6 Jenis Minuman Populer Saat Musim Hujan

Hujan turun hampir setiap hari di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Hujan ini. Tidak heran memang, Bogor memang memiliki curah hujan yang lebih tinggi dibanding dengan kota lain di Indonesia. Namun, untuk tetap bisa menikmati rinai hujan yang turun ini, dapat dilakukan dengan menikmati secangkir minuman penghangat tubuh. Di Indonesia sendiri jenis minuman penghangat tubuh banyak sekali, enam diantaranya di bawah ini.

1. Bir Kotjok
Bir? Tenang Halal kok. Minuman penghangat tubuh ini memang aneh terdengar, dari namanya saja terlihat seperti minuman keras yang dilarang itu. Namun, minuman ini 100% berasal dari tanaman rempah, jadi aman dikonsumsi.

Bir kotjok merupakan minuman khas kota Bogor, yang hanya bisa ditemukan di kota Bogor, tepatnya di sepanjang Jl.Surya Kencana Bogor. Mengapa disebut bir, padahal bahan pembuatnya berasal dari herbal? karena ketika minuman ini disajikan, terdapat buih di bagian atas. Buih ini dihasilkan karena sebelum disajikan, minuman ini di kocok terlebih dahulu, beberapa kali sehingga munculah buih di bagian atas, mirip bir.


100% Halal
Bir kotjok terbuat dari campuran beberapa tanaman herbal, diantarnya jahe merah, kayu manis, gula aren, dan cengkeh. Campuran bahan-bahan ini cukup membuat badan hangat meskipun disajikan dalam keadaan dingin sekalipun. Jika kamu pernah minum jamu keliling, rasa minuman ini seperti minuman jahe yang diberikan penjual saat terakhir minum jamu.

2. Susu Jahe Merah
Sesuai dengan namanya, minuman ini merupakan campuran dari susu, jahe merah, gula merah dan air. Minuman ini sangat mudah ditemukan, tidak saja saat musim hujan, musim panas pun juga ada. Bahkan saat ini, susu jahe sudah dijual dalam bentuk minuman instan yang langsung seduh. Namun, menurut saya rasa jahe pada minuman instan kurang terasa, lebih dominan pada rasa manis. Minuman susu jahe merah dapat dijadikan obat ketika tenggorokan sakit atau saat badan sedang tidak sehat.
Susu jahe merah instan juga ada (Pict by Kaskus.co.id)
3. Tahwa
Banyak orang menyebut minuman ini dengan makanan, karena memang terbuat dari bahan dasar kedelai, yang bentuknya mirip dengan tahu, namun teksturnya lebih lembut seperti puding. Tahwa merupakan jenis makanan kecil yang berasal dari China. Di Indonesia, makanan ini sangat terkenal di Jawa Timur, terutama di kota Surabaya. 
Enak dinikmati saat musim hujan (Pict by pergikuliner.com)
Tahwa disajikan disebuah mangkuk, dengan siraman kuah jahe panas dan toping kacang tanah sangrai dan cakwe. Tahwa ini sangat mudah dijumpai, karena banyak penjual yang menjajakanya dengan berkeliling di kampung-kampung. Tahwa memiliki banyak nama diantaranya Tahwa/Tawa/Tauhua/Kembang Tahu.

4. Wedang Ronde
Pernah coba wedang ronde? Selain karena rasa minuman yang enak, bentuknya yang unik menjadi daya tarik tersendiri  bagi pembeli untuk mencoba minuman ini. Ditinjau dari namanya wedang memiliki arti minuman, sedangkan ronde adalah bola-bola warna-warni yang terbuat  dari tepung ketan. Wedang ronde ternyata bukan minuman asli dari Indonesia, melainkan dari negara tirai bambu, China. Ronde dibuat dari bahan utama tepung ketan yang dibentuk bulat yang di dalamnya berisi kacang, gula merah, atau tanpa isian. Wedang dibuat dari campuran jahe, air dan gula merah.
Ini wedang ronde ya, bukan bakso :D (Pict by idntimes)
Wedang ronde biasanya disajikan di sebuah mangkuk, dengan isian ronde, potongan roti tawar, kolang-kaling, kacang tanah sangrai yang kemudian disiram dengan kuah jahe panas.

5. Wedang Angsle
Minuman khas kota Malang ini menjadi minuman penghangat badan yang wajib kamu coba ketika berada di kota yang terkenal dengan sebuatan Bumi Arema ini. Angsle dan Ronde ibarat sahabat sejati yang tidak dapat dipisahkan. Di mana ada angsle, di situ juga ada ronde. Penjual biasanya menjual dua jenis minuman ini dalam satu gerobak/warung.
Sudah pernah coba? Pict by albarokah.co.id)
Kuah/wedang untuk angsle dibuat dari campuran santan, daun pandan, jahe, gula pasir, dan garam. Minuman ini memiliki isian yang lebih beragam seperti roti tawar, kacang hijau, ketan putih, sagu mutiara, kolang-kaling dan petulo (menyerupai kue putu mayang yang berbentuk seperti mie, terbuat dari tepung beras, tepung tapioka, atau sagu). 

6. Wedang Jahe
Minuman keenam ini yang paling mudah dicoba, apalagi buat anak kos. Cukup dengan mencampurkan gula, jahe dan air, minuman penghangat tubuh ini siap disajikan. Mudah dan enak diminum saat hujan atau saat badan sedang kurang sehat.
Minuman yang paling mudah dibuat (Pict by doktersehat.com)

Empat Kali Sidang Untuk Sebuah Gelar Baru

Setiap pilihan akan  memiliki konsekuensinya masing-masing. Termasuk ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Ada masa adaptasi berat yang harus dilewati, begadang malam yang menjadi 'makanan' sehari-hari, tidur yang menjadi hal sederhana yang sangat dirindukan waktunya, penyelarasan ritme perkuliahan yang berbeda dengan sebelumnya dan lain sebagainya. Sehingga bagaimanapun perjuangan itu, menjadi episode yang harus diselesaikan. Dan berikut perjalanan yang harus dilewati mahasiswa pascasarjana program master untuk dinyatakan selesai, lulus dan mendapatkan gelar baru.

1. Sidang komisi kesatu
Sidang komisi kesatu biasanya diadakan di akhir semester 2 atau bisa lebih cepat. Sidang pertama ini merupakan pertemuan perdana mahasiswa dengan para dosen pembimbing (2-3 dosen pembimbing). Pada kondisi ini, mahasiswa akan menentukan rencana penelitian termasuk di dalamnya judul yang akan diambil, penentuan parameter yang akan di uji dan berbagai hal yang berkaitan dengan penelitian.

