Seberapa Beratkah Perjuangan Kita?

Musim hujan telah tiba. Beberapa daerah di Indonesia bahkan mengalami banjir, tanah longsor dan peristiwa alam lainnya yang mengakibatkan kerugian harta benda bahkan sampai kehilangan nyawa. Saya sendiri punya kenangan yang kurang menyenangkan saat musim hujan beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika saya berkunjung ke Curug Daun di Bogor (cerita lengkapnya bisa baca di sini).

Ngeri T T (Pic Kumparan)


Ide tulisan kali ini terjadi ketika saya melewati jalan berlumpur  saat perjalanan kembali ke Gresik. Jalan yang dapat menyebabkan kendaraan yang melaju di atasnya tergelincir jika tidak berhati-hati. Tidak hanya kendaraan, ketika ada anak sekolah yang melewati jalan seperti ini, mereka juga harus ekstra hati-hati. Meski pun tidak di jalan yang sama seperti yang saya lalui, namun sekolah-sekolah yang ada di desa biasanya memiliki akses jalan yang berlumpur saat hujan. Anak-anak sekolah, demi menyelamatkan sepatu mereka, akan memilih untuk berjalan kaki tanpa alas, dan menenteng sepatu mereka. Untuk kemudian memakai sepatu tersebut saat sudah sampai di sekolah.


Berbicara tentang sekolah, saat kecil (atau pun saat ini), seberapa berat perjuangan yang sudah kita lakukan untuk bisa mencapai sekolah yang kita tuju? Pernahkah kita menggunakan flying fox  atau harus mendaki tebing yang terjal terlebih dahulu untuk mencapai sekolah yang kita tuju?


Beberapa cerita berikut semoga menjadikan kita lebih banyak bersyukur dengan episode kehidupan yang kita alami.


Cerita berikut saya ambil dari film dokumenter di youtube.


Dokumenter pertama menceritakan tentang perjuangan dua orang anak yang harus menempuh perjalanan sejauh 100Km dengan suhu -30C untuk sampai di sekolah mereka. Kisah ini terjadi saat musim winter. Dua orang anak sekolah dasar yang berasal dari Himalaya melakukan perjalanan yang ditempuh selama empat hari bersama dengan tiga orang dewasa yang menemani mereka. Perjalanan berat itu mereka tempuh dengan berjalan kaki. Sesuai dengan medan yang mereka tempuh, mereka memakai sepatu boot dari karet yang akan membuat kaki mereka aman saat berjalan. 

Alangkah dinginnya (Pic Anehdidunia)


Seorang pemandu akan memastikan bahwa jalan yang mereka lalui aman, lapisan es tidak tipis, sehingga mereka tidak terperosok ke dalam air danau yang super dingin. Selain lapisan es, mereka juga menghadapi terjalnya pegunungan karena tidak memungkinkan untuk menyeberangi danau. Namun, jika tidak ada jalan lain yang dapat dilewati, maka mereka memutuskan untuk melewati aliran air yang sangat dingin. Kemudian mereka akan meneruskan perjalanan hingga bertemu dengan kendaraan yang akan membawa mereka ke sekolah yang mereka tuju. Di sekolah ini, para siswa akan tinggal selama 9 bulan (asrama), jadi tidak pulang pergi setiap saat.


Dokumenter kedua berlatar di Nepal. Untuk mencapai sekolah, sebagian siswa harus menyeberangi sungai dengan menggunakan alat yang pengoperasiannya mirip dengan flying fox. Flying fox menjadi satu-satunya sistem transportasi yang bisa mereka gunakan untuk menyeberangi sungai selebar 60m itu. Jika dalam satu kali perjalanan terdapat anak yang usianya lebih tua, mereka harus naik di atas tali sedangkan yang lainnya duduk di dalam keranjang (bentuk alat tersebut seperti keranjang). Jika di tengah perjalanan macet, maka anak yang lebih dewasa akan mendorong alat tersebut.

Ada yang mau mencoba (Pic Freedocumentaries)


Tidak hanya untuk aktivitas sekolah, masyarakat desa setempat juga menggunakan transportasi ini untuk melakukan jual beli hasil panen dan kebutuhan sehari-hari mereka. Jika saat musim hujan tiba, debit air sungai bertambah besar, yang mengindikasikan bahwa ancaman bagi para siswa, ketika tiba-tiba ada yang terjatuh ke sungai, mereka akan sulit untuk menyelamatkan diri.


Dokumenter ketiga terjadi di Ethiopia.Saat berangkat sekolah, para siswa akan berjalan melewati gurun pasir. Tantangan yang mereka hadapi seperti panas matahari yang mencapai 40C, badai pasir dan kurangnya suplai air di wilayah tersebut. Pendidikan di lokasi yang masuk dalam film dokumenter juga tidak merata. Banyak orang tua tidak menyekolahkan anak mereka. Bahkan dalam satu keluarga, jika terdapat lebih dari satu anak, maka anak laki-laki menjadi prioritas utama untuk sekolah. Meski pun, ada juga keluarga lain yang menyekolahkan anak mereka.


Film dokumenter yang terakhir memperlihatkan seorang anak laki-laki yang berasal dari China harus menempuh perjalanan sejauh 3 mil (atau setara dengan 4.8 km) melewati jalanan bersalju. Dalam keterbatasan pakaian yang Ia miliki mengakibatkan rambutnya tertutup oleh salju, sehingga Ia dikenal dunia sebagai 'snowflake boy atau ice boy' . Karena sebegitu dinginnya, rambut sang anak sampai membeku.

Bahkan rambut anak ini ikut membeku (pict straitstimes.com)


Tidak hanya kisah perjuangan di luar negeri, di dalam negeri pun banyak kisah haru bagaimana para pejuang sampai di sekolah mereka. Beberapa tayangan telah viral seperti beberapa siswa yang menyeberangi sungai dengan melewati jembatan yang telah rubuh, yang kondisi jembatan tersebut sangat mengerikan. Beberapa lainnya menggunakan kano/perahu untuk sampai di sekolah mereka. Ini hanya dua cerita  diantara kisah perjuangan yang lainnya yang mungkin lebih berat.


Melihat film dokumenter dan kisah perjuangan para siswa di atas , membuat saya sadar bahwa banyak hal yang belum saya syukuri. Perjalanan saya saat SMP yang saya tempuh dengan berjalan kaki sejauh 5km itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kisah di atas. Jika saya dulu tantangannya cuma satu, yaitu harus berani untuk berjalanan sendirian melewati ladang-ladang para petani, yang memang jauh dari jalan yang ramai dilalui oleh warga atau pun kendaraan. Sedangkan, kisah mereka di atas taruhannya hanya satu, yaitu nyawa mereka. Ketika mereka terjatuh dari perjalanan terjal yang mereka lalui, terjatuh dari flying fox, atau bahkan sakit ketika tidak kuat dengan badai salju atau after effect lainnya yang akibatnya fatal.


Namun, apa pun kisah perjuangan yang sudah atau sedang kita lalui. Semoga masih ada rasa syukur yang terucap atas apa yang  sedang  kita lakukan. Karena, bisa saja di luar sana masih banyak orang yang kisah perjuangannya lebih berat dibandingkan kita saat ini. Pun bagi kita yang kisah perjuanganya tidak seberat cerita di atas, semoga banyak kebaikan yang bisa kita lakukan untuk sesama. Karena kita tidak pernah bisa memilih di mana dan bagaimana kita dilahirkan, tugas kita hanya menjalankan peran kita sebaik mungkin.


Untuk kita yang saat ini sedang berjuang untuk menggapai apa yang kita cita-citakan, semangaat. Semoga dikuatkan untuk proses yang dijalani saat ini. InsyaAllah hasil akhir kebaikan menanti di ujung perjuangan.

