2. Merantau Bagian 2

 Aku melihat sekilas jam tangan warna silver yang secara resmi aku kenakan sejak pagi tadi. Sebenarnya aku, tidak biasa memakai jam tangan, karena bekas jam akan terasa gatal, tidak ada alasan lain, namun karena ini hadiah pemberian orang tua saat aku berulang tahun yang ke-17, aku sengaja memakainya. Agar perasaanku tenang, seakan-akan mereka menemaniku saat bepergian ini.  

 

Jam menunjukkan pukul 12. 45. Waktu shalat dhuhur sudah lewat sejak lama tadi. Ku tengok kanan-kiri mencoba mencari mushola terdekat. Tampak, sebuah mushola dengan banyak orang yang sedang tidur-tiduran atau sekadar duduk, terlihat di depannya. Beberapa di antaranya terlihat mengambil air wudhu.


"Lin, ayo sholat dulu ya. Sekalian di jamak nanti, sepertinya kita nanti sampai di Malang sore, ngga kekejar waktu sholat ashar." Lina hanya mengangguk "Kamu bisa sholat jamak?" Ia berusaha memastikan



"Bisa, tadi belajar dari Youtube. " Kataku sampil tersenyum tanpa rasa bersalah." Nanti kita sholat berjamaah ya. Barang bawaan kita taruh di depan, biar aman." Imbuhku dengan pedenya, seperti sudah hafal sekali bagaimana tata cara sholat jamak yang baru beberapa menit tadi aku pelajari.


Mushola berwarna toska-putih yang terletak di pojok terminal Bungurasih Surabaya itu ramai, penumpang, penjual makanan, orang yang meminta-minta, petugas terminal terlihat diantaranya. Mungkin, mushola itu tidak pernah sepi, karena aktivitas hilir mudik penumpang antar kota besar yang memang banyak dilakukan di terminal sanggat tinggi. Tak pernah lengang walau sebentar.


"Cang ci men... cang ci men, kacang kwaci permennya mba." Dengan suara lantangnya seorang penjual asongan berusaha menawarkan barang dagangan mereka.
"Tahu..Tahu, manisan mangga, air minum dinginnya mas." Penjual lainnya tidak mau kalah.
"Mau beli minum dengan camilan ngga Ka?" Lina menyoba menawarkan saat aku sedang merapikan jilbab yang aku kenakan.
"Titip air putih satu sama manisan mangga satu ya." Kataku tanpa menoleh, sibuk memasukkan mukena yang selesai aku pakai untuk sholat tadi ke dalam tas, kemudian menyodorkan uang sepuluh ribu.
"Oke." Jawabnya sambil berlalu, berlari kecil.


Ku sandarkan punggungku pada dinding masjid. Aku pejamkan mataku sebentar.  Banyangan apa yang sudah aku alami akhir-akhir ini berkelebat. Berputar seperti film tanpa jeda. Mulai dari kehilangan orang tua, belajar mejadi kepala keluarga, membayar hutang-hutang keluarga, dan meninggalkan Sheila yang baru berumur tiga belas tahun untuk hidup mandiri di rumah.


Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku bisa menjadi kakak yang baik? Apakah aku bisa menjadi kakak yang dibanggakan Sheila? Apakah aku bisa menyekolahkan adik ku sampai ke bangku kuliah?. Dadaku sesak, air mataku mengalir, menetes mengenai tanganku. Segera aku menyeka air mataku dengan ujung kerudung yang aku kenakan, malu bila dilihat orang. 


Masih ingat dengan jelas, tangis haru bapak ibu, saat aku lolos SNMPTN diterima di sebuah kampus negeri di Bandung. Sebuah kampus bergengsi tempat orang-orang hebat menimba ilmu di sana. Ibu memelukku dengan erat. Kulihat mata bapak berembun, Ia kemudian dengan pelan menepuk pundakku. 


"Ya Allah gusti. Alhamdulillah. Selamat ya nduk. Semoga kamu bisa menjadi orang yang hebat seperti mereka. Bisa memberi manfaat yang banyak untuk kebaikan manusia, terutama bagi orang-orang di desa kecil kita." Suara bapak terdengar pelan, tercekat oleh sesuatu yang menggumpal di tenggorokan.


"Bapak Ibu bangga, bagaimana mungkin anak seorang petani yang tidak lulus SD seperti kami, bisa kuliah di kampus besar tempat wakil presiden itu nduk. Tentu kami sangat sangat bangga" Ibu menambahkan, dengan pelukannya yang semakin erat.
Aku hanya mengangguk pelan. Tidak tahu bagaimana harus berekspresi.


Keesokan harinya, rumah kami ramai dengan hajatan, selamatan sebagai bentuk rasa syukur atas kelulusanku diterima di kampus itu. Ibu membagikan nasi dan kue kepada para tetangga serta pengajian dilakukan sebelum acara hajatan dimulai. Dan sejak saat itu, banyak sekali tetangga yang mengucapkan selamat ketika aku tidak sengaja berpapasan di jalan atau ketika aku menyapu halaman depan rumah. Benar saja, jumlah warga di desa ku yang hanya lima puluh kepala keluarga tentu membuat berita ini cepat tersebar.


Ironi, sungguh begitulah kehidupan, dengan misterinya yang tidak pernah bisa dibayangkan. Dua bulan kemudian, seperti hari biasanya, selepas shalat subuh bapak mengantarkan ibu ke pasar untuk berjualan. Saat itu sendang pasaran Minggu Pon, hari pasaran di mana ramainya para penjual dan pembeli berdatangan. Tidak heran, kali ini ibu membawa dua buah keranjang besar berisi jajanan pasar dan sebuah tas kresek berisi daun jati untuk membungkus makanan itu. Satu keranjang ibu letakkan di pangkuan, sedangkan keranjang lainnya ditaruh di motor bagian depan, sementara tas kresek ibu jinjing di samping motor. Setelah mengantarkan ibu, bapak biasanya akan langsung pulang untuk kemudian pergi ke sawah. 


Namun, saat itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh seharusnya bapak sudah sampai di rumah sejak jam setengah enam lalu. Perasaanku tidak enak, namun aku abaikan, budhe Sri, tetangga samping rumah tiba-tiba memelukku ketika aku sedang menjemur pakaian di depan rumah.


