Perubahan Itu Dilakukan, Bukan Sekedar Diwacanakan. Ayo Hijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia

Hijrah? Darimanakah harus dimulai? Apakah cukup dengan berganti pakaian saja? Apakah saya kuat dengan prosesnya? nanti nggak boleh ini, nggak boleh itu dong? ataukah bagaimana?. Arrrghh..serbuan pertanyaan yang tiba-tiba datang membuat kepala pusing. Jangankan memakai jilbab, shalat lima waktu saja masih bolong-bolong, yang benar saja mau hijrah?. Akhirnya semangat hijrah itu perlahan surut, terabaikan bersama berlalunya hari dan tersadar memahami realitas diri yang masih jauh dari kata 'baik' menurut agama Islam.  Jilbabin hatinya dulu, baru luarnya. Kata-kata pembelaan yang pada saat itu menjadi pembenaran sesaat.

Bukan berasal dari keluarga yang agamis menjadikan kesadaran akan hidup beragama dengan 'benar' masih kurang. Pengetahuan seputar Islam hanya sekedar rukun Islam, sementara perintah lain mengenai berpakaian, bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis, bagaimana ilmu tentang ikhlas dan ilmu-ilmu penting lainnya masih sangat-sangat kurang. 
Kau hanya perlu memulai untuk mengambil langkah untuk perubahan yang kau inginkan
Allah Maha Baik. Sore itu dengan hati yang yakin keputusan untuk mengenakan jilbab tiba-tiba datang, meskipun jilbab yang dikenakan masih sebatas leher dengan pakaian yang masih tutup tambal dengan manset yang panjang, tersebab memang tak adanya baju panjang.

Selama satu setengah tahun jilbab yang saya kenakan belum berubah panjangnya, pendek dan sekalipun panjang akan saya lilitkan ke belakang. Ada waktu di mana timbul rasa tidak nyaman akan pakaian yang terasa ketat menempel di badan. Sebersit pikiran muncul 'pakaian apa ya yang nyaman jika dipakai untuk beraktifitas?' Hanya bertanya pada diri sendiri. Hingga suatu waktu bertepatan dengan awal semester, di sebuah serambi masjid kampus, saya berkenalan dengan seorang kakak tinggat dari fakultas lain, Pendidikan Agama Islam (PAI), Ia tersenyum menyapa. Dan awal perubahan itu pun dimulai.

Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengganggu perlahan mulai terjawab. Mengapa harus menggunakan jilbab tebal tidak nerawang, kalaupun nerawang harus didouble, harus menggunakan pakaian yang longgar, harus pakai celana panjang meskipun sudah menggunakan gamis atau rok, harus pakai kaus kaki, dan pertanyaan tentang pakaian yang 'nyaman' itu terjawab sudah. Namun,  realita untuk mempraktikkan pengetahuan baru itu ternyata memerlukan waktu. Kurang percaya diri karena pakaian panjang yang terkesan gombrang, tangan yang terasa gatal ketika mengenakan manset, telinga yang sedikit berkurang pendengarannya karena jilbab yang double dan hal lainnya yang saya alami saat awal hijrah.

Hijrah dari pemikiran berlanjut kemudian cara berpakaian dan sikap perlahan mulai saya lakukan, yang meskipun proses hijrah perbaikan diri itu tidak berhenti pada saat itu saja. Semua proses itu berlanjut hingga saat ini. Efek lain dari proses hijrah lainnya adalah mulai perhatiannya saya dengan logo halal disetiap barang yang saya beli. 
Bingung dengan pilihan Bank Syariah? Ke Bank Muamalat Indonesia saja
Meningkatnya  kesadaran masyarakat tentang produk-produk halal, termasuk diantaranya makanan, minuman, kosmetik, pakaian, perkakas, deterjen, pengharum pakaian dan hal lainnya ternyata memberikan dampak terhadap lembaga keuangan. Maka mulailah beramai-ramai bank konvensional mendirikan cabang bank lain untuk kategori bank syariah.  Jika bank lainnya menambahkan embel-embel syariah setelah nama bank konvensional yang mereka dirikan sebelumnya, namun ternyata ada satu bank syariah yang tanpa menggunakan tambahan kata 'syariah' setelah nama bank mereka, karena memang sudah menerapkan konsep syariah sejak awal didirikan yaitu Bank Muamalat Indonesia.

Bank Muamalat Indonesia merupakan bank syariah murni pertama di Indonesia yang tidak menginduk dari bank lain, berdiri pada tanggal 1 November 1991. Pendirian Bank Muamalat Indonesia digagas oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia), ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) dan pengusaha muslim Indonesia yang kemudian mendapat dukungan dari pemerintah Republik Indonesia. Bank Muamalat Indonesia mulai beroperasi secara resmi sejak tanggal 1 Mei 1992. 

Sejak grand launching pada tanggal 8 Oktober 2018 Bank Muamalat Indonesia mengkampanyekan gerakan #AyoHijrah. Ayo hijrah menitik tekankan kepada ajakan untuk berbuat ke arah yang lebih baik sesuai dengan ajaran agama Islam, terutama dalam pilihan lembaga perbankan dengan memilih lembaga keuangan syariah agar hidup lebih berkah. Untuk memasifkan gerakan #AyoHijrah yang sedang digalakkan oleh Bank Muamalat Indonesia, beberapa kegiatan yang mereka lakukan antara lain: seminar/edukasi tentang perbankan syariah, open booth di pusat kegiatan masyarakat, kajian Islami dengan narasumber dari kalangan ulama, pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan syariah dan beberapa agenda kegiatan lainnya.

Telah banyak produk keuangan yang dikeluarkan oleh Bank Muamalat Indonesia, seperti asuransi syariah, dana pensiun lembaga keuangan muamalat dan multifinance syariah. Selain itu Bank Muamalat Indonesia juga memiliki produk lain seperti mobile banking, internet banking muamalat , jaringan ATM yang tersebar luas serta kantor cabang yang terdapat di luar negeri. 

Ayo Hijrah menjadi lebih baik.  Bukan menunggu kapan dan di mana, tapi dimulai dari apa yang bisa kita lakukan saat ini. Mumpung sebentar lagi Ramadhan datang, AyoHijrah.

#Artikel ini merupakan bagian dari artikel yang saya submit dalam kompetisi blog Bank Muamalat#

Siapakah Pemimpin Indonesia 2019?

Artikel kali ini tidak sedang membahas tentang siapakah pemimpin Indonesia berdasarkan hasil pemilu pada hari Rabu tanggal 17 April 2019, karena memang saya kurang tahu sudah ada atau belumnya pengumuman resmi dari Sang Pemimpin terpilih yang beredar, jadi kali ini lebih kepada proses pemilihan yang bisa saya lakukan di kampus IPB.