Kalau kamu punya kisah perjuangan yang menarik saat sekolah, boleh juga share ceritanya di kolom komentar ya.


Wisata Mangrove Kali Mireng

Mengistirahatkan diri sejenak dari aktivitas yang melelahkan menjadi salah satu alasan mengapa kita melakukan wisata. Salah satu tempat yang menjadi pilihan adalah wisata alam, yang identik dengan suasana yang asri dan menyegarkan mata.


Gresik kota industri, begitu saya sering mendengar julukan untuk kota ini. Sesuai dengan nama yang disandang, ratusan pabrik ada di sini, tepatnya ada di pusat kota Gresik. Meskipun di sepanjang pantura, juga terdapat banyak pabrik.

Hati-hati jalanan berlubang

Jika di ibu kota, untuk berwisata warganya bisa dengan mudah menemukan lokasi wisata alam di Kota Bogor. Jaraknya juga tidak jauh, hanya satu setengah jam jika berangkat dari Jakarta Timur dengan menggunakan kereta Commuter line. Biaya perjalanannya juga tidak mahal, hanya enam ribu rupiah. Jika hanya menikmati suasa kota Bogor, biasanya para pengunjung akan menghabiskan waktu di tempat wisata paling dekat dari stasiun yaitu Kebun Raya Bogor.


Namun, berbeda dengan kota Gresik. Meskipun masih dalam bagian kota Gresik, untuk mencapai Pulau Bawean yang terkenal dengan wisata alamnya, pengunjung membutuhkan waktu yang panjang  yang harus dilalui. Mereka harus menaiki kapal terlebih dahulu, kemudian melakukan perjalanan lagi menuju tempat yang di tuju. Atau, jika ingin ke kota Malang, yang terkenal dengan wisata alam yang cantik, membutuhkan waktu yang lama juga. Sekitar tiga sampai empat jam jika berkendara dengan angkutan umum.

Masih berbenah


Dengan banyaknya polusi asap yang disajikan akibat dari banyaknya pabrik yang ada di pusat kota. Gresik menawarkan 'tempat pelarian' yang sedikit menghibur mata. Letaknya juga tidak begitu jauh. Hanya 18 menit jika ditempuh dengan kendaraan roda dua. Tempat wisata ini terkenal dengan nama Wisata Mangrove Kali Mireng.


Berbeda dengan Banyuurip Mangrove Center, lokasi wisata ini mudah untuk dituju dan lebih dekat tentu saja. Wisata Mangrove Kali Mireng, terletak di Kecamatan Manyar. Kecamatan yang menjadi lokasi dari banyak pabrik beroperasi. Jaraknya dengan pabrik pun dekat, bahkan saat menikmati barisan pohon mangrove, kita disuguhkan pula dengan bangunan menjulang pabrik yang dapat dilihat selemparan mata.


Sebuah penanda jalan yang bertuliskan 'Selamat Datang, Wisata Mangrove, Desa Manyar Sidomukti' menunjukkan bahwa kita berada di jalan yang benar:D menuju wisata mangrove. Sepanjang jalan menuju lokasi mangrove, barisan pepohonan yang baru berumur satu dua tahun menemani,  menambah suasana sejuk perjalanan. 

Selamat Datang


Lokasi wisata ini pun mudah ditemukan, karena berada di belokan jalan. Bersama dengan seorang teman yang menemani perjalanan kali ini, kami memakirkan motor yang menurut kami cukup mengherankan karena tidak ada penjaga yang menjaga area parkir ini, yang biasanya disusul memberikan karcis parkir, yang menjadi penanda bahwa kendaraan kami akan mereka jaga. Hal yang mengherankan lainnya adalah kami tidak mendapati tempat penjualan tiket untuk masuk area wisata. Alhasil, kami bisa langsung masuk tanpa membayar sepeser pun. Atau memang tidak ada uang retribusinya ? Ada yang tahu?


Jalan setapak/trecking dari bambu menjadi jalan yang pertama kami lewati. Derit suara bambu dan jalan yang bergoyang cukup mendebarkan ketika kami lewati. Peralihan jalan dari bambu ke jalan yang terbuat dari kayu ditandai dengan sebagian jalan yang tidak terutup, meskipun hanya ditambahkan sepapan kayu sebagai gantinya. Pengunjung harus waspada, karena bisa saja terperosok masuk ke akar-akar mangrove jika terjatuh.

Sebenarnya jalan ini miring, tetapi tidak begitu terlihat


Masih tentang trecking, jalan yang dilewati juga tidak begitu panjang, jika dibandingkan dengan trecking di BMC yang mencapai 700 m. Sehingga hal ini mengurangi banyaknya area yang bisa dieksplore bagi pengunjung. Sebenarnya terdapat dua-tiga trecking yang disediakan, namun yang available hanya satu. Selain itu, di beberapa bagian tracking utama, penyangga kayu juga miring, sehingga pengunjung tidak berani untuk melewati jalan tersebut. Maka semakin sedikitlah wilayah yang bisa kami kunjungi. Lebih baik berhati-hati, daripada kami tercebur ke laut. 


Ketika berkunjung ke BMC, pengunjung akan merasakan suasana hutan mangrove, karena banyaknya pepohonan mangrove yang bisa dikunjungi. Sedangkan mangrove Kali Mireng, jumlah mangrove yang terlihat tidak sebanyak di BMC (mungkin karena kami tidak mengeksplore lokasi yang berbeda dengan menggunakan perahu=> pengelola tidak memberikan layanan untuk mengujungi lokasi mangrove yang lain, kecuali yang terdapat trecking yang memang disediakan untuk pengunjung).


Menurut informasi, jenis mangrove yang ditanam di lokasi ini lebih banyak jika dibandingkan dengan mangrove yang ada di BMC. Namun, selama perjanan, saya hanya melihat satu papan nama yang bertuliskan Rizhopora mucronata (saya tidak hafal juga ciri-ciri jenis-jenis mangrove yang berbeda). Luas daerah yang ditanami mangrove juga tidak seluas BMC. Namun demikian, keberadaan mangrove di lokasi ini sedikit bisa membantu penyerap emisi karbon pabrik yang tidak terkira jumlahnya, yang terkadang menjadikan ilusi pada langit, antara mendung dan asap akibat operasi pabrik.

Melihat sekawanan burung yang bercengkrama


Karena tidak banyak area yang dapat dieksplorasi, kami memutuskan untuk sekedar duduk menikmati pemandangan yang disediakan. Hamparan hijau mangrove di seberang dan sekawanan burung  yang bercengkerama cukup bisa dijadikan obat kepenatan. Lumayan untuk menghibur. Sesekali perahu motor yang selesai melaut juga menemani suasana. 


Di sekitar lokasi mangrove terdapat warung-warung kecil yang dapat digunakan sebagai tempat bersantai menikmati kuliner setempat. Selain itu, mushola juga disediakan. Menurut pemantauan singkat saya yang belum teruji kebenarannya:D, para pengunjung tidak membayar retribusi untuk masuk karena biasanya mereka akan memesan makanan dari warung-warung tersebut kemudian menikmati hidangan di area mangrove. 


Kalau kamu, lebih suka wisata alam atau wahana wisata?

Tips Mudah Menulis Blog

Pada dasarnya, memulai segala sesuatu itu tidaklah mudah (menurut saya), menulis blog misalnya. Namun juga tidak serumit menulis karya ilmiah (artikel ilmiah, skripsi dan lainnya) yang memerlukan aturan baku yang harus diperhatikan:D. Terlepas dari itu, kedua hal tersebut tetap perlu keseriusan. Apalagi jika hal tersebut merupakan hal yang memang benar-benar baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. 


