Mendadak Inggris

Berapa lama waktu yang telah kita habiskan untuk belajar bahasa Inggris, 10 tahun? 12 tahun? atau mungkin lebih jika dihitung dari SD hingga kuliah saat ini. Dengan waktu yang cukup lama, ternyata tidak menjadikan kita lancar untuk level percakapan, mungkin ada beberapa alasan klasik yang ditakutkan banyak orang  (termasuk saya) yang ingin memulai pembicaraan dengan native, alasanya takut salah gramarnya, takut salah kosakatanya, takut ditertawakan dan ketakutan lainnya sehingga kemampuan kita stuck pada level itu-itu saja. Padahal banyak diantara kita yang ingin sekali lancar berbahasa inggris, cas..cis..cus... seperti air mengalir:D.
Bapak dosen keceh, Bapak Sukenda (kiri) dan Bapak Dedi Jusadi (kanan)
Siang itu saat di kampus, tak seperti biasanya ada dua orang bule yang datang ke departemen, yang tentu saja ingin bertemu dengan bapak dosen. Namun karena janji bertemu jam 1 siang, sementara si bule datangnya jam 11, jadilah kami, mahasiswa yang terbata-bata dan tak lancar bicaranya ini harus menemani mereka. Hmm itung-itung praktikum :D.

Saya bersama dengan seorang teman yang sama-sama tidak tahu mau bicara apa saja dengan si bule, mulai gusar. Wajah kami mungkin terlihat tegang, muka pucat, tapi mau bagaimana lagi. Ibaratkan kita di lempar ke sungai, mau ngga mau kita harus berenang jika ingin selamat.

Hal pertama yang kami lakukan, kami mengajak mereka ke kantin. Menjelaskan berbagai menu makanan yang tersedia (jangan dibayangkan ya, kami menjelaskan dengan lancar :D) yang pada akhirnya si bule memilih makanan yang menurut kami enak.
Sembari menikmati makan siang, kami ajak mereka mengobrol, menanyakan asalnya, sudah berapa lama di Indonesia, tentang kuliner Indonesia yang mereka sukai dll. 

Ternyata oh ternyata. Mereka adalah mahasiswa master dari sebuah perguruan tinggi yang ada di Denmark. Berasal dari departemen berbeda Human Resource dan Economy (nama kampus ada di kartu nama yang entah dimana saya lupa menaruhnya). Datang ke Indonesia karena tugas dari kampus untuk melihat potensi SDM dan ekonomi jika diambil dari bidang perikanan (Weleh..tugas ternyata bukan mencari data untuk tesis mereka :D). Mereka akan tinggal di Indonesia kurang lebih 2-3 bulan, berkeliling ke beberapa kampus dan lokasi potensial lainnya.

Lepas makan kami ajaklah mereka berkeliling kolam percobaan, kolam yang biasanya digunakan oleh para mahasiswa untuk melakukan penelitian. Di tengah matahari siang yang terik, kami berjalan melewati pematang kolam. Ngobrol ngalor..ngidul dengan topic random yang terkadang terhenti karena saya lupa kosa katanya. Masing-masing kami berbicara dengan satu orang, yang saya mungkin agak canggung ketika melihat postur tubuh mereka yang tinggi menjulang :D.

Ala bisa karena terpaksa mungkin ini kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan tersebut. Satu setengah jam berbicara langsung dengan bule ternyata menyadarkan diri saya, ternyata untuk bisa lancar berbicara, kita hanya perlu praktik, yang nantinya mungkin akan berakhir dengan bahasa tubuh karena minimnya kosakata yang dimiliki.

Ketika Bunga Rafflesia Mekar di KRB

Mau berlibur di kota Bogor? KRB bisa menjadi pilihan tempat wisata terdekat selain Taman Topi dari stasiun Bogor. Cukup dengan berjalan kaki, pengunjung bisa menyaksikan sekawanan rusa yang berlarian bebas dan memberi makan hewan-hewan tersebut dengan membeli sayur wortel atau jenis sayuran lain yang dijual disekitaran wilayah KRB.  Namun, jika ingin masuk lebih jauh ke dalam KRB pengunjung harus naik angkutan perkotaan (angkot) nomor 3 atau 2, sehingga pengunjung bisa sampai di pintu masuk yang diinginkan.
Mau kemana?
Beberapa kali berkunjung ke KRB (Kebun Raya Bogor) ternyata masih banyak spot menarik yang belum saya kunjungi. Terakhir saya ke KRB ketika ISTURA (istana untuk rakyat) tahun lalu. Pada saat itu Istana Bogor yang biasanya tertutup untuk masyarakat umum, ternyata dibuka untuk semua kalangan , sehingga kami bisa sedikit melihat isi istana, yaah meskipun tidak diperbolehkan masuk ke area dalam istana, namun setidaknya kami bisa berada di lokasi yang cukup dekat dengan istana. Untuk artikel lengkapnya bisa dibaca di sini.

Berbicara tentang KRB tidak melulu tentang sekelompok rusa yang banyak berkeliaran bebas, Istana Bogor, taman meksiko, danau segunting dan lainnya. Namun, ternyata ada tempat lain yang tak kalah menariknya dengan hal yang saya sebutkan di atas, yaitu bunga Raflesia Padma dan Taman Sudjana Kassan. 

Bunga Rafflesia
Bunga Padma aka bunga bangkai atau yang lebih di kenal dengan bunga Raflesia Padma merupakan bunga langka yang keberadaanya dilindungi oleh negara. Bunga ini ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles saat melakukan ekspedisi ke Sumatera.
Bunga ini mekar sebanyak 14 kali sejak tahun 2010. Waktu mekar bunga ini pun singkat dua sampai tiga hari saja, namun jika cuaca cukup lembab, waktu mekar bisa lebih lama. 
Sayangnya sang bunga sudah layu :(
Bunga Raflesia merupakan tumbuhan parasit. Bunga berwarna jingga kemerah-merahan ini memiliki lima helai mahkota bunga yang besar. Bunga ini mekar pada tanggal 13 September 2019, ketika saya berkunjung ke KRB tanggal 18 September kemarin ternyata bunga Raflesia sudah layu. Hal ini dikarenakan pengaruh cuaca yang cukup panas belakangan ini. Menurut infomasi yang saya dapatkan, akibat lain dari cuaca panas, mahkota bunga tidak mengembang sempurna.

Taman Sudjana Kassan
Tidak jauh dari area tumbuh Bunga Raflesia terdapat sebuah taman yang dikenal dengan taman Sudjana Kassan yang mulai dibuat pada tahun 1988. Taman ini dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada kurator Sudjana Kassan yang bekerja di KRB pada tahun 1959-1969, yang kemudian menjabat sebagai direktur KRB pada tahun 1959-1969.
Taman Sudjana Kassan
Tidak jauh berbeda dengan taman pada umumnya, taman ini juga di penuhi dengan berbagai jenis tanaman, namun beberapa tanaman di tata dalam relief besar berbentuk garuda lambang negara Republik Indonesia, sehingga taman ini juga disebut juga dengan taman Bhinneka. Selain tanaman, terdapat juga patung sang kurator Sudjana Kassan.