Sebagai anak rantau, momen pemilu seperti ini menjadi momen penting yang saya syukuri bisa saya ikuti yang bahkan tidak semua anak IPB bisa ikut berpartisipasi. Untuk memperoleh A5, pindah lokasi memilih dilakukan dengan mendaftar online dengan mengisi beberapa data yang disediakan oleh FW (Forum Wacana) dan BEMKM (Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa) yang bekerja sama dengan KPU kota Bogor.

Antri mencari form A5
Form A5 mulai dibagikan dua hari sebelum hari pencoblosan di gedung Student Centre. Hari pertama dimulai pukul 18.30 WIB, bersama dengan dua orang teman saya mengambil form A5 pada hari kedua. Banyaknya mahasiswa yang mengambil form A5 menjadikan suasana kian ramai pada sore hari, apalagi ditambah complaint dari beberapa orang yang form A5-nya tidak ditemukan di dalam kumpulan berkas. Beberapa malah masih on the way pada jam 8 malam. Setelah memperoleh form A5, mahasiswa akan diberitahukan lokasi TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang didapatkan.

Penasaran dengan lokasi TPS yang saya dapatkan, saya berangkat pagi hari (nggak pagi banget juga sih :D) , sekaligus untuk mengantisipasi jika kesasar di jalan. Eh... ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dan mudah ditemukan, yang ditandai dengan rombongan mahasiswa yang menuju satu titik, di situlah lokasinya. Lokasinya berada di Bateng (Bara tengah), sangat mudah ditemukan. Di lokasi ini terdapat lebih dari 5 TPS. Mahasiswa yang mendapatkan form bisa langsung menuju lokasi TPS yang tercantum di from A5. 
Alhamdulillah, akhirnya bisa memilih di tanah rantau
Di beberapa TPS terlihat dengan antrian mahasiswa, alhamdulillah di TPS yang saya tuju tidak perlu antri. Ternyata tidak semua mahasiswa yang mendaftar melalui FW dan BEMKM mendapatkan form A5. Beberapa diantaranya memang tidak terdaftar di daftar pemilih sehingga tidak mendapatkan form, beberapa lainnya memang ada keterlambatan dari KPU, sehingga bagi mahasiswa yang sudah terdaftar dan tidak memperoleh form A5 hanya membawa KTP saja ketika akan mencoblos. Pada pemilihan umum ini, kami anak rantau hanya bisa memilih presiden saja sedangkan untuk anggota legislatif lainnya tidak bisa. Hal lainnya yang disayangkan, tidak semua mahasiswa mengetahui pemberitahuan pendaftaran pemilihan yang difasilitasi oleh FW dan BEMKM, sehingga banyak yang tidak mendaftar. 

Semoga pemilu selanjutnya lebih baik dan siapapun presidennya nanti, semoga Indonesia lebih baik 5 tahun ke depan.

Kota Tanpa Sinyal! Memang Masih Ada?

Pernah tinggal di suatu tempat yang tak ada sinyal? Merasa jauh dari peradaban dan ingar bingar berita terkini yang biasanya dapat diakses melalui perangkat seluler. Kehidupan seketika berubah, menjadi sepi, tanpa gadget, damai dari pesan yang biasanya ramai masuk ke handphone, untuk sementara.

Biasanya kejadian tersebut banyak dialami di daerah pedesaan ya? Eitss.. jangan salah, ternyata di Bogor pun saya mengalami kehilangan sinyal selama tiga hari, tepatnya saat saya mengikuti Raker (rapat kerja) Himmpas pada bulan februari kemarin yang berlokasi di Villa Azmura Tapos Bogor. Tapos yang merupakan bagian dari Puncak yang begitu terkenal, ternyata masih ada wiayahnya yang 'miskin' sinyal. 
Ada yang jual sinyal ?  :) (Pict by liputan6.com)
Saat itu saya menggunakan dua kartu, thr** dan Ind**at, dan keduanya tidak berfungsi, ikon yang menunjukkan keterangan sinyal langsung bersih. Namun, beberapa teman yang menggunakan provider seluler yang sama dengan saya ternyata berfungsi normal, meskipun hanya satu dua sinyal yang masuk, tapi lumayan daripada tidak ada sama sekali. Tidak hanya dua jenis kartu tersebut, beberapa provider yang terkenal dengan sinyal kuatnya juga mengalami hal yang sama, sinyalnya tidak hilang sama sekali sih, hanya berkurang beberapa saja. 

Jika kasus yang terjadi di Tapos tersebut akibat dari villa yang berada di ketinggian di atas menara BTS (Base transceiver stasiun) atau bisa disebut juga  dengan gardu sinyal/tower sinyal berada di bagian bawah wilayah tersebut, sehingga tidak dapat menjangkau daerah yang lebih tinggi. Maka, pada kasus di desa, menara BTS tidak banyak tersebar, sehingga untuk mendapatkan sinyal yang cukup, tak jarang banyak orang yang mencari tempat yang lebih tinggi, naik pohon, naik bukit misalnya hanya untuk bisa telpon atu berkirim pesan. Terkadang, sinyal yang kuat baik di desa dan di kota berasal dari provider seluler GSM (Global system or mobile communication) sedangkan CDMA (Code division multiple access) dalam banyak kasus sinyal provider seluler ini langsung menghilang bahkan silang merah atau ada keterangan tambahan 'panggilan darurat'. 

Ketimpangan jangkauan sinyal seluler memang masih dirasakan di tahun 2019 ini. Meskipun saat ini sudah banyak digaungkan Revolusi Industri 4.0, nyatanya untuk jangkauan sinyal seluler masih banyak wilayah di Indonesia yang masih blank spot tidak ada sinyal, apalagi 4G, 3G dan 2G. Menurut Lokadata yang disusun oleh beritagar.id pada tahun 2014, sinyal coverage (presentase desa/kelurahan yang memperoleh sinyal 2G, 3G, 4G) untuk Kep. Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta dan Bali sudah hampir 100%, sedangkan di wilayah Indonesia bagian timur belum sampai pada nilai 80%, sehingga ketimpangan jangkaun sinyal seluler masih sangat dirasakan. 
Sinyal Coverage di beberapa Provinsi di Indonesia (Pict by beritagar.id)
Berbicara tentang kota tanpa sinyal lainnya, ini juga saya alami ketika mudik atau tinggal di kampung halaman. Bahkan lebih parah. Masuk desa, sinyal langsung hilang, tanda silang merah. Parah memang. Padahal masih dalam wilayah Jawa Timur.  Sampai saat ini masih seperti itu. 