Berbeda dengan saat awal menulis blog ini. Saya hanya mengisi blog se-enak-nya saja, tanpa aturan. Tidak berfikir tentang niche/tema blog yang dibuat. Motonya cuma satu "yang penting nulis", meskipun sampai sekarang tetap menjadi moto andalan. Jumlah kata dalam satu artikel pun kurang dari seratus kata, dengan bahasa yang tidak jelas pula :D. Moto 'yang penting nulis' benar-benar saya terapkan.

Mulai saja dulu, menulis hal-hal yang kamu sukai


Berdasarkan pengalaman nge-blog yang tidak seberapa ini. Saya ingin berbagi tips mudah untuk menulis blog. Let's check this out:

1. Mulai saja dulu
Seperti halnya langkah besar selalu dimulai dengan langkah-langkah kecil terlebih dahulu. Angka 100 yang selalu dimulai dengan angka 1 dalam perhitungannya. Menurut saya, jika kamu memang benar-benar ingin memulai menulis di platform blog, maka "mulai saja dulu" dari tahapan apa saja yang bisa kamu lakukan. Tidak usah pedulikan tata bahasa, jumlah kata, dan lainnya apalagi sampai tampilan blog. Hal  tersebut akan kita pikirkan dengan sendirinya ketika kita sudah terbiasa untuk mengisi blog dengan tulisan-tulisan tentang aktivitas yang kita lakukan.


Mulai saja dulu mengambil satu langkah pertama dari langkah-langkah panjang yang akan kita lakukan setelahnya. Jangan pikirkan banyak hal seperti: Kalau tidak ada yang membaca blog saya bagaimana? kalau tulisan saya ditertawakan orang lain bagaimana? kalau saya dihina karena gaya bahasa saya jelek bagaimana? dan lain sebagainya yang justeru membuat semangat kita untuk nge-blog menciut dan akhirnya mundur teratur. 


Percayalah, selama ini tidak ada yang comment julid tentang tulisan saya. Tentang gaya bahasa, isi dan lainnya. Kalau pun ada, tinggal block atau hapus comment yang bersangkutan, gampang bukan? :D


2. Mulai dari yang kita sukai
Isi dari blog tergantung dari minat dari masing-masing penulis. Ada yang isinya tentang travelling, perkembangan anak, review skin care, cerita sehari-hari dari aktivitas yang dilakukan bisa juga menjadi topik yang akan dibahas di dalam artikel. Namun, semua kembali lagi kepada penulis. Topik apa yang memang akan ditulis. Kalau memang suka tentang masakan, bisa juga menuliskan tentang resep masakan. Meskipun sudah ada situs terkenal yang berisi tentang resep masakan seperti Cookpad, namun menuliskan resep masakan di blog juga banyak sekali peminatnya (bulan lalu saya blogwalking ke penulis yang memang temanya tentang resep masakan, dan pembaca blog beliau sangat tinggi sekali).


Kalau memang saat ini belum ada tema yang tepat untuk mengisi blog. Maka, kembali lagi ke tips pertama, mulai saja dulu :D. Seperti kasus saya sebelumnya, saya tidak begitu memperhatikan tema dari blog saya (meskipun ini akan sangat-sangat penting ketika dalam pengajuan adsense nanti). Saya enjoy melakukannya dan seiring dengan lamanya kita menulis, biasanya tema yang akan kita tulis akan terbentuk dengan sendirinya. Namun, menentukan tema tulisan secara langsung jauh lebih baik.


Pada tahap awal menulis, biasanya menjadi tahap latihan untuk menyamakan ritme antara jari-jari tangan yang mengetik dengan otak yang berfikir. Jadi, jangan risaukan hal ini. Lakukan saja. Mulai saja dulu.


3. Blogwalking
Istilah ini memiliki arti 'jalan-jalan dengan cara berselancar melihat blog orang lain'. Baik orang yang memang kita kenal aktif di dunia per-website-an, atau penulis terkenal yang banyak menuliskan cerita-cerita mereka melalui blog, seperti penulis Awe-Inspiring Me dalam blog beliau. Blogwalking akan membuka cara pandang kita lebih jauh tentang hal-hal menarik yang bisa kita tuliskan, gaya bahasa penulisan, atau hal lainnya yang membuat kita bersemangat untuk menulis.


Blogwalking menjadi salah satu sumber inspirasi. Misalnya saja ketika saya merasa stuck/writer block tidak tahu harus menulis apa. Maka dengan cara blogwalking inilah biasanya saya mendapatkan ide tentang tulisan yang menurut saya biasa saja, namun menarik di laman website orang lain (dari melihat antusias para pembaca di kolom komentar), sehingga kemudian saya memutuskan menulis dengan topik yang hampir sama dengan penulis tersebut. Eits, ini bukan plagiat karena kita hanya meniru ide, sedangkan semua isi dari tulisan adalah tulisan kita sepenuhnya.


4. Membaca
Sumber bacaan bermacam-macam. Mau membaca dari buku, website, atau membaca keadaan di sekitar kita. Misalnya saja tentang pergaulan anak-anak remaja yang tinggal di perkotaan, kampung nelayan atau hal menarik lainnya bisa menjadi isi dari artikel yang akan ditulis. 


Membaca buku juga akan membantu untuk membentuk gaya bahasa yang menurut kita pas sesuai dengan selera tulisan yang kita sukai. Semakin banyak membaca, semakin terbentuk keunikan bahasa yang kita tuliskan. Misalnya saja gaya bahasa para penulisan kawakan, seperti Tere Leye, Asma Nadia, Gola Gong, Kang Abik, Andrea Hirata dan lainnya. Mereka memiliki gaya bahasa yang berbeda satu dengan lainnya.


5. Konsisten
Ini hal yang tidak mudah tapi bisa dilakukan. Perlu adanya support system untuk bisa saling mendukung tentang kepenulisan di website, sehingga membuat kita termotivasi untuk menulis. Sharing pengalaman dari para blogger, jatuh bangunnya mereka membangun konten dalam bentuk tulisan, cara pendaftaran adsense, dan lainnya sehingga dapat menjadi pemicu semangat untuk berkarya. 


Menetapkan tingkat konsisten pun juga jangan terlalu tinggi-tinggi. Misalnya menjadwalkan menulis artikel satu dua kali dalam sebulan itu cukup untuk permulaan, atau jika memang mau lebih banyak juga boleh. Perlahan tapi pasti, akan banyak hal menarik yang bisa kita tuliskan.


**
Sebagai seorang muslim, menulis menjadi salah satu cara kita menebar kebaikan, menebar informasi-informasi bermanfaat yang mungkin terbatas jika kita tuliskan di facebook, instagram atau platform lainnya. Bukankah salah satu amalan yang tidak terputus pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat ? mungkin inilah salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menebar kebermanfaatan. Sehingga tulisan yang kita buat nantinya juga dapat menjadi investasi akhirat yang akan terus mengalir pahalanya. 


So, mulai nulis saja dulu.

Pengalaman Pertama Berlayar Dengan Keramba Apung

Jika sebelumnya saya berkunjung ke lokasi budidaya kerang hijau menemani para pejuang tugas akhir dengan menggunakan perahu. Namun, kini berbeda. Pada kesempatan ini saya dan beberapa mahasiswa justeru "mengendarai" keramba apung yang ditarik oleh perahu. 

Berlayar dengan keramba apung


Pembuatan keramba apung untuk budidaya kerang hijau merupakan bagian dari pengajuan proposal yang berhasil didanai oleh pemerintah pada Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D). Program yang diusung adalah pembuatan keramba apung yang memang belum ada di area budidaya. Masyarakat pada umumnya menggunakan sistem budidaya dengan bagan tancap.