Berjalan sebentar dari taman Sudjana Kassan terdapat sebuah griya anggrek, namun karena ada perbaikan, area ini ditutup.
Berkeliling KRB menurut saya tidak cukup dalam waktu satu hari, apalagi berkeliling dengan berjalan kaki, berbeda jika menggukan mobil wisata, tentu dapat menjangkau dengan mudah beberapa tempat yang letaknya jauh dari pintu masuk. Namun, pengunjung tidak dapat menikmati objek wisata secara dekat dan dalam waktu yang lama. 
Masih banyak tempat yang belum dikunjungi
Oh iya, untuk masuk area KRB ini, pengunjung bisa memilih masuk dari beberapa pintu masuk 1, 2, 3 dan 4. Bisa saja ketika masuk dari pintu 1 saat keluar KRB tiba-tiba sudah berapa di pintu 3, karena pengunjung tidak sadar telah mengelilingi KRB. Kalau bingung pengunjung bisa memeriksa lokasi saat ini dengan melihat denah di atas.

Perjalanan Nyasar dari Jak-Japan Hingga Konser K-Pop

Bagi seorang yang suka jalan-jalan, perjalanan nyasar di suatu tempat yang belum pernah dikunjungi, sebenarnya ibaratkan appetizer yang harus dicicipi sebelum menu utama. Bahkan di tempat nyasar itu hal yang didapatkan sama menariknya dengan tujuan utama atau mungkin lebih. Sama halnya dengan yang saya rasakan dalam perjalanan kali ini.

Pameran buku IIBF (Indonesia International Book Fair) menjadi tujuan perjalanan saya. Pameran ini dibuka hanya lima hari pada tanggal 4-8 September 2019, dan saat hari ahad kemarin adalah hari terakhir pameran berlangsung. Tidak mau ketinggalan diskon buku yang menggiurkan, saya memutuskan untuk datang ke lokasi pameran yang diadakan di JCC (Jakarta Convention Center).
Jak-Japan Matsuri 2019
Hal pertama yang saya lakukan ketika ingin pergi ke suatu tempat adalah mencari informasi rute perjalanan, selain biaya perjalanan tentu saja. Karena letaknya di Jakarta, tentu tidak sulit karena banyak tempat terhubung dengan moda transportasi KRL (Commuter Line) sebagai kendaraan utama yang harus digunakan. Setelah membaca beberapa informasi, saya memutuskan untuk naik MRT dari St. Sudirman. Untungnya saya sudah pernah naik MRT dari stasiun ini, sehingga perjalanan menggunakan MRT kali ini cukup mudah dilakukan.

Ternyata oh ternyata, petualangan yang sebenarnya baru saya rasakan setelah itu. Info sebelumnya yang saya baca, untuk mencapai JCC saya bisa naik ojek online setelah keluar dari MRT Senayan. Keluar dari stasiun saya sedikit bingung, harus jalan ke arah manakah? kanan-kiri gedung-gedung tinggi menjulang, menciutkan sedikit langkah kaki. Pada akhirnya pilihan terbaik adalah bertanya dengan orang yang paham daerah tersebut, pada saat itu saya bertanya dengan petugas keamanan sebelum keluar stasiun. Ia menjelaskan seharusnya turun di MRT Bendungan Hilir. Karena terlanjur salah turun, ia menunjukkan rute jalan kaki yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. "Lurus saja mb". Oke got it.

Berjalan sebentar, ternyata saya agak familiar dengan gedung di sebelah kiri saya, gedung Kemendikbud, tempat dimana saya mengikuti pameran 3000 doktor. Takut salah arah, saya memutuskan untuk bertanya ulang kepada orang melintas, yang terlihat membawa kipas, yang menurut saya kipas itu diperoleh/dibeli di pameran buku di JCC, dan dari sini lah perjalanan nyasar saya dimulai.

*Jak-Japan
Tahu akan banyaknya barisan anak muda yang berkumpul, di sebuah lokasi dengan latar pohon sakura buatan, yang bentuknya tak lebih indah dari bunga sakura di KRC saya mengira inilah tempat pameran buku. Mengikuti arus yang ada, saya mengantri untuk membeli tiket masuk seharga Rp 30.000. Selain tiket, petugas juga memberi kipas. Pas sekali, siang itu udara sangat panas. 

Saat pemeriksaan tiket masuk, saya bertanya letak JCC, petugas bilang tidak tahu. Ya sudahlah, nikmati saja acara ini. Hal yang menyenangkan ternyata sudah menunggu di dalam. 

Warna merah pada tulisan menunjukkan ikatan persahabatan antara Indonesia dan Jepang
Jak-Japan Matsuri 2019, dari namanya saja seharusnya saya sudah bisa menebak jika acara yang sedang berlangsung merupakan pameran serba Jepang. Gantungan kunci tokoh-tokoh anime tampak ramai didatangi pengunjung. Perempuan yanng mengenakan Yukata (Pakaian tradisional Jepang) banyak terlihat, beberapa di antaranya memilih mengabadikan tampilan mereka di banner berlatar kuil dan pohon sakura di tempat di mana Kimono itu dipinjam. Miniatur rumah tahan gempa pun tampak dipajang. Mobil dan berbagai produk elektronik banyak di jual. Yang tak kalah menarik, ada panggung yang menampilkan nyanyian yang artis nya berasal dari Negara Sakura tersebut.

Hyaaaattt...
Tak berapa lama. Penampilan beberapa kesenian Jepang di tampilkan di area yang berbeda dari panggung utama. Tampak beberapa anak muda, seumuran anak SMP menari dengan menorehkan kuas di sebuah kanvas besar, mengikuti irama dengan menuliskan beberapa huruf Kanji (Hiragana/Katakana). Lanjut kemudian ada pertunjukan samurai dari teater yang beranggotakan orang-orang Indonesia. Cukup ngeri, ketika kilau samurai saling saling beradu, meskipun tidak menimbulkan suara denting. Tidak hanya sampai di situ. Mereka juga menampilkan tarian dengan membawa tiga naga besar, saling meliuk mengitari lapangan pertunjukkan. Sebagai penutup sebuah tampilan tarian di sajikan. 

*On Off
Setelah dua jam menikmati Jak-Japan Festival, saya melanjutkan mencari lokasi JCC. Bertanya kembali ke petugas keamanan yang ada di dalam area festival, ia menunjukkan jalan "Jalan itu lurus mb". Oke.