Setelah sidang komisi kesatu selesai. Mahasiswa akan mulai mengurus kolokium. Kolokium merupakan seminar rencana penelitian (proposal penelitian). Mahasiswa akan mempresentasikan rencana penelitian kepada dosen pembimbing dan mahasiswa (peserta) yang hadir. Peserta kolokium akan membawa kartu bukti keikutsertaan kolokium, sehingga pada saat ini jumlah peserta akan selalu banyak (minimal 10-15 orang). Mayoritas peserta kolokium berasal dari program studi yang sama.
Selebrasi atas perjuangan yang telah dilalui (in frame Hylda Khairah Putri)

2. Sidang komisi kedua
Hasil penelitian akan dipresentasikan pada saat sidang komisi kedua ini. Pada saat ini mahasiswa akan menjabarkan hasil penelitian kepada dosen pembimbing. Jika hasil yang diperoleh sesuai dengan yang dihipotesiskan atau sesuai dengan tujuan dalam penelitian, maka akan ditentukan kesepakatan waktu untuk seminar hasil. Namun, jika hasil penelitian tidak sesuai, maka harus melakukan uji ulang, atau bahkan yang lebih parah, penelitian ulang.
Seminar hasil dilakukan di gedung pascasarjana, berbeda dengan saat kolokium yang dilakukan di departement/prodi fakultas masing-masing. Ruangan yang digunakan untuk seminar hasil dibedakan berdasarkan dengan bidang/topik penelitian yang diambil, diantaranya ilmu kehewanan, ilmu keteknikan, ilmu sosial, ilmu ekonomi, dan ilmu tumbuhan.  Pada tahap ini peserta seminar hasil berasal dari berbagai program studi yang ada di IPB University. Misalnya anda mengambil ilmu hewan, maka peserta yang hadir bisa saja berasal dari program studi statistika terapan, etomologi, ilmu pangan, teknologi pertanian, ilmu kelautan, dan lain sebagainya. Sehingga pertanyaan yang  ditanyakan oleh peserta akan beragam, mulai dari hal yang dasar sampai yang memerlukan jawaban lebih detail.
Seminar hasil ini dihadiri oleh semua dosen pembimbing (jika semua bisa hadir, minimal satu dosen pembimbing yang hadir), moderator yang akan memimpin jalannya seminar hasil ditentukan oleh pasca (beberapa moderator terkenal dengan tegas dan sulitnya memberikan nilai kepada mahasiswa), dan para peserta (baik yang mengambil program master atau doktor).

3. Sidang komisi ketiga
Setelah seminar hasil selesai. Mahasiswa harus segera menyerahkan hasil revisi draft seminar ke bagian pusat pelayanan pasca, agar nilai seminar dapat segera masuk/diinput (maksimal 7 hari setelah tanggal seminar hasil). Selanjutnya mahasiswa akan bertemu dosen pembimbing dalam sidang komisi ketiga. Pada sidang ini, akan ditentukan waktu sidang terakhir dan siapa dosen luar komisi yang akan menjadi penguji dalam sidang terakhir. Tidak berhenti dalam tahap ini, mahasiswa harus mengurus GKM (Gugus kendali mutu), yaitu penyerahan draft ujian akhir thesis kepada ketua GKM. Draft ini akan diperiksa dan selanjutnya akan dinyatakan layak tidaknya draft tersebut digunakan saat sidang akhir. Jika ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, maka harus diperbaiki pada tahap ini.

Sidang komisi ketiga dan GKM menjadi optional dibeberapa fakultas/prodi (program studi). Setelah seminar hasil, biasanya langsung penentuan waktu untuk sidang terakhir. Namun, berbeda dengan beberapa fakultas yang memang melaksanakan tahapan sesuai prosedur/tahapan yang semestinya.

4. Sidang Terakhir
Setelah semua tahapan terlewati, maka sidang ini menjadi sidang terakhir yang harus dilewati oleh mahasiswa pasca program master (S2). Sidang terakhir dilakukan selama kurang lebih 2-3 jam. Pada tahap ini jumlah dosen penguji sebanyak 5 orang (berbeda setiap mahasiswa), yaitu 3 orang dari dosen pembimbing, 1 orang dari program studi, dan 1 orang dosen penguji luar komisi.

Pada tahap ini, mahasiswa akan ditanyai seputar topik penelitian secara lebih detail. Selain itu pertanyaan lain atar laboratorium juga menjadi bagian dari pertanyaan. Misalnya saja topik penelitian yang diambil tentang nutrisi ikan, maka pertanyaan lain seputar lingkungan, penyakit, reproduksi dan pertanyaan lain yang berhubungan dengan penelitian akan ditanyakan. Maka setelah semua pertanyaan selesai, mahasiswa akan diminta ke luar ruangan untuk sementara (10-15 menit), di mana penguji akan mendiskusikan hasil sidang terakhir tersebut. Dan setelah masuk ruangan mahasiswa akan dinyatakan untuk LULUS BERSYARAT dan TIDAK LULUS (mengulang sidang akhir).

Lulus bersyarat menjadi pengumuman yang didapatkan saat sidang terakhir yang menandakan mahasiswa belum sepenuhnya lulus, yaitu sampai mereka menyerahkan hasil revisian draft tesis kepada dosen penguji sidang, kaprodi (GKM), dan dosen pembimbing. Jika sudah disetujui maka tesis bisa dicetak, kemudian meminta tandatangan pembimbing dan kaprodi. Tesis yang sudah jadi selanjutnya didistribusikan ke masing-masing pembimbing, prodi dan perpustakaan. Jika mahasiswa sudah sampai pada tahap ini, maka selanjutnya harus mengurus SKL (surat kelulusan) yang akan digunakan nantinya untuk mendaftar wisuda. Di dalam tesis akan tertera dua tanggal yang berbeda, tanggal sidang dan tanggal lulus yaitu tanggal yang sama dengan saat penyetoran tesis ke pusat pelayanan pascasarjana. Jadi, tanggal resmi kelulusan adalah tanggal penyetoran tesis ke pusat pelayanan pasca, bukan saat sidang akhir.
 
Seperti itulah tahapan yang dilewati oleh mahasiswa pascasarjana program master di IPB University. Mungkin akan sama atau berbeda dengan kampus-kampus lainnya.

Cara Mudah Menjelajah Jabodetabek dengan Commuter Line

Bepergian antar wilayah, khususnya di pulau Jawa, dapat dengan mudah dilakukan dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Tentu saja alasan yang mendukung karena harga tiket kereta api yang jauh lebih murah dibandingkan dengan menggunakan pesawat, apalagi jika menggunakan kereta api ekonomi. Hal ini lah yang menjadi alasan kenapa moda transportasi kereta api masih menjadi pilihan bagi banyak orang.
Commuter Line Jabodetabek
Selain kereta api, di kota super sibuk seperti wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang,  Bekasi) terdapat moda transportasi Commuter Line atau lebih terkenal dengan sebutan KRL Commuter Line. KRL merupakan layanan kereta rel listrik yang beroperasi di bawah komando PT. KAI Commuter Indonesia (KCI) yang merupakan anak perusahaan dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI). 

Sejarah Singkat Commuter Line
Rencana elektrifikasi jalur kereta api sudah digaungkan sejak tahun 1917 oleh perusahaan kereta api milik Hindia Belanda Staatsspoorwegen (SS) dan pembangunan jalur elektrifikasi mulai dibangun pada tahun1923, kemudian kereta listrik mulai beroperasi di Indonesia sejak tahun 1925 yang melayani jalur Tandjong Priok-Meester Cornelis (Jatinegara). Dikarenakan kondisi Indonesia yang tidak kondusif, jumlah penumpang yang menurun tajam, dan ternyata penggunaan kereta rel listrik menyebabkan kemacetan, maka Presiden Soekarno memerintahkan Gubernur Sudiro untuk menghapuskan trem listik pada tahun 1960. Dan pada tahun 1972 kereta listrik kembali beroperasi.
Rute Commuter Line Jabodetabek (Pic by krl.co.id)
Bepergian dari suatu tempat ke tempat lain di wilayah Jabodetabek tidak pernah saya bayangkan akan sangat mudah. Salah satu hal yang membuat mudah adalah moda transportasi KRL Commuter Line yang hanya ada di wilayah ini.  KRL memiliki 6 jalur utama dan 13 relasi yang melayani wilayah Jabodetabek dan Lebak. Sehingga, akan sangat mudah untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain di wilayah ini.
Untuk bisa menikmati moda transportasi ini, tentu saja penumpang harus membeli tiket. Yang berbeda dengan tiket kereta api biasa yang berbentuk kertas, KRL menerapkan tiket elektronik. Ada 4 jenis tiket yang berlaku, diantaranya Multi trip dan Single trip, Tiket Harian Berjamin (THB), Kartu Multi Trip (KMT), dan Kartu Pra bayar Bank.