Keramba apung yang dibuat oleh mahasiswa dengan bantuan masyarakat ini di tarik menggunakan perahu, untuk kemudian "diletakkan" di area budidaya kerang hijau. Keramba berukuran 12x12 m2 ini dilengkapi dengan drum plastik sebanyak 29 buah yang berfungsi sebagai pelampung dan agar keramba kuat tidak terhempas gelombang, maka di setiap sudutnya diberi jangkar dengan berat 10 kg. Letak keramba apung juga tidak  jauh dari Banyuurip Mangrove Center, hanya berjarak sekitar 3 km.  Keramba ditempatkan pada perairan dengan kedalaman 4-5 m atau mungkin lebih.

Berangkat untuk memindahkan keramba apung


Ini pengalaman pertama kalinya bagi saya. Karena rasa penasaran yang tinggi, saya memberanikan diri untuk ikut saat keramba dipindahkan. Keramba ditarik oleh dua perahu, dengan susunan satu perahu di depan, satu perahu di tengah, dan terakhir keramba apung. Dan semua diikat menggunakan tali. Keramba apung kemudian ditarik dengan kecepatan yang sedang (tidak cepat dan tidak lambat). Sebagai pengaman, kami mengenakan jaket pelampung.


Jika dibandingkan dengan menaiki perahu (seperti yang saya lakukan biasanya). Menaiki keramba apung ini malah lebih mengasyikkan, karena goyangan ombak tidak begitu terasa. Jika dibandingkan dengan naik perahu, biasanya saya merasa pusing dan mual akibat ombak yang cukup kuat (tidak terbiasa). Meskipun riak air saat keramba ditarik cukup membuat waspada, kalau-kalau kami terjebur ke laut. Karena memang lubang yang dibuat antar bambu pada keramba, lebih besar daripada ukuran tubuh saya:D. 'Meleng' sedikit saja, bisa-bisa berenang di laut.

Jarak antar bambu menimbulkan lubang yang ukurannya lumayan besar


Pembuatan keramba apung ini diharapkan dapat menjadi pusat edukasi bagi para pengunjung, pelajar, peneliti dan masyarakat. Meskipun, masyarakat sendiri sudah membudidayakan kerang hijau bertahun-tahun lamanya. Penggunaan keramba apung dalam budidaya diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi kerang hijau. Hal ini secara tidak langsung menjadi contoh bagi masyarakat, bahwa penggunaan metode keramba apung juga efektif untuk meningkatkan jumlah produksi. Sehingga endingnya, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat. 

Pemasangan jangkar oleh Pak Tholib dan crew. Terima kasih pak


Mahasiswa mengikatkan bendera merah putih dan bendera himpunan pada keramba. Hal ini sebagai penanda agar keramba juga lebih mudah ditemukan. Sebenarnya, saat agenda bersih-bersih pantai dan menanam mangrove yang dihadiri oleh ibu Khofifah, Gubernur Jawa Timur pada tanggal 28 Oktober 2021. Berkunjung ke keramba apung masuk dalam agenda kunjungan. Namun, karena sampai sore hari laut masih surut, sehingga tidak memungkinkan perahu untuk berlayar. Selain itu, spat (benih kerang hijau) masih pada tahap 'penempelan' pada urai tali yang dipasang. Sehingga, jika keramba "dibawa" ke arah perairan yang lebih dekat, akan mengakibatkan proses tumbuh kerang akan terganggu. Selain karena terbawa arus saat perjalanan, kedalaman perairan yang tidak memadai (dangkal) juga menjadi permasalahan.

Berjuang bersama mengibarkan bendera

Conclusion


Ternyata apa yang kita takutkan, terkadang tidak begitu mengerikan saat kita mau mencoba. Dalam kasus saya, saat menaiki keramba apung ini. Hal ini juga sama ketika saya mengikuti sidang akhir di perkuliahan. Perasaan takut, cemas akan kegagalan terus menghantui. Akibatnya malah kurang persiapan, tidur tidak tenang, makan juga terasa mencekat di tenggorokan (halah lebay:D). Namun, ketika sidang akhir berlangsung, malah seperti sesi diskusi, cair dan tidak mengintimidasi. Jadi, kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak mencoba. Tentunya mencoba hal-hal yang memang tidak bertentangan dengan hukum agama dan negara.


Mengutip tulisan dari Dr.Dewi Nur Aisyah dalam buku Awe-Inspiring Me "Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat". Alih-alih takut akan kegagalan, dicemooh, dan bahkan tidak percaya diri, kita meniadakan peluang-peluang yang mungkin akan hadir saat kita berani mencoba. Terkadang, kita akan menyesali karena tidak mau mencoba, daripada menyesali kegagalan yang kita dapatkan. Dan terkadang pula kesempatan itu hadir bukan karena kita mampu melakukannya, melainkan karena kita mau mencoba dan mengambil kesempatan itu. Who knows?

Review Buku: Awe-Inspiring Me

Buku karya Dr. Dewi Nur Aisyah ini menjadi buku yang pertama kali saya review. Buku ini saya beli pertama kalinya pada bulan Januari 2021. Merupakan cetakan ke-7 setelah cetakan pertama yang diterbitkan pada tahun 2017. Lumayan lama ya, saya baru membeli buku ini (baru tahu adanya buku ini: D, baca bukunya kurang banyak).

Kamu, sudah pernah baca buku ini?

Tentang penulis


Dewi Nur Aisyah merupakan seorang ibu dari tiga anak yang berhasil menyelesaikan jenjang doctoral/Ph.D nya di University College London, menjadi satu-satunya muslimah (berkerudung) dari Indonesia yang dapat menempuh pendidikan di kampus yang memiliki urutan ke-4 terbaik dunia. Ia menyelesaikan studi (S1) di Universitas Indonesia-Jakarta selama 3,5 tahun, S2 di Imperial College London dengan Beasiswa Unggulan Dikti, dan studi S3 di Inggris dengan Beasiswa Presiden Indonesia (BPRI).


Ia merupakan seorang ahli epidemiologi. Sehingga setelah selesai dari study-nya, Ia menjadi bagian dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di Indonesia. Berbagai ajang telah Ia ikuti, tentu dengan pencapaian yang menajubkan.


Tentang buku Awe Inspiring Me


Buku ini memiliki cover yang eye catching berwarna pink, dengan animasi muslimah sebagai covernya. Pada bagian bawah sampul terdapat tulisan "Dream big, Shine bright, Inspiring more", menjadi penjelasan singkat bagaimana isi dari buku. Pada lembar ke tiga setelah sampul, terdapat tulisan "Duhai ukhti, jadilah luar biasa". Menarik bukan? dari judulnya saja sudah terlihat betapa menariknya buku ini. 

Sangat detail sekali


Daftar isi yang disajikan meliputi: Muslimah kuper, masih zaman?, Menjejak asa menulis rencana, Mengelola masa muda, Menghadapi kegagalan, Mendekat kepada Allah, dan Mengelola hati. Poin-poin di atas tidak akan saya jelaskan semuanya. Saya hanya menuliskan bab-bab yang menjadi topik utama, untuk sub bab yang sangat menarik tidak saya tulisakan sepenuhnya. Semoga hal ini  menjadi sedikit spoiler bagi kamu yang ingin membeli atau belum pernah mendengar judul buku ini sama sekali, agar semangat untuk segera memiliki buku ini: D


Penulis menjabarkan tentang peran seorang muslimah dalam berbagai ranah kehidupan. Ia menceritakan bagaimana perjalanan yang Ia lakukan sejak SMA hingga perkuliahan. Bagaimana ia menuliskan secara rinci tentang target-target yang ingin Ia capai saat S1. Rencana tersebut Ia jabarkan secara rinci tentang kompetensi (aksi) apa saja yang harus Ia lakukan untuk mencapai target tersebut serta capaian yang sudah Ia dapatkan. Di bawah target tersebut terdapat tulisan "Tuliskan rencanamu dengan pensil, lalu berikan penghapusnya kepada Allah. Biarkan Ia menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantikanya dengan skenarioNya yang jauh lebih indah".