Sebuah taman bertuliskan Go Food Festival saya lewati. Menyusuri jalan hingga saya tiba di GBK. Urung melangkahkan kaki masuk ke stadion ini, karena lokasi ini lumayan sepi untuk sekelas pameran buku internasional (Ya memang bukan JCC:D). Akhirnya saya memutuskan bertanya lagi ke petugas kebersihan yang ada di depan GBK, dan mereka menjawab tidak tahu letak JCC. 
Ada yang tahu harga tiketnya?
Kaki sudah terasa capek. Peluh sudah sejak tadi mengalir. Saya kemudian kembali masuk Festival Jak-Japan, untuk sekedar lewat menuju jalan keluar. Jalan dan jalan lagi, akhirnya saya menemukan petunjuk arah JCC. Yeeey..Alhamdulillah

Keramaian sedang berlangsung di gedung itu. Tanpa pikir panjang saya ikut antri masuk, kali ini tidak berbayar. Tampak petugas keamanan memeriksa tas yang saya gunakan, beberapa polisi juga terlihat berseliweran.
Saya nyasar lagi.

On Off Festival Video, nama acara ini. Ternyata oh ternyata ini acara konser K-Pop.. (Ketawa sendirian ketika mengetahui salah alamat). Beberapa stand tampak menjual tiket konser. Beberapa orang juga menjual di luar gedung (semacam calo, dengan harga yang biasanya dua kali lebih mahal). Banner idol korea berukuran besar terpasang di sekitaran stasion tempat konser berlangsung, salah satunya boyband WINNER dan KARD (Ko tahu? karena ada tulisannya :XD). Area foodcourt pun tak kalah ramai. Aneka jajanan di jual dengan latar lagu-lagu Korea. 

Di lokasi nyasar ke dua ini saya tidak bertahan lama. Mungkin hanya setengah jam untuk mengitari lokasi :D.

*JCC
Tempat tujuan utama yang sudah diniatkan dari awal perjalanan.

Belum juga tampak hidung sang gedung JCC, saya mencoba usaha terakhir yang bisa saya lakukan, yaitu bertanya ke pejalan kaki yang berpapasan tentang lokasi gedung. Ternyata tinggal selemparan mata, jarak sudah sangat dekat. Finally.

Setelah melihat gedung tersebut, saya bergumam "Oalah, itukan gedung yang sudah pernah saya datangi waktu IBF-Islamic Book Fair". Hmmm...Selama ini..
Hati-hati uang ludes di zona ini :D
JCC menjadi tempat diselenggarakannya IIBF dan IBF yang biasanya berlangsung pada waktu yang berbeda. Hari terakhir pameran buku ini-IIBF, pengunjung terlihat masih sangat antusias memborong buku-buku favorite mereka. Bahkan ketika saya mampir di stand Republika, seorang ibu tampak memborong sepuluh eksemplar (mungkin lebih) buku karangan penulis kondang, Tere Liye yang saat itu mendapatkan potongan 20%, lumayan bukan.
Kecil-Kecil Punya Karya
Di bagian dalam gedung, sedang berlangsung talkshow yang menghadirkan penulis cilik Nayfa yang mengambil tema Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Kursi di depan talkshow tampak ramai dengan rombongan keluarga dan peminat buku lainnya.

Tak jauh dari panggung, terdapat "Zona Kalap Sale Up To 90%". Di zona ini, jumlah buku yang di beli tak kalah banyaknya. Keranjang-keranjang para pengunjung terlihat penuh dengan buku-buku pilihan mereka. Sementara saya, tak perlu pakai keranjang, tanggan masih cukup membawa buku yang jumlahnya hanya beberapa saja.

Kesimpulan perjalanan kali ini :D. "Terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan, tapi sungguh ada banyak pelajaran baru yang akan kita dapatkan jika kita mau bersyukur menikmati prosesnya"

Kamu punya pengalaman nyasar yang menyenangkan? Yuuk share ceritamu di kolom komentar

Tiga Hari Melewati Laut China Selatan dengan Kapal Perang

Suara lenguh kapal mulai terdengar nyaring. Para anak buah kapal (ABK) yang berasal dari TNI AL tampak begitu sibuk mengangkat jangkar yang sudah dilemparkan sejak kapal ini mulai berlabuh. Kami para peserta yang tergabung dalam agenda Sail Wakatobi Belitung sudah sejak tadi bersiap-siap menyaksikan keberangkatan kapal yang kami tumpangi dari Jakarta, pelabuan Tanjungpriok. KRI Makassar, itulah nama kapal perang yang akan kami gunakan dalam perjalanan ini. Kapal ini berukuran sangat besar dengan panjang 125 meter dan lebar 22 meter.
KRI Makassar 590 yang kami tumpangi (Pit by hobbymiliter.com)
Ini pertama kalinya saya berpergian menggunakan kapal dengan ukuran yang sangat besar dan dalam waktu yang sangat lama, dua puluh lima hari. Selama waktu itu kami gunakan untuk mengarungi pulau barat Indonesia. Itinerary perjalanan ini meliputi Jakarta, Pulau Natuna, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Dumai, Belitung dan berlabuh kembali ke Jakarta.

Laut China Selatan

Tak pernah terbayangkan sedikitpun, saya bisa mengikuti agenda keren ini. Begitu ada tawaran dari kampus, langsung saja saya dan seorang teman mendaftarkan diri dengan proses pendaftaran yang sangat mudah saat itu, hanya menyetorkan biodata dan pas foto. Sail Wakatobi Belitung merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora). Nama kegiatan ini berubah-ubah sesuai dengan destinasi perjalanan yang berbeda setiap tahunnya.
Laut China Selatan, Jalur yang harus di lalui menuju Natuna (Pict bywartakotatribunnews.com)
Laut China Selatan menjadi rute perjalanan kami menuju Pulau Natuna. Selama tiga hari kami berada di tengah lautan luas, terombang ambing memecah ombak dengan ketinggian enam meter. Memang rute ini terkenal dengan ketinggian ombaknya. Saya yang tidak terbiasa dengan moda transportasi jenis ini, mulai merasa mabuk laut. Begitu mabuknya, perpaduan laut dan langit indah saat senja pun terlewatkan karena lebih memilih untuk beristirahat di tempat tidur yang sudah disediakan untuk peserta. Pun ketika kami harus sholat berjamaah di lokasi yang berdekatan dengan helideck. Sebisa mungkin kami berdiri tegak, agak miring terkadang, karena pengaruh ombak.

Kurangnya jalan-jalan dan membaca menjadikan pengetahuan yang saya miliki sangat minim #Alibi :D. Laut China Selatan, ini pun saya juga baru tahu ketika kegiatan berlayar ini berlangsung. Bagaimana ombaknya, perjalanan kegiatan ini atau pun yang lainnya sama sekali tidak saya searching, sehingga mau tidak mau apa yang ada di depan mata itu yang kami jalani.

