahkan. Sehingga, buku dengan jumlah 233 halaman ini tidak membosankan untuk dibaca. Bahkan tidak begitu terasa, karena banyak dilengkapi gambar.


Sebuah buku kecil dan tipis dengan tulisan "My Life Plan" terselib diantara halaman utama buku.  Terdapat tujuh form dalam buku ini. Form pertama berisi tentang rencana yang akan/ingin dicapai oleh pembaca pada umur 16-60 tahun. Form kedua berisi tentang target yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan (target jangka pendek). Form ketiga berisi tentang aksi setiap bulan yang akan dilakukan, mulai dari Januari-Desember, untuk mendukung capaian tahunan yang pembaca inginkan. From empat-tujuh, dapat kamu baca sendiri nanti saat sudah membeli atau meminjam buku ini ya. Jika pembaca merasa kesulitan dalam mengisi form tersebut, Penulis menuliskan secara rinci dan lengkap tentang rencana, target yang sudah Ia lalui atau capai sebelumnya.

Bisa buat menuliskan target tahun depan


Buku ini sangat menarik sekali, Penulis memberikan contoh real tentang bagaimana perjuangan seorang muslimah untuk meng-upgrade dirinya ke level tertinggi yang mampu Ia capai dengan menggantungkan sepenuhnya apa yang Ia lakukan kepada Allah. Ia mendorong bagaimana seorang muslimah bisa berperan dalam berbagai ranah kehidupan dengan tidak meninggalkan jati dirinya sebagai seorang muslimah.


Ketika membaca buku "Awe-Inspiring Me" membuat saya tersadar, bahwa seberapa tidak beraturnya hidup yang sudah saya jalani.:D. Menjadi perbandingan yang meletupkan semangat bukan mengkerdilkan niat untuk berkembang menjadi lebih baik.


Melalui buku ini, saya bisa melihat. Bahwa menjadi seorang muslimah, anak, ibu dan istri tidak menjadikan peran seorang wanita terhambat. Justeru semua hal tersebut menjadi support system yang bisa memperkuat perjuangan selama perjalanan.
 

Selamat Membaca Buku Awe-Inspiring Me


Bersih-Bersih Pantai dan Menanam Mangrove Saat Hari Sumpah Pemuda

Beberapa mahasiswa tampak berkumpul di area parkir belakang kampus. Beberapa diantaranya memilih untuk berangkat duluan, tidak ikut rombongan. Meskipun acara utama diselenggarakan pukul empat sore, namun kami sudah bersiap-siap berangkat pukul delapan pagi. Bersih-bersih pantai menjadi agenda pendahuluan dalam agenda besar "Nandur Mangrove" yang dihadiri oleh Ibu Khofifah, Gubernur Jawa Timur.

 

Berfoto sebentar setelah menanam mangrove


Saat tiba di lokasi Banyuurip Mangrove Center (BMC) Gresik,  kami kemudian berkumpul untuk mengikuti arahan dari Dinas Kehutanan tentang mekanisme bersih-bersih yang akan dilakukan. Namun sebelumnya setiap peserta dibekali dengan kantong kresek sebagi tempat untuk mengumpulkan sampah. Peserta yang berasal dari  mahasiswa dan siswa SMA berkumpul untuk kemudian dibagi  ke area yang harus dibersihkan. Siswa SMA mengumpulkan sampah yang ditemukan sepanjang jalan masuk menuju panggung utama. Sedangkan, para peserta lainnya membersihkan area mangrove.


(Cerita tentang BMC, klik di sini)

Berkumpul sebelum menjalankan misi hari ini


Saat bersih-bersih pantai, ditemukan sampah plastik, botol, pampers, pakaian dan jenis sampah anorganik lainnya. Sampah yang ditemukan juga banyak sekali. Apalagi di area laut  yang memang erat konotasinya dengan istilah "TPA-Tempat Pembuangan Akhir" yang biasanya sampah-sampah tersebut dibuang sembarangan ke sungai atau sampah yang terbawa saat banjir selanjutnya bermuara ke laut. Sebelum acara ini, saya pernah menyaksikan bagaimana sampah-sampah tersebut dibawa oleh aliran air (sampah kasur, kayu yang ukurannya besar, sepatu, bantal, dll). Maka saat surut seperti ini, banyak sekali sampah yang tersangkut di akar-akar mangrove.


Bersih-bersih area mangrove dan pantai selesai dalam waktu beberapa jam. Kemudian sebagaian peserta melanjutkan dengan mengikat bibit-bibit mangrove, menjadi ikatan-ikatan kecil, berisi dua-tiga bibit. Bibit ini nantinya yang akan ditanam oleh ibu gubernur dan volunteer. Sedangkan sebagian lainnya, melanjutkan untuk makan siang.


Tidak hanya dari kalangan mahasiswa/pelajar, pada saat sore hari, acara ini dihadiri juga oleh komunitas Bird Pecker, Agrie Conservation, Ekologi Satwa Liar Indonesia (EKSAI), Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARUPA) dan berbagai kalangan lainnya yang berasal dari lembaga pemerintahan, dan masyarakat yang di undang dengan jumlah keseluruhan undangan 150 orang.

Area untuk tes


Tema utama dalam kegiatan ini adalah "Nandur Mangrove" yang menjadi bagian dari agenda peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-76 sekaligus dalam upaya untuk mendukung kelestarian ekosistem mangrove dan pemberdayaan masyarakat sekitar magrove.


Area BMC dibuka untuk tamu undangan sejak pukul 14.00 WIB. Agenda dimulai dengan vaksinasi (Rapid Antigen untuk panitia, peserta dan tamu VVIP), hadrah, dan santunan anak yatim. Di lokasi utama ini juga terdapat pameran produk kehutanan.

 
Sebelum kegiatan tanam di mulai, setengah jam sebelumnya para peserta yang ikut menanam mangrove wajib stand by di lokasi tanam. Area ini juga yang sebelumnya kami bersihkan bersama dengan para panitia lainnya. Di lokasi ini ternyata sudah disediakan air untuk cuci tangan yang akan digunakan setelah selesai menanam. Selain itu juga disediakan tisu dan handuk kecil. Selama menunggu kedatangan ibu gubernur, ada gubuk yang bisa digunakan untuk duduk-duduk bersantai. Karena letak gubung yang berada di area pasang laut, maka jika saat pasang, bisa dipastikan untuk bisa sekedar duduk-duduk di tempat ini.

Sugeng rawuh, bu

Beberapa mahasiswa, Raka-Raki (Duta Wisata Jawa Timur), anak-anak pramuka dan tamu undangan lain, terutama ibu Khofifah dan jajaran para pejabat lainnya, melakukan penanaman mangrove pada pukul empat sore. Kemudian dilanjutkan sesi wawancara dengan para wartawan serta sesi foto bersama dengan tamu undangan.


Kegiatan BMC ini merupakan agenda safari yang dilakukan oleh ibu gubernur, setelah pagi harinya beliau menghadiri kegiatan peringatan hari Sumpah Pemuda dan agenda lainnya yang diselenggarakan di Kabupaten Tuban. Sehingga acara di Gresik beliau hadiri saat sore hari.
 

Ibu Gubernur (berkerudung) sedang menanam mangrove

Semoga dari kegiatan yang kami lakukan ini, muncul spirit-spirit perjuangan yang bisa kami lakukan berikutnya. Peran ini mungkin tidak sebanding dengan jerih payah, curahan air mata dan darah yang sudah para pejuang terdahulu korbankan. Selamat berkarya