Gagal itu biasa, namun bangkit dari kegagalan itu luar biasa


Dalam tulisannya, Ia menegaskan "Jilbab dan identitas muslimah bukanlah suatu hal yang membatasi gerak langkah sosial seorang wanita. Muslimah juga bisa berkarya menuai prestasi-prestasi nyata bagi dunia". Ia menjabarkan tentang bagaimana seorang wanita harus mengatur waktu yang mereka miliki. Bagaimana cara mengelola hati atas benih-benih cinta yang muncul, bagaimana seorang muslimah harus tetap melangkah meskipun banyak kegagalan dalam mencapai apa yang mereka targetkan, dan masih banyak hal yang menginspirasi lainnya.


Buku Awe-Inspiring Me dilengkapi dengan animasi muslimah yang menarik. Selain itu beberapa foto tentang kegiatan/ajang yang Penulis ikuti selama perkuliahan juga ditambahkan. Sehingga, buku dengan jumlah 233 halaman ini tidak membosankan untuk dibaca. Bahkan tidak begitu terasa, karena banyak dilengkapi gambar.


Sebuah buku kecil dan tipis dengan tulisan "My Life Plan" terselib diantara halaman utama buku.  Terdapat tujuh form dalam buku ini. Form pertama berisi tentang rencana yang akan/ingin dicapai oleh pembaca pada umur 16-60 tahun. Form kedua berisi tentang target yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan (target jangka pendek). Form ketiga berisi tentang aksi setiap bulan yang akan dilakukan, mulai dari Januari-Desember, untuk mendukung capaian tahunan yang pembaca inginkan. From empat-tujuh, dapat kamu baca sendiri nanti saat sudah membeli atau meminjam buku ini ya. Jika pembaca merasa kesulitan dalam mengisi form tersebut, Penulis menuliskan secara rinci dan lengkap tentang rencana, target yang sudah Ia lalui atau capai sebelumnya.

Bisa buat menuliskan target tahun depan


Buku ini sangat menarik sekali, Penulis memberikan contoh real tentang bagaimana perjuangan seorang muslimah untuk meng-upgrade dirinya ke level tertinggi yang mampu Ia capai dengan menggantungkan sepenuhnya apa yang Ia lakukan kepada Allah. Ia mendorong bagaimana seorang muslimah bisa berperan dalam berbagai ranah kehidupan dengan tidak meninggalkan jati dirinya sebagai seorang muslimah.


Ketika membaca buku "Awe-Inspiring Me" membuat saya tersadar, bahwa seberapa tidak beraturnya hidup yang sudah saya jalani.:D. Menjadi perbandingan yang meletupkan semangat bukan mengkerdilkan niat untuk berkembang menjadi lebih baik.


Melalui buku ini, saya bisa melihat. Bahwa menjadi seorang muslimah, anak, ibu dan istri tidak menjadikan peran seorang wanita terhambat. Justeru semua hal tersebut menjadi support system yang bisa memperkuat perjuangan selama perjalanan.
 

Selamat Membaca Buku Awe-Inspiring Me


Bersih-Bersih Pantai dan Menanam Mangrove Saat Hari Sumpah Pemuda

Beberapa mahasiswa tampak berkumpul di area parkir belakang kampus. Beberapa diantaranya memilih untuk berangkat duluan, tidak ikut rombongan. Meskipun acara utama diselenggarakan pukul empat sore, namun kami sudah bersiap-siap berangkat pukul delapan pagi. Bersih-bersih pantai menjadi agenda pendahuluan dalam agenda besar "Nandur Mangrove" yang dihadiri oleh Ibu Khofifah, Gubernur Jawa Timur.

 

Berfoto sebentar setelah menanam mangrove


Saat tiba di lokasi Banyuurip Mangrove Center (BMC) Gresik,  kami kemudian berkumpul untuk mengikuti arahan dari Dinas Kehutanan tentang mekanisme bersih-bersih yang akan dilakukan. Namun sebelumnya setiap peserta dibekali dengan kantong kresek sebagi tempat untuk mengumpulkan sampah. Peserta yang berasal dari  mahasiswa dan siswa SMA berkumpul untuk kemudian dibagi  ke area yang harus dibersihkan. Siswa SMA mengumpulkan sampah yang ditemukan sepanjang jalan masuk menuju panggung utama. Sedangkan, para peserta lainnya membersihkan area mangrove.


(Cerita tentang BMC, klik di sini)

Berkumpul sebelum menjalankan misi hari ini


Saat bersih-bersih pantai, ditemukan sampah plastik, botol, pampers, pakaian dan jenis sampah anorganik lainnya. Sampah yang ditemukan juga banyak sekali. Apalagi di area laut  yang memang erat konotasinya dengan istilah "TPA-Tempat Pembuangan Akhir" yang biasanya sampah-sampah tersebut dibuang sembarangan ke sungai atau sampah yang terbawa saat banjir selanjutnya bermuara ke laut. Sebelum acara ini, saya pernah menyaksikan bagaimana sampah-sampah tersebut dibawa oleh aliran air (sampah kasur, kayu yang ukurannya besar, sepatu, bantal, dll). Maka saat surut seperti ini, banyak sekali sampah yang tersangkut di akar-akar mangrove.


Bersih-bersih area mangrove dan pantai selesai dalam waktu beberapa jam. Kemudian sebagaian peserta melanjutkan dengan mengikat bibit-bibit mangrove, menjadi ikatan-ikatan kecil, berisi dua-tiga bibit. Bibit ini nantinya yang akan ditanam oleh ibu gubernur dan volunteer. Sedangkan sebagian lainnya, melanjutkan untuk makan siang.


Tidak hanya dari kalangan mahasiswa/pelajar, pada saat sore hari, acara ini dihadiri juga oleh komunitas Bird Pecker, Agrie Conservation, Ekologi Satwa Liar Indonesia (EKSAI), Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARUPA) dan berbagai kalangan lainnya yang berasal dari lembaga pemerintahan, dan masyarakat yang di undang dengan jumlah keseluruhan undangan 150 orang.

Area untuk tes


Tema utama dalam kegiatan ini adalah "Nandur Mangrove" yang menjadi bagian dari agenda peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-76 sekaligus dalam upaya untuk mendukung kelestarian ekosistem mangrove dan pemberdayaan masyarakat sekitar magrove.


Area BMC dibuka untuk tamu undangan sejak pukul 14.00 WIB. Agenda dimulai dengan vaksinasi (Rapid Antigen untuk panitia, peserta dan tamu VVIP), hadrah, dan santunan anak yatim. Di lokasi utama ini juga terdapat pameran produk kehutanan.

 
Sebelum kegiatan tanam di mulai, setengah jam sebelumnya para peserta yang ikut menanam mangrove wajib stand by di lokasi tanam. Area ini juga yang sebelumnya kami bersihkan bersama dengan para panitia lainnya. Di lokasi ini ternyata sudah disediakan air untuk cuci tangan yang akan digunakan setelah selesai menanam. Selain itu juga disediakan tisu dan handuk kecil. Selama menunggu kedatangan ibu gubernur, ada gubuk yang bisa digunakan untuk duduk-duduk bersantai. Karena letak gubung yang berada di area pasang laut, maka jika saat pasang, bisa dipastikan untuk bisa sekedar duduk-duduk di tempat ini.

Sugeng rawuh, bu

Beberapa mahasiswa, Raka-Raki (Duta Wisata Jawa Timur), anak-anak pramuka dan tamu undangan lain, terutama ibu Khofifah dan jajaran para pejabat lainnya, melakukan penanaman mangrove pada pukul empat sore. Kemudian dilanjutkan sesi wawancara dengan para wartawan serta sesi foto bersama dengan tamu undangan.