Kartu Multi Trip dan Single Trip
Kartu Multi Trip dan Single Trip mulai digunakan pada tahun 2013, yang sebelumnya menggantikan Kartu Trayek Bulanan (KTB)/Kartu Langganan Sekolah (KLS). Kartu ini digunakan sebagai pengganti uang tunai yang digunakan untuk transaksi perjalanan menggunakan KRL dalam bentuk kartu sekali pakai (Single Trip) dan pra bayar (Multi Trip).

Tiket Harian Berjaminan (THB)
Salah satu kekurangan dari katu Single Trip adalah sering hilangnya tiket perjalanan yang dialami penumpang. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diterapkanlah Tiket Harian Berjaminan (THB). Sebelum naik KRL, penumpang harus membeli tiket pada loket atau mesin yang disediakan di setiap stasiun KRL. Harga yang harus dibayarkan oleh penumpang, meliputi tarif perjalanan dan tarif jaminan kartu (yang jika sewaktu-waktu tiket hilang, PT. KCI tidak mengalami kerugian). Misalnya harga tiket yang diharuskan sejumlah Rp 16.000 (6000 tarif perjalanan Bogor-Buaran=>bisa berbeda tergantung stasiun tujuan, dan Rp 10.000 uang jaminan kartu). Setelah sampai di stasiun tujuan, tiket ini dapat disetorkan kembali di loket tujuan, dan penumpang akan menerima uang Rp 10.000 sebagai uang jaminan kartu.

Kartu Multi Trip (KMT)
Penggunaan THB juga tidak terlepas dari kendala yang dihadapi yaitu saat penukaran tiket dan uang jaminan maka akan menimbulkan antrian panjang, terutama pada stasiun besar dan saat liburan, yang jumlahnya cenderung banyak pada saat itu. Maka hadirlah Kartu Multi Trip (KMT) yang memudahkan untuk penumpang. Penumpang dapat membeli kartu ini pada stasiun KRL yang tersedia dengan harga Rp 45.000-Rp 50.000 dengan isi saldo di dalam kartu Rp 20.000-Rp 25.000. Jika saldo habis, penumpang dapat mengisi ulang pada mesin khusus untuk kartu jenis ini yang juga terdapat di stasiun.

Kartu Pra bayar Bank
Penggunaan KMT juga tidak lepas dari kendala, yaitu mengantrinya penumpang untuk mengisi saldo kartu, dikarenakan jumlah mesin khusus KMT yang sedikit, sementara jumlah penumpang yang mulai banyak memiliki kartu jenis ini. Dan kemudian muculah jenis kartu pra bayar bank. Kartu jenis ini sudah banyak dikeluarkan oleh bank-bank yang ada di Indonesia. Beberapa bank mengeluarkan jenis kartu elektronik yang dapat digunakan untuk berbagai transaksi, misalnya untuk naik TransJakarta, membeli minuman di Vending Machine, membayar tol, naik kereta KRL (Misalnya kartu Tap Cash yang dikeluarkan oleh Bank BNI) dan untuk keperluan lainnya.

Pembelian kartu ini dapat dilakukan di bank-bank yang mengeluarkan berbagai jenis kartu elektronik. Harga kartu ini tidak jauh berbeda dengan KMT, namun beberapa hanya membeli kartunya saja tanpa ada isi saldo di dalamnya (untuk kartu Tap Cash BNI, saya membeli dengan harga Rp 20.000 tanpa ada isi saldo). Untuk mengisi saldo kartu dapat dilakukan di ATM di bank masing-masing.
Pembelian kartu THB
Saat ini, di beberapa Stasiun KRL, sudah tidak menerapkan kartu Multri Trip dan Single Trip yang sudah sepenuhnya menerapkan KMT dan kartu prabayar bank. Mungkin, hal ini lebih efektif untuk menghindari antrian penumpang di loket pengembalian kartu serta menjaga kondusifitas perjalanan.

Semoga moda transportasi seperti ini juga ada di daerah lain di Indonesia, selain karena mengurangi kemacetan, murah untuk tarif perjalanan serta memudahkan untuk berpergian.

Oh ya, satu lagi. KRL Commuter Line dilengkapi dengan gerbong khusus wanita yang berada di gerbong paling depan dan belakang. Jadi lebih aman untuk kaum hawa. Meskipun berdesak-desakan masih di antara para wanita, meskipun kewaspadaan akan pencopet barang-barang berharga terus dilakukan.

Jadi, ingin menjelajah wilayah Jabodetabek dengan mudah? moda transportasi KRL pilihan tepatnya. Penumpang tinggal memilih daerah yang ingin dikunjungi, kemudian membeli tiket THB (kalau belum memiliki KMT/ kartu prabayar dari bank), melakukan tap in kartu pada mesin masuk area KRL, melakukan perjalanan, dan terakhir jika lokasi yang di tuju masih jauh penumpang dapat menyambung dengan moda transportasi lainnya. Mudah bukan.
Tap kan kartu pada mesin yang ada di pintu masuk dan keluar KRL Commuter Line

Fast Track, Kuliah 5 Tahun S1-S2 di IPB University

Jika di SMA kita mengenal istilah akselerasi, sekolah 3 tahun menjadi 2 tahun, maka di dunia perkuliahan terdapat istilah Fast track. Fast track merupakan program sinergi percepatan perkuliahan S1 dan S2 hanya selama 5 tahun, yang seharusnya 6 tahun (4 tahun untuk S1 dan 2 tahun untuk S2) untuk waktu normal.  

Ketua program studi akan mensosialisikan program Fast track kepada mahasiswa tahun ke-3, yang di mana pada tahun ini kegiatan perkuliahani di kelas akan selesai, digantikan dengan penelitian, KKN (Kuliah kerja nyata) atau magang. Nah pada saat  inilah pengajuan untuk mengambil kelas Fast track dilakukan sejak semester 6 akhir. Form pendaftaran dapat di peroleh di Tata Usaha departemen. Selanjutnya setelah memenuhi beberapa prasyarat, salah satunya nilai IPK minimum 3.50, maka mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan S2 pada saat semester 7.

Memasuki semester 7, mahasiswa akan memiliki banyak sekali tugas yang harus diselesaikan. Selain tugas penelitian S1 yang harus sudah di mulai, serta tugas kuliah S2 yang berjibun jumlahnya. Pada saat inilah, keputusan untuk mengambil Fast track akan terasa berat.