Pulau Natuna
Pagi setelah sholat subuh, kami mulai bersiap-siap untuk menyaksikan kapal berlabuh. Bagaikan menikmati air dingin ketika panas terik. Mungkin seperti itulah rasanya ketika kami akhirnya bertemu dengan daratan, Pulau Natuna. Deretan pulau-pulau kecil lainnya tampak terlihat, menyapa kami yang tak sabaran untuk turun. Satu dua rumah panggung mulai bermunculan. Setelah mendapat komando, kami akhirnya turun ke darat. Beberapa pejabat setempat tampak menyambut kedatangan kami, sementara wajah-wajah penasaran dari warga dan anak-anak kecil tampak terlihat jelas menyapa kami dengan senyuman mereka.
Natuna adalah Indonesia
Air laut di pulau ini sangat jernih. Beberapa ikan hias terlihat menggiurkan untuk ditangkap :D. Barisan pohon kelapa memenuhi bukit yang terletak di belakang rumah-rumah penduduk. Sebuah masjid besar berwarna kuning turut melengkapi bangunan desa.
Para peserta turun ke darat dan berkumpul di sebuah lapangan. Upacara penyambutan kemudian dilakukan. Selesai itu, kami pun mulai berkunjung ke rumah penduduk setempat, menikmati keindahan pulau dan akhirnya kembali lagi ke kapal. Di pulau ini, kami hanya tinggal selama dua hari, dan kegiatan banyak dilakukan di dalam kapal.

Batam

Upacara kemerdekaan kami lakukan di pulau ini di sebuah lapangan yang letaknya berdekatan dengan icon "Welcome to Batam", selesai upacara kami kemudian berkumpul di kantor pemerintahan Batam untuk menerima sambutan dan pengetahuan segala hal tentang Batam. 
Welcome to Batam
Beberapa kegiatan yang kami lakukan di pulau ini: menanam mangrove, bersih-bersih pantai, dan terakhir kami dapat kesempatan untuk main di sebuah mall yang saya lupa apa namanya. Dan di tempat inilah saya baru mengetahui istilah barang black market #hadeh.

Kepulauan Riau
Saya lupa kegiatan apa saja yang kami lakukan di pulau ini. Yang saya ingat hanya audiensi dengan pemerintah setempat dan minuman yang kami dapatkan. Ko minuman? Iya karena makanan minuman kemasan di sini banyak didatangkan dari Malaysia  atau Singapura karena letaknya memang lebih dekat dan mungkin harganya lebih terjangkau jika dibandingkan dengan harga barang-barang yang dibeli dari ibu kota Jakarta.
Mari menanam
Dumai
Udara tak cukup enak untuk dihirup, sedikit sesak, suasana tampak berkabut meskipun siang hari. Setelah kapal merapat di pelabuhan, kami bergegas naik ke bus menuju kantor sebuah perusahaan minyak besar, Chevron tepatnya di PT.Chevron Pasific Indonesia.
Barisan panitia yang menyambut terlihat dengan senyumya mempersilahkan kami untuk masuk di sebuah gedung yang cukup besar. Tak begitu lama, Sang pemimpin perusahaan memberikan materi tentang bagaimana minyak mentah di olah, dari mana sumber minyak di dapatkan, program CSR untuk masyarakat setempat dan banyak ilmu lainnya yang sangat bermanfaat.
Tari Sekapur Sirih Dumai
Belitung
Saat itu hujan turun ketika sebuah tarian khas kepulaun Belitung menyambut kami. Iya, ini pulau terakhir yang kami kunjungi selama berlayar. Acara seremonial pun dilakukan seperti di pulau-pulau sebelumnya. Selanjutnya kami menikmati suguhan yang menu utamanya ikan segar dan jenis seafood lainnya. Lepas makan, kami lanjutkan pergi ke Universitas Bangka Belitung untuk belajar beberapa hal. Di pulau ini pula kami melakukan bakti sosial tanam mangrove dan bersih pantai. Dan tibalah dengan hal yang sangat saya nantikan yaitu berkunjung ke pantai Laskar Pelangi, pantai Tanjung Tinggi.
Pantai Tanjung Tinggi
Sebuah papan bertuliskan "Lokasi Syuting Laskar Pelangi" menjadi tempat foto favorite yang banyak diincar para pengunjung, termasuk kami :D. Selain papan tersebut, batu granit besar yang banyak terdapat di pantai menjadi tempat foto menarik selanjutnya. Beberapa peserta tampak tak sabaran untuk berenang di tepian pantai. Yang lainnya memilih untuk menggunakan perahu karet karena memang tidak semuanya membawa pakaian ganti.
Ketika perahu karet kami hanya berputar dan tak mau kembali ketepian :D
Selama dua puluh lima hari, apa yang kami lakukan selain berkunjung ke pulau-pulau yang sudah ditentukan? Selama tidak berlabuh di daratan, aktivitas kami di dalam kapal tidak jauh berbeda dengan kegiatan perkuliahan, ada beberapa materi seputar ketahanan NKRI, kemaritiman, kebudayaan, bagaimana cara menyelamatkan diri ketika kapal bermasalah, dan berbagai materi lainnya. Selain itu ada juga tampilan kesenian dari masing-masing kelompok, liga persahabatan dengan tim sepak bola pulau yang dikunjungi dan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya.

#Kilas balik perjalanan Sail Wakatobi Belitung 2011

Sedekah Bumi

Gamelan ditabuh, satu dua Sinden tampak mulai berlenggak-lenggok menari seraya menyanyikan kidung Jawa. Beberapa warga desa telah berduyun-duyun datang, mengelilingi sungai tempat di mana acara ini digelar. Mereka membawa berbagai makanan yang dibawa menggunakan tampah (nampan berukuran besar dan bulat terbuat dari bambu) yang dilapisi dengan daun jati, kemudian ditata rapi berjejer di sebuah terpal besar. Tampak beberapa anak kecil yang sudah pulang sekolah mulai duduk  di depan nampan tersebut, dengan sumringah menanti acara dimulai. Sementara orang dewasa duduk di bibir sungai.
Tayub, Kesenian Jawa Timur-an (Pict by budayajawa.id)
Iya, ini adalah serangkaian pesta adat masyarakat di desa tempat saya tinggal. Satu tahun sekali, tepatnya pada hari Kamis Legi (tanggalan Jawa) acara ini diadakan di sebuah sungai besar yang pernah menjadi sumber mata air untuk berbagai keperluan pertanian dan rumah tangga. Belakangan ini, pemanfaatan sungai lebih banyak digunakan untuk pengairan sawah dan ladang, sementara untuk keperluan mandi dan mencuci, warga sudah mulai banyak yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing. Sungai ini berukuran kira-kira dua puluh meter dengan kedalaman sepinggang orang dewasa, dipagar dengan menggunakan beton, mirip kolam renang jika di kota besar.