Kegiatan BMC ini merupakan agenda safari yang dilakukan oleh ibu gubernur, setelah pagi harinya beliau menghadiri kegiatan peringatan hari Sumpah Pemuda dan agenda lainnya yang diselenggarakan di Kabupaten Tuban. Sehingga acara di Gresik beliau hadiri saat sore hari.
 

Ibu Gubernur (berkerudung) sedang menanam mangrove

Semoga dari kegiatan yang kami lakukan ini, muncul spirit-spirit perjuangan yang bisa kami lakukan berikutnya. Peran ini mungkin tidak sebanding dengan jerih payah, curahan air mata dan darah yang sudah para pejuang terdahulu korbankan. Selamat berkarya

Menjadi Volunteer dalam Penelitian Internasional

Malam semakin larut, beberapa enumerator yang berasal dari kalangan mahasiswa tampak sedang asyik mewawancarai para pembudidaya udang vannamei. Jumlahnya banyak, satu mahasiswa bisa mewawancarai dua sampai enam pembudidaya sekaligus. Terdengar juga gelak tawa dari area wawancara, meskipun yang lainnya terlihat serius juga.
 
Malam ini merupakan malam kesekian kali kami melakukan kegiatan ini. Saat awal penelitian ini dijalankan, wawancara dilakukan secara online dengan menghubungi para pembudidaya yang tergabung dalam Komunitas Udang Vanamei Indonesia dengan target awal sekitar tiga ribu responden. Wawancara dilakukan dengan menggunakan Whatsapp, by phone, atau melalui messenger FB. Namun, setelah penelitian berjalan tiga bulan (start bulan Februari), target responden tidak kunjung didapatkan. Sehingga untuk mencapai target responden yang sudah ditentukan, strategi wawancara ditambah menjadi offline. Kedua sistem wawancara ini memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing.
 
Wawancara offline perdana di Lamongan

Keuntungan pelaksanaan wawancara secara online adalah jika wawancara dilakukan melalui pesan wa atau messenger fb, enumerator dapat melakukan dengan lebih santai (bisa dilakukan dimanapun). Kekurangan dari sistem ini adalah jika wawancara dilakukan by phone maka ketika responden tidak berkenan dengan materi wawancara yang ditanyakan, bisa saja responden berhenti ditengah wawancara. Hal ini dialami oleh beberapa enumerator (wawancara memerlukan waktu 30-45 menit atau lebih). Kekurangan wawancara online yang lainya adalah ketika responden hanya bisa diwawancarai pada saat yang mereka tentukan. Misalnya mereka bisa diwawancara saat tengah malam, setelah atau sebelum subuh. Maka enumerator akan melakukan wawancara pada waktu tersebut. (Apresiasi yang setinggi-tingginya untuk para enumerator).
 
Menuju lokasi wawancara dengan perahu penyebrangan

Sedangkan keuntungan pelaksanaan wawancara secara offline adalah saat wawancara, enumerator dapat mewawancarai lebih dari dua responden sekaligus. Sehingga hal ini dapat menghemat waktu dan tenaga. Pelaksanaan wawancara yang banyak dilakukan saat weekend dan malam hari menjadi kendala cara yang kedua ini. Terkadang, mereka akan sampai rumah setelah dari wawancara lebih dari pukul 10 malam (tergantung jarak rumah dan lokasi wawancara).
 
Hasil wawancara selanjutnya diinput ke website yang sudah disediakan oleh tim peneliti utama yang berasal dari kampus luar negeri. Setelah enumerator selesai menginput data, maka field coordinator (pendamping yang berasal dari dosen UMG) akan memeriksa kelengkapan dokumen, data yang harus ditanyakan ulang karena tidak cocok, data yang kurang lengkap dan lain sebagainya. Penelitian ini mengambil tema tentang pembudidaya udang vannamei yang ada di Indonesia. Merupakan penelitian kerjasama antara The University of Turku Finland, The University of Tokyo Jepang, Hitotsubashi University Jepang, dan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Penelitian ini berakhir pada bulan Juli 2021 dengan jumlah responden yang didapatkan lebih dari 1700 responden dari 3000 target awal (tidak memenuhi target, namun sudah data mencukupi untuk pengolahan data selanjutnya). Penelitian ini bertema "Indonesian Shrimp Survey 2021".

Sedikit materi sebelum wawancara terakhir

Menjadi bagian dalam penelitian ini memberikan sekali banyak ilmu yang luar biasa bagi saya. Bertemu dengan para pembudidaya dari berbagai wilayah dengan keunikan, kendala budidaya, jumlah panen yang menyesakkan hingga fantastis menjadi ilmu yang tidak terbanyangkan sebelumnya. Semoga dengan adanya penelitian ini menjadi salah satu upaya untuk menginkatkan jumlah produksi udang vannamei di Indoneisia dan tentu saja meningkatkan taraf hidup masyarakat pembudidaya. Terima kasih saya sampaikan untuk Universitas Muhammadiyah Gresik dan universitas lain yang tergabung, telah mengikutsertakan saya sebagai "Tim Hore" dalam penelitian ini.:D. Meskipun tidak banyak yang bisa saya lakukan, namun kami tunggu untuk kolaborasi berikutya.

Tes SKD di Universitas Negeri Surabaya

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Semua berkas yang dibutuhkan sudah saya masukkan ke dalam tas punggung, tidak lupa flasdisk yang berisi file sertifikat bukti telah melakukan vaksinasi tersimpan, rencananya saya akan mampir sebentar ke tempat fotocopy saat berangkat. 


Sesuai dengan jadwal yang saya dapatkan sebelumnya, hari ini adalah hari H pelaksanaan Seleksi Kompetesi Dasar (SKD) yang dilaksanakan di gedung LP3 Universitas Negeri Surabaya. Ditemani dengan motor kesayangan, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertualang, mengingat jalan:D

 

Petugas masih memasang pc

Jalanan, tentu saja ramai dengan para pengendara yang berangkat kerja, tak tertinggal truk-truk besar menemani beriringan. Sebelum tes, saya dengan seorang teman sudah survey lokasi yang dituju, berharap nanti saat berangkat sendirian tidak bingung untuk meninggat jalan. Namun kenyataanya, masih juga saya kesasar, meskipun sudah mengatur google map dengan tujuan yang sama. Saya menyimpan hp di kantong jaket tanpa headset, mungkin itu yang menjadi penyebab utama kenapa saya berjalan di jalan yang berbeda, meski hanya sebentar saja:D. 


Sekitar pukul 8.30 WIB saya tiba di lokasi. Tampak beberapa peserta berpakaian putih hitam sedang duduk-duduk menunggu giliran tes.  Saya memutuskan untuk Istirahat sebentar, tidak lama kemudian waktu berkumpul untuk pengecekan berkeas dilakukan, meskipun jadwal tes masih lama,  pukul 10.30). Alhamdulillah saya tidak telat.


Para peserta tes dilarang memakai ikat pinggang, anting, gelang, kalung, cincin, bros untuk kerudung (atau yang mengandung bahan logam lainnya). Jadi, untuk para peserta perempuan, pastikan kamu memakai peniti atau jarum yang bisa digunakan di dalam ruang tes (hindari menggunakan bros saat mengaitkan kerudung pada dagu). Jika tidak, maka kerudung akan diikat sekedarnya saja karena panitia tidak menyediakan peniti cadangan.