Memasuki semester 7 (S1), mahasiswa harus sudah deal untuk judul dan rencana penelitian yang akan dilakukan. Pada tahap ini, mahasiswa akan menyusun proposal penelitian. Apa saja parameter penelitian yang akan diambil, yang akan membedakan dari S1 dan S2 (biasanya garis besar topik yang diambil sama ataupun bisa juga berbeda saat S1 dan S2). Setelah mendapat persetujuan dari dosen pembimbing, mahasiswa dapat memulai penelitian pada semester ini.
Mau pilih program yang reguler atau fast track ? (Pict. by Fisip.unand)

Selain running penelitian, mahasiswa juga akan mengikuti perkuliahan S2 (semester 1). Memasuki perkuliahan semester 1 akan banyak sekali tugas perkuliahan yang harus diselesaikan, baik tugas pribadi ataupun kelompok. Pada saat tugas kelompok ini, mahasiswa fast track harus bisa memanagemen waktu dengan baik antara penelitian dan tugas yang terkadang membutuhkan waktu untuk berkumpul dan berdiskusi, sementara penelitian sedang running (misal sedang kultur bakteri, sampling dan lainnya).

Lepas penelitan S1, mahasiswa akan memulai untuk menyusun skripsi sebagai tugas akhir yang harus diselesaikan. Jika lancar, maka seminar hasil dan sidang dapat dilakukan di semester 8. Pada saat ini mahasiswa bisa mendaftar wisuda S1. 

Memasuki semester 2 (S2), mahasiswa akan dihadapkan dengan kegiatan perkuliahan dan sidang komisi 1 yang mana akan membahas tentang rencana penelitian (jika ada perubahan dengan pembahasan saat S1). Pada semester 3 mahasiswa bisa melakukan kolokium (seminar proposal) dan penelitian dan semester 4 untuk penulisan thesis, sidang, dan wisuda. 

Mahasiswa yang mengambil fast track dituntut untuk kuliah tepat waktu 5 tahun, jika lebih maka status perkuliahannya dianggap reguler, seperti mahasiswa biasa lainnya. Selain lulus S1 dan S2 dalam waktu 5 tahun, keuntungan lainnya dari fast track yaitu dari segi pembiayaan. Pada saat mahasiswa semester 7 dan 8, mereka tidak membayar perkuliahan S2 pada semester 1 dan 2.

Jika pada saat semester 8 (S1) mahasiswa mundur dari program Fast trackk, maka nilai saat semester 1 (S2) akan tetap tersimpan. Jika nantinya mahasiswa tersebut ingin melanjutkan S2 jalur reguler di tahun yang berbeda, maka nilai-nilai tersebut masih bisa digunakan, tanpa harus mengambil perkuliahan ulang untuk mata kuliah yang sama. 

Untuk teman-teman yang saat ini mengambil program Fast track, semoga dikuatkan dan dimampukan untuk menyelesaikan amanah baru yang dipilih ini.

Barcode, Sistem Presensi Online 4.0 IPB

Era 4.0 menjadi salah satu era di mana penggunaan teknologi diterapkan di berbagai sektor kehidupan manusia. Misalnya saja dalam bidang perikanan saat ini beberapa budidaya skala besar telah menggunakan alat yang digunakan untuk memberikan pakan ikan secara otomatis, penggunaan hormon reproduksi buatan, monosex ikan dan lainnya. Dalam bidang pertanian, banyak sekali teknologi hasil panen yang digunakan untuk mengefisienkan tenaga serta biaya.  Hal lainnya dari bidang pertanian digunakannya alat untuk mengukur kebutuhan pupuk setiap komoditas tanaman, sehingga lebih tepat untuk pertumbuhan dan pembentukan buah.
Barcode, sistem presensi terkini IPB University (Pict. metropolitan.id)

Salah satu upaya penerapan revolusi 4.0 di IPB University yaitu penggunaan presensi online yang merupakan bagian dari program Green Campus 2020. Penggunaan kayu sebagai bahan kertas akan sedikit terkurangi dengan diterapkannya sistem absensi ini. Paperless menjadi salah satu keuntungannya, mengurangi biaya pembelian kertas, mengurangi tempat penyimpanan berkas, dan lebih mudah untuk mengetahui jumlah kehadiran mahasiswa tanpa harus merekap/menghitung ulang absensi. Bagi mahasiswa, tentu saja akan lebih tepat waktu untuk hadir karena scan QR code (quick response) dilakukan di awal perkuliahan.

QR code akan dipindai dengan menggunakan aplikasi IPB Mobile for Student. Setelah terpindai sintem akan mencatat waktu kehadiran, koordinat dari perangkat hp mahasiswa dan tentu saja memindai kehadiran mahasiswa. Pemindaian kode QR harus dilakukan dengan login terlebih sistem WiFi kampus yaitu IPB ACCESS atau eduroam. (Cara login IPB ACCESS dan eduroam).

Penggunaan presensi online telah diterapkan IPB University pada mahasiswa angkatan 56  yang berkuliah di gedung CCR (Common class room) sejak tanggal 12 Agustus 2019. Pada saat itu QR code di masih di cetak di kertas yang kemudian disebarkan di setiap kelas. Awal penerapan sistem  Namun, saat ini mulai semester genap 2019/2020, QR code ditampilkan pada layar proyektor yang terdapat dimasing-masing kelas. Beberapa kendala dari diterapkannya sistem ini adalah beberapa laptop dosen belum terkoneksi dengan IPB ACCESS atau eduroam, jika layar LCD terlalu terang QR code tidak bisa terbaca, serta untuk absensi online masih membutuhkan waktu 10-15 menit.

Penerapan presensi online ini tidak hanya untuk mahasiswa, namun juga diterapkan kepada pegawai IPB dengan login terlebih dahulu ke sistem kehadiran yang sudah disiapkan oleh IPB University. Setlah melakuan login, akan tertera nama, fakultas, golongan, kode finger print, dan data presensi. Penggunaan sistem ini akan memudahkan pegawai, sehingga tidak perlu repot untuk mencari mesin finger print. 

Semoga perbaikan sistem terus dilakukan, sehingga kendala dalam penerapan sistem ini dapat dilakukan dengan lancar.

Mendadak Inggris

Berapa lama waktu yang telah kita habiskan untuk belajar bahasa Inggris, 10 tahun? 12 tahun? atau mungkin lebih jika dihitung dari SD hingga kuliah saat ini. Dengan waktu yang cukup lama, ternyata tidak menjadikan kita lancar untuk level percakapan, mungkin ada beberapa alasan klasik yang ditakutkan banyak orang  (termasuk saya) yang ingin memulai pembicaraan dengan native, alasanya takut salah gramarnya, takut salah kosakatanya, takut ditertawakan dan ketakutan lainnya sehingga kemampuan kita stuck pada level itu-itu saja. Padahal banyak diantara kita yang ingin sekali lancar berbahasa inggris, cas..cis..cus... seperti air mengalir:D.
Bapak dosen keceh, Bapak Sukenda (kiri) dan Bapak Dedi Jusadi (kanan)
Siang itu saat di kampus, tak seperti biasanya ada dua orang bule yang datang ke departemen, yang tentu saja ingin bertemu dengan bapak dosen. Namun karena janji bertemu jam 1 siang, sementara si bule datangnya jam 11, jadilah kami, mahasiswa yang terbata-bata dan tak lancar bicaranya ini harus menemani mereka. Hmm itung-itung praktikum :D.

Saya bersama dengan seorang teman yang sama-sama tidak tahu mau bicara apa saja dengan si bule, mulai gusar. Wajah kami mungkin terlihat tegang, muka pucat, tapi mau bagaimana lagi. Ibaratkan kita di lempar ke sungai, mau ngga mau kita harus berenang jika ingin selamat.