Sedekah Bumi. Begitu kami menyebutnya. Sedekah berasal dari bahasa Arab Sadakah yang memiliki arti pemberian sukarela dari seorang muslim kepada orang lain secara ikhlas, Bumi berarti bumi. Dengan kata lain Sedekah Bumi adalah bentuk terima kasih masyarakat kepada Allah atas limpahan kebaikan alam yang telah diberikan berupa hasil panen. Jika di daerah lain di Pulau Jawa, Sedekah Bumi diadakan dengan membawa berbagai hasil pertanian seperti arak-arakan buah-buahan dan sayuran, di desa kami lebih sederhana. Masyarakat akan membuat makanan biasa seperti nasi, lauk ayam/ikan, sayuran, mie, dan beberapa potong buah, yang kemudian disusun rapi di sebuah tampah besar, dan tidak ada keharusan membuat makanan dalam bentuk tumpeng.
Di bawah teduh pohon beringin, tempat Gamelan ditabuh
Pukul dua belas tepat, suara kentongan terdengar, sayup-sayup, karena memang kentongan ini di tabuh oleh kepala desa  yang rumahnya jauh dengan sungai tempat acara ini berlangsung. Dipukulnya kentongan ini menandakan acara ini telah siap dimulai. Sesepuh desa dan seorang imam masjid kami bergantian membacakan doa. Sesepuh desa dengan doa bahasa Jawanya, sementara imam masjid dengan doa menggunakan bahasa Arab. Perpaduan dua doa yang berisi ucapan terima kasih atas kebaikan yang Allah berikan dan pengharapan akan hasil panen yang baik ketika musim panen nanti tiba.

Begitu doa-doa selesai dipanjatkan. Para warga akan saling berebut makanan. Anak-anak kecil yang sudah men-tag wilayah kekuasaaanya akan dengan mudahnya mengambil makanan yang ada di depan mereka, sementara beberapa warga yang tidak mendapatkan tempat duduk, akan saling berebut makanan, meskipun di depan nampan tersebut sudah ada yang menguasai. Para warga dan pengunjung lainnya beberapa diantaranya membawa karung beras, kantong kresek besar yang mereka fungsikan untuk mengangkut makanan. Bisa jadi dalam satu kantong, antara nasi,lauk-pauk, kue dan buah-buahan akan tercampur, karena memang siapa cepat yang dapat mengambil makanan itu. Warga yang datang di acara tidak hanya dari warga asli setempat, beberapa berasal dari desa tetangga. Sedekah Bumi seperti ini akan bergilir setiap desa, dengan waktu yang berbeda. Para pengunjung biasanya juga berasal dari desa-desa tentangga.
Makanan siap diangkut :D
Perebutan makanan ini berlangsung cepat, kurang dari tiga puluh menit. Selesai acara, para warga akan membersihkan daun-daun jati dan bungkus-bungkus makanan yang berserakan,  dan kembali ke rumah masing-masing, sementara para pelaku kesenian yang sejak tadi mengiringi acara (Tayub-kesenian asli Jawa Timur yang terdiri dari peyanyi-sinden dan para kru penabuh gamelan, gong dan alat musik lainnya) akan tinggal melanjutkan nyanyian sampai setengah jam kemudian dan selanjutnya pindah tempat di balai desa.

Malam hari, saatnya warga berkumpul menikmati hiburan seni Tayub. Beberapa penjual makanan, minuman dan mainan dadakan telah banyak datang sejak sore tadi, mencari tempat strategis yang banyak dilalui warga dan anak-anak kecil. Para warga tampak menikmati pertunjukan seni, beberapa lainnya memilih istirahat di rumah karena lelah seharian kerja di sawah ladang. Hiburan seni ini berlanjut hingga pukul dua belas malam, yang kemudian ditutup dengan tari ular yang dibawakan oleh Sinden.

Berburu Kuliner Bogor di Jl.Surya Kencana

Kuliner, menjadi hal lain selain tempat wisata yang banyak di cari oleh para wisatawan. Keberagaman masyarakat Indonesia, menjadikan setiap daerah memiliki jenis kuliner yang beragam pula, tak heran memang. Bogor salah satunya. Kota yang terkenal dengan tempat wisatanya ini juga memiliki makanan khas yang harus kamu coba jika berada di kota ini. Jl.Surya Kencana tepatnya di Gang Aut menjadi tempat yang cocok untuk menikmati kulineran Bogor. Ada apa saja kuliner yang ada di jalan ini? berikut daftarnya:

Soto Kuning Pak Yusup
Iya, Pak Yusup, pakai P :). Soto kuning berbahan santan ini cukup terkenal. Buka sekitar pukul 14.00 WIB. Mungkin ada tiga kali saya memutari jalan yang sama untuk mencari soto Pak Yusup ini. Tak menemukan jejak kedainya, karena memang masih tutup, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk makan siang di soto kuning milik bapak M.Yusuf, mirip bukan namanya :). Soto kuning menjadi menu andalan di kedai ini dengan berbagai isian dan soto kuning campur menjadi pilihan saya. Sesuai dengan namanya, soto ini memiliki berbagai macam isi, mulai dari babat, paru, daging, limpa, lidah dan kikil. Dari segi rasa, menurut saya hampir mirip sayur lodeh yang diberi rasa asam, apa memang seperti itu ya rasanya?  maklumlah saya terbiasa dengan rasa Soto Lamongan :D, ketika merasakan soto kuning bersantan ada yang berbeda. Untuk harga satu porsi Rp 35.000. 

Mau isian soto apa?

Bir Kotjok
Eits... ini bukan minuman berakohol ya, 100% halal. Disebut dengan bir karena dalam penyajiannya minuman ini dikocok terlebih dahulu sehingga menghasilkan buih di bagian  atas yang sekilas mirip dengan miras itu. Bahan utama Bir Kotjok terdiri campuran dari berbagai rempah, jahe merah, serai, kayu manis, daun pandan, gula aren, bumbu minuman bandrek. Dengan banyaknya rempah yang digunakan menjadikan bir kotjok enak dinikmati pada waktu musim hujan, namun ketika musim kemarau seperti ini enak juga dinikmati dengan tambahan es batu. Harga satu gelas bir kotjok Rp 5.000.
Di minuuum disiang hari pun enak (Pict by travelkompas)

Lumpia Basah
Apa uniknya dengan makanan lumpia? Lumpia basah yang di Gang Aut ini beda. Kalau biasanya kita menikmati lumpia dengan isian sayuran, bihun, ubi, ayam dan dalam keadaan kering agak keras alias dalam bentuk gorengan, sesuai dengan namanya, lumpia basah ini tidak di goreng dan bahan utama isian lumpia adalah buah bengkoang. Iya buah yang biasanya digunakan untuk rujak itu dijadikan isian utama lumpia. Selain bengkoang ada juga tambahan telur, tauge dan beberapa bumbu lainnya. Lumpia basah ini disajikan dengan menggunakan daun pisang, enak dinikmati ketika hangat. Harga 1 porsi lumpia basah Rp 15.000.
Lumpia bbasah isi bengkoang ternyata enak juga

Cungkring
Jika di Jawa Timur, kata cungkring mengacu pada orang yang memiliki tubuh kurus, namun berbeda dengan di Bogor, cungkring merupakan nama makanan. Makanan ini dibuat dari  olahan kaki sapi, seperti kikil, kulit dan urat sapi.  Cungkring disajikakan dengan irisan lontong, cungkring tusuk dan siraman kuah kacang dan sambal. Harga satu porsi cungkring Rp 15.000. 
Ayo di oba cungkringnya :D