Selesai tes, langsung balik ke Gresik

Waktu berlalu, satu persatu peserta memasuki area untuk tes. Saat survey lokasi, area tes masih dalam proses pemasangan PC dan perkabelan lainnya. Sehingga sedikit ada gambaran bagaimana letak lokasi untuk tesnya (meskipun saat itu diusir pak satpam karena masuk area terlarang:D). Jangan khawatir, jika kamu lupa membawa pensil untuk menghitung, panitia meminjamkan pensil untuk sementara waktu. Selain itu, panitia juga menyediakan kertas buram untuk menghitung.


Pengerjaan soal tes kurang lebih 1 jam 40 menit, dan waktu berlalu seperti cepat saja karena dihadapkan pada soal-soal yang harus diselesaikan jawabannya. Ini kali kedua sebenarnya saya mengikuti tes CPNS. Tahun lalu tes CPNS diadakan di Wahana Ekspresi Pusponegoro, Gresik. Berbeda sekali karena tahun ini, prokes lebih ketat daripada sebelumnya. Pada tes ini beberapa berkas yang dibawa antara lain kartu ujian, kartu tanda pengenal (KTP/SIM yang digunakan saat mendaftar), sertifikat vaksinasi/surat vaksinasi, dan bukti tes swab (antigen/pcr). Untuk berkas yang dibawa, lebih sedikit jika dibandingkan tahun lalu.


Tes SKD di Universitas Negeri Surabaya diadakan pada tanggal 29 September 2021



2. Merantau Bagian 2

 Aku melihat sekilas jam tangan warna silver yang secara resmi aku kenakan sejak pagi tadi. Sebenarnya aku, tidak biasa memakai jam tangan, karena bekas jam akan terasa gatal, tidak ada alasan lain, namun karena ini hadiah pemberian orang tua saat aku berulang tahun yang ke-17, aku sengaja memakainya. Agar perasaanku tenang, seakan-akan mereka menemaniku saat bepergian ini.  

 

Jam menunjukkan pukul 12. 45. Waktu shalat dhuhur sudah lewat sejak lama tadi. Ku tengok kanan-kiri mencoba mencari mushola terdekat. Tampak, sebuah mushola dengan banyak orang yang sedang tidur-tiduran atau sekadar duduk, terlihat di depannya. Beberapa di antaranya terlihat mengambil air wudhu.


"Lin, ayo sholat dulu ya. Sekalian di jamak nanti, sepertinya kita nanti sampai di Malang sore, ngga kekejar waktu sholat ashar." Lina hanya mengangguk "Kamu bisa sholat jamak?" Ia berusaha memastikan



"Bisa, tadi belajar dari Youtube. " Kataku sampil tersenyum tanpa rasa bersalah." Nanti kita sholat berjamaah ya. Barang bawaan kita taruh di depan, biar aman." Imbuhku dengan pedenya, seperti sudah hafal sekali bagaimana tata cara sholat jamak yang baru beberapa menit tadi aku pelajari.


Mushola berwarna toska-putih yang terletak di pojok terminal Bungurasih Surabaya itu ramai, penumpang, penjual makanan, orang yang meminta-minta, petugas terminal terlihat diantaranya. Mungkin, mushola itu tidak pernah sepi, karena aktivitas hilir mudik penumpang antar kota besar yang memang banyak dilakukan di terminal sanggat tinggi. Tak pernah lengang walau sebentar.


"Cang ci men... cang ci men, kacang kwaci permennya mba." Dengan suara lantangnya seorang penjual asongan berusaha menawarkan barang dagangan mereka.
"Tahu..Tahu, manisan mangga, air minum dinginnya mas." Penjual lainnya tidak mau kalah.
"Mau beli minum dengan camilan ngga Ka?" Lina menyoba menawarkan saat aku sedang merapikan jilbab yang aku kenakan.
"Titip air putih satu sama manisan mangga satu ya." Kataku tanpa menoleh, sibuk memasukkan mukena yang selesai aku pakai untuk sholat tadi ke dalam tas, kemudian menyodorkan uang sepuluh ribu.
"Oke." Jawabnya sambil berlalu, berlari kecil.


Ku sandarkan punggungku pada dinding masjid. Aku pejamkan mataku sebentar.  Banyangan apa yang sudah aku alami akhir-akhir ini berkelebat. Berputar seperti film tanpa jeda. Mulai dari kehilangan orang tua, belajar mejadi kepala keluarga, membayar hutang-hutang keluarga, dan meninggalkan Sheila yang baru berumur tiga belas tahun untuk hidup mandiri di rumah.


Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku bisa menjadi kakak yang baik? Apakah aku bisa menjadi kakak yang dibanggakan Sheila? Apakah aku bisa menyekolahkan adik ku sampai ke bangku kuliah?. Dadaku sesak, air mataku mengalir, menetes mengenai tanganku. Segera aku menyeka air mataku dengan ujung kerudung yang aku kenakan, malu bila dilihat orang. 


Masih ingat dengan jelas, tangis haru bapak ibu, saat aku lolos SNMPTN diterima di sebuah kampus negeri di Bandung. Sebuah kampus bergengsi tempat orang-orang hebat menimba ilmu di sana. Ibu memelukku dengan erat. Kulihat mata bapak berembun, Ia kemudian dengan pelan menepuk pundakku. 


"Ya Allah gusti. Alhamdulillah. Selamat ya nduk. Semoga kamu bisa menjadi orang yang hebat seperti mereka. Bisa memberi manfaat yang banyak untuk kebaikan manusia, terutama bagi orang-orang di desa kecil kita." Suara bapak terdengar pelan, tercekat oleh sesuatu yang menggumpal di tenggorokan.


"Bapak Ibu bangga, bagaimana mungkin anak seorang petani yang tidak lulus SD seperti kami, bisa kuliah di kampus besar tempat wakil presiden itu nduk. Tentu kami sangat sangat bangga" Ibu menambahkan, dengan pelukannya yang semakin erat.
Aku hanya mengangguk pelan. Tidak tahu bagaimana harus berekspresi.


Keesokan harinya, rumah kami ramai dengan hajatan, selamatan sebagai bentuk rasa syukur atas kelulusanku diterima di kampus itu. Ibu membagikan nasi dan kue kepada para tetangga serta pengajian dilakukan sebelum acara hajatan dimulai. Dan sejak saat itu, banyak sekali tetangga yang mengucapkan selamat ketika aku tidak sengaja berpapasan di jalan atau ketika aku menyapu halaman depan rumah. Benar saja, jumlah warga di desa ku yang hanya lima puluh kepala keluarga tentu membuat berita ini cepat tersebar.


Ironi, sungguh begitulah kehidupan, dengan misterinya yang tidak pernah bisa dibayangkan. Dua bulan kemudian, seperti hari biasanya, selepas shalat subuh bapak mengantarkan ibu ke pasar untuk berjualan. Saat itu sendang pasaran Minggu Pon, hari pasaran di mana ramainya para penjual dan pembeli berdatangan. Tidak heran, kali ini ibu membawa dua buah keranjang besar berisi jajanan pasar dan sebuah tas kresek berisi daun jati untuk membungkus makanan itu. Satu keranjang ibu letakkan di pangkuan, sedangkan keranjang lainnya ditaruh di motor bagian depan, sementara tas kresek ibu jinjing di samping motor. Setelah mengantarkan ibu, bapak biasanya akan langsung pulang untuk kemudian pergi ke sawah. 


Namun, saat itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh seharusnya bapak sudah sampai di rumah sejak jam setengah enam lalu. Perasaanku tidak enak, namun aku abaikan, budhe Sri, tetangga samping rumah tiba-tiba memelukku ketika aku sedang menjemur pakaian di depan rumah.