Hal pertama yang kami lakukan, kami mengajak mereka ke kantin. Menjelaskan berbagai menu makanan yang tersedia (jangan dibayangkan ya, kami menjelaskan dengan lancar :D) yang pada akhirnya si bule memilih makanan yang menurut kami enak.
Sembari menikmati makan siang, kami ajak mereka mengobrol, menanyakan asalnya, sudah berapa lama di Indonesia, tentang kuliner Indonesia yang mereka sukai dll. 

Ternyata oh ternyata. Mereka adalah mahasiswa master dari sebuah perguruan tinggi yang ada di Denmark. Berasal dari departemen berbeda Human Resource dan Economy (nama kampus ada di kartu nama yang entah dimana saya lupa menaruhnya). Datang ke Indonesia karena tugas dari kampus untuk melihat potensi SDM dan ekonomi jika diambil dari bidang perikanan (Weleh..tugas ternyata bukan mencari data untuk tesis mereka :D). Mereka akan tinggal di Indonesia kurang lebih 2-3 bulan, berkeliling ke beberapa kampus dan lokasi potensial lainnya.

Lepas makan kami ajaklah mereka berkeliling kolam percobaan, kolam yang biasanya digunakan oleh para mahasiswa untuk melakukan penelitian. Di tengah matahari siang yang terik, kami berjalan melewati pematang kolam. Ngobrol ngalor..ngidul dengan topic random yang terkadang terhenti karena saya lupa kosa katanya. Masing-masing kami berbicara dengan satu orang, yang saya mungkin agak canggung ketika melihat postur tubuh mereka yang tinggi menjulang :D.

Ala bisa karena terpaksa mungkin ini kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan tersebut. Satu setengah jam berbicara langsung dengan bule ternyata menyadarkan diri saya, ternyata untuk bisa lancar berbicara, kita hanya perlu praktik, yang nantinya mungkin akan berakhir dengan bahasa tubuh karena minimnya kosakata yang dimiliki.

Ketika Bunga Rafflesia Mekar di KRB

Mau berlibur di kota Bogor? KRB bisa menjadi pilihan tempat wisata terdekat selain Taman Topi dari stasiun Bogor. Cukup dengan berjalan kaki, pengunjung bisa menyaksikan sekawanan rusa yang berlarian bebas dan memberi makan hewan-hewan tersebut dengan membeli sayur wortel atau jenis sayuran lain yang dijual disekitaran wilayah KRB.  Namun, jika ingin masuk lebih jauh ke dalam KRB pengunjung harus naik angkutan perkotaan (angkot) nomor 3 atau 2, sehingga pengunjung bisa sampai di pintu masuk yang diinginkan.
Mau kemana?
Beberapa kali berkunjung ke KRB (Kebun Raya Bogor) ternyata masih banyak spot menarik yang belum saya kunjungi. Terakhir saya ke KRB ketika ISTURA (istana untuk rakyat) tahun lalu. Pada saat itu Istana Bogor yang biasanya tertutup untuk masyarakat umum, ternyata dibuka untuk semua kalangan , sehingga kami bisa sedikit melihat isi istana, yaah meskipun tidak diperbolehkan masuk ke area dalam istana, namun setidaknya kami bisa berada di lokasi yang cukup dekat dengan istana. Untuk artikel lengkapnya bisa dibaca di sini.

Berbicara tentang KRB tidak melulu tentang sekelompok rusa yang banyak berkeliaran bebas, Istana Bogor, taman meksiko, danau segunting dan lainnya. Namun, ternyata ada tempat lain yang tak kalah menariknya dengan hal yang saya sebutkan di atas, yaitu bunga Raflesia Padma dan Taman Sudjana Kassan. 

Bunga Rafflesia
Bunga Padma aka bunga bangkai atau yang lebih di kenal dengan bunga Raflesia Padma merupakan bunga langka yang keberadaanya dilindungi oleh negara. Bunga ini ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles saat melakukan ekspedisi ke Sumatera.
Bunga ini mekar sebanyak 14 kali sejak tahun 2010. Waktu mekar bunga ini pun singkat dua sampai tiga hari saja, namun jika cuaca cukup lembab, waktu mekar bisa lebih lama. 
Sayangnya sang bunga sudah layu :(
Bunga Raflesia merupakan tumbuhan parasit. Bunga berwarna jingga kemerah-merahan ini memiliki lima helai mahkota bunga yang besar. Bunga ini mekar pada tanggal 13 September 2019, ketika saya berkunjung ke KRB tanggal 18 September kemarin ternyata bunga Raflesia sudah layu. Hal ini dikarenakan pengaruh cuaca yang cukup panas belakangan ini. Menurut infomasi yang saya dapatkan, akibat lain dari cuaca panas, mahkota bunga tidak mengembang sempurna.

Taman Sudjana Kassan
Tidak jauh dari area tumbuh Bunga Raflesia terdapat sebuah taman yang dikenal dengan taman Sudjana Kassan yang mulai dibuat pada tahun 1988. Taman ini dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada kurator Sudjana Kassan yang bekerja di KRB pada tahun 1959-1969, yang kemudian menjabat sebagai direktur KRB pada tahun 1959-1969.
Taman Sudjana Kassan
Tidak jauh berbeda dengan taman pada umumnya, taman ini juga di penuhi dengan berbagai jenis tanaman, namun beberapa tanaman di tata dalam relief besar berbentuk garuda lambang negara Republik Indonesia, sehingga taman ini juga disebut juga dengan taman Bhinneka. Selain tanaman, terdapat juga patung sang kurator Sudjana Kassan.

Berjalan sebentar dari taman Sudjana Kassan terdapat sebuah griya anggrek, namun karena ada perbaikan, area ini ditutup.
Berkeliling KRB menurut saya tidak cukup dalam waktu satu hari, apalagi berkeliling dengan berjalan kaki, berbeda jika menggukan mobil wisata, tentu dapat menjangkau dengan mudah beberapa tempat yang letaknya jauh dari pintu masuk. Namun, pengunjung tidak dapat menikmati objek wisata secara dekat dan dalam waktu yang lama. 
Masih banyak tempat yang belum dikunjungi
Oh iya, untuk masuk area KRB ini, pengunjung bisa memilih masuk dari beberapa pintu masuk 1, 2, 3 dan 4. Bisa saja ketika masuk dari pintu 1 saat keluar KRB tiba-tiba sudah berapa di pintu 3, karena pengunjung tidak sadar telah mengelilingi KRB. Kalau bingung pengunjung bisa memeriksa lokasi saat ini dengan melihat denah di atas.

Perjalanan Nyasar dari Jak-Japan Hingga Konser K-Pop

Bagi seorang yang suka jalan-jalan, perjalanan nyasar di suatu tempat yang belum pernah dikunjungi, sebenarnya ibaratkan appetizer yang harus dicicipi sebelum menu utama. Bahkan di tempat nyasar itu hal yang didapatkan sama menariknya dengan tujuan utama atau mungkin lebih. Sama halnya dengan yang saya rasakan dalam perjalanan kali ini.