"Ya Allah nduk... ya Allah nduk... yang sabar ya nak... " bude Sri teman ibu ku berjualan di pasar,  memelukku dengan erat, dengan  matanya yang  memerah karena menangis. Aku terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
"Kenapa bude?" tanyaku penasaran
"Ya Allah nduk...." Kata-katanya terhenti.
Sekejap kemudian, tetangga yang lain pun berdatangan.
"Ka, yang sabar ya nduk." ku alihkan pandanganku ke orang-orang yang tiba-tiba berkerumun di dekatku, mereka secara serempak juga menangis. Aku yang masih tidak tahu apa yang terjadi, di ajak bude Sri masuk ke dalam rumah, didudukkan di sebuah kursi kayu yang ada di ruang tamu.
"Ka..." Sunyi senyap. Hanya isak tangis sebagian orang terdengar. "Ibu bapak, kecelakaan. Saat ini kondisinya sedang kritis di rumah sakit. Sebuah truk menabrak mereka di tanjakan jalan Selo. Sopir dan keneknya bilang kalau mereka tidak melihat motor bapak melaju, karena tidak ada sorot lampu dari motornya. Sehingga bapak ibu tertabrak terpental menabrak pembatas jalan." Budhe Sri menjelaskan perlahan.


Tiba-tiba tirai pembatas ruang tengah terbuka. "Mba, kenapa ramai sekali?" Sheila yang baru bangun tidur dengan rambut yang masih acak-acakan dan mata sedikit merah,  telihat kebingungan mendapati banyaknya orang di rumah. Belum sempat aku menjawab, speaker masjid berbunyi . "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah meningal dunia bapak Satrio dan ibu Sukma pagi ini di rumah sakit. Jenazah akan disemayamkan siang ini di pemakanan Kenanga, setelah sholat dhuhur. Bagi bapak-ibu yang tidak berhalangan, bisa membantu kelancaran pemakaman di rumah duka."


Begitu mendengar pengumuman tersebut, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Sheila yang mulai sadar apa yang terjadi berlari kearahku, memelukku, menangis tidak kalah histerisnya. 


"Mbaa, bapak ibu mba... " tangis Sheila pecah. " Mba, kita sekarang sendirian mba."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya tangis yang semakin kencang. Tetangga yang lain mencoba menengkanku. Suara sirene ambulan tiba-tiba terdengar semakin dekat, jenazah bapak ibu tiba di rumah. Pandanganku tiba-tiba gelap, aku tak sadarkan diri.


Sayup-sayup terdengar alunan surat Yasin dibacakan. Mataku masih terpejam. Mencoba memastikan bahwa yang baru aku alami hanya mimpi belaka. Pelan, perlahan aku membuka mata, demi melihat Sheila memeluk jenazah bapak ibu, aku tersadar bahwa inilah kenyataaan pahit yang memang sedang terjadi.\


Tiba-tiba lamunanku terusik oleh sentuhan air minum dingin yang sengaja Lina tempelkan di tanganku. Kusipitkan mata ku berpura-pura baru bangun tidur, agar Lina mengira bahwa mataku yang merah bukan karena menangis tetapi karena tertidur.


"Yuk cari bus yang ke arah Malang." Ajak ku kemudian setelah selesai meneguk air minum yang baru Lina beli.


"Sebentar, aku mau makan tahu dulu." Kata Lina sambil memasukkan tahu dan menggigit cabe ke dalam mulutnya. "Mau, ngga?" Ia mencoba menyodorkan tahu goreng yang sedang Ia pegang.


"Nanti saja sekalian di bus." 


"Ya sudah kalau begitu." Ia masih melanjutkan menggigit tahu goreng yang tadi Ia beli.
"Malang.. Malang.. yang mau ke Malang." Seorang kenek bus mencoba mencari penumpang.

 "Ayo Malang mba mas. Bus Ac, tarif normal." Ia mencoba meyakinkan.


"Ayo, Ka." Lina kini sudah siap dengan tas ransel yang sudah menempal di punggungnya. Aku menangguk, kemudian kami berlari kecil bersama menuju bus yang kami tuju.


"Alhamdulillah dapat tempat duduk. Kita bisa tidur Lin." Aku tersenyum. Lina hanya mengacungkan jempolnya.


Sepuluh menit berlalu, kursi bus yang kosong sudah terisi dengan para penumpang. Bus kemudian melaju perlahan, meninggalkan terminal Bungurasih.


"Mba, berangkat. Do'a kan mba ya." Icon hati aku tambahkan kemudian aku tekan tombol send. "Bapak ibu, do'akan Soka ya." Kata ku lirih, kemudian mataku terpejam. 


Baca Merantau Bagian 1 di sini

1. Merantau Bagian 1

Pengap, sesak berjejal. Bau asap rokok bercampur dengan keringat, menyeruak menusuk hidung, memberikan aroma yang membuat perut ku mual. Wajah-wajah layu dengan mata setengah terpejam terlihat di sebagian penumpang yang mendapatkan tempat duduk, sebagian lainnya berdiri berdesakan hingga tidak ada celah di koridor bus yang kami tumpangi.



“Terminal Bungurasih... Bungurasih, masih ada yang kosong.” Suara kenek bus terdengar nyaring


“Ayo mba, ibu, masih ada yang kosong.” Sekali lagi Ia mencoba meyakinkan para pejalan yang lewat.

“Sudah penuh pak sopir, ayo berangkat. Ini sudah menunggu dari tadi. Sudah tidak ada tempat lagi.” Seorang ibu-ibu terdengar tidak sabaran karena harus menunggu dalam waktu yang sangat lama hingga bus berangkat.

“Berangkat Pir,” Penumpang yang lain ikut menambahkan.

Benar saja, kata ku dalam hati. Aku sudah di dalam bus ini sekitar setengah jam lalu, dan tidak mendapatkan tempat duduk. Apalagi penumpang lainnya yang sudah sejak tadi menunggu. Tentu sudah sangat kesal sekali.

Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya bus melaju perlahan. Sebuah lagu lawas “Stasiun Balapan” karya almarhum Didi Kempot di putar. Mengalun, membuai  para penumpang yang terlelap dan yang lainnya terkantuk-kantuk dengan tetap terjaga mengapit barang bawaan mereka.

Ini kali pertama aku merantau ke tempat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Berpegian bersama dengan seorang teman yang berasal dari desa yang sama. Kami mencoba merantau, mencari peruntungan nasib yang lebih baik. Kota Malang menjadi tujuan kami.

Sejak lulus SMA dua bulan lalu, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Meskipun sebelumnya aku sudah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan, namun kecelakaan yang mengakibatkan meninggalnya kedua orang tua ku, membuat langkah ku berhenti sementara.

Uang tabungan yang tidak seberapa yang kami miliki, aku gunakan untuk menutup hutang keluarga, dan sisanya untuk biaya sekolah adikku yang mulai masuk sekolah menengah atas. Kini posisiku telah berubah menjadi kepala keluarga, mau tidak mau aku harus bisa menghidupi dan menyekolahkan adik semata wayang, satu-satunya keluarnya yang aku miliki.