"Ya Allah nduk... ya Allah nduk... yang sabar ya nak... " bude Sri teman ibu ku berjualan di pasar,  memelukku dengan erat, dengan  matanya yang  memerah karena menangis. Aku terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
"Kenapa bude?" tanyaku penasaran
"Ya Allah nduk...." Kata-katanya terhenti.
Sekejap kemudian, tetangga yang lain pun berdatangan.
"Ka, yang sabar ya nduk." ku alihkan pandanganku ke orang-orang yang tiba-tiba berkerumun di dekatku, mereka secara serempak juga menangis. Aku yang masih tidak tahu apa yang terjadi, di ajak bude Sri masuk ke dalam rumah, didudukkan di sebuah kursi kayu yang ada di ruang tamu.
"Ka..." Sunyi senyap. Hanya isak tangis sebagian orang terdengar. "Ibu bapak, kecelakaan. Saat ini kondisinya sedang kritis di rumah sakit. Sebuah truk menabrak mereka di tanjakan jalan Selo. Sopir dan keneknya bilang kalau mereka tidak melihat motor bapak melaju, karena tidak ada sorot lampu dari motornya. Sehingga bapak ibu tertabrak terpental menabrak pembatas jalan." Budhe Sri menjelaskan perlahan.


Tiba-tiba tirai pembatas ruang tengah terbuka. "Mba, kenapa ramai sekali?" Sheila yang baru bangun tidur dengan rambut yang masih acak-acakan dan mata sedikit merah,  telihat kebingungan mendapati banyaknya orang di rumah. Belum sempat aku menjawab, speaker masjid berbunyi . "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah meningal dunia bapak Satrio dan ibu Sukma pagi ini di rumah sakit. Jenazah akan disemayamkan siang ini di pemakanan Kenanga, setelah sholat dhuhur. Bagi bapak-ibu yang tidak berhalangan, bisa membantu kelancaran pemakaman di rumah duka."


Begitu mendengar pengumuman tersebut, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Sheila yang mulai sadar apa yang terjadi berlari kearahku, memelukku, menangis tidak kalah histerisnya. 


"Mbaa, bapak ibu mba... " tangis Sheila pecah. " Mba, kita sekarang sendirian mba."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya tangis yang semakin kencang. Tetangga yang lain mencoba menengkanku. Suara sirene ambulan tiba-tiba terdengar semakin dekat, jenazah bapak ibu tiba di rumah. Pandanganku tiba-tiba gelap, aku tak sadarkan diri.


Sayup-sayup terdengar alunan surat Yasin dibacakan. Mataku masih terpejam. Mencoba memastikan bahwa yang baru aku alami hanya mimpi belaka. Pelan, perlahan aku membuka mata, demi melihat Sheila memeluk jenazah bapak ibu, aku tersadar bahwa inilah kenyataaan pahit yang memang sedang terjadi.\


Tiba-tiba lamunanku terusik oleh sentuhan air minum dingin yang sengaja Lina tempelkan di tanganku. Kusipitkan mata ku berpura-pura baru bangun tidur, agar Lina mengira bahwa mataku yang merah bukan karena menangis tetapi karena tertidur.


"Yuk cari bus yang ke arah Malang." Ajak ku kemudian setelah selesai meneguk air minum yang baru Lina beli.


"Sebentar, aku mau makan tahu dulu." Kata Lina sambil memasukkan tahu dan menggigit cabe ke dalam mulutnya. "Mau, ngga?" Ia mencoba menyodorkan tahu goreng yang sedang Ia pegang.


"Nanti saja sekalian di bus." 


"Ya sudah kalau begitu." Ia masih melanjutkan menggigit tahu goreng yang tadi Ia beli.
"Malang.. Malang.. yang mau ke Malang." Seorang kenek bus mencoba mencari penumpang.

 "Ayo Malang mba mas. Bus Ac, tarif normal." Ia mencoba meyakinkan.


"Ayo, Ka." Lina kini sudah siap dengan tas ransel yang sudah menempal di punggungnya. Aku menangguk, kemudian kami berlari kecil bersama menuju bus yang kami tuju.


"Alhamdulillah dapat tempat duduk. Kita bisa tidur Lin." Aku tersenyum. Lina hanya mengacungkan jempolnya.


Sepuluh menit berlalu, kursi bus yang kosong sudah terisi dengan para penumpang. Bus kemudian melaju perlahan, meninggalkan terminal Bungurasih.


"Mba, berangkat. Do'a kan mba ya." Icon hati aku tambahkan kemudian aku tekan tombol send. "Bapak ibu, do'akan Soka ya." Kata ku lirih, kemudian mataku terpejam. 


Baca Merantau Bagian 1 di sini

1. Merantau Bagian 1

Pengap, sesak berjejal. Bau asap rokok bercampur dengan keringat, menyeruak menusuk hidung, memberikan aroma yang membuat perut ku mual. Wajah-wajah layu dengan mata setengah terpejam terlihat di sebagian penumpang yang mendapatkan tempat duduk, sebagian lainnya berdiri berdesakan hingga tidak ada celah di koridor bus yang kami tumpangi.



“Terminal Bungurasih... Bungurasih, masih ada yang kosong.” Suara kenek bus terdengar nyaring


“Ayo mba, ibu, masih ada yang kosong.” Sekali lagi Ia mencoba meyakinkan para pejalan yang lewat.

“Sudah penuh pak sopir, ayo berangkat. Ini sudah menunggu dari tadi. Sudah tidak ada tempat lagi.” Seorang ibu-ibu terdengar tidak sabaran karena harus menunggu dalam waktu yang sangat lama hingga bus berangkat.

“Berangkat Pir,” Penumpang yang lain ikut menambahkan.

Benar saja, kata ku dalam hati. Aku sudah di dalam bus ini sekitar setengah jam lalu, dan tidak mendapatkan tempat duduk. Apalagi penumpang lainnya yang sudah sejak tadi menunggu. Tentu sudah sangat kesal sekali.

Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya bus melaju perlahan. Sebuah lagu lawas “Stasiun Balapan” karya almarhum Didi Kempot di putar. Mengalun, membuai  para penumpang yang terlelap dan yang lainnya terkantuk-kantuk dengan tetap terjaga mengapit barang bawaan mereka.

Ini kali pertama aku merantau ke tempat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Berpegian bersama dengan seorang teman yang berasal dari desa yang sama. Kami mencoba merantau, mencari peruntungan nasib yang lebih baik. Kota Malang menjadi tujuan kami.

Sejak lulus SMA dua bulan lalu, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Meskipun sebelumnya aku sudah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan, namun kecelakaan yang mengakibatkan meninggalnya kedua orang tua ku, membuat langkah ku berhenti sementara.

Uang tabungan yang tidak seberapa yang kami miliki, aku gunakan untuk menutup hutang keluarga, dan sisanya untuk biaya sekolah adikku yang mulai masuk sekolah menengah atas. Kini posisiku telah berubah menjadi kepala keluarga, mau tidak mau aku harus bisa menghidupi dan menyekolahkan adik semata wayang, satu-satunya keluarnya yang aku miliki.

Setelah ijazah SMA keluar aku memutuskan untuk bekerja di Malang, menjadi pembantu rumah tangga. Tidak mengapa, bagiku selama itu halal akan aku lakukan apapun untuk bisa memenuhi kebutuhan adikku. Kini tanggungjawabku semakin besar. Tidak ada lagi ego untuk diri sendiri.

“Bungurasih.. Bungurasih.. terminal terakhir. ...Bapak, Ibu mohon diperiksa kembali barang bawaanya. Hati-hati banyak copet” Suara kencang kenek membuyarkan lamunanku.

“Lin..Lina... bangun, mau sampai.” Kataku sampil menepuk punggu Lina perlahan, yang terlelap sejak tadi saat Ia mendapat kesempatan untuk duduk, saat ada penumpang yang turun di Romokalisari.  "Ayo siap-siap, hati-hati barang bawaan."  Kata ku menambahkan. 


 

Bersambung Merantau Bagian 2