Pameran buku IIBF (Indonesia International Book Fair) menjadi tujuan perjalanan saya. Pameran ini dibuka hanya lima hari pada tanggal 4-8 September 2019, dan saat hari ahad kemarin adalah hari terakhir pameran berlangsung. Tidak mau ketinggalan diskon buku yang menggiurkan, saya memutuskan untuk datang ke lokasi pameran yang diadakan di JCC (Jakarta Convention Center).
Jak-Japan Matsuri 2019
Hal pertama yang saya lakukan ketika ingin pergi ke suatu tempat adalah mencari informasi rute perjalanan, selain biaya perjalanan tentu saja. Karena letaknya di Jakarta, tentu tidak sulit karena banyak tempat terhubung dengan moda transportasi KRL (Commuter Line) sebagai kendaraan utama yang harus digunakan. Setelah membaca beberapa informasi, saya memutuskan untuk naik MRT dari St. Sudirman. Untungnya saya sudah pernah naik MRT dari stasiun ini, sehingga perjalanan menggunakan MRT kali ini cukup mudah dilakukan.

Ternyata oh ternyata, petualangan yang sebenarnya baru saya rasakan setelah itu. Info sebelumnya yang saya baca, untuk mencapai JCC saya bisa naik ojek online setelah keluar dari MRT Senayan. Keluar dari stasiun saya sedikit bingung, harus jalan ke arah manakah? kanan-kiri gedung-gedung tinggi menjulang, menciutkan sedikit langkah kaki. Pada akhirnya pilihan terbaik adalah bertanya dengan orang yang paham daerah tersebut, pada saat itu saya bertanya dengan petugas keamanan sebelum keluar stasiun. Ia menjelaskan seharusnya turun di MRT Bendungan Hilir. Karena terlanjur salah turun, ia menunjukkan rute jalan kaki yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. "Lurus saja mb". Oke got it.

Berjalan sebentar, ternyata saya agak familiar dengan gedung di sebelah kiri saya, gedung Kemendikbud, tempat dimana saya mengikuti pameran 3000 doktor. Takut salah arah, saya memutuskan untuk bertanya ulang kepada orang melintas, yang terlihat membawa kipas, yang menurut saya kipas itu diperoleh/dibeli di pameran buku di JCC, dan dari sini lah perjalanan nyasar saya dimulai.

*Jak-Japan
Tahu akan banyaknya barisan anak muda yang berkumpul, di sebuah lokasi dengan latar pohon sakura buatan, yang bentuknya tak lebih indah dari bunga sakura di KRC saya mengira inilah tempat pameran buku. Mengikuti arus yang ada, saya mengantri untuk membeli tiket masuk seharga Rp 30.000. Selain tiket, petugas juga memberi kipas. Pas sekali, siang itu udara sangat panas. 

Saat pemeriksaan tiket masuk, saya bertanya letak JCC, petugas bilang tidak tahu. Ya sudahlah, nikmati saja acara ini. Hal yang menyenangkan ternyata sudah menunggu di dalam. 

Warna merah pada tulisan menunjukkan ikatan persahabatan antara Indonesia dan Jepang
Jak-Japan Matsuri 2019, dari namanya saja seharusnya saya sudah bisa menebak jika acara yang sedang berlangsung merupakan pameran serba Jepang. Gantungan kunci tokoh-tokoh anime tampak ramai didatangi pengunjung. Perempuan yanng mengenakan Yukata (Pakaian tradisional Jepang) banyak terlihat, beberapa di antaranya memilih mengabadikan tampilan mereka di banner berlatar kuil dan pohon sakura di tempat di mana Kimono itu dipinjam. Miniatur rumah tahan gempa pun tampak dipajang. Mobil dan berbagai produk elektronik banyak di jual. Yang tak kalah menarik, ada panggung yang menampilkan nyanyian yang artis nya berasal dari Negara Sakura tersebut.

Hyaaaattt...
Tak berapa lama. Penampilan beberapa kesenian Jepang di tampilkan di area yang berbeda dari panggung utama. Tampak beberapa anak muda, seumuran anak SMP menari dengan menorehkan kuas di sebuah kanvas besar, mengikuti irama dengan menuliskan beberapa huruf Kanji (Hiragana/Katakana). Lanjut kemudian ada pertunjukan samurai dari teater yang beranggotakan orang-orang Indonesia. Cukup ngeri, ketika kilau samurai saling saling beradu, meskipun tidak menimbulkan suara denting. Tidak hanya sampai di situ. Mereka juga menampilkan tarian dengan membawa tiga naga besar, saling meliuk mengitari lapangan pertunjukkan. Sebagai penutup sebuah tampilan tarian di sajikan. 

*On Off
Setelah dua jam menikmati Jak-Japan Festival, saya melanjutkan mencari lokasi JCC. Bertanya kembali ke petugas keamanan yang ada di dalam area festival, ia menunjukkan jalan "Jalan itu lurus mb". Oke.

Sebuah taman bertuliskan Go Food Festival saya lewati. Menyusuri jalan hingga saya tiba di GBK. Urung melangkahkan kaki masuk ke stadion ini, karena lokasi ini lumayan sepi untuk sekelas pameran buku internasional (Ya memang bukan JCC:D). Akhirnya saya memutuskan bertanya lagi ke petugas kebersihan yang ada di depan GBK, dan mereka menjawab tidak tahu letak JCC. 
Ada yang tahu harga tiketnya?
Kaki sudah terasa capek. Peluh sudah sejak tadi mengalir. Saya kemudian kembali masuk Festival Jak-Japan, untuk sekedar lewat menuju jalan keluar. Jalan dan jalan lagi, akhirnya saya menemukan petunjuk arah JCC. Yeeey..Alhamdulillah

Keramaian sedang berlangsung di gedung itu. Tanpa pikir panjang saya ikut antri masuk, kali ini tidak berbayar. Tampak petugas keamanan memeriksa tas yang saya gunakan, beberapa polisi juga terlihat berseliweran.
Saya nyasar lagi.

On Off Festival Video, nama acara ini. Ternyata oh ternyata ini acara konser K-Pop.. (Ketawa sendirian ketika mengetahui salah alamat). Beberapa stand tampak menjual tiket konser. Beberapa orang juga menjual di luar gedung (semacam calo, dengan harga yang biasanya dua kali lebih mahal). Banner idol korea berukuran besar terpasang di sekitaran stasion tempat konser berlangsung, salah satunya boyband WINNER dan KARD (Ko tahu? karena ada tulisannya :XD). Area foodcourt pun tak kalah ramai. Aneka jajanan di jual dengan latar lagu-lagu Korea. 

Di lokasi nyasar ke dua ini saya tidak bertahan lama. Mungkin hanya setengah jam untuk mengitari lokasi :D.

*JCC
Tempat tujuan utama yang sudah diniatkan dari awal perjalanan.

Belum juga tampak hidung sang gedung JCC, saya mencoba usaha terakhir yang bisa saya lakukan, yaitu bertanya ke pejalan kaki yang berpapasan tentang lokasi gedung. Ternyata tinggal selemparan mata, jarak sudah sangat dekat. Finally.

Setelah melihat gedung tersebut, saya bergumam "Oalah, itukan gedung yang sudah pernah saya datangi waktu IBF-Islamic Book Fair". Hmmm...Selama ini..
Hati-hati uang ludes di zona ini :D
JCC menjadi tempat diselenggarakannya IIBF dan IBF yang biasanya berlangsung pada waktu yang berbeda. Hari terakhir pameran buku ini-IIBF, pengunjung terlihat masih sangat antusias memborong buku-buku favorite mereka. Bahkan ketika saya mampir di stand Republika, seorang ibu tampak memborong sepuluh eksemplar (mungkin lebih) buku karangan penulis kondang, Tere Liye yang saat itu mendapatkan potongan 20%, lumayan bukan.
Kecil-Kecil Punya Karya
Di bagian dalam gedung, sedang berlangsung talkshow yang menghadirkan penulis cilik Nayfa yang mengambil tema Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Kursi di depan talkshow tampak ramai dengan rombongan keluarga dan peminat buku lainnya.