Ngohiang
Selama saya tinggal di Bogor, di Gang Aut inilah pertama kalinya saya menemukan jenis makanan ini. Ngohiang menyajikan dua varian, ngohiang ayam dan ngohiang babi. Disajikan dengan potongan tahu dan kentang,  untuk kuahnya seperti gabungan dari kuah kacang dan sate padang. Sebelum pesan sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu apakah ngohiang yang dijual adalah ngohiang ayam atau tidak. Meskipun itu ngohiang ayam dipastikan juga apakah memang hanya menjual ngohiang ayam atau ada juga ngohiang babinya. Karena, jika kedua varian ngohiang di jual pada tempat yang sama, asumsi penggunaan perlengkapan masak akan tercampur sehingga menyebabkan ngohiang ayam menjadi tidak halal. Paling aman memang mencari kedai ngohiang yang sudah ada sertifikat halalnya.
Ngohiang ayam bisa jadi pilihan (Pict by pergikuliner.com)

Asinan Jagung
Asinan menjadi salah satu kuliner Bogor yang harus kamu coba. Pertama kali mendengar nama asinan, saya beranggapan jika makanan ini memiliki rasa asin :D. Ternyata rasanya mirip rujak, namun dengan kuah yang agak banyak. Kuah asinan merupakan gabungan dari beberapa bahan antara lain cabai, gula, garam, dan perasan jeruk nipis.  Ada dua jenis, asinan buah dan sayuran. Di Gang Aut ini satu arah dengan Soto Pak Yusup terdapat asinan jagung. Jagung yang digunakan di bakar terlebih dahulu, setelah matang, jagung diiris dan kemudian ditambahkan kuah asianan. Hmm..segeer:D.
Dibakar dulu jagungnya, biar mantep
Gang Aut merupakan tempat kulineran yang pas jika ingin mencoba berbagai jenis kuliner Bogor. Di lokasi ini selain beberapa jenis makanan yang saya sebutkan di atas, masih banyak jenis makanan lagi seperti bakso kikil Pak Jaka yang super ramai sekali, Tallubi, talas, rujak dan berbagai jenis oleh-oleh khas Bogor yang lainnya.

Makan Beralaskan Daun Jati itu NIKMAT

Kampung halaman menjadi tempat yang selalu dirindukan, sejauh apa pun kita pergi. Suasana alam yang asri, sawah ladang membentang hijau, udara yang segar, kuliner yang murah meriah, saling sapa antar tetangga, mudahnya mengambil sayuran gratis di hutan atau bahkan yang tumbuh di pekarangan tetangga merupakan kehidupan lumrah masyarakat desa. Hal-hal seperti ini menjadi sebagian kecil hal yang selalu dikenang oleh anak rantau, selain itu beberapa hal di bawah ini, menurut saya pribadi menjadi hal lain yang dirindukan: 

Makan Beralaskan Daun Jati
Pagi itu kebetulan ada beberapa orang yang membantu membersihkan ladang. Satu baskom besar nasi putih dengan asap yang masih mengepul, sambal terasi, tempe goreng dan kopi pahit siap dikirim ke ladang. Dengan berjalan kaki melewati pematang ladang yang pagi itu tidak begitu berembun karena memang sedang musim kemarau, kami bergegas berjalan. Dari kejauhan tampak beberapa orang termasuk Bapak sedang mencangkul tanah, membuat lubang tempat benih labu kuning yang nanti akan ditanam saat musim hujan tiba. Setelah melihat kami datang, pekerjaan sementara dihentikan. Sepuluh menit berlalu, makanan sederhana itu pun ludes, hanya tersisa sedikit untuk saya makan, (secara ngga ikut kerja, ngga mungkin kan ikut makan bareng :D). Makan dengan beralaskan daun jati seperti ini sangat enak dinikmati ketika berada di landang atau sawah dengan pemandangan alam yang akan susah sekali didapatkan ketika nanti kembali di tanah rantau. 
Sudah pernah coba makan beralaskan daun jati?
Makanan Enak dan Murah
Adik saya merupakan penggemar mie ayam sejati, mau dimanapun yang Ia cari juga mie ayam :).  Siang itu sebelum berangkat mengantarkan Ia sekolah, kami makan mie ayam terlebih dahulu, di tempat yang Ia rekomendasikan. Sampailah kami di warung mie ayam yang letaknya tepat di depan rumah pemilik mie ayam tersebut. Sepuluh menit menunggu akhirnya pesanan mie ayam kami datang. Mie ayam komplit Rp 6.000  (mie, sawi, ayam, pangsit goreng) dengan minuman Marimas Rp 1.000 jadi total berdua kami hanya menghabiskan Rp 14.000 (coba di kota besar, Dramaga Bogor misalnya, dengan harga segitu mungkin begitu warung buka langsung ludes). Dilain kesempatan saya coba menikmati kuliner seblak, penasaran apakah rasanya sama dengan seblak yang dijual di Bogor, ternyata sangat berbeda, namun tetap saja enak di lidah saya yang saat itu sangat lapar. Untuk harga satu porsi seblak mie-kerupuk-telor Rp 7.000, ditambah sayap ayam Rp 3.000, lima biji ceker ayam pedas Rp 5.000, jus mangga Rp 7.000. Murah bukan.
Satu porsi mie ayam + air minum Rp 7000
Jajanan Pasar
Kue tradisional atau biasa kami menyebutnya dengan jajanan pasar memang tak semenarik makanan kekinian yang beragam variasinya, namun karena ketradisionalannya itulah menjadikan makanan jadul yang banyak jenisnya itu dicari ketika berada di pasar tradisional. Sebut saja macamnya seperti getuk lindri, canil, serabi, klepon, tiwul, dawet, lapis beras dan berbagai jenis lainnya.  

Masakan Ibu
Kalau yang ini pasti tidak tersedia dimanapun kecuali di rumah. Makanan sederhana buatan ibu tercinta. Seenak apapun makanan di luar sana, masakan ibu selalu menjadi hal yang dirindukan ketika pulang ke kampung halaman. Bahkan ketika kita ingin pulang, terkadang saya pesan ibu untuk memasakkan nasi jagung, bakwan jagung, sambal teri, sayur daun kelor. Iya makanan sederhana seperti itu, karena memang di tanah rantu sangat jarang sekali ditemukan penjual nasi jagung dan lauk pauk serta bala tentara pelengkapnya. Hmm jadi lapar.
Nasi jagung, mantaap (Pict by food.detik.com)
Renang Gratis
Gratis karena milik desa :). Biasanya di suatu desa terdapat sungai yang dipakai oleh anak-anak untuk bermain. Termasuk di kampung halaman saya, terdapat sebuah sungai besar dengan kedalaman sepinggang orang dewasa dengan panjang lima belas meter, dibendung menyerupai kolam renang, yang sampai saat ini banyak difungsikan untuk mengairi ladang-sawah, mencuci pakaian atapun berenang. Ini merupakan tempat berlatih renang yang menyenangkan, bahkan anak TK di desa sudah dengan lihainya berenang karena seringnya bermain di sungai ini, jadi ngga perlu les renang :D.
Sejauh apa pun kaki melangkah pergi, kampung halaman menjadi tempat yang dirindukan untuk kembali