Tidak hanya ketimpangan jangkauan sinyal seluler, bahkan di wilayah Indonesia masih ada 1.8 juta Rumah tangga (RT) yang belum teraliri listrik. Saya sendiri baru merasakan listrik menerangi desa pada tahun 2000, jadi bisa sedikit membayangkan bagaimana kehidupan tanpa listrik. Masih merasakan masa di mana dalam satu desa hanya satu orang yang memiliki satu televisi yang menggunakan accu mobil sebagai tenaga pembangkitnya, sehingga satu desa berkumpul di rumah orang tersebut untuk bisa menyaksikan sinetron yang cukup terkenal pada saat itu. 

Yah, terlepas dari bagaimanapun. Pemerataan pembangunan di beberapa wilayah di Indonesia  belum merata seluruhnya. Mungkin karena lokasinya yang terjal, biaya yang dikeluarkan cukup besar ataupun karena alasan lainnya. Semoga kita yang saat ini merantau ke kota, berjuang untuk mencari ilmu, nantinya bisa kembali lagi ke desa untuk sedikit memberikan dampak sosial untuk masyarakat sekitar.

Wahai Wanita, Berhati-hatilah dalam Berkendara

Siang kemarin di kampus terjadi sebuah kecelakaan antara motor dan sebuah mobil. Seorang ibu yang sedang latihan mobil tiba-tiba menginjak gas ketika seharusnya menginjak rem disebuah belokan tepatnya di depan gedung Grawida. Alhasil mobil menghantam motor yang melaju dari arah berlawanan, hingga mobil naik ke trotoar yang menurut saya sangat tinggi. Cerita ini bukan untuk membahas bagaimana tentang kronologi sebenarnya kecelakaan tersebut, yang mana korban dari kecelakaan tersebut mahasiswa yang sedang berangkat untuk pengamatan praktikum, tetapi lebih kepada opini saya menyikapi para wanita yang berkendara. 
Tetap aman dalam berkendara (Pict by geloragp.blogspot.com
Terkadang saya merasa gemes ketika melihat ibu-ibu, mba-mba, adik-adik perempuan yang berkendara tidak memperhatikan rambu-rambu ataupun belum mematuhi peraturan lalu lintas. Belok ke kanan, kiri tanpa memperhatikan kendaraan lain yang sedang melaju. Yaah tidak semuanya seperti itu. Pasti ada yang sudah berkendara dengan benar dengan memperhatikan rambu-rambu dan terkadang tak kalah lihainya dengan kaum laki-laki yang terkenal dengan manuver lincah kendaraanya.

Banyak kasus kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh para wanita, seperti lampu sign yang menyala sebelah kiri ternyata berbelok ke arah kanan, jilbab yang menutupi lampu sign sehingga pengendara yang berada dibelakang tidak tahu jika motor akan berbelok, gamis yang masuk di roda motor, anak-anak yang masih belajar berkendara berbocengan tiga orang atau lebih dan masih banyak lagi kasus kecelakaan yang dialami oleh para wanita.

Jika kamu seorang muslimah yang aktif bergerak, yang lebih banyak waktunya untuk aktivitas di luar rumah, beberapa hal ini perlu diperhatikan jika sedang berkendara:

1. Paham aturan lalu lintas. Termasuk diantaranya arti dari lampu lalu lintas (seorang teman yang saya kenal, bahkan tidak tahu jika lampu hijau itu artinya kendaraan bisa melaju/jalan), menggunakan helm jika berkendara, melengkapi surat-surat penting, seperti STNK dan SIM (Kalau ini saya juga belum punya :D).

2. Sudah benar-benar bisa berkendara. Alih-alih ingin terlihat keren karena bisa mengendarai mobil ataupun motor, sehingga mengesampingkan keselamatan diri sendiri atau pengendara lainnya. Faktor ini, harus sangat diperhatikan ketika akan mengendarai kendaraan.

3. Saat ini pakaian muslimah sudah beragam bentuknya, serta memiliki lebar bawah gamis yang sampai tiga meter (bisa lebih atau kurang). Sehingga perlu diperhatikan jika berkendara (motor khususnya), untuk lebih berhati-hati agar gamis atau rok yang dikenakan tidak masuk ke dalam roda. Jika menggunakan jilbab syar'i, ada baiknya dilengkapi dengan jaket yang mana akan lebih aman, tidak berkibar ke mana-mana.Selain itu, sebaiknya menggunakan celana panjang, untuk menjaga aurat yang tersingkap.
Wuuuusss..auratnya harus tetap dijaga ya shaliha  (Pict by kantormeme.blogspot.com)
4. Sebagai orang tua harus lebih ketat terhadap putra-putrinya yang ingin menggunakan motor ke sekolah (bisanya banyak terjadi di daerah pedesaan, sang anak berkendara sendiri, sementara orang tua pergi ke sawah). Keselamatan menjadi faktor yang harus dipertimbangkan.

5. Jika berkendara sambil mendengarkan musik, sebaiknya berhati-hati. Musik atau murotal yang didengarkan saat berkendara jika terlalu kencang volume suaranya, pengendara akan kesulitan mendengar suara klakson dari belakang-depan. Terlalu larut dengan suara musik yang didengarkan akan mengurangi konsentrasi dalam berkendara. Menurut saya, sebaiknya tidak memakai musik dengan headseat atau tidak mendengarkan musik saat berkendara.

6. Sms atau telpon saat berkendara, ini sangat berbahaya. Jika memang sangat urgent, bisa merapat ke tepi jalan, berhenti sejenak, untuk membalas telpon, sms ataupun untuk mengabarkan jika sedang di jalan.

7. Kesehatan kendaraan. Semua bagian dari kendaraan seharusnya dalam keadaan sehat. Termasuk speedometer, lampu, dan yang tidak kalah penting fuelmeter. Lucu jika sedang asyiknya berkendara, motor tiba-tiba mogok berhenti tak mau jalan, alhasil harus menuntun motor tersebut, beruntung jika lokasi pom bensin dekat, jika jauh, maka olahragalah. :)

8. Jas hujan. Ini optional sih, tapi penting adanya ketika musim hujan seperti saat ini.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan kaum wanita, tetapi lebih kepada opini pribadi saya tentang perempuan berkendara yang mungkin tidak segesit laki-laki. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini.