Tak jauh dari panggung, terdapat "Zona Kalap Sale Up To 90%". Di zona ini, jumlah buku yang di beli tak kalah banyaknya. Keranjang-keranjang para pengunjung terlihat penuh dengan buku-buku pilihan mereka. Sementara saya, tak perlu pakai keranjang, tanggan masih cukup membawa buku yang jumlahnya hanya beberapa saja.

Kesimpulan perjalanan kali ini :D. "Terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan, tapi sungguh ada banyak pelajaran baru yang akan kita dapatkan jika kita mau bersyukur menikmati prosesnya"

Kamu punya pengalaman nyasar yang menyenangkan? Yuuk share ceritamu di kolom komentar

Tiga Hari Melewati Laut China Selatan dengan Kapal Perang

Suara lenguh kapal mulai terdengar nyaring. Para anak buah kapal (ABK) yang berasal dari TNI AL tampak begitu sibuk mengangkat jangkar yang sudah dilemparkan sejak kapal ini mulai berlabuh. Kami para peserta yang tergabung dalam agenda Sail Wakatobi Belitung sudah sejak tadi bersiap-siap menyaksikan keberangkatan kapal yang kami tumpangi dari Jakarta, pelabuan Tanjungpriok. KRI Makassar, itulah nama kapal perang yang akan kami gunakan dalam perjalanan ini. Kapal ini berukuran sangat besar dengan panjang 125 meter dan lebar 22 meter.
KRI Makassar 590 yang kami tumpangi (Pit by hobbymiliter.com)
Ini pertama kalinya saya berpergian menggunakan kapal dengan ukuran yang sangat besar dan dalam waktu yang sangat lama, dua puluh lima hari. Selama waktu itu kami gunakan untuk mengarungi pulau barat Indonesia. Itinerary perjalanan ini meliputi Jakarta, Pulau Natuna, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Dumai, Belitung dan berlabuh kembali ke Jakarta.

Laut China Selatan

Tak pernah terbayangkan sedikitpun, saya bisa mengikuti agenda keren ini. Begitu ada tawaran dari kampus, langsung saja saya dan seorang teman mendaftarkan diri dengan proses pendaftaran yang sangat mudah saat itu, hanya menyetorkan biodata dan pas foto. Sail Wakatobi Belitung merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora). Nama kegiatan ini berubah-ubah sesuai dengan destinasi perjalanan yang berbeda setiap tahunnya.
Laut China Selatan, Jalur yang harus di lalui menuju Natuna (Pict bywartakotatribunnews.com)
Laut China Selatan menjadi rute perjalanan kami menuju Pulau Natuna. Selama tiga hari kami berada di tengah lautan luas, terombang ambing memecah ombak dengan ketinggian enam meter. Memang rute ini terkenal dengan ketinggian ombaknya. Saya yang tidak terbiasa dengan moda transportasi jenis ini, mulai merasa mabuk laut. Begitu mabuknya, perpaduan laut dan langit indah saat senja pun terlewatkan karena lebih memilih untuk beristirahat di tempat tidur yang sudah disediakan untuk peserta. Pun ketika kami harus sholat berjamaah di lokasi yang berdekatan dengan helideck. Sebisa mungkin kami berdiri tegak, agak miring terkadang, karena pengaruh ombak.

Kurangnya jalan-jalan dan membaca menjadikan pengetahuan yang saya miliki sangat minim #Alibi :D. Laut China Selatan, ini pun saya juga baru tahu ketika kegiatan berlayar ini berlangsung. Bagaimana ombaknya, perjalanan kegiatan ini atau pun yang lainnya sama sekali tidak saya searching, sehingga mau tidak mau apa yang ada di depan mata itu yang kami jalani.

Pulau Natuna
Pagi setelah sholat subuh, kami mulai bersiap-siap untuk menyaksikan kapal berlabuh. Bagaikan menikmati air dingin ketika panas terik. Mungkin seperti itulah rasanya ketika kami akhirnya bertemu dengan daratan, Pulau Natuna. Deretan pulau-pulau kecil lainnya tampak terlihat, menyapa kami yang tak sabaran untuk turun. Satu dua rumah panggung mulai bermunculan. Setelah mendapat komando, kami akhirnya turun ke darat. Beberapa pejabat setempat tampak menyambut kedatangan kami, sementara wajah-wajah penasaran dari warga dan anak-anak kecil tampak terlihat jelas menyapa kami dengan senyuman mereka.
Natuna adalah Indonesia
Air laut di pulau ini sangat jernih. Beberapa ikan hias terlihat menggiurkan untuk ditangkap :D. Barisan pohon kelapa memenuhi bukit yang terletak di belakang rumah-rumah penduduk. Sebuah masjid besar berwarna kuning turut melengkapi bangunan desa.
Para peserta turun ke darat dan berkumpul di sebuah lapangan. Upacara penyambutan kemudian dilakukan. Selesai itu, kami pun mulai berkunjung ke rumah penduduk setempat, menikmati keindahan pulau dan akhirnya kembali lagi ke kapal. Di pulau ini, kami hanya tinggal selama dua hari, dan kegiatan banyak dilakukan di dalam kapal.

Batam

Upacara kemerdekaan kami lakukan di pulau ini di sebuah lapangan yang letaknya berdekatan dengan icon "Welcome to Batam", selesai upacara kami kemudian berkumpul di kantor pemerintahan Batam untuk menerima sambutan dan pengetahuan segala hal tentang Batam. 
Welcome to Batam
Beberapa kegiatan yang kami lakukan di pulau ini: menanam mangrove, bersih-bersih pantai, dan terakhir kami dapat kesempatan untuk main di sebuah mall yang saya lupa apa namanya. Dan di tempat inilah saya baru mengetahui istilah barang black market #hadeh.