Setelah ijazah SMA keluar aku memutuskan untuk bekerja di Malang, menjadi pembantu rumah tangga. Tidak mengapa, bagiku selama itu halal akan aku lakukan apapun untuk bisa memenuhi kebutuhan adikku. Kini tanggungjawabku semakin besar. Tidak ada lagi ego untuk diri sendiri.

“Bungurasih.. Bungurasih.. terminal terakhir. ...Bapak, Ibu mohon diperiksa kembali barang bawaanya. Hati-hati banyak copet” Suara kencang kenek membuyarkan lamunanku.

“Lin..Lina... bangun, mau sampai.” Kataku sampil menepuk punggu Lina perlahan, yang terlelap sejak tadi saat Ia mendapat kesempatan untuk duduk, saat ada penumpang yang turun di Romokalisari.  "Ayo siap-siap, hati-hati barang bawaan."  Kata ku menambahkan. 


 

Bersambung Merantau Bagian 2


Pagi, Di Wisata Geladak Balai Keling Gresik

Kepulan asap tampak menguar melalui cerobong udara pabrik, mengeluarkan berbagai limbah tak bermanfaat dan beracun lainnya. Hilir mudik kendaraan bermotor meramaikan jalanan pagi saat di mana orang-orang berangkat ke lokasi kerja masing-masing.


Perjalanan kali ini sangat dekat, hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit dari kost-kostan, masih dalam area kota Gresik, sehingga mudah dijangkau dengan kendaraan bermotor. 

Wisata yang tidak benar-benar wisata :D
 
Kali ini saya tidak sendirian. Bersama dengan seorang teman saat di Bogor yang kemudian Allah pertemukan kembali di Gresik, maka ini menjadi ajang reuni kecil kami sekaligus plesiran ke tempat wisata yang mudah dijangkau dari Gresik Kota.

Welcome to Geladak Balai Keling


Sebuah gerbang bertuliskan "Wisata Geladak Balai Keling" menjadi tujuan kali ini. Tampak beberapa kendaraan roda dua berjajar di parkiran, entah kendaraan pengunjung atau memang kendaraan para pekerja sekitar lokasi tersebut, sulit dibedakan. Di lain sisi para pekerja di sekitar pelabuhan tengah sibuk mengangkut drum-drum yang berisi oli.


Sesuai dengan namanya, Wisata Gladak. Terdapat gladak atau jalan kayu yang dibuat menjorok ke arah laut. Dicat warna-warni agar menarik para pengunjung. Jalan ini berfungsi sebagai pelabuhan kecil, tempat para warga menyandarkan perahunya sebelum digunakan untuk beraktivitas.


Wisata apa yang disajikan di lokasi ini?
Jika dibandingkan dengan Banyuurip Mangrove Center tentu tempat ini jauh sekali perbedaannya. Di lokasi ini pengunjung akan menyusuri jalan/gladak yang sudah disediakan warga yang merupakan hasil dari sumbangan dana salah satu instansi swasta yang ada di Gresik. 

 

Di sini, kita bisa menikmati suasana yang tidak benar-benar senyap namun ramai dengan aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan besar ataupun di pelabuhan kecil yang terhubung langsung dengan pabrik.


Berfoto ria tentu saja bisa menjadi agenda utama yang berlatar perahu-perahu kecil milik warga dan kapal besar pelabuhan yang memang digunakan untuk mengangkut barang dalam jumlah yang sangat besar.

Barisan perahu yang digunakan oleh warga untuk beraktivitas


Selain berfoto, menikmati pemandangan yang tidak cukup bersahabat karena efek asap pabrik dan bising kendaraan, kita juga bisa menikmati perairan secara langsung dengan menyewa atau naik perahu warga. Sayangnya, saya sudah cukup sering naik perahu saat menemani teman-teman mencari data kerang hijau di BMC, jadi saya tidak berminat untuk menyewa perahu sehingga saya tidak begitu tahu berapa tarif untuk sekedar berlayar ringan di wisata Geladak Balai Keling ini.


Lokasi wisata ini 'enak ' dinikmati saat sore hari, terutama saat menunggu matahari tenggelam. Yah, meskipun suasana bising kendaraan/pelabuhan menjadi backsound  yang akan menemani.


Harga tiket masuk wisata Geladak Balai Keling 2000 rupiah ditambah 2000 rupiah untuk parkir motor. Sangat murah bukan, apalagi untuk sekedar menikmati aktivitas pelabuhan atau jika beruntung saat pagi bisa menikmati sunrise.

Tiket masuk+parkir motor cukup 4000 rupiah

Rute Menuju Wisata Geladak Balai Keling
* Arahkan kendaraan menuju Pasar Gresik. Jika kamu berangkat dari arah Gresik Kota, maka lurus saja , namun jika dari arah Manyar belok kiri dan kemudian lurus. Kedua rute tersebut akan sampai dengan jalan yang sama, kemudian jika ada pertigaan, belok kiri dan lurus. Maka di bagian depan setelah bekendara sekitar 2 menit akan ada gerbang yang bertuliskan "Wisata Geladak Balai Keling".

Para Pejuang Tugas Akhir di Bagan Kerang Hijau Banyuurip Gresik

Rintik hujan kian deras, membuat basah sebagian jaket yang saya kenakan. Lokasi yang saya tuju masih sekitar 20 menit lagi, namun dengan sedikit terpaksa akhirnya saya memilih untuk menepi ke warung kopi di samping jalan, demi menyelamatkan barang bawaan. Terlebih, di tas punggung ada laptop yang harus dijaga karena akan digunakan setelah me-laut nanti.

Semangat Para Pejuang Skripsi

Di bagian depan warung terdapat sebuah gazebo bambu yang aman untuk berteduh. Sang ibu pemilik warung kemudian menawarkan saya untuk masuk ke warung kopi beliau, karena masih pagi dan tidak berminat juga untuk ngopi, hanya saya tolak dengan tersenyum dan menganggukan kepala. Setengah jam berlalu, hujan terlihat reda, namun teryata ketika saya melanjutkan perjalanan, hujan kembali datang dengan riangnya.


Para pencari data kerang hijau sudah berkumpul semua di Banyuurip Mangrove Center (BMC). Perahu yang kami sewa juga sudah merapat di dermaga kecil yang terletak di lokasi tersebut. Demi menjaga keselamatan, tak lupa kami mengenakan Life Jacket yang sudah disediakan oleh pengelola BMC.

Bagan Tancap, Area Budidaya Kerang Hijau

Ada lima bagan tempat budidaya kerang hijau yang menjadi tujuan kami. Memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di bagan pertama. Pada kesempatan ini, saya menemani para pejuang skripsi untuk mengambil kerang hijau, plankton serta melakukan pengukuran kualitas air seperti pH, salinitas dan lain sebagainya pada setiap  rumpon yang kami tuju. Perjalanan dari BMC-bagan-BMC memakan waktu sekitar dua jam.
 