Seumur Hidup Harus Transfusi Darah, Thalasemia

Beberapa tahun yang lalu, saya berkenalan dengan seorang anak Sekolah Mengengah Pertama (SMP), Ania namanya. Kala itu di tanah perantauan di negeri seberang. Karena tidak memungkinkan untuk pulang kampung saat lebaran, maka saya meminta ijin ke orang tua Ania untuk bisa mampir bersilaturahmi ke rumah mereka. Namun, orang tua Ania menjelaskan jika selama satu minggu, Ania akan berada di rumah sakit untuk menjalankan pengobatan. Penasaran, saya pun bertanya perihal sakit sang anak, yang menurut saya ia baik-baik saja. Sang ibu menjelaskan jika Ania mengalami thalasemia. Dan hari ini saya baru paham apa itu thalasemia.
Skema penurunan gen thalasemia (Pict by thalasemia.org)
Thalasemia merupakan penyakit keturunan/penyakit kelainan darah akibat penurunan produksi atau pembentukan hemoglobin di dalam darah. Secara klinis penderita thalasemia dibedakan atas thalasemia minor (trait), intermedia dan thalasemia mayor. Sedangkan secara molekuler dibedakan atas thalasemia alfa (α) dan beta (β). Thalasemia minor (trait)/pembawa sifat memiliki gejala anemia ringan, normal secara fisik dan mental, tidak bergejala dan membutuhkan transfusi darah. Namun, penyakit thalasemia akan diwariskan kepada anak keturunan jika penderita talasemia minor menikah dengan sesama penderita talasemia minor dengan peluang 25% keturunannya akan mengalami thalasemia mayor, 50% akan mengalami talasemia minor dan 25% anak keturunannya akan memiliki darah normal. Sedangkan jika salah satu orang tua thalasemia mayor, maka sang anak akan 100% membawa sifat thalasemia mayor.

Thalasemia β mayor akan menimbulkan berbagai keluhan bagi penderitanya, diantarnya anemia akut akibat proses hemolisis, kelaianan organ tubuh akibat dari pengobatan yang dilakukan ataupun akibat dari peyakit itu sendiri, keterbelakangan pertumbuhan, kelainan bentuk tulang terutama di wajah, pembesaran limpa, kerentanan terhadap infeksi dan berbagai gejala klinis lainnya. Gejala thalasemia yang dialami setiap orang berbeda, tergantung pada tingkat keparahan dan tipe thalasemia yang diderita. Beberapa contoh lain gejala talasemia adalah berat badan yang rendah, sesak napas, mudah lelah dan sakit kuning.

Hal utama yang diperlukan oleh penderita thalasemia adalah transfusi darah. Tansfusi ini memberikan sel darah merah yang sehat dengan hemoglobin normal. Namun, transfusi darah ternyata dapat mengakibatkan penumpukan zat besi, sehingga bagi penderita thalasemia, mereka juga harus melakukan tepai kelasi besi dengan mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang telah diresepkan oleh dokter. Jika kelebihan zat besi ini tidak ditangani, maka penderita talasemia dapat mengalami kerusakan hati, jantung, dan beberapa organ tubuh lainnya. Transfusi darah ini  dilakukan seumur hidup oleh penderita thalasemia mayor dengan frekuensi 2-4 minggu (1-2 kali sebulan) sekali dan obat pendamping lainnya. Penderita thalasemia intermedia membutuhkan  transfusi darah tetapi tidak secara rutin.

Kebutuhan tansfusi darah ditentukan oleh berat badan dan usia. Setiap kenaikan satu tahun, kebutuhan darah akan naik menjadi 0.816 ml. Ia menyebutkan bahwa semakin bertambah usia, frekuensi transfusi darah setiap bulan juga meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambah usia, semakin memburuk kondisi penyakit sehingga kebutuhan transfusi darah semakin meningkat. Untuk melakukan transfusi darah dan membeli obat-obatan lainnya, para penderita thalasemia biasanya akan mengeluarkan uang hinga puluhan juta.

Tanpa transfusi darah, seorang penderita thalasemia akan dapat hidup 3-4 tahun, namun jika dilakukan transfusi darah setiap bulan, usia penderita thalasemia diprediksikan dapat bertahan hingga 30-40 tahun.

Maka sebagai orang yang diberikan Allah kesehatan, sudah seharusnya saya banyak bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Semoga nantinya akan ada dampak sosial yang bisa saya lakukan untuk masyarakat sekitar. Dan teruntuk para sahabat sekalian yang saat ini sedang mengalami sakit, termasuk thalasemia ini. Semoga Allah karuniakan kekuatan, kesabaran dan keikhlasan. Semoga dengan sakitnya menjadi terhapusnya dosa dan terangkatnya derajad di dunia dan akhirat kelak. 

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan."

*Tulisan disusun dari berbagai sumber. Penjelasan lebih lengkap bisa dibaca di jurnal penelitian dan keterangan lebih lengkap bisa anda tanyakan ke dokter.

Hampir Tidak Kebagian Tiket Mudik Lebaran

Sedang asyiknya kongkow di perpustakaan, pesan dari kakak perempuan masuk. "Mau mudik lebaran tanggal berapa? Tiket kereta api sudah bisa dipesan." Kemudian saya membalas tanggal sekian (setelah mengira dan mempertimbangkan sejenak, melihat tanggal lebaran di google :D ). Masuklah balasan pesan "Tanggal segitu sudah habis, tinggal tanggal-tanggal terakhir, kalau mau, ada kelas eksekutif harganya Rp 700.000." Beuh mahal banget, secara saya terbiasa naik kereta ekonomi, sekalinya ditawarin yang beda kelas :), merasa sayang jika uang sejumlah itu hanya untuk beli tiket kereta api sekali jalan.

Lebaran? Puasa saja belum. Memang sih. Tetapi begitulah kenyataanya. Sebagai anak perantauan, untuk mengantisipasi harga tiket yang melonjak mahalnya ketika lebaran, salah satunya dengan pesan tiket jauh-jauh hari,  bisa pesan dua bulan atau lebih sebelum lebaran. Selain karena harga tiket, juga karena ketersediaan tiket kereta api yang terbatas jumlahnya. 
Yuuk naik kereta api (Pict by superadventure.co.id)
Bagi teman sekalian yang tidak pernah naik kereta ekonomi, begini gambaran sekilas tentang kereta kelas ini. Kereta ekonomi Kertajaya, merupakan jenis kereta ekonomi yang melintas di jalur pantura dengan stasiun akhir Pasar Turi Surabaya. Kereta ekonomi kini sudah mengalami perbaikan. Jika kamu membayangkan naik kereta ekonomi akan penuh dengan sayuran, binatang ternak unggas dan jenis barang dagangan lainnya yang dibawa penumpang. Itu dulu. Saat ini, pengelola KAI (Kereta Api Indonesia) sudah memberikan perbaruan yang lebih nyaman untuk para penumpang. 

