Sudah Coba Naik MRT Jakarta? Saya Sudah :)

MRT (Mass Rapit Transit) menjadi moda transportasi yang baru-baru ini hadir di Jakarta. Banyak masyarakat yang penasaran dengan transportasi jenis ini, termasuk saya :D. Berawal dari rasa penasaran inilah saya mencoba searching sebanyak mungkin informasi tentang MRT, mulai dari  harga tiket,  stasiun KRL (Commuter Line) terdekat yang terhubung dengan MRT, dan apa saja yang berhubungan dengan MRT. Dan pencarian saya berakhir pada nama St. Sudirman sebagai stasiun KRL yang bisa dengan mudah terhubung dengan MRT terdekat. 
Yuuk naik MRT (Pict by jakartamrt.co.id)
Perjalanan saya mulai ketika selesai mengambil hasil Lab minyak atsiri daun kayu manis di Labkesda Jakarta Pusat. Karena pada saat itu sedang ada tawuran antar warga di Manggarai, KRL yang saya tumpangi berhenti cukup lama di St. Tanah Abang sampai akhirnya kembali melaju setelah informasi aman didapatkan oleh masinis.

Beberapa saat setelah turun dari kereta, saya merasa kebingungan. Mencoba mencerna kembali informasi yang saya baca tentang lokasi MRT. Berjalan mengikuti lalu lalang orang yang ramai datang dan pergi. Dan sampailah saya pada pintu keluar stasiun yang  terhubung dengan jalan layang yang berseberangan dengan St. BNI City, dalam hati saya berbicara -waah salah jalan ini. Kemudian saya memutuskan untuk kembali lagi ke dalam St. Sudirman, mencari jalan keluar menuju terowongan Jl. Kendal. 
Salah satu mural yang ada di terowongan Kendal
Rehat sejenak di terowongan Kendal, menikmati kerlip lampu yang berganti warna, berpendar di antara mural yang terlukis di dinding. 5 menit berjalan menyusuri terowongan, di sebelah kanan terdapat Stasiun Dukuh Atas, 'ah ini dia stasiun MRT terdekat'.

Penumpang yang akan masuk akan diperiksa oleh petugas keamanan dua kali. Pertama saat di pintu luar, sebelum masuk stasiun. Petugas akan memeriksa dengan metal detector. Pemeriksaan ke dua, petugas akan memeriksa tas/barang yang kita bawa melewati X-Ray. Stasiun Dukuh Atas ini merupakan stasiun bawah tanah. 

Bebeberapa stasiun MRT yang ada yaitu St. Bundaran Hotel Indonesia, Dukuh Atas BNI, Setiabudi Astra, Bendungan Hilir, Istora Mandiri, Senayan, ASEAN, Blok M BCA, Blok A, Haji Nawi, Cipete Raya, Fatmawati, dan terakhir stasiun Lebak Bulus Grab. Stasiun-stasiun ini berada pada satu jalur, jadi tidak ada stasiun transit. Hanya terdapat satu jalur, jadi jangan (underground). 

Tarif MRT Jakarta
Tarif MRT Jakarta (Picct by jakartamrt.co.id
Cara naik MRT
  • Cari St. MRT terdekat. Salah satu St. yang mudah diakses adalah St. Sudirman. Setelah turun dari KRL, cari pintu ke luar, lewat terowongan Kendal akan ada St. MRT Dukuh Atas
  • Beli tiket di Vending Maccine dengan pilihan Single Trip Ticket (STT) atau Multi Trip Ticket (MTT). STT: Kartu hanya untuk satu kali perjalanan, masih dapat digunakan dalam waktu 7 hari dengan mengisi saldo top up terlebih dahulu. MTT: Kartu untuk lebih dari satu kali perjalanan, dapat diisi saldo top up dengan masa berlaku kartu lebih lama.  Atau jika ingin lebih mudah bisa menggukan kartu Tap Cash BNI, E-Money, Brizzi BRI, Flazz BCA.
  • Tap in kartu/tiket MRT sebelum masuk
  • Menunggu dengan tertib, dahulukan penumpan yang turun
  • Tap out kartu/tiket MRT sebelum keluar
Paling enak memang naik kereta di gerbong khusus perempuan
MRT mulai beroperasi pada pukul 05.00 WIB - 22.01 WIB. Pada jam sibuk (jam 07.00 WIB - 09.00 WIB dan jam 16.00 WIB - 19.00 WIB ) kereta akan berangkat setiap 5 menit. Sementara di luar jam sibuk, kereta akan berangkat setiap 10 menit. Pada jam sibuk, beberapa gerbong dikhususkan untuk penumpang wanita.

Taj Mahalnya Indonesia

Taj Mahal, begitu orang-orang menyebut masjid dengan warna dominan putih ini. Masjid Ramlie Mustofa namanya, dibangun oleh seorang mualaf Tionghoa yang bernama H. Ramli Rasidin. Nama Masjid Ramlie Mustofa sendiri berasal  dari singkatan nama dari keluarga H. Ramli Rasidin yaitu Ra (Ramli Rasidin), Lie (Lie Njok Kim), Mu (Muhammad nama anak pertama), So (Sofian  nama anak kedua) dan Fa (Fabian anak ketiga).

Masjid Ramlie Mustofa
Nama masjid Ramlie Mustofa baru saya dengar ketika ramadhan kemarin seorang penjaga masjid Babah Alun, masjid yang terletak di bawah kolong tol, bercerita tentang masjid ini. Penasaran dengan keindahannya, alhamdulillah akhirnya Allah takdirkan untuk datang ke masjid ini.

Masjid Ramlie Mustofa terletak di sebelah jalan raya, sangat mudah ditemukan. Selain itu, tepat di seberang masjid terdapat danau Sunter yang sudah cukup terkenal dengan pantulan warna-warni cat yang digunakan pada tembok pembatas danau. Danau Sunter ini juga banyak digunakan warga untuk duduk-duduk santai menikmati semilir angin.

Pada lantai dasar, terdapat toilet dan tempat wudhu yang terpisah. Untuk tempat wudhu perempuan langsung tersambung dengan tempat shalat. Pada bagian luar tempat wudhu, baik laki-laki ataupun perempuan, terdapat sebuah pohon kurma. Pada bagian tempat wudhu ini, terdapat gambar tata cara berwudhu, doa sebelum dan sesudah berwudhu yang diukir pada tembok dengan menggunakan tinta berwarna emas. Selain digunakan sebagai tempat shalat, lantai dasar khusus perempuan ini digunakan juga untuk kajian-kajian, atau aktifitas keagamaan lainnya. Di masjid ini juga dilengkapi dengan lift, sehingga memudahkan jamaah yang sudah 'sepuh' atau jamaah lain yang ingin dengan mudah menuju lantai dua dan tiga.
Danau Sunter dari lantai 3 masjid

Lantai dua, tempat shalat utama terdapat sebuah kaca transparant pada bagian imam (depan) yang bertuliskan surat alfatihah beserta terjemahannya. Pada bagian kubah, juga terdapat tulisan dari beberapa ayat Al qur'an.  Pada bagian luar, terdapat sebuah beduk yang didominasi oleh warna hitam dan emas yang bertuliskan 'hayya ala shola' (mari kita sholat). Selain beduk terdapat juga sebuah tugu peresmian masjid oleh H. Ramli Rasidin beserta dengan imam besar masjid Istiqlal  Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA. 

Pada bagian luar masjid, tepat di depan tangga keluar lantai dua, terdapat pahatan surat waqiah trilingual, Bahasa Arab, China dan terjemahan dalam bahasa Indonesia. Selain itu di samping kanan-kiri tangga menuju lantai dua, juga terdapat pahatan surat Al Fatihah trilingual.  

Lantai tiga difungsikan sebagai tempat sholat jamaah perempuan jika waktu shalat tiba. Meskipun, bisa juga shalat di lantai dasar (lantai satu). Di lantai ini, kita bisa melihat view indah danau Sunter. Untuk mencapai lantai ini pun, jamaah bisa menggunakan lift atau menggunakan tangga. 
Hayya Ala Sholah
Masjid Ramlie Mustofa terletak di Jl. Danau Sunter Raya Selatan Blok I/10 No.12C-14A Jakarta Utara. Untuk mencapai masjid ini mudah. Dari St.Tanjung Priok, kamu bisa naik angkot jurusan mall sunter, selanjutnya bisa naik transportasi online, atau jika ingin lebih mudah bisa langsung menggunakan transportasi online sejak dari St. Tanjung Priok. Atau jika ingin menggunakan kendaraan pribadi, yang harus diperhatikan tempat parkir terbatas hanya pada bagian luar masjid saja. 

Untuk kuliner, ada pedagang mie ayam yang terletak tak jauh dari masjid, atau jika ingin sekedar minum kopi/minuman dingin saja sambil menikmati semilir angin danau, ada penjual kaki lima yang terdapat di samping danau Sunter.

Pesona Bukit Bintang Pabangbon


Wisata alam menjadi pilihan banyak orang, apalagi bagi warga kota yang cenderung sibuk dengan aktivitas padat setiap harinya, dan Bogor menjadi kota dengan destinasi wisata alam yang banyak dikunjungi masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi). Hal ini bisa dilihat dari ramainya stasiun Bogor jika weekend, selasar stasiun yang penuh dengan pengunjung, antrian panjang penumpang KRL (Commuter line) yang mengular di depan loket pembelian dan pengembalian kartu THB (Tiket Harian Berjamin-kartu untuk naik KRL), dan kemacetan lalu lintas yang tak pernah selesai dan semakin menjadi ketika musim liburan tiba. Jika ingin berwisata ke kota Bogor tanpa harus merasakan kemacetan yang mengusik, kamu bisa mencoba pergi ke Taman Topi yang terletak di samping stasiun Bogor, Kebun Raya Bogor dan beberapa tempat wisata yang dekat dengan Stasiun Bogor.
Sekalinya terbang, pakai ayunan :)
Lepas dari stasiun Bogor, wisata alam lainnya yang dekat dengan kampus IPB Dramaga adalah Wisata Panorama Pabangbon (PaPa). Tempat ini cukup terkenal, dan menjadi destinasi perjalanan saya kali ini. Namun, sebelum sampai di PaPa, saya memutuskan untuk berhenti menikmati panorama alam yang disuguhkan oleh Bukit Bintang yang letaknya tidak jauh dari PaPa (dan PaPa akhirnya terlupakan, semoga ada waktu dan kesempatan untuk bisa berkunjung ke PaPa). 

Sebelum memasuki wisata alam Bukit Bintang, pengunjung akan disuguhkan dengan area perkebunan di samping kanan-kiri jalan dan udara yang segar (jika sampai di sana pada waktu pagi hari). Sebuah tugu berbentuk menara terbuat dari bambu yang bertuliskan Wisata Alam Bukit Bintang tampak terpampang menyambut para pengunjung. Harga tiket untuk masuk Bukit Bintang Rp 15.000 perorang, tarif parkir Rp 3000 untuk roda dua dan Rp 5000 untuk roda empat. Pada saat saya sampai di Bukit Bintang, masih sepi, tidak banyak pengunjung yang datang, karena memang bukan weekend

Wisata yang disuguhkan tidak begitu tampak dari luar. Pengunjung harus jalan lebih dalam ke area wisata agar bisa menikmati keindahan alam yang ada. Spot dan wahana foto yang menarik banyak dibuat oleh pengelola. Namun pengunjung harus membayar @Rp 15.000 perdua orang (selain tiket masuk) untuk setiap spot menarik. Saya yang saat itu tidak tahu jika setiap spot berbayar, langsung masuk pada satu spot yang menurut saya biasa (ada yang lain yang lebih menarik), kaget ketika sang pemilik spot memberitahukan jika spot yang kami gunakan berbayar. Selanjutnya, kami memutuskan untuk berfoto pada spot lain yang benar-benar kami inginkan. 
Ini bukan lokasi untuk pernikahan ya..hihi
Wahana yang sangat ingin saya coba adalah sepeda gantung. Sayangnya, wahana tersebut tidak sedang dibuka (sang pemilik tidak ada) pada hari itu, mungkin akan dibuka jika pengunjung ramai pada saat weekend. Akhirnya untuk mengobati rasa penasaran, saya mencoba ayunan. Tarif yang dipatok untuk ayunan Rp 10.000 perorang. Sang pemilik menawarkan foto, dan saya mengiyakan (cuma Rp 2000 ini pikir saya). Pada bayar, saya kaget ternyata harus bayar Rp 40.000 (dua orang, 10 foto), hadeeh..saya kira foto-foto yang diambil boleh dipilih sendiri, ternyata tidak, semuanya dikirim melalui USB. (Hahha)

Berlibur ke Bukit Bintang, menurut saya pribadi banyak mengeluarkan biaya. Untuk mencapai tempat ini saja saya harus 3 kali pesan Gr**b, karena salah alamat, alamat yang diinginkan tidak muncul di aplikasi (muncul sih, tapi salah alamat, hanya berjarak 5 menit dari kos). Alhasil biaya transportasi lumayan menguras kantong. Selain itu, setiap wahana atau spot menarik berbayar, sehingga hanya sedikit spot yang bisa dicoba (kantong tipis :D). Untungnya saya membawa bekal makan dan minuman, sehingga lebih hemat (nasib anak kos :D)
Spot menarik lainnya
Setelah perjalanan balik ke Dramaga, saya baru tahu, ternyata ada cara lebih murah dan mudah untuk mencapai tempat wisata ini. Dari Dramaga naik angkot (angkutan kota) jurusan Leuwiliang (Rp 7500), turun di pertigaan yang ada tulisan wisata Panorama Pabangbon. Selanjutnya naik angkot lagi (Rp 3000-Rp 4000) satu kali dan turun di pertigaan yang mengarah ke tempat wisata tersebut, selanjutnya naik ojek satu kali (Rp 25.000-Rp 30.000). Lebih murah lagi jika menggunakan motor sendiri, tapi perlu diperhatikan, jalan menuju lokasi ini sangat menanjak, pastikan kondisi motor atau mobil 'sehat'. Selamat berlibur :D.

Menikmati Keindahan Masjid Kubah Emas

Sebagai anak rantau yang tidak pulang saat mudik (T.T). Hari Raya Idul Fitri seperti ini tidak saya lakukan layaknya masyarakat lainnya, sungkem dengan orang tua atau silaturahmi ke rumah tetangga pun tidak, hanya ke rumah ibu dosen dan ibu kos, itu pun setelah lebaran hari ke-2 dan 3. Dan ini adalah kali kedua saya tidak merayakan lebaran di kampung halaman, setelah sebelumnya harus lebaran di negeri Gajah Putih.

Masjid Kubah Emas
1 Syawal 1440 H. Tidak ada rencana mau pergi kemana setelah Shalat Ied di lapangan rektorat IPB. Mungkin stay di kos saja seharian. Sebuah pesan dari seorang teman yang sama-sama tidak mudik tiba-tiba muncul, mengajak ke rumah saudaranya yang dekat dengan Universitas Pancasila. Teringat Masjid Kubah Emas yang ada di Depok, ku-usulkan bagaimana jika ke Masjid Kubah Emas terlebih dahulu sebelum pergi  silaturahmi. Deal tempat yang kami tuju di tanggal 1 Syawal adalah Masjid Kubah Emas.

Sejak masuk pintu utama, masjid megah dengan kubah besar sudah terlihat mencolok. Taman rindang di sisi kanan kiri jalan dengan beberapa pepohonan besar kami lewati. Beberapa diantaranya dijadikan tempat berteduh warga sambil menikmati jajanan yang mereka bawa dari rumah atau beli di penjual kaki lima yang ada di depan masjid. Kami yang saat itu baru sampai di lokasi saat panas terik siang hari, setelah melewati kemacetan yang melelahkan sepanjang jalan Sawangan (rute jalan yang harus dilewati), memutuskan untuk membeli semangkuk bakso seraya rehat sejenak menikmati semilir angin di sebuah pohon rindang dekat pintu utama.
Area luar masjid juga asyik untuk bersantai
Masjid Dian Al Mahri atau dikenal dengan sebutan Masjid Kubah Emas, karena memang kubahnya yang terbuat dari emas, menjadi destinasi wisata religi yang harus kamu coba. Terletak di Jl. Raya Meruyung, Meruyung, Kecamatan Limo, Depok, Jawa Barat, tepat di sebelah kanan jalan, sangat mudah sekali untuk ditemukan.

Masjid Dian Al Mahri menempati tanah seluas 8000 m2 pada luasan total tanah 50 hektar yang dibangun oleh almarhumah Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, seorang pengusaha yang berasal dari Banten.  Pembangunan masjid dilakukan mulai tahun 2001 dan selesai pada tahun 2006 dan mulai dibuka untuk umum bertepatan dengan Iedul Adha pada tahun tersebut. Masjid ini bisa menampung 15.000 jamaah (kurang lebih). Selain kubah utama yang berukuran besar, terdapat lima kubah emas berukuran kecil berdiameter 16 meter dengan tinggi 26 meter mengelilingi kubah utama tersebut. Jumlah kubah ini menunjukkan pilar utama dalam Islam, yaitu rukun Islam.

Memasuki area utama masjid, ornamen lampu kristal menghiasi kubah bagian dalam masjid. Selain itu langit-langit kubah yang dilukis menyerupai bentuk awan serta kaligrafi yang berwarna emas menambah syahdu suasana di dalam masjid. Tampak beberapa pilar berukuran sangat besar menyangga bagian dalam masjid. Beberapa jamaah tampak melaksanakan shalat dhuhur, beberapa lainnya beristirahat rebahan. Sementara di bagian luar masjid, tampak pilar berwarna hitam, putih dan merah yang banyak dijadikan lokasi foto dan istirahat oleh para jamaah, beberapa orang lainnya mengabadikan bangunan indah masjid dengan memanfaatkan jasa tukang foto yang sudah stand by sejak pagi. 
Ornamen indah bagian dalam kubah paling besar
Di hari pertama lebaran seperti ini, Masjid Kubah Emas menjadi salah satu destinasi wisata religi yang tepat, tempat yang indah untuk berkumpul dengan keluarga. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah perjalanan menuju masjid yang dipenuhi dengan drama kemacetan, terlepas pada saat musim libur lebaran seperti saat ini, menurut informasi yang saya peroleh daerah Sawangan merupakan daerah yang tak pernah sepi dari macet, kapanpun itu.

Selain bangunan utama masjid, di area ini juga terdapat restoran, kafetaria, boutique dan toko souvenir. Masjid Kubah Emas buka setiap hari mulai pukul 04.00-07.00 WIB, dan 10.00-Isya. Namun pada hari Kamis, masjid dibuka untuk umum pukul 04.00-07.00 WIB dan buka kembali pada pukul 16.00 WIB-Isya.

Rute menuju Masjid Dian Al Mahri:
Naik Kereta KRL (Comuter Line) turun di stasiun Depok Baru. Lanjut naik angkot 03 (warna biru) turun di Parung Bingung, ambil ke kanan jalan naik angkot 102. Atau jika ingin lebih cepat bisa juga langsung pesan ojek online dengan tari Rp. 22.000 satu kali jalan, sedangkan jika menggunakan angkot Rp.12.500.

Mau liburan? Yuuuk datang ke Masjid Dian Al Mahri. Selain karena bangunan masjidnya yang indah, kamu bisa sekalian merasakan nikmatnya beribadah di masjid ini.

Bocca Travertin di Pemandian Tirta Sayaga

Udara cukup terik ketika kami sampai di pemandian air panas Tirta Sayaga. Berbekal aplikasi map, kami menyusuri tempat yang kami tuju ini, sempat dua kali terlewat dan akhirnya kembali lagi memutari jalan yang sama, takut salah karena tempat yang kami tuju sebenarnya adalah pemandian air panas Tirta Sanita, ternyata setelah beralih pengelola menjadi Pemda Kabupaten Bogor pemandian air panas ini berubah nama menjadi Tirta Sayaga.
Pilihan wahana yang bisa dicoba
Barisan pohon palm tampak menghiasi sisi kanan kiri jalan masuk area wisata. Di sebelah kiri terdapat area bermain anak-anak seperti batteray car, monorail, dan bom-bom car, pada bagian dalam terdapat juga wahana wisata air. Tak jauh dari area bermain anak-anak terdapat sebuah gundukan besar mirip gunung kapur yang tinggi menjulang yang berada di tengah kawasan wisata. Berwarna putih akibat dari pengaruh mata air panas yang keluar membasahi permukaan gunung tersebut selama puluhan tahun.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, gundukan besar tersebut disebut dengan Bocca Travertin. Bocca Travertin terbentuk jika pengendapan travertin berlangsung terus menerus sehingga terbentuk gundukan travertin yang sangat besar yang disebut dengan istilah Bocca Travertin. Travertin memiliki makna endapan sendimen yang berasal dari batu kapur/batu gamping yang terkikis oleh air panas dari perut bumi. Gundukan ini dapat menyebabkan tersumbatnya rongga atau celah yang dilalui oleh air panas. Jika celah sudah tertutup oleh travertin, maka air panas akan berpindah ke tempat lain dan membentuk Bocca Travertin yang baru. Endapan travertin yang sangat lama dapat membentuk bukit seperti yang ada di pemandian air panas Tirta Sayaga ini yang disebut juga dengan Gunung Panjang yang merupakan akumulasi dari pengendapan travertin purba. Masya Allah. Tiadalah Allah menciptakan segala sesuatunya sia-sia.
Bocca Travertin
Melewati Bocca travertin, kita disuguhkan dengan jajaran kios yang masih tutup. Tampak beberapa  pemilik kios sedang memperbaiki, membersihkan kios yang nantinya akan mulai ramai beroperasi kembali pada saat libur lebaran.

Berjalan perlahan sambil menikmati rindangnya pepohonan, kami akhirnya sampai di area pemandian air panas. Namun, pemandian air panas ini tidak berada di luar ruangan seperti yang ada di Rancawalini Bandung. Pemandian air panas ini berada di dalam ruangan atau gedung yang dibedakan berdasarkan dua kriteria yaitu Almanda untuk area VIP dan Bougenvil untuk umum. Untuk VIP terbagai menjadi dua pilihan, VIP untuk satu orang dan kapasitas dua sampai enam orang dengan durasi waktu satu jam. Sedangkan untuk area Bougenvil atau umum setiap orangnya mendapat jatah waktu berendam 30 menit. Kedua area tersebut memiliki tarif yang berbeda. Selain pemandian air panas, terdapat juga jasa terapi lintah dan bekam yang bisa kamu coba.
Area pemandian Bougenvil
Liburan lebaran nanti ingin berwisata dengan keluarga atau teman dekat? pemandian air panas Tirta Sayaga bisa menjadi salah satu pilihannya. Pemandian ini terletak di Ciseeng Parung Bogor. Tiket masuk area wisata Rp 15.000 untuk dewasa dan Rp 12.000 untuk anak-anak. Tiket masuk ini bukan termasuk tiket bermain wahana wisata lainnya serta pemandian air panas. Pemandian air panas Tirta Sayaga buka mulai pukul 07.30 WIB dan tutup pada pukul 17.00 WIB.

Masjid Babah Alun: Masjid Kolong Tol Ala Negeri Tirai Bambu

Sebuah masjid  dengan perpaduan warna hijau, kuning dan merah tampak berdiri anggun di bawah kolong tol Wiyoto Wiyono. Iya di bawah kolong tol. Unik memang. Selain karena bangunannya yang mirip dengan Klenteng atau Vihara, lokasi masjid ini juga menimbulkan daya tarik tersendiri bagi masyarakat. 
Masjid Babah Alun
Sebuah papan bertuliskan aksara China Masjid Babah Alun terpampang menghiasi pintu atas masjid. Pada bagian dalam masjid, terdapat tulisan asmaul husna mengelilingi atap masjid (masjid dibuat tanpa kubah). Pada bagian tempat wudhu wanita terdapat gambar tata cara berwudhu yang disertai dengan penjelasan dalam bahasa China dan Indonesia. 

Tata cara berwudhu bilingual

Masjid Babah Alun merupakan masjid yang didirikan oleh seorang mualaf sekaligus pengusaha keturunan Tionghoa bernama Muhammad Yusuf Hamka. Hamka pada nama belakang beliau diperoleh dari tokoh terkenal Buya Hamka yang merupakan orang yang berjasa yang menuntun Yusuf Hamka saat mualaf. 
Taman Baca yang terletak di belakang Masjid
Masjid ini memiliki luas 1500 m2 diresmikan pada  bulan Mei tahun 2018 . Pada kompleks masjid ini tidak hanya terdapat bangunan masjid saja, melainkan pada bagian belakang berdiri rumah baca, sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan TPA (Tempat Pembelajaran Al qur'an). Dan semua fasilitas tersebut gratis untuk warga sekitar. 

Saat saya sampai di masjid ini. Tampak beberapa anak kecil sedang bermain di halaman masjid dan beberapa orang tua sedang duduk menikmati semilir angin, berteduh dari panasnya ibu kota. Dan yang tak kalah serunya, suara seng yang tertimpa kendaraan yang melaju di atas jalan tol, menjadi backsound unik yang jarang kita rasakan pada masjid pada umumnya.

Pada bulan Ramadhan seperti saat ini. Masjid Babah Alun menyediakan nasi kotak untuk berbuka sebanyak 100 porsi dari tanggal 8-29 Mei 2019 (Sabtu, Ahad dan tanggal merah libur), hampir sama dengan berbuka gratis di Vihara Kim Tek Le Glodok ya, karena memang Bapak Yusuf Hamka merupakan pengurus Komunitas Muslim Tionghoa Indonesia yang menginisiasi buka bersama di vihara tersebut.

Untuk mengakses masjid ini pun mudah. Dari stasiun Tanjung Priok kamu cukup naik angkot (angkutan kota) nomor 04 Jurusan Tanjung Priok Warakas-Sunter Mall Papanggo, atau jika mau lebih cepat bisa juga naik ojek online namun harganya 2 kali lipat lebih mahal dari pada naik angkot. Alamat lengkap Masjid Babah Alun terletak di Jl. Warakas I Gang 21 RT 01/RW 07 Papanggo Tanjung Priok Jakarta Utara. Terletak di sebelah kanan jalan.

Sejak didirikannya Masjid Babah Alun, suasa di sekitar masjid perlahan berubah. Anak-anak kecil yang terpapar dengan bahasa yang tidak sopan mulai berganti kosa kata baru yang lebih baik, lingkungan yang dahulunya kumuh, bekas pemukiman liar, preman di mana-mana berubah menjadi masjid indah yang banyak dikunjungi oleh warga sekitar atau dari daerah lain. Sehingga hal ini menjadi salah satu sarana untuk syiar Islam dan masjid menjadi tempat yang dirindukan keberadaannya oleh masyarakat.

Batal Mudik, Begini Proses Pembatalan Tiket Kereta Api-nya

Akhirnya tiket kereta api yang sudah saya pesan sebelum bulan puasa, tepatnya sejak bulan Maret lalu tidak terpakai, padahal pembelian sudah dilakukan untuk PP (Pulang Pergi). Alasannya? waktu penelitian yang molor dari perencanaan awal, alhasil mudik lebaran tahun ini di tunda sementara :D. Alhamdulillahnya ternyata tiket kereta api bisa dibatalkan dengan membawa dokumen seperti identitas asli (KTP, SIM), fotokopi identitas asli, surat kuasa (jika pembatalan diwakilkan), tiket yang sudah dicetak (tiket bisa dicetak 7X24 jam sebelum jadwal keberangkatan) dan nomor rekening (jika pengembalian tiket dilakukan via transfer). Sedangkan persyaratan dan ketentuan pembatalan tiket kereta api sebagai berikut:

Kapan mudik?
*Pembatalan kereta api dapat dilakukan selambat-lambatnya 30 menit sebelum jadwal keberangkatan
*Pembatalan harus dilakukan oleh pemilik tiket, dengan menunjukkan identitas asli
*Jika pembatalan dilakukan bukan oleh pemilik tiket maka wajib melampirkan surat kuasa bermaterai dari pemilik tiket dengan tetap menunjukkan identitas asli pemilik tiket beserta dengan fotokopinya
*Perubahan jadwal dapat dilakukan selambat-lambatnya 1 jam sebelum jadwal keberangkatan
*Pembatalan tiket dan perubahan jadwal dikenakan biaya sebesar 25% dari harga tiket
*Foto kopi kartu identitas dan surat kuasa (jika pembatalan diwakilkan) dilampirkan pada formulir pendaftaran tiket
*Pengembalian biaya tiket dapat dilakukan di stasiun yang ditunjuk dengan membawa formulir pendaftaran yang sudah divalidasi, dengan tetap menunjukkan identitas asli. Selain itu pengembalian biaya tiket dapat melalui transfer bank. Biaya tiket akan dikembalikan atau ditransfer setelah 30 hari. Jika formulir pendaftaran hilang maka wajib membawa surat kehilangan dari polisi
*Jika s.d hari ke-45 pengembalian biaya tiket melalui transfer belum didapatkan, dapat menghubungi contact center 121 (021-021 dari ponsel) atau customer service stasiun terdekat
*Jika sampai 3 tahun biaya tiket tidak diambil atau tidak melapor gagal transfer maka biaya tiket menjadi milik KAI (Kereta Api Indonesia)
Para penumpang yang mencoba mencari jadwal kereta yang sesuai setelah pembatalan
Pembatalan tiket hanya dapat dilakukan dibeberapa stasiun di bawah ini:
*Daerah operasi 1 Jakarta
Stasiun Serang, Rangkasbitung, Gambir, Pasar Senen, Bogor, Bekasi, dan Cikampek
*Daerah operasi 2 Bandung
Stasiun Purwakarta, Bandung, Kiaracondong, Tasikmalaya, dan Banjar
*Daerah operasi 3 Cirebon
Stasiun Cirebon, Cirebon Prujakan, Jatibarang, dan Brebes
*Daerah operasi 4 Semarang
Stasiun Tegal, Pekalongan, Semarangponcool, Semarangtawang,  dan Cepu
*Daerah operasi 5 Purwokerto
Stasiun Purwokerto, Kroya, Cilacap, dan Kutoarjo
*Daerah operasi 6 Yogyakarta
Stasiun Yogyakarta, Lempuyangan, dan Solobalapan
*Daerah operasi 7 Madiun
Stasiun Madiun, Kertosono, Kediri, Jombang, dan Blitar
*Daerah operasi 8 Surabaya
Stasiun Gubeng, Pasarturi, Sidoarjo, Malang, Mojokerto, dan Bojonegoro
*Daerah operasi 9 Jember
Stasiun Banyuwangi Baru, Kalibaru, Jember, Probolinggo, dan Pasuruan
*Divisi Regional I Sumatera Utara
Stasiun Medan, Tebingtinggi, Siantar, Tanjungbalai, Kisaran, dan Ratuprapat
*Divisi Regional II Sumatera Barat
Stasiun Padang
*Divisi Regional III Palembang
Stasiun Kertapati, Prabumulih, dan Lubuklinggau
*Divisi Regional IV Tanjungkarang
Stasiun Baturaja, Kotabumi, dan Tanjungkarang




Selamat berjuang untuk teman-teman yang lebaran nanti tidak bisa berkumpul dengan keluarga tercinta:)

Perhatian: Sebaiknya melakukan pembatalan pada pagi hari, jika siang hari, antrean sudah terlalu banyak. Seperti yang saya dapatkan hari selasa lalu ketika saya mendapatkan nomor antrean 530 pada pukul 3 sore, dan hari Kamis saya coba antre lagi pada pukul 7.49 pagi, saya mendapatkan nomor antrean 154

Dapat Oleh-Oleh dari Luar Negeri itu, Mikir!

Pernah nggak dapat oleh-oleh makanan dari luar negeri, yang mungkin bukan dari negara dengan mayoritas penduduknya muslim?. Memberikan hadiah atau bingkisan kepada orang lain memang hal baik yang harus ditingkatkan:D. Namun,  sebagai seorang muslim, jika kita ingin memberi oleh-oleh kepada saudara kita lainnya,  faktor ke-halal-an makanan menjadi hal utama yang perlu diperhatikan selain harga tentu saja. 
Dimulai dari yang halal (Pict by havehalalwilltravel.com)
Seperti yang saya alami akhir-akhir ini.  Seorang teman yang mengikuti field trip ke Korea Selatan memberikan oleh-oleh berupa cokelat,  minuman gingseng,  kue beras (kalau di Jatim kami menyebutnya Jipang bukan Jepang lho ya). Sampai saat ini,  oleh-oleh tersebut masih tersimpan rapi di dalam toples, karena memang tidak ada kode halalnya, terabaikan. Ditambah lagi dengan tulisan hangul yang sama sekali tak mengerti artinya,  apakah bahan-bahan yang digunakan 'aman' dikonsumsi atau tidak.

Dilain kesempatan saya mendapatkan makanan dari Bali (Eh, bukan LN ya). Ada pie,  kripik ceker ayam dan dodol.  Kalau yang pie sudah ludes,  karena terdapat kode halalnya. Sedangkan yang lainnya masih menunggu kepastian :D. 

Dan oleh-oleh yang baru saja saya peroleh berasal dari Paris adalah cokelat Toblerone. Searching sebentar, ternyata cokelat merek ini sudah mengantongi izin halal sejak tahun 2018. Yang bahkan karena label halal ini,  banyak masyarakat non muslim memboikot merk cokelat ini dengan menggunakan tagar #BOYCOTTOBLERONE. Alasanya kenapa?  Teman-teman bisa cari beritanya di google.

Yang pasti halal saja ya (Pict by kumparan.com)
Hidup di Indonesia dengan jumlah penduduk muslim yang lebih dominan,  membuat peredaran makanan halal banyak dan mudah sekali kita temui.  Karena begitu banyaknya terkadang kita lupa memeriksa setiap makanan yang kita beli apalah ada label halalnya atau tidak.  Beberapa kali saya mengembalikan makanan yang hendak saya pilih di toko karena tidak ada kode halalnya. Salah satu contohnya mie bihun yang berasal dari negeri tirai bambu. 

Di Indonesia sendiri,  masyarakat bisa mengecek halal tidak nya suatu makanan melalui situs halalmui.org. Saya kurang paham bagaimana ribetnya pengurusan sertifikat halal suatu produk, namun melihat pangsa pasar yang besar di Indonesia, sertifikat halal perlu diusahakan-adanya di produk yang mungkin teman-teman produksi. Bukan untuk keuntungan hari ini saja,  melainkan keuntungan jangka panjangnya. Karena kesadaraan masyarakat akan makanan atau produk halal terus meningkat. Selain makanan, ternyata banyak juga program halal yang sedang ditingkatkan potensinya, seperti halal tour, halal tourism,  halal village, halal living dan masih banyak program yang sasaran konsumenya adalah muslim.
Sudah halalkah makanan yang kita konsumsi? (Pict by ijtihadnet.com)

Label halal pada makanan menunjukkan jika makanan tersebut tidak mengandung unsur-unsur haram yang tidak diperbolehkan oleh