Kepulauan Riau
Saya lupa kegiatan apa saja yang kami lakukan di pulau ini. Yang saya ingat hanya audiensi dengan pemerintah setempat dan minuman yang kami dapatkan. Ko minuman? Iya karena makanan minuman kemasan di sini banyak didatangkan dari Malaysia  atau Singapura karena letaknya memang lebih dekat dan mungkin harganya lebih terjangkau jika dibandingkan dengan harga barang-barang yang dibeli dari ibu kota Jakarta.
Mari menanam
Dumai
Udara tak cukup enak untuk dihirup, sedikit sesak, suasana tampak berkabut meskipun siang hari. Setelah kapal merapat di pelabuhan, kami bergegas naik ke bus menuju kantor sebuah perusahaan minyak besar, Chevron tepatnya di PT.Chevron Pasific Indonesia.
Barisan panitia yang menyambut terlihat dengan senyumya mempersilahkan kami untuk masuk di sebuah gedung yang cukup besar. Tak begitu lama, Sang pemimpin perusahaan memberikan materi tentang bagaimana minyak mentah di olah, dari mana sumber minyak di dapatkan, program CSR untuk masyarakat setempat dan banyak ilmu lainnya yang sangat bermanfaat.
Tari Sekapur Sirih Dumai
Belitung
Saat itu hujan turun ketika sebuah tarian khas kepulaun Belitung menyambut kami. Iya, ini pulau terakhir yang kami kunjungi selama berlayar. Acara seremonial pun dilakukan seperti di pulau-pulau sebelumnya. Selanjutnya kami menikmati suguhan yang menu utamanya ikan segar dan jenis seafood lainnya. Lepas makan, kami lanjutkan pergi ke Universitas Bangka Belitung untuk belajar beberapa hal. Di pulau ini pula kami melakukan bakti sosial tanam mangrove dan bersih pantai. Dan tibalah dengan hal yang sangat saya nantikan yaitu berkunjung ke pantai Laskar Pelangi, pantai Tanjung Tinggi.
Pantai Tanjung Tinggi
Sebuah papan bertuliskan "Lokasi Syuting Laskar Pelangi" menjadi tempat foto favorite yang banyak diincar para pengunjung, termasuk kami :D. Selain papan tersebut, batu granit besar yang banyak terdapat di pantai menjadi tempat foto menarik selanjutnya. Beberapa peserta tampak tak sabaran untuk berenang di tepian pantai. Yang lainnya memilih untuk menggunakan perahu karet karena memang tidak semuanya membawa pakaian ganti.
Ketika perahu karet kami hanya berputar dan tak mau kembali ketepian :D
Selama dua puluh lima hari, apa yang kami lakukan selain berkunjung ke pulau-pulau yang sudah ditentukan? Selama tidak berlabuh di daratan, aktivitas kami di dalam kapal tidak jauh berbeda dengan kegiatan perkuliahan, ada beberapa materi seputar ketahanan NKRI, kemaritiman, kebudayaan, bagaimana cara menyelamatkan diri ketika kapal bermasalah, dan berbagai materi lainnya. Selain itu ada juga tampilan kesenian dari masing-masing kelompok, liga persahabatan dengan tim sepak bola pulau yang dikunjungi dan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya.

#Kilas balik perjalanan Sail Wakatobi Belitung 2011

Sedekah Bumi

Gamelan ditabuh, satu dua Sinden tampak mulai berlenggak-lenggok menari seraya menyanyikan kidung Jawa. Beberapa warga desa telah berduyun-duyun datang, mengelilingi sungai tempat di mana acara ini digelar. Mereka membawa berbagai makanan yang dibawa menggunakan tampah (nampan berukuran besar dan bulat terbuat dari bambu) yang dilapisi dengan daun jati, kemudian ditata rapi berjejer di sebuah terpal besar. Tampak beberapa anak kecil yang sudah pulang sekolah mulai duduk  di depan nampan tersebut, dengan sumringah menanti acara dimulai. Sementara orang dewasa duduk di bibir sungai.
Tayub, Kesenian Jawa Timur-an (Pict by budayajawa.id)
Iya, ini adalah serangkaian pesta adat masyarakat di desa tempat saya tinggal. Satu tahun sekali, tepatnya pada hari Kamis Legi (tanggalan Jawa) acara ini diadakan di sebuah sungai besar yang pernah menjadi sumber mata air untuk berbagai keperluan pertanian dan rumah tangga. Belakangan ini, pemanfaatan sungai lebih banyak digunakan untuk pengairan sawah dan ladang, sementara untuk keperluan mandi dan mencuci, warga sudah mulai banyak yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing. Sungai ini berukuran kira-kira dua puluh meter dengan kedalaman sepinggang orang dewasa, dipagar dengan menggunakan beton, mirip kolam renang jika di kota besar.

Sedekah Bumi. Begitu kami menyebutnya. Sedekah berasal dari bahasa Arab Sadakah yang memiliki arti pemberian sukarela dari seorang muslim kepada orang lain secara ikhlas, Bumi berarti bumi. Dengan kata lain Sedekah Bumi adalah bentuk terima kasih masyarakat kepada Allah atas limpahan kebaikan alam yang telah diberikan berupa hasil panen. Jika di daerah lain di Pulau Jawa, Sedekah Bumi diadakan dengan membawa berbagai hasil pertanian seperti arak-arakan buah-buahan dan sayuran, di desa kami lebih sederhana. Masyarakat akan membuat makanan biasa seperti nasi, lauk ayam/ikan, sayuran, mie, dan beberapa potong buah, yang kemudian disusun rapi di sebuah tampah besar, dan tidak ada keharusan membuat makanan dalam bentuk tumpeng.
Di bawah teduh pohon beringin, tempat Gamelan ditabuh
Pukul dua belas tepat, suara kentongan terdengar, sayup-sayup, karena memang kentongan ini di tabuh oleh kepala desa  yang rumahnya jauh dengan sungai tempat acara ini berlangsung. Dipukulnya kentongan ini menandakan acara ini telah siap dimulai. Sesepuh desa dan seorang imam masjid kami bergantian membacakan doa. Sesepuh desa dengan doa bahasa Jawanya, sementara imam masjid dengan doa menggunakan bahasa Arab. Perpaduan dua doa yang berisi ucapan terima kasih atas kebaikan yang Allah berikan dan pengharapan akan hasil panen yang baik ketika musim panen nanti tiba.

Begitu doa-doa selesai dipanjatkan. Para warga akan saling berebut makanan. Anak-anak kecil yang sudah men-tag wilayah kekuasaaanya akan dengan mudahnya mengambil makanan yang ada di depan mereka, sementara beberapa warga yang tidak mendapatkan tempat duduk, akan saling berebut makanan, meskipun di depan nampan tersebut sudah ada yang menguasai. Para warga dan pengunjung lainnya beberapa diantaranya membawa karung beras, kantong kresek besar yang mereka fungsikan untuk mengangkut makanan. Bisa jadi dalam satu kantong, antara nasi,lauk-pauk, kue dan buah-buahan akan tercampur, karena memang siapa cepat yang dapat mengambil makanan itu. Warga yang datang di acara tidak hanya dari warga asli setempat, beberapa berasal dari desa tetangga. Sedekah Bumi seperti ini akan bergilir setiap desa, dengan waktu yang berbeda. Para pengunjung biasanya juga berasal dari desa-desa tentangga.
Makanan siap diangkut :D
Perebutan makanan ini berlangsung cepat, kurang dari tiga puluh menit. Selesai acara, para warga akan membersihkan daun-daun jati dan bungkus-bungkus makanan yang berserakan,  dan kembali ke rumah masing-masing, sementara para pelaku kesenian yang sejak tadi mengiringi acara (Tayub-kesenian asli Jawa Timur yang terdiri dari peyanyi-sinden dan para kru penabuh gamelan, gong dan alat musik lainnya) akan tinggal melanjutkan nyanyian sampai setengah jam kemudian dan selanjutnya pindah tempat di balai desa.

Malam hari, saatnya warga berkumpul menikmati hiburan seni Tayub. Beberapa penjual makanan, minuman dan mainan dadakan telah banyak datang sejak sore tadi, mencari tempat strategis yang banyak dilalui warga dan anak-anak kecil. Para warga tampak menikmati pertunjukan seni, beberapa lainnya memilih istirahat di rumah karena lelah seharian kerja di sawah ladang. Hiburan seni ini berlanjut hingga pukul dua belas malam, yang kemudian ditutup dengan tari ular yang dibawakan oleh Sinden.