Setiap gerbong sudah dilengkapi dengan AC (Air conditioner), tidak ada penjual makanan yang berlalu lalang menjajakan jualannya, tersedia saluran listrik, tersedianya air toilet yang cukup, tidak ada lagi penumpang yang tidak dapat tempat duduk (dulu, karena penumpang membeli tiket melalui calo, ada nomor duduk yang double dimiliki oleh dua orang, sehingga penumpang lain harus berdiri, atau duduk berdesakan dengan penumpang lain, selain itu, penumpang kereta api bahkan tidur di kolong tempat duduk penumpang lain, tidur di depan toilet, tidur di sepanjang jalan yang terdapat di koridor, sangat tidak nyaman memang, namun semuanya itu mereka terima karena ingin pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan keluarga tercinta).

Intinya, kereta ekonomi saat ini sudah cukup nyaman untuk dijadikan moda transportasi pilihan anak perantauan. Kekurangan dari kereta ini adalah tempat duduk yang saling berhadapan dengan penumpang lain. Jika para penumpang di samping kiri kanan adalah dari satu keluarga, maka kita bisa menjadi anak angkat semalam yang akan diperhatikan oleh mereka, akan ditawari makanan dan minuman atau bahkan disewakan bantal (mungkin mereka merasa kasihan karena melihat kita pulang sendirian). Atau jika kebetulan mereka yang duduk di sekitar kita adalah laki-laki semua, kita bisa minta pindah ke bangku lain yang ada penumpang perempuanya (dengan muka memelas ke penumpang tersebut :D). Selain itu, tidak adanya penjual makanan dari luar yang biasanya berkeliling diwaktu-waktu tertentu akan membuat kita kelaparan. Antisipasinya kita harus membawa bekal sendiri. Jika mau beli makanan yang dijual oleh pihak KAI, juga bisa :). Mudik saya tahun lalu, pihak KAI menyediakan buka puasa untuk para penumpang, jadi kita hanya membawa air minum dan makanan kecil. Untuk tahun ini, semoga masih ada program tersebut.

Dulu, di setiap daerah yang saya lewati, para penjual akan berdesakan masuk menjajakan barang jualanya. Misalnya ketika kereta berhenti di daerah Brebes, yang terkenal dengan telur asinnya, maka para penjual akan menjajakan telur asin dengan harga yang lebih murah. Ada lagi, ketika kereta berhenti di Pekalongan, maka para penjual batik Pekalongan akan banyak menawarkan pakaian-pakaian batik kepada para penumpang.

Tahun ini kakak saya mencoba memesankan tiket kereta api melalui salah satu E-commerce, pertama kalinya untuk mudik lebaran. Kalau sebelumnya kami memesan melalui calo. Iya calo. Harga tiket yang kami dapatkan? jangan tanya, bisa dua kali lipat dari harga tiket aslinya. Jika harga normal tiket ekonomi Rp 165.000/orang maka bisa naik menjadi Rp 285.000-Rp 300.000/orang. Mahal banget kan?. Alasan kenapa beli di calo pada saat itu, karena kita bisa membeli tiket mudik pada tanggal yang kita tentukan yang biasanya di loket pembelian sudah habis untuk tanggal tersebut. Kekurangannya, tentu saja harga tiket yang jauh lebih mahal, paling parah mungkin ada orang lain yang memiliki nomor duduk yang sama dengan nomor kita. Jadi, nggak lagi beli di calo !.

Perjalanan menggunakan kereta api sekitar 10 sampai 11 jam untuk sampai di stasiun terdekat tempat tinggal saya. Alhamdulillah untuk tiket mudik lebaran tahun ini, saya masih kebagian tiket ekonomi Kertajaya pada tanggal yang saya inginkan (setelah sebelumnya habis pada tanggal tersebut) dengan harga Rp 185.000 (wajar naik sedikit, daripada membeli di calo). Rencana berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.00 tiba di stasiun tujuan pukul 00.33 WIB. Berangkat-Tidur-Sampai rumah. In syaa Allah

Lezatnya Sempolet dan Mie Sagu Khas Kepulauan Meranti

Siapa yang tak kenal dengan makanan berbahan sagu? Apalagi bagi masyarakat yang menjadikan sagu sebagai makanan utama selain nasi, seperti di daerah Papua, Maluku, Meranti dan di beberapa daerah lainnya di Indonesia. Meskipun saya tinggal di Jawa Timur, yang notabene nya sangat sedikit terdapat pohon sagu, yang biasanya banyak tumbuh di daerah gambut, namun saat saya masih kecil, saya pernah merasakan masa di mana tanaman sagu masih banyak tumbuh di lingkungan tempat tinggal yang saat ini tanaman tersebut telah menghilang, berganti dengan tanaman pangan jagung. 

Berbicara mengenai sagu, hari ini saya pertama kalinya mencicipi berbagai jenis makanan berbahan sagu (selain bubur dan sagu mutiara) yang rasanya unik, apa saja itu:

Sempolet
Jika di kota Malang terkenal dengan makanan Sempol, ternyata ada jenis makanan lain yang hampir dari segi pengucapakan mirip dengan Sempol yaitu Sempolet. Sempolet merupakan makanan berbentuk sayur dengan kuah kental yang berasal dari tepung sagu dengan menggunakan beberapa isian seperti cumi, daun paku muda (pakis), kerang dan siput  (isian sayur bisa saja berbeda). Makanan ini merupakan makanan khas Kepulauan Riau, yang banyak ditemukan di Kabupaten Indragiri Hilir, Bengkalis, Meranti. Dari segi rasa, menurut saya sedikit aneh ketika mencoba sayur dari daun paku, namun karena ada berbagai isian lainnya yang bisa dinikmati makanan jadi mudah diterima. Makanan berkuah kental pedas ini cocok jika dinikmati pada musim hujan seperti saat ini. Bahan-bahan untuk membuat sayur ini ternyata sangat simple ( berdasarkan hasil baca di mbh google :D), ada bawang merah, bawang putih, terasi, garam, merica (cabai), daun kunyit (bahan bisa saja berbeda setiap daerah). Simple bukan, jadi pengen masak sendiri :)
Enak dinikmati jika musim hujan (Pict by brosispku.com)
Mie sagu
Sebagai anak kos yang hanya kenal dengan mie instan dan mie ayam yang berbahan dasar tepung tapioka :),  saat ini saya mulai berkenalan dengan mie yang berbahan dasar  tepung sagu, tepatnya mie sagu goreng. Rasanya enak, seperti mie instant goreng, dengan campuran berbagai macam bumbu dan sayuran yang menggugah selera karena rasanya yang pedas. Makanan ini dapat  dinikmati dengan taburan ikan teri goreng di atasnya. Terasa nikmat jika dimakan pada saat perut benar-benar lapar :).
Anak kos, harus coba :)