Review Kuliner Korea di Bogor

Annyeong haseyo (Selamat datang), begitu kalimat sapaan yang diucapkan oleh seorang wanita, Ia tampak mengenakan Hanbok (pakaian tradisional Korea) berwarna hijau dan ungu fusia, berdiri sebelum pintu masuk resto Mujigae, menyambut dan mempersilahkan masuk para pelanggan. Resto yang memiliki tag line "Bibimbab & Casual Korea Food" ini terletak di Mall Botani Bogor.
Annyeong Set, Paket lengkap yang mesti dicoba
Begitu masuk restoran, kita akan disuguhkan dengan alunan lagu korea yang saat itu sekelompok girlband sedang menyanyikan lagu, diputar dengan suara yang tidak begitu kencang, dengan layar proyektor besar di lantai satu. Suasana saat itu cukup ramai, sehingga kami memutuskan untuk makan di lantai dua. Menuju lantai  dua, terdapat mural ramen dan tulisan Korea di dinding tangga yang kami lewati. Di lantai dua tidak ada mural, yang ada hanya potrait berbentuk persegi panjang yang berisi foto beberapa wajah (mungkin para pengunjung), selain itu di lantai ini juga terdapat dua proyektor yang tidak difungsikan, asumsi saya lantai ini lebih banyak digunakan untuk meeting atau kopdar (kopi darat) suatu acara.
Ada yang tahu itu nama girlband apa?
Seorang petugas langsung membantu mengoperasikan Ipad yang menjadi alat untuk memesan makanan ketika kami duduk. Self service begitu tipe pemesanan makanan di Mujigae. Selain untuk memesan makanan, Ipad ini juga dapat fungsikan untuk memanggil waiters, foto dan memesan lagu. Memilih sejenak, akhirnya kami memilih Annyeong set 4  yang berisi beberapa jenis makanan korea seperti kimchi, japchay, dumpling/mandu dan bulgogi, dan teman saya memesan Ramyeon pedas serta sweet jasmine green tea. Meskipun terdiri dari beberapa jenis makanan, Annyeong Set ini tidak menimbulkan rasa kenyang yang berlebihan karena di sajikan dalam porsi kecil.
Self service, cara mudah memesan makanan
Kuliner yang saya coba pertama kali adalah Kimchi. Lama sekali penasaran dengan makanan ini. Setelah dimakan, ternyata rasanya tidak jauh berbeda dengan asinan sayur Bogor, asam, pedas dan ada sedikit rasa yang berbeda ..hehe. Mungkin memang seperti itu rasanya atau memang sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Beberapa potong kimchi berukuran tidak terlalu besar disajikan dalam set ini.

Makanan kedua, mandu atau dumpling. Di Indonesia sendiri makanan ini dikenal juga  dengan nama pastel goreng, berisi daging ayam atau sapi dengan campuran beberapa sayuran dengan kulit yang agak keras. Sedangkan mandu ini, biasa disajikan dalam bentuk rebus atau goreng dengan isian yang hampir sama. Jumlah yang disajikan tiga buah.

Makanan lain yang disajikan adalah Japcae dengan bahan utama mie bihun. Bihun yang digunakan memiliki tekstur lebih bening dan lebih lembut, berbeda dengan bihun yang banyak dijual di pasaran. Japchae ini terdiri dari campuran beberapa sayuran, bumbu serta kecap manis, cocok juga untuk anak kecil. Makanan terakhir yaitu Bulgogi yang berbahan utama daging sapi. Dengan racikan beberapa bumbu, makanan ini juga enak untuk dinikmati. 
Realita yang menyakitkan
Mengecewakan, ketika pesanan ramyeon pedas teman saya datang. Antara iklan dan kenyataan tampilan makanan yang disajikan sangat berbeda jauh. Hal ini mungkin wajar, iklan VS realita yang berbeda sering kali kita temukan perbedaan yang besar. Namun, tetap saja mengecewakan untuk sekelas rumah makan terkenal. Mie yang overcook, telur dan sayuran yang sudah tercampur sempurna menjadikan makanan ini tidak begitu enak untuk dinikmati.
Mujigae yang ada di Mall Botani Bogor
Mujigae ini merupakan salah satu restoran Korea yang sudah memiliki 16 cabang. Di Bogor sendiri sepertinya ada dua tempat, satu di Transmart Jl. KH. R. Abdullah bin Nuh, Tanah Sareal Bogor, yang lainya ada di Mall Botani Square Jl.Raya Pajajaran, Tegallega, Bogor. Restoran ini buka mulai pukul 10.00 WIB - 22.000 WIB.

Sudah Coba Naik MRT Jakarta? Saya Sudah :)

MRT (Mass Rapit Transit) menjadi moda transportasi yang baru-baru ini hadir di Jakarta. Banyak masyarakat yang penasaran dengan transportasi jenis ini, termasuk saya :D. Berawal dari rasa penasaran inilah saya mencoba searching sebanyak mungkin informasi tentang MRT, mulai dari  harga tiket,  stasiun KRL (Commuter Line) terdekat yang terhubung dengan MRT, dan apa saja yang berhubungan dengan MRT. Dan pencarian saya berakhir pada nama St. Sudirman sebagai stasiun KRL yang bisa dengan mudah terhubung dengan MRT terdekat. 
Yuuk naik MRT (Pict by jakartamrt.co.id)
Perjalanan saya mulai ketika selesai mengambil hasil Lab minyak atsiri daun kayu manis di Labkesda Jakarta Pusat. Karena pada saat itu sedang ada tawuran antar warga di Manggarai, KRL yang saya tumpangi berhenti cukup lama di St. Tanah Abang sampai akhirnya kembali melaju setelah informasi aman didapatkan oleh masinis.

Beberapa saat setelah turun dari kereta, saya merasa kebingungan. Mencoba mencerna kembali informasi yang saya baca tentang lokasi MRT. Berjalan mengikuti lalu lalang orang yang ramai datang dan pergi. Dan sampailah saya pada pintu keluar stasiun yang  terhubung dengan jalan layang yang berseberangan dengan St. BNI City, dalam hati saya berbicara -waah salah jalan ini. Kemudian saya memutuskan untuk kembali lagi ke dalam St. Sudirman, mencari jalan keluar menuju terowongan Kendal. 
Salah satu mural yang ada di terowongan Kendal
Rehat sejenak di terowongan Kendal, menikmati kerlip lampu yang berganti warna, berpendar di antara mural yang terlukis di dinding. 5 menit berjalan menyusuri terowongan, di sebelah kanan terdapat Stasiun Dukuh Atas, 'ah ini dia stasiun MRT terdekat'.