Pada bagan pertama, kedua dan ketiga, kondisi kami masih stabil. Hembusan angin masih bisa dinikmati kesegarannya. Namun, pada bagan keempat dan kelima, riak ombak kian besar. Bagi saya yang belum terbiasa dengan buaian ombak ini, respon pertama yang dirasakan adalah kepala yang pusing, perut mual dan sedikit masuk angin akibat efek kehujanan juga. Bahkan, salah seorang anggota ada yang muntah karena tidak tahan dengan ayunan ombak yang terlalu kencang (menurut kami yang tidak tahan dengan ombak).

Kalau ngga mabok, masih bisa foto :D

Sebenarnya ini bukan kali pertama juga kami melakukan aktivitas menggunakan perahu, beberapa kali bahkan, namun mungkin karena kapal tidak berhenti dalam waktu yang cukup lama saat di laut, sehingga ayunan ombak tidak cukup terasa. Padahal saya juga pernah merasakan hebatnya ombak setinggi enam meter saat melewati Laut China Selatan dan tentu saja saya mabok laut parah, namun ternyata setelah bertahun-tahun terlewati  tetap saja belum cukup membantu untuk kebal dengan ombak di laut.:D


Kembali lagi dengan kerang hijau. Kerang hijau menjadi salah satu hasil budidaya masyarakat di Desa Banyuurip Gresik. Saat panen raya, biasanya harga kerang cenderung lebih murah, satu kilo biasanya hanya berkisar 1.500 rupiah. Namun, ketika membeli olahan kerang hijau rebus di pusat Kota Gresik, tentu harganya akan jauh berbeda, bisa naik sampai enam kali lipat. Para pedagang menjualnya dengan harga 10.000-12.000 rupiah.

Panen Raya Harga Kerang Sekitar 1500-2000 Rupiah

Selain ekowisata mangrove yang cukup terkenal di wilayah ini, budidaya kerang hijau menjadi daya tarik lainnya bagi wisatawan atau bagi para akademisi. Topik-topik penelitian yang menarik dikaji menjadi pilihan para pejuang tugas akhir seperti rombongan perjalanan kali ini.


Bagan tancap merupakan sistem budidaya kerang hijau yang digunakan oleh para pembudidaya. Jika kamu, sekali dua kali melihat banyaknya bambu yang menancap di tengah lautan, bisa jadi itu merupakan area budidaya kerang hijau. Para pembudidaya biasa memasang bambu yang digunakan sebagai media untuk menempelnya spat atau benih kerang hijau. 


Benih kerang secara alami akan menempel pada bambu, hinga kerang itu tumbuh besar dan siap di panen. Plankton menjadi pakan alami untuk budidaya kerang. Jika perairan tersebut mengandung banyak limbah, mengkonsumsi kerang hijau tidak menjadi pilihan terbaik karena sifat suspension feeder kerang menjadikan daging kerang juga akan mengandung limbah yang ada di perairan tersebut. Namun, jika lokasi budidaya bersih dan jauh dari pencemaran, kerang hijau tentu aman dikonsumi. (Sekian materi untuk hari ini:D)


So, Tertarik untuk ikut panen langsung kerang hijau di laut? Kamu dan rombongan bisa menyewa perahu milik BMC yang ada di lokasi tersebut atau opsi lainnya kamu bisa membeli kerang hijau yang baru dipanen yang biasanya di jual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada di lokasi tersebut (jika kamu beruntung bertepatan dengan bulan-bulan panen kerang hijau).

Banyuurip Mangrove Center, Pusatnya Wisata Edukasi Mangrove Gresik

Sinar matahari menyeruak, melewati barisan dedaunan pohon mangrove yang  tengah asyik tumbuh. Nyayian burung pagi dan riak air setengah asin itu terdengar menemani pagi pukul tujuh kurang satu menit, waktu di mana saya sampai di lokasi wisata mangrove andalan kota Gresik.


Ini kali kesekian saya berkunjung ke Banyuurip Mangrove Center (BMC), lokasi yang membutuhkan waktu sekitar satu jam dari  pusat kota Gresik yang saya tempuh dengan roda dua  yang tentu saja dengan kecepatan tempuh semampunya.:D

Rombongan melaut :D

Sepi, tidak ada pengunjung, hanya beberapa warga lokal yang sibuk ke galangan kapal yang sementara parkir untuk kemudian digunakan untuk berlayar mencari ikan atau sekedar memperbaiki satu dua bagian kapal yang rusak. 


Ternyata sejak minggu kemarin, kawasan wisata di BMC ini sedang ditutup karena lonjakan Covid-19 yang semakin menjadi akhir-akhir ini. Lalu mengapa saya pergi ke lokasi tersebut? Alasannya simpel, karena ada sampel kerang hijau yang harus kami ambil (baca ceritanya di sini). Waktu yang tepat sebenarnya, karena saya bisa mengeksplor lokasi wisata ini dengan sesuka hati sambil menunggu anggota lain yang sedang dalam perjalanan.

Parkir sementara sebelum digunakan

Barisan pepohonan dengan daun meruncing seperti Pohon Pinus menyambut siapa pun yang datang di kawasan BMC. Tepat sebelah kanan terlihat replika patung sapi yang menyemarakkan suasana pagi. Tak jauh dari pintu masuk, terlihat area pembibitan pohon mangrove. Pada bagian depannya terdapat beberapa jenis mangrove yang ditanam di kawasan tersebut.


Beberapa jenis magrove yang ditanam diantaranya Rhizopora mucronata, Rhizopora stylosa, Rhizopora apiculata, Avicennia alba, Avicennia lanata, Avicennia officinalis, Avicennia marina, Sonetaria alba, Sonetaria casiolaris, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica, Lumnitzera racemosa, Acrostichum aureum, Ceriops tagal, Aegiceras corniculatum, Excoecaria agallocha, Acanthus ilicifolius, Xylocarpus moluccensis. 

Tracking yang ada di hutan mangrove

Di seberang lokasi pembibitan, terdapat lapak penjual aneka olahan atau oleh-oleh khas daerah Banyuurip. Namun sejauh ini, saya hanya menyaksikan lapak ini beroperasi melayani jual beli hanya saat acara World Wetland Day (WWD) yang diadakan bulan lalu, selebihnya hanya bangunan yang sepi penjual. 


Namun, jika pengunjung ingin membeli oleh-oleh dan pada saat itu tidak ada penjual, maka jangan kecewa, tunggu saja sampai siang, biasanya para nelayan akan mulai pulang melaut dan menjual hasil tangkapan mereka di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang ada di BMC. Maka pengunjung bisa membeli ikan segar dan kerang hijau (jika musimnya) dengan harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan ketika membeli di pusat Kota Gresik.

Salah satu spot berfoto ria yang menarik


Menuju lokasi hutan mangrove saya melewati jembatan penyebrangan kecil yang cukup cantik juga jika digunakan untuk berfoto ria. Selanjutnya tersedia tracking kayu sepanjang kurang lebih 700 meter untuk menyusuri bagian dalam hutan mangrove. Tanaman dengan berbagai ukuran ada di sini, satu dua pohon tampak dikalungi papan nama ilmiah  dengan warna tulisan kuning mencolok, agar cukup mudah dibaca oleh pengunjung.

Selain hutan rindang mangrove, pengelola juga menyediakan gazebo untuk istirahat, perpustakaan, mushola dan bahkan cofffe shop ada di dalam hutan mangrove yang lumayan ramai dikunjungi oleh para pembeli pada saat WWD.

Sebagian kecil hutan mangrove yang bisa diabadikan

Wisata alam atau lebih dikenal dengan Ekowisata memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam, terlebih wisata ini memberikan nilai edukasi bagi pengunjungnya. Alih-alih refreshing dari penatnya kota atau sekedar melepas lelah, kita bisa juga belajar tentang berbagai jenis mangrove yang ada di kawasan ini.


Selain dinikmati oleh warga, keberadaan mangrove juga menjadi daya tarik bagi para burung imigran yang mengepakkan sayapnya dari Australia untuk sekedar berkunjung mencari makan pada bulan-bulan tertentu di wilayah ini (eg. Burung Pelikan).


Tertarik untuk bermain dan belajar tentang magrove di BMC? Tunggu sampai lokasi ini dibuka kembali ya. 


Oh iya, untuk tiket masuk BMC sebesar 5000 rupiah, parkir motor 5000 rupiah dan parkir mobil 10.000 rupiah.

World Wetlands Day 2021

World Wetlands Day (WWD) atau dikenal dengan Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia tahun ini diadakan di Kecamatan Ujungpangkah (meliputi wilayah Ujungpangkah Wetan, Ujungpangkah Kulon dan Banyuurip), Gresik, Jawa Timur yang tepat diselenggarakan pada tanggal 2 Juni 2021. 


Lahan basah merupakan wilayah dimana tanahnya jenuh dengan air, baik air yang bersifat permanen maupun sementara (musiman), baik perairan alami atau buatan. Yang termasuk dalam bagian dari lahan basah diantaranya sungai, danau, gambut, teluk dan rawa dengan air mengalir atau diam, air tawar, payau dan asin. 


Pemanfaatan Lahan Basah memiliki tujuan untuk kesejahteraan masyarakat, mencukupi air bersih, makanan berlimpah (baik baik manusia ataupun hewan), melindungi dari bencara, penyimpan karbon, keanekaragaman hayati dan keindahan alam.


Pada WWD yang diselenggarakan tahun ini, diadakan selama dua hari. Pada hari pertama diadakan tiga kegiatan utama, yaitu:
1.Observasi Landscape KEE, Potensi Keanekaragaman Hayati, Explorasi Perusahaan Gas Negara (PGN Saka), dan Panen Kerang Hijau.
2. Observasi Habitat Burung Migran (Pelikan, Gajahan Timur dll), Program PEN Rehabilitas Mangrove, Suaka Burung.
3. Observasi Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat (Tempat Pelelangan Ikan, Pondok Pesantren, UMKM kerupuk.


Pada kegiatan nomor 1 dan 2 dilakukan dengan berkeliling menggunakan perahu yang sudah dipersiapkan. Dan pada kegiatan nomor 3 dilakukan secara langsung dengan mengobservasi tujuan yang sudah ditetapkan. Selain itu, penanaman mangrove dan pelepasan burung menjadi bagian dari acara ini.

Aparat Pemerintah melakukan foto bersama seusai acara WWD hari ke-1

Kegiatan WWD di Ujungpangkah dihadiri oleh berbagai pihak yang mendukung, yang berkaitan dengan Lahan Basah atau pelestarian lingkungan. Dari para pejabat pemerintahan, NGO (Non Governmental Organization/ Lembaga Swadaya Masyarakat), media, akademisi, masyarakat pemberdaya dan  berbagai lembaga lainnya. Pada hari kedua, pelaksanaan WWD dilakukan di Hotel Aston Inn dengan berbagai agenda yang mendukung, termasuk didalamnya penyerahan dokumen pengajuan Magrove Ujungpangkah menjadi kawasan Situs Ramsar.


Acara WWD ini merupakan tindak lanjut dari Konvensi Ramsar Site. Menurut Wikipedia, Konversi Ramsar merupakan perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan. Ramsar Site atau Situs Ramsar merupakan kawasan-kawasan yang ditetapkan untuk melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia. 


Konversi Ramsar pertama kali disusun dan disetujui di Iran pada tahun 1971 dan kemudian mulai berlaku pada tanggal 21 Desember 1975 dengan nama resmi Konvesi 'The Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat'. Di Indonesia Konversi Ramsar mulai diratifikasi (proses adopsi perjanjian internasional, atau konstitusi atau dokumen yang bersifat nasional lainnya)  melalui Keputusan Presiden RI No. 48 tahun 1991.


Di Indonesia terdapat 7 Situs Ramsar yang sudah diakui menjadi Situs Ramsar Dunia, diantaranya Taman Nasional Danau Sentarum Kalimantan, Taman Nasional Wasur Papua, Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Pulu Rambut Jakarta, Taman Nasional Berbak Jambi, Taman Nasional Sembilang Sumatera Selatan, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah.

Burung yang tidak mau lepas ke alam bebas (tertinggal dari kawannya)

Di Jawa Timur,  Mangrove Ujungpangkah-Gresik yang masuk dalam KEE (Kawasan Ekosistem Esensial) baru saja diajukan menjadi Situs Ramsar dan merupakan hal yang unik jika dibandingkan dengan Situs Ramsar lain karena merupakan wilayah pemanfaatan lahan basah mangrove yang tidak masuk dalam wilayah konservasi, yang keberadaan mangrove tersebut tidak dalam kawasan yang memang dilindungi dalam suatu wilayah konservasi melainkan karena upaya pelestarian mangrove oleh berbagai pihak yang mendukung pendanaan dan peran penting masyarakat yang mendukung kelestarian wilayah tersebut.

Pengalaman Bepergian Dengan Kereta Api Ekonomi Lokal Sidoarjo-Bojonegoro

KRL Commuter Line  merupakan  salah satu moda transportasi andalan warga Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi).  Moda transportasi ini dapat memudahkan warga bepergian dari suatu tempat ke tempat lain dengan biaya yang lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi lain seperti angkutan kota (angkot), ojek online (ojol), bus atau jenis lainnya. 

Artikel lebih lengkap tentang Commuter line dapat di baca di sini.


Mau Pergi Kemana?


Sayangnya KRL ini hanya terdapat di wilayah Jabodetabek, sehingga kebermanfaatannya tidak banyak dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Namun, di Jawa Timur ternyata kemudahan transportasi hadir dalam bentuk Kereta Api Ekonomi Lokal. Apa perbedaan dan persamaan dari kedua jenis transportasi ini ? Berikut penjelasannya


Perbedaan KRL Commuter Line Vs KA Ekonomi Lokal

 
1. Tiket Kereta
Tiket untuk KRL dapat diperoleh dengan membeli langsung tiket di stasiun keberangkatan. Pembelian tiket ini langsung dilakukan oleh penumpang sendiri pada mesin pembelian tiket jika di stasiun besar atau membeli tiket kereta pada loket pembelian tiket untuk stasiun kecil. Namun saat ini terdapat kebijakan baru (bertahap dari beberapa stasiun) yang mewajibkan setiap penumpang untuk menggunakan kartu (misalkan Tap Cash) yang dapat di top up ulang ketika saldo tidak mencukupi. Cara ini cukup efektif untuk mengurangi jumlah antrian penumpang pada saat pembelian tiket. Ketika sudah sampai di stasiun tujuan, kita hanya perlu men-tab-kan kartu tersebut pada hgate yang sudah disediakan.


Sedangkan pembelian tiket KA Ekonomi Lokal dilakukan melalui aplikasi seperti aplikasi Kereta Api Indonesia (KAI), E-tiket, Tiket.com atau jenis e-commerce lainnya. Sebelum kita berangkat, kita harus menscan barcode tiket tersebut serta menyerahkan data diri KTP atau jenis lainnya. Pada saat sampai di stasiun tujuan kita tidak perlu untuk pengecekan tiket lagi dan bisa langsung ke luar stasiun.

Tap Cash  salah satu jenis kartu untuk naik KRL Commuter Line

2. Tempat Duduk
Pada KRL Commuter Line ada tempat duduk khusus perempuan pada gerbong paling depan dan paling belakang. Hal ini tentu saja lebih nyaman jika dibandingkan dengan naik KRL Commuter Line pada gerbong campuran (laki-laki-perempuan), apalagi pada jam-jam sibuk yang biasanya berdesak-desakan. 


Selain itu, tempat duduk pada KRL memanjang pada ke kedua sisi kereta. Penumpang yang tidak dapat tempat duduk akan berdiri di tengah-tengah dengan berpegangan pada pengangan kereta yang sudah disediakan. Terdapat juga tempat duduk prioritas bagi penumpang yang hamil, lansia, disabilitas, sakit atau lainnya. Tidak tersedia toilet pada KRL Commuter Line.


Untuk KA Ekonomi Lokal, sesuai dengan namanya tempat duduk kereta jenis ini sama dengan kereta ekonomi pada umumnya, berbaris dengan tiga orang sebelah kiri dan dua orang sebelah kanan. Tempat duduk ini akan saling berhadapan dengan jarak yang tidak terlalu lebar. Tersedia toilet pada KA Ekonomi Lokal.


3. Jumlah Kereta

Mobilitas yang besar warga Jabodetabek dapat diimbangi dengan ketersediaan  KRL Commuter Line yang mencukupi. Seingat Saya di Stasiun Manggarai Jakarta terdapat 10 peron, yang artinya peron-peron ini akan dilintasi oleh KRL dengan tujuan yang berbeda.Untuk menunggu satu kereta dengan kereta lain biasanya tidak membutuhkan waktu yang lama, kurang lebih 10-15. Misalkan saja ketika kita ingin bepergian ke Jakarta Kota dari Bogor maka kita dapat menggunakan 18 nomor KRL Commuter Line yang berbeda dengan jadwal yang sudah ditentukan.


Untuk KA Ekonomi Lokal hanya terdapat tiga jenis kereta yang berbeda yang beroperasi pada jalur atau tujuan yang berbeda pula.


Persamaan KRL Commuter Line Vs KA Ekonomi Lokal


1. Melayani Wilayah Lokal
KRL Commuter Line beroperasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (JABODETABEK). Kehadiran KRL Commuter Line di wilayah super sibuk ini sangat membantu mobilitas para pekerja dan untuk aktivitas lainnya. Ada sekitar 58 stasiun pemberhentian yang beroperasi di wilayah ini. Mulai beroperasi mulai pukul 04.00  (dari Stasiun Bogor) sampai dengan pukul 22.12 (dari Stasiun Jakarta Kota).


Pada kereta Ekonomi Lokal, terdapat tiga kereta api yang beroperasi dengan jalur Sidoarjo-Bojonegoro (Sidoarjo-Gedangan-Waru-Wonokromo-Gubeng-Pasarturi-Tandes-Kandangan-Benowo-Cerme-Duduk-Lamongan-Pucuk-Babat-Bowerno-Sumberrejo-Kapas-Bojonegoro), Surabaya Kota-Sidoarjo (Surabaya Kota-Gubeng-Wonokromo-Waru-Gedangan-Sidoarjo), Kertosono-Surabaya Kota (Kertosono-Sembung-Jombang-Peterongan-Sumobito-Curahmalang-Mojokerto-Tarik-Kedinding-Krian-Sepanjang-Wonokromo-Gubeng-Surabaya Kota).

Jadwal KA Ekonomi Lokal


2. Harga tiket yang terjangkau
Jika dibandingkan dengan moda transportasi lain, bepergian dengan menggunakan kereta memiliki tarif yang lebih murah. Untuk KRL Commuter Line dan KA Ekonomi Lokal rata-rata kita akan membayar 6000 rupiah untuk perjalanan selama 1 jam, misalkan saja dari Stasiun Cerme Gresik ke Stasiun Babat Lamongan, begitu juga dengan perjalanan 1 jam dari Stasiun Bogor ke Stasiun Buaran Cakung. Sehingga bepergian menggunakan KRL atau KA Lokal banyak dipilih banyak orang. Selain murah, juga efisien untuk mengurangi kemacetan lalu lintas.


Wisuda Tanpa Toga

Waktu berjalan, satu persatu episode kehidupan silih berganti dilalui. Ada yang menyesakkan dan ada pula yang menggembirakan. Semua berjalan pada skenario yang sudah ditetapkan.


Dalam episode perjuangan menyelesaikan studi yang Saya lalui ini. Banyak air mata dan tawa dirasa. Ada kalanya putus asa melanda. Ada kalanya semangat menggebu tak terkira, demi mengingat Sang Penyokong asa yang tak hentinya menguatkan.


Masih jelas terasa episode perjuangan itu. Beradaptasi dengan lingkungan, guru-guru kehidupan dan sahabat-sahabat seperjuangan yang baru ditemui. Mencoba menyamakan ritme dan langkah, meski kaki terkadang berhenti terjeda sesaat. Begadang menjadi makanan sehari-hari, hingga tidur menjadi komoditas langka yang dinanti. Memupuk kesabaran dalam perjalanan perkuliahan, penantian panjang untuk penyelesaian penelitian, mengulang pengujian, sidang dan perjalanan ini diakhiri dengan judul "Wisuda Tanpa Toga".

Ilmu Akuakultur Angkatan 54

Hari ini, selebrasi perjuangan itu dilakukan dalam bentuk wisuda. Tentu saja, saat pandemi seperti ini, wisuda online/daring menjadi pilihan bagi semua. Meskipun sudah diupayakan untuk memilih wisuda offline saat pendaftaran tahun lalu, panitia ternyata memberikan kejutan dengan mengirimkan pengumuman pelaksanaan wisuda online yang dilaksanakan hari ini, Rabu 18 Februari 2021. Tepat satu tahun empat hari setelah sidang akhir sebagai penentu kelulusan.


Tidak memungkiri, banyak wisudawan menginginkan wisuda di Gedung Graha Wisuda (Grawida) di IPB University. Tempat bersejarah yang menyaksikan tetes air mata kegembiraan. Bersama dengan orang tua-sanak kerabat yang turut meramaikan. Tak terlepas tempat berfoto bersama, Koin IPB, yang biasanya selalu ramai untuk mengabadikan moment kemenangan.

Tri, Terima Kasih Telah Berjuang Bersama

Wisuda bukan hanya sekedar sebagai bentuk selebrasi diri atas perjuangan panjang yang telah dilakukan. Melainkan, sebagai bentuk persembahan atas usaha keras dukungan orang tua dan keluarga.


Sebelum pandemi menyerang, sempat terpikirkan untuk memakaikan toga kepada bapak-ibu secara bergantian.  Karena sejatinya mereka-lah yang lebih layak untuk merayakan, atas doa dan dukungan yang tak hentinya diutarakan. Namun, skenario Allah telah ditetapkan, wisuda kali ini yang terbaik adanya.


Peserta wisuda kali ini merupakan gabungan dari wisudawan tahap VI dan VII tahun ajar 2019/2020 dengan jumlah 890 peserta. Meski pada awal pandemi kami masih mendapatkan kesempatan untuk mendaftar wisuda offline, ternyata wisuda online juga yang kami dapatkan. Padahal, banyak peserta yang bersedia menunggu sampai kapan pun wisuda offline itu dilaksanakan, termasuk Saya.


Wisuda online, tanpa toga. Bagi wisudawan yang masih stay di Bogor, mungkin bisa mendapatkan pinjaman toga dari kampus. Untuk yang sudah mudik dan lama di kampung halaman, alternatif lainnya bisa membeli toga dari toko online atau pilihan lainnya tidak menggunakan toga, seperti Saya.


Hari Senin kemarin, seorang teman dalam pesan yang dikirimkan mengatakan bahwa Ia memesan toga yang akan dipakai untuk foto bersama dengan keluarga. Karena tidak terpikirkan sama sekali, Saya pun tidak melakukan persiapan apa-apa. Mau pesan toga pun, pengiriman barang akan lebih dari dua hari, yang artinya barang akan sampai setelah melewati tanggal wisuda. Tak apalah wisuda tanpa wisuda. Mungkin nanti bisa ke kota hujan lagi dan foto bersama dengan keluarga di sana. :D


Mungkin tidak hanya Saya saja yang mengalami hal seperti ini. Banyak mahasiswa dari berbagai kampus yang berbeda, mengalami hal yang sama. Wisuda online, wisuda tanpa toga.


Selamat kepada para Wisudawan yang wisuda hari ini. Semoga berkah melimpah untuk ilmu yang didapatkan. Selamat mengabdi di ranah masing-masing. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanan studi Saya selama ini. Semoga Allah memberikan kebaikan dan keberkahan selalu.


Selamat tinggal episode lama, terima kasih telah kuat melangkah bersama. Selamat datang episode baru, semoga banyak kebaikan akan kita lakukan selanjutnya.

2 Tips Mudah Menjadi Seorang Penulis Blog

Menjadi seorang penulis blog, cerpen atau jenis tulisan lainnya memang membutuhkan keseriusan. Menurut Saya sebagai seorang blogger pemula, menulis sebuah artikel di blog memiliki tantangan tersendiri. Bagaimana membuat kalimat yang menarik, tidak membosankan, penggunaan bahasa yang mudah dimengerti, dan topik yang ditulis menjadi hal yang perlu dipertimbangkan ketika ingin menulis sebuah artikel.


Namun, terlepas dari pertimbangan besar yang Saya lakukan. Dua tips ini ternyata sangat mudah kita terapkan ketika ingin memulai menulis sebuah artikel blog atau jenis tulisan lainnya. Dua diantaranya berikut ini:


1. Membaca
Yah, membaca memang pasangan sejati dari kegiatan menulis. Hal yang satu ini dapat memberikan kita insight tentang bagaimana tipe tulisan yang menjadi ciri khas dari tulisan yang kita hasilkan. 


Semakin banyak membaca semakin luas pengetahuan yang akan kita sajikan di dalam topik yang akan kita tulis. Sesuai dengan tipe tulisan yang akan kita tulis, kegiatan membaca ini pun beragam. Misalnya saja ingin menulis blog, yang kita lakukan adalah dengan membaca tulisan blog orang lain. Istilah ini disebut dengan blogwalking yaitu sebuah aktivitas berselancar ke berbagai blog lain yang sesuai dengan niche (fokus) blog yang ingin kita tulis. Jika fokus tulisan yang kita tulis tentang travel blogger, blog ini bisa menjadi salah satu referensi :D.


Jika kita ingin menulis novel, maka hal yang harus kita lakukan adalah dengan menambah bacaan novel sesuai dengan genre yang akan kita tulis. Misalnya fiksi atau non fiksi, petualang, romansa atau triller. Hal ini dapat memberikan gambaran bagaimana alur dari buku itu ditulis, gaya bahasa penulis, pembuatan judul dan berbagai hal menarik lainnya dari novel tersebut yang dapat menjadi tambahan ilmu kepenulisan secara tidak langsung.

Ayo Menulis :D

2. Menulis
Aksi dari keinginan menjadi seorang penulis adalah kegiatan menulis itu sendiri. Menurut seorang penulis kondang, Tere Liye. Jika kita ingin menjadi seorang penulis, cobalah menulis sebanyak 1000 kata setiap hari. Hal ini dapat membantu mengasah tulisan yang kita buat. Pun jika tidak bisa menuliskan 1000 kata, kita bisa latihan menulis 200 kata, 300 kata dan meningkat seiring dengan latihan yang akan kita lakukan. (Saya sendiri jarang menuliskan 1000 kata dalam sebuah artikel :D).


Cara mengasah tulisan kita juga dapat dilakukan dengan mengikuti komunitas kepenulisan, seperti yang Saya ikuti, Komunitas Blogger Perempuan. Meskipun Saya baru ikut kumpul dengan komunitas ini satu kali saat di Jakarta. Namun, hal ini ternyata dapat memicu semangat saya untuk tetap nge-blog. Alasannya, ternyata banyak mak-mak, mba-mba di luar sana yang menyukai aktivitas menjadi seorang blogger. 


Sedikit cerita tentang komunitas ini. Sesuai dengan namanya 'Komunitas Blogger Perempuan' Komunitas ini merupakan kumpulan para blogger perempuan. Didirikan dengan tujuan mewadahi para perempuan yang senang dalam literasi, khususnya blog.  (Cerita lebih lengkap tentang Komunitas Blogger Perempuan bisa dibaca di sini).


Namun, jika tidak memungkinkan untuk bergabung di sebuah komunitas kepenulisan, cara paling mudah yang dapat kita lakukan adalah dengan belajar mandiri alias otodidak, yang mana belajar mandiri ini mayoritas mengandalkan ilmu-ilmu yang tersebar di media sosial atau buku-buku yang kita baca. Cara ini cukup efektif meskipun terkadang memusingkan karena tidak adanya mentor yang mengarahkan


Selain tips di atas, setiap orang memiliki cara uniknya sendiri untuk dapat menulis dengan konsisten pada bidang tulisan yang disukainya. Terkadang moto "Yang Penting Nulis" menjadi salah satu  moto andalan ketika Saya sedang 'gabut' bingung mau menulis apa. Namun, tetap dengan batasan bahwa tulisan itu memberikan manfaat untuk pembaca.


Kalau kamu, biasanya hal lain apa yang kamu lakukan ketika ingin menghasilkan sebuah tulisan ?

Tiga Aplikasi Foto Editor Yang Wajib Kamu Coba

Aplikasi kamera B612 menjadi salah satu aplikasi Beauty and Filter Camera yang digunakan oleh banyak orang. Efek menghaluskan kulit, memutihkan bahkan membuat cantik layaknya model juga bisa. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, kini penggunaan kamera cantik sudah banyak ditinggalkan dan mulai berganti arah menggunakan aplikasi edit foto atau lebih dikenal dengan foto editor.


Melakukan editing foto agar terlihat lebih menarik memang diperlukan. Terlepas digunakan untuk apa foto tersebut, namun yang paling penting adalah bagaimana foto tersebut terlihat lebih 'cantik'. Salah satu bidang yang membutuhkan aplikasi edit foto ini adalah blogger dan instagramer. 

Apa foto editor yang kamu pakai ? (Pict Cottonbro)

Sebagai seorang blogger pemula dan penyuka foto-foto, Saya tentu saja menggunakan berbagai foto editor untuk menambah daya tarik foto yang Saya tampilkan di Blog dan Instagram. Berikut daftar foto editor yang pernah Saya gunakan hingga sampai saat ini.


1. PictArt
Jenis foto editor ini menjadi satu-satunya aplikasi terlama yang Saya gunakan. Penggunaan aplikasi ini lebih kepada adjusment warna sehingga foto yang dihasilkan lebih menarik. Ada berbagai jenis pilihan untuk mengedit foto dengan menggunakan aplikasi ini. Mulai dari yang gratis dan pro untuk berbayar. 


Kegunaan aplikasi ini bermacam-macam. Selain untuk memberikan warna yang lebih menarik, banyak juga fitur-fitur yang tersedia seperti mengganti background, mengedit twibbon, mengedit foto, atau jenis fitur lainnya. Aplikasi dengan tagline "Make Awesome Picture" ini telah diunduh lebih dari lima ratus juta pengguna di Play Store. Jika sebelumnya penggunaan PictArt hanya dapat digunakan melalui handphone, saat ini aplikasi PictArt sudah dapat dioperasikan secara online di website.

PictArt "Make Awesome Picture"

Aplikasi lain yang saya gunakan untuk membuat tampilan warna foto semakin menarik adalah lightroom. Salah satu aplikasi andalan untuk membuat tampilan foto vintage. Sayangnya, memori hp Saya tidak cukup besar. Sehingga dalam satu kesempatan Saya menghapus aplikasi ini, namun ketika mengunduh ulang aplikasi, ternyata tidak bisa karena memori penuh. Jadi tidak saya gunakan lagi


2. Text On Photo

Sesuai dengan nama aplikasi, penggunaan aplikasi ini lebih kepada membuat text yang menarik pada foto yang diedit. Pilihan font yang unik menjadikan Saya bertahan menggunakan aplikasi ini. 


Font yang bagus menjadikan tampilan foto lebih menarik. Tak jarang orang akan tertarik untuk melihat foto yang kita tampilkan dari font tulisan yang cantik. Meskipun faktor utama tetap terletak pada foto dan pesan yang disampaikan di dalam foto tersebut.


Aplikasi lain yang saya gunakan untuk membuat tampilan text lebih menarik adalah Snapseed. Namun, karena pilihan font menarik yang  ditawarkan tidak begitu banyak, maka saya menghapus aplikasi ini setelah menggunakan hanya beberapa kali saja.


3. Canva
Aplikasi editor foto yang terakhir adalah Canva. Dengan pilihan template menarik yang jumlahnya puluhan ribu serta ragam font yang disediakan lebih banyak, menjadi aplikasi ini menjadi pilihan Saya selanjutnya.


Pilihan template dan foto gratis sangat mudah sekali untuk dioperasikan. Canva menawarkan pilihan ukuran edit foto untuk berbagai media sosial misalnya ukuran feed instagram, status instagram, status WhatsApp, berbagi cerita di Facebook, sampul Facebook, kolase foto, pembuatan logo, poster, pembatas buku, selebaran, undangan, kartu nama dan untuk hal menarik lainnya.

Aplikasi menarik lainnya "Canva"

Diantara aplikasi edit foto yang pernah Saya gunakan, Canva menjadi editor foto numero uno yang saya sukai. Aneka fitur yang ditawarkan cukup membuat Saya setia dengan aplikasi yang baru saya pergunakan ini. Termasuk foto pertama pada tampilan artikel ini saya edit menggunakan Canva. Bagaimana, tertarik untuk mencoba?


Kalau kamu suka edit foto, aplikasi apa yang biasanya kamu pakai?