Lempeng sagu
Makanan jenis ini bentuknya agak bundar, seperti lempengan, yang merupakan perpaduan dari kacang tanah yang sudah ditumbuk, tepung sagu, kelapa parut, garam dan air. Dimasak di atas teflon tanpa minyak (seperti dipanggang). Makanan ini sudah enak dinikmati tanpa ditambah dengan makanan pendamping lainnya, namun siang ini saya menikmati dengan toping sambal teri di atasnya. Maknyuus tenan.
Rasa makanan ini mirip nasi ketan yang diberi parutan kelapa, mirip. Pict by resepnusantara.di
Makanan di atas merupakan suguhan pada saat promosi doktor, yang ternyata beliau berasal dari Kabupaten Meranti. Mendengar kata Meranti, yang terfikir pertama kali adalah jenis kayu, kayu meranti, bukan nama daerah:). Padahal selain Papua, Kepulauan Meranti ini merupakan penghasil sagu utama di Indonesia dan masuk tiga besar penghasil sagu di dunia. Hmm, kemana saja selama ini (tunjuk diri). Kurang baca. Kurang piknik, jadi kurang tahu nama-nama daerah lain di Indonesia, yang tahu mungkin hanya nama-nama kota besarnya saja #alibi. 

Selain makanan tersebut ternyata masih banyak lagi olahan berbahan dasar dari sagu, seperti kue sagu (ternyata saya sering makan kue ini saat lebaran, tapi tidak tahu namanya kue apa), lapis sagu, kue rangi, ongol-ongol sagu dan berbagai jenis makanan berbahan sagu lainnya yang dapat dikreasikan sesuai selera.

Bogor Street Festival CGM

Barisan manusia tampak memadati ruas jalan Surya Kencana. Gabungan petugas keamanan dari TNI, Polisi, Satpol PP dan Dishub kota Bogor berusaha menjaga lalu lintas jalan yang padat merayap dan menjaga keamanan acara. Bogor Street Festival (BSF) merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Cap Go Meh (CGM) yang diadakan pada tanggal 19 Februari 2019, tepat 15 hari setelah tahun baru China. 
Ogoh-ogoh
Tema yang diambil dari BSF ini adalah Katumbiri Lighting Festival (KLF). Katumbiri merupakan bahasa Sunda yang memiliki arti pelangi. Warna-warni pelangi mewakili keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia sehingga acara ini menjadi ajang budaya pemersatu bangsa. Rangkaian acara dalam BSF antara lain bakti sosial ke panti asuhan dan panti jompo, bazaar rakyat, pertunjukan wayang potehi, wayang golek dan yang terakhir Katumbiri Lighting Festival. Acara puncak KLF ini menyuguhkan berbagai macam pertunjukan seperti marching band, marawis, paskibraka, liong-barongsai, parade seni dan budaya. 
Kurang tahu sih, ini patung apa
Sesore ini, acara mungkin sudah selesai. Pukul setengah enam saya baru sampai di lokasi acara, padahal saya berangkat dari Dramaga pukul empat sore. Kemacetan parah mulai terjadi ketika angkot memasuki jalan di depan kampus Pascasarjana IPB Barangsiang. Angkot (Angkutan perkotaan) berjalan dengan lambat, perlahan. Bunyi klakson? jangan tanya, saling bersahutan satu sama lain. Bersabar hanya itu satu-satunya cara dan berharap parade belum usai. 

Sebuah baliho besar di depan Botani Square Mall menampilkan acara tahunan ini. Berdasarkan baliho tersebut, acara dimulai pukul tiga sore hingga pukul dua belas malam. Meskipun rentang waktunya masih lama, saya berasumsi acara parade seni dan budaya dimulai pukul tiga sore hingga magrib. Setelah itu mungkin lanjut ke pertunjukan lainnya. Jadi setidaknya saya masih mendapatkan sisa-sisa parade. Namun, ternyata tidak. Bahkan acara parade belum dimulai. Terlihat para peserta parade duduk menunggu dengan tampilan unik masing-masing.  Mereka telah bersiap, entah mulai dari jam berapa. 
Bersama nenek-nenek kece
Pengunjung muslim bisa memilih untuk shalat magrib di area KRB (Kebun raya bogor)-disebuah tenda yang disulap menjadi tempat shalat oleh panitia dan di masjid terdekat lainnya. Tampak Gubernur Jawa Barat, Bapak Ridwan Kamil dan Bapak Bima Arya Sugiarto Wali Kota Bogor, seusai shalat magrib, berjalan bersalaman dengan para pengunjung yang berdiri di ruas-ruas jalan. Barisan pasukan pengaman, mencoba menyibak jalanan yang ramai. Hingga bakda magrib, acara belum juga dimulai. 

Panggung utama KLF terletak di depan pintu utama Vihara Dana. Jalan di depan Lawang Surya Kencana sudah penuh dengan para pengunjung. Saya sendiri tidak bisa meilihat pertunjukan apa yang ada di panggung, hanya terdengar sesekali suara pemandu acara, yang menurut infomasi sebanyak 45 orang. Hmmm. Banyak juga ternyata.
Salah satu peserta atraksi Reog Ponorogo
Bakda Isya', iringan peserta mulai merapat ke arah Jl. Surya Kencana. Tampak rombongan dari peserta yang menampilkan Reog Ponorogo mulai berjalan. Senang, tentu saja. Ini merupakan budaya dari kota Ponorogo yang sudah sejak lama ingin saya saksikan. Meskipun saat ini mereka hanya lewat saja dan menyuguhkan sedikit atraksi, karena atraksi utama saat mereka mulai parade di jalan. Selain itu ada juga arakan peserta dari Papua, Bali, Jakarta, Ponorogo, Padang dan provinsi lainnya di Indonesia. Ada juga tampilan dari mancanegara seperti India dan Tionghoa. Rute parade ini mulai dari Jl.Surya Kencana  hingga menuju Jl.Siliwangi. 