Penumpang yang akan masuk akan diperiksa oleh petugas keamanan dua kali. Pertama saat di pintu luar, sebelum masuk stasiun. Petugas akan memeriksa dengan metal detector. Pemeriksaan ke dua, petugas akan memeriksa tas/barang yang kita bawa melewati X-Ray. Stasiun Dukuh Atas ini merupakan stasiun bawah tanah. 

Bebeberapa stasiun MRT yang ada yaitu St. Bundaran Hotel Indonesia, Dukuh Atas BNI, Setiabudi Astra, Bendungan Hilir, Istora Mandiri, Senayan, ASEAN, Blok M BCA, Blok A, Haji Nawi, Cipete Raya, Fatmawati, dan terakhir stasiun Lebak Bulus Grab. Stasiun-stasiun ini berada pada satu jalur, jadi tidak ada stasiun transit. Hanya terdapat satu jalur, jadi jangan (underground). 

Tarif MRT Jakarta
Tarif MRT Jakarta (Pict by jakartamrt.co.id
Cara naik MRT
  • Cari St. MRT terdekat. Salah satu St. yang mudah diakses adalah St. Sudirman. Setelah turun dari KRL, cari pintu ke luar, lewat terowongan Kendal akan ada St. MRT Dukuh Atas
  • Beli tiket di Vending Maccine dengan pilihan Single Trip Ticket (STT) atau Multi Trip Ticket (MTT). STT: Kartu hanya untuk satu kali perjalanan, masih dapat digunakan dalam waktu 7 hari dengan mengisi saldo top up terlebih dahulu. MTT: Kartu untuk lebih dari satu kali perjalanan, dapat diisi saldo top up dengan masa berlaku kartu lebih lama.  Atau jika ingin lebih mudah bisa menggukan kartu Tap Cash BNI, E-Money, Brizzi BRI, Flazz BCA.
  • Tap in kartu/tiket MRT sebelum masuk
  • Menunggu dengan tertib, dahulukan penumpan yang turun
  • Tap out kartu/tiket MRT sebelum keluar
Paling enak memang naik kereta di gerbong khusus perempuan
MRT mulai beroperasi pada pukul 05.00 WIB - 22.01 WIB. Pada jam sibuk (jam 07.00 WIB - 09.00 WIB dan jam 16.00 WIB - 19.00 WIB ) kereta akan berangkat setiap 5 menit. Sementara di luar jam sibuk, kereta akan berangkat setiap 10 menit. Pada jam sibuk, beberapa gerbong dikhususkan untuk penumpang wanita.

Masjid Ramlie Mustofa:Taj Mahalnya Indonesia

Taj Mahal, begitu orang-orang menyebut masjid dengan warna dominan putih ini. Masjid Ramlie Mustofa namanya, dibangun oleh seorang mualaf Tionghoa yang bernama H. Ramli Rasidin. Nama Masjid Ramlie Mustofa sendiri berasal  dari singkatan nama dari keluarga H. Ramli Rasidin yaitu Ra (Ramli Rasidin), Lie (Lie Njok Kim), Mu (Muhammad nama anak pertama), So (Sofian  nama anak kedua) dan Fa (Fabian anak ketiga).

Masjid Ramlie Mustofa
Nama masjid Ramlie Mustofa baru saya dengar ketika ramadhan kemarin seorang penjaga masjid Babah Alun, masjid yang terletak di bawah kolong tol, bercerita tentang masjid ini. Penasaran dengan keindahannya, alhamdulillah akhirnya Allah takdirkan untuk datang ke masjid ini.

Masjid Ramlie Mustofa terletak di sebelah jalan raya, sangat mudah ditemukan. Selain itu, tepat di seberang masjid terdapat danau Sunter yang sudah cukup terkenal dengan pantulan warna-warni cat yang digunakan pada tembok pembatas danau. Danau Sunter ini juga banyak digunakan warga untuk duduk-duduk santai menikmati semilir angin.

Pada lantai dasar, terdapat toilet dan tempat wudhu yang terpisah. Untuk tempat wudhu perempuan langsung tersambung dengan tempat shalat. Pada bagian luar tempat wudhu, baik laki-laki ataupun perempuan, terdapat sebuah pohon kurma. Pada bagian tempat wudhu ini, terdapat gambar tata cara berwudhu, doa sebelum dan sesudah berwudhu yang diukir pada tembok dengan menggunakan tinta berwarna emas. Selain digunakan sebagai tempat shalat, lantai dasar khusus perempuan ini digunakan juga untuk kajian-kajian, atau aktifitas keagamaan lainnya. Di masjid ini juga dilengkapi dengan lift, sehingga memudahkan jamaah yang sudah 'sepuh' atau jamaah lain yang ingin dengan mudah menuju lantai dua dan tiga.
Danau Sunter dari lantai 3 masjid

Lantai dua, tempat shalat utama terdapat sebuah kaca transparant pada bagian imam (depan) yang bertuliskan surat alfatihah beserta terjemahannya. Pada bagian kubah, juga terdapat tulisan dari beberapa ayat Al qur'an.  Pada bagian luar, terdapat sebuah beduk yang didominasi oleh warna hitam dan emas yang bertuliskan 'hayya ala shola' (mari kita sholat). Selain beduk terdapat juga sebuah tugu peresmian masjid oleh H. Ramli Rasidin beserta dengan imam besar masjid Istiqlal  Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA. 

Pada bagian luar masjid, tepat di depan tangga keluar lantai dua, terdapat pahatan surat waqiah trilingual, Bahasa Arab, China dan terjemahan dalam bahasa Indonesia. Selain itu di samping kanan-kiri tangga menuju lantai dua, juga terdapat pahatan surat Al Fatihah trilingual.  

Lantai tiga difungsikan sebagai tempat sholat jamaah perempuan jika waktu shalat tiba. Meskipun, bisa juga shalat di lantai dasar (lantai satu). Di lantai ini, kita bisa melihat view indah danau Sunter. Untuk mencapai lantai ini pun, jamaah bisa menggunakan lift atau menggunakan tangga. 
Hayya Ala Sholah
Masjid Ramlie Mustofa terletak di Jl. Danau Sunter Raya Selatan Blok I/10 No.12C-14A Jakarta Utara. Untuk mencapai masjid ini mudah. Dari St.Tanjung Priok, kamu bisa naik angkot jurusan mall sunter, selanjutnya bisa naik transportasi online, atau jika ingin lebih mudah bisa langsung menggunakan transportasi online sejak dari St. Tanjung Priok. Atau jika ingin menggunakan kendaraan pribadi, yang harus diperhatikan tempat parkir terbatas hanya pada bagian luar masjid saja. 

Untuk kuliner, ada pedagang mie ayam yang terletak tak jauh dari masjid, atau jika ingin sekedar minum kopi/minuman dingin saja sambil menikmati semilir angin danau, ada penjual kaki lima yang terdapat di samping danau Sunter.