Bogor Street Festival
merupakan agenda tahunan yang menjadi salah satu agenda andalan Kota Bogor, menjadi daya tarik wisatawan dalam negeri ataupun mancanegara. Jika kamu ingin menikmati BSF ini tahun depan, cari saja informasi berikutnya.

Azmura dan Wisata Hati

Hujan turun perlahan, sesekali gemuruh terdengar, kilat tampak menerangi langit yang telah gelap. Pukul 21.22 WIB, angkot (angkutan perkotaan) yang kami tumpangi mulai melaju meninggalkan Dramaga menuju vila di wilayah Tapos Bogor, melewati derasnya hujan yang mulai turun. Jalanan masih ramai, meski malam kian larut,  kendaraan roda dua masih terlihat dengan lihainya serobot kanan kiri, menikung kendaraan lainnya. Hujan masih turun dengan lebat, menutupi kaca depan mobil yang meskipun sudah dilap dari dalam, masih saja berembun. 
Salah satu tempat asyik yang berada di bawah kamar tempat kami menginap
Jalan yang kami lewati mulai berbeda, tidak landai seperti sebelumnya. Sesekali mobil menanjak tajam, menukik kemudian, sopir dengan hati-hati menyibak genangan air. Minim sekali penerangan jalan yang kami lewati. Apakah ada jurang di kanan kiri jalan, kami juga tidak tahu. Angkot kami tiba-tiba berhenti di tanjakan jalan, kami para penumpang hanya menatap heran dari dalam angkot, saling bertanya mengapa kendaraan berhenti. Rupanya, angkot di depan kami tidak kuat menanjak. Khawatir, tentu saja, takut-takut, angkot tiba-tiba mundur menimpa deretan kendaraan roda empat lainnya yang sama-sama berhenti. #Lebay. 
Alhamdulillah, perjalanan bisa berjalan kembali, lancar hingga sampai vila yang menjadi tujuan kami.

Ini, kali kedua saya menginap di vila, setelah sebelumnya di Bandung bersama dengan panitia kongres FW (Forum wacana), namun saat ini berbeda. Kami yang tergabung dalam Himmpas (Himpunan mahasiswa muslim pascasarjana), selama 3 hari 2 malam mengadakan agenda Musyker (Musyawarah kerja) untuk program Himmpas satu tahun ke depan. 
Di tengah temaram lampu dan suara jangkrik malam yang mulai berderik
Sebuah vila dengan luas 2400 m2 menjadi tempat bermalam kami. Vila Azmura namanya,  berada di daerah Tapos-Ciawi-Bogor, milik Bapak Brata Wardhana. Penginapan dan konsumsi di vila ini GRATIS diberikan oleh Bapak Brata dan keluarga.
Mau?
Berbeda dengan vila sebelumnya yang berada di tengah-tengah kebun sayur, vila ini berada di atas perbukitan tinggi, dengan deras suara air sungai mengalir di sebelah kanan bangunan. Sebuah aula yang juga difungsikan sebagai tempat shalat, tempat diskusi dan tempat olahraga menjadi tempat agenda kami selama 3 hari ke depan. Vila bergaya Bali ini sangat indah dengan berbagai ukiran di setiap bangunan, termasuk juga di dalam kamar mandi. Terdapat berbagai jenis bunga indah ada di sini, dua diantaranya bunga anggrek dan dahlia, jenis lainnya saya kurang tahu namanya. Selain itu, terdapat juga lahan pesawahan-tanaman padi, sebuah kolam renang, kaktus tinggi menjulang, pohon salak langka, buah-buahan (raspberry, blueberry, jambu, jeruk dan buah lainnya).

 "Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"
Beneran mau renang?
Selain sholat lima waktu berjamaah, shalat tahajud, salah satu agenda selama Musyker yang menurut saya sangat berkesan adalah khataman Al qur'an. Seusai shalat isya', kami memiliki jatah untuk membaca 1.5 juz secara bersamaan. Masya Allah. Lama sudah saya tidak merasakan suasa semacam ini, terakhir mungkin ketika khataman Al qur'an di desa saat saya masih SMP (Sekolah menengah pertama).

Vila Azmura memiliki beberapa bangunan  yang saling terpisah satu sama lain  dan tentu saja rumah utama Bapak Brata. Sebagai tempat menginap, kami menempati empat bangunan (kamar) yang berbeda, tiga untuk perempuan dan satu bangunan untuk laki-laki yang letaknya berjauhan. Sebuah dapur dengan sebuah gazebo, meja dan kusi serta gemericik sungai mengalir, menemani sore kami saat istirahat untuk peralihan acara. Indah bukan?

Menurut cerita yang saya dapat dari Bapak Brata. Ada beberapa mahasiswa yang "menyepi" untuk mengerjakan tugas akhir a.k.a skripsi di vila ini selama tiga-empat bulan. Mereka datang sendirian, untuk menjauh dari hiruk pikuk kota dan mencari suasana yang kondusif sehingga dapat lebih konsentrasi untuk menyelesaikan tugas akhir. Dengan segala keindahan yang terdapat di vila ini, tidak heran memang jika banyak orang yang ingin bermalam di sini. Selain karena keindahannya, vila ini juga digunakan untuk wisata hati, wisata untuk semakin meningkatkan keimanan kepada Allah.
Ngobras-Ngobrol santai dengan Bapak Brata
"Jazakallahu khairan katsiran, kami ucapkan untuk Bapak Brata dan keluarga yang dengan besar hati memberikan tempat tinggal serta konsumsi gratis untuk kami. Semoga Allah memberikan keberkahan untuk Bapak dan keluarga."

(Baca juga: Guru kehidupan itu bernama Pak Brata).

Curug Daun dan Kesempatan Hidup Kedua

The angkoters (Sebutan untuk para penumpang angkot :D) memasuki satu per satu dari empat barisan angkot (angkutan perkotaan) yang kami gunakan. Perjalanan ini memakan waktu sekitar satu jam dari Dramaga. Tidak begitu jauh memang. Udara cukup bersahabat, langit terlihat cerah, kicau burung terdengar merdu dan sekawanan monyet tampak bekejaran satu sama lain menyambut kedatangan kami di kawasan wisata Curug Nangka. (gpp lah ke ge-er-an ya :D)
Kenalan yuuk :)
Wisata air terjun  atau lebih dikenal dengan sebutan curug jika di Jawa Barat menjadi salah satu wisata air dan alam yang sering dikunjungi wisatawan di kota Bogor. Tempat wisata yang kami kunjungi ini memiliki tiga jenis curug berdasarkan ketinggiannya. Paling bawah dikenal dengan sebutan Curug Nangka, kemudian Curug Kaung dan yang paling ujung atau yang paling tinggi adalah Curug Daun. Harga tiket masuk kawasan wisata ini setiap orang sekitar Rp 25.000 dan parkir mobil Rp 10.000. 

Tampak sebuah tulisan di antara pepohonan 'disewakan hammock' menarik perhatian saya. Yah, dengan barisan pepohonan yang menjulang tinggi, udara yang sejuk serta gemericik suara air yang mengalir memang tepat sekali digunakan untuk bersantai bergelung dalam hammock yang dipasang. Selain daya tarik utama yang berasal dari curug, lokasi ini juga banyak digunakan pengunjung untuk camping bermalam di tenda-tenda yang banyak kami jumpai di sekitar pepohonan rindang. 
Mau camping? Tetap waspada ya, banyak monyet mengintai
Sebelum kami menikmati keindahan curug, panitia mengadakan games untuk kekompakan. Suasana berlangsung ramai, di tengah lapangan luas yang kami gunakan. Setiap kelompok tampak berlarian mengejar balon yang sudah diisi dengan air, melentingkan setinggi mungkin balon kemudian menangkapnya dengan kain sarung yang dibentangkan. Ada juga games dancing dragon, setiap peserta yang terbagi menjadi empat kelompok, harus menutup matanya dengan kain sarung. Ketua masing-masing kelompok akan memberikan instruksi kepada anggotanya untuk berjalan perlahan, duduk kemudian mencari harta karun (makanan ringan) yang disebar panitia di lokasi games. Tak kalah seru dengan games yang pertama, di games yang kedua ini peserta juga tertawa  di antara kebingungan yang mereka rasakan karena harus menjaga konsentrasi mengikuti instruksi dari ketua kelompok.

Lepas games, kami memutuskan untuk pergi ke Curug Daun yang lokasinya sekitar 1-1.5 km dari lokasi permainan. Sebagian anggota memutuskan kembali ke tempat berkumpul pertama kali, di mana tas dan barang-barang yang kami bawa berada, dan berusaha menjaga dari aksi jahil barisan monyet yang berlarian mengambil sisa-sisa makan siang kami. 
Menikmati indahnya air terjun
Barisan tangga kami lewati perlahan, berhati-hati melangkah karena jalanan cukup licin akibat gerimis yang mulai turun, perlahan. Tampak sebagian pengunjung berenang di ceruk-ceruk landai yang berada di bawah curug, kami berteduh di bawah tenda penjual gorengan, mie instan dan minuman hangat. Berteduh sejenak dari tempias air hujan yang mulai ramai berdatangan. Belum sampai di curug utama dan hujan mulai reda, rombongan memutuskan untuk mendaki ke lokasi yang lebih tinggi, Curug Daun.

Seperti biasa, tampak para pengunjung berfoto ria di bebatuan di bawah air terjun yang mengalir. Saya tidak membawa pakaian ganti karena tidak berniat bermain air terjun, sehingga saya memutuskan untuk mencari lokasi bebatuan yang memungkinkan untuk mendapatkan foto dengan angel yang menarik. Beberapa teman tampak asyik bergaya, dan saya asyik menjepret empat enam foto mereka.

Gemuruh, air terjun yang tadinya putih bersih dan indah berubah menjadi air bah. Saya yang tidak menyadari kondisi sebenarnya, karena memang sedang membelakangi air terjun, berusaha menyelamatkan diri, berlari mencari posisi aman. Menggigil, gemetar ketakutan. Beberapa anggota rombongan masih terjebak di antara bebatuan. Tampak mereka mengeratkan tangan pada bebatuan atau apapun yang bisa dijadikan pegangan. Seorang bapak penjual makanan yang berjualan tepat di samping air terjun, melompat mencoba menyelamatkan mereka. Tak pedulikan air terjun yang mengalir sangat deras, berusaha menolong satu persatu. 
Terima kasih bapak, sudah membantu kami
Kami, anggota rombongan yang sudah menepi hanya bisa berdoa di dalam tenda warung bapak penjual makanan tadi, semoga Allah memberikan kami keselamatan. Evakuasi berlangsung cepat, beberapa teman yang terjebak sudah bergabung dengan kami yang ada di tepi. Namun, masih ada tiga teman yang masih bertahan di atas bebatuan besar yang lokasinya jauh dari tempat rombongan kami. Dua orang teman dari sisi yang berbeda mengulurkan sebilah bambu, berusaha menarik mereka. Dengan tempias air terjun yang sangat deras, alhamdulillah akhirnya semua selamat. 
Jernihnya air terjun berganti dengan air bah yang menakutkan
Jalan pulang yang kami lalui tertutup oleh derasnya arus, bapak penjual makanan dibantu dengan penjual lainnya berusaha membuat jalur baru. Perlahan, kami berjalan melewati tanah lumpur, hati-hati, karena sebagian dari kami kehilangan alas kaki, kemudian berjalan kembali melewati arus yang deras. Tangan kami terjulur, berusaha membantu teman-teman perempuan  dan ibu-ibu pengunjung  lainnya untuk menyebrangi arus. Sepanjang jalan, kami bergandengan tangan berusaha saling menguatkan dan mengucapkan rasa syukur karena masih diberikan Allah kesempatan hidup.

Beberapa hal yang harus diperhatikan jika berkunjung ke curug atau air terjun:
1. Baca Doa
Sebagai seorang muslim, dimanapun kita akan berpergian, mau ke warung di dekat rumah sekalipun, kita diharuskan untuk membaca doa, sebagai salah satu bentuk permohonan penjagaan kepada Allah.

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.
Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa di atas, maka disampaikan kepadanya: ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setanpun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya,’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ (HR. Abu Daud).
2. Gunakan alas kaki yang nyaman atau sandal gunung (sepatu/sandal khusus untuk mendaki). Tidak menggunakan alas kaki yang licin bagian bawahnya.
3. Untuk muslimah. Bawa pakaian ganti, kaos kaki double dan jaket. Untuk mengantisipasi jika pakaian basah dapat segera ganti dengan pakaian yang kering.
4. Jika sedang hujan atau sekedar gerimis sebaiknya tidak mendekat ke wilayah air terjun. Bisa saja di bagian hulu yang tidak terlihat sedang hujan deras dan banjir sehingga nantinya akan mengakibatkan air bah pada air terjun.
5. Membawa plastik khusus hp dan kamera. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, peralatan elektronik tersebut dapat dimasukkan ke dalam palstik agar aman.
6. Selalu waspada dan berhati-hati.

===Mohon maaf atas ketidaknyamanan  postingan artikel yang double. Template masih dalam proses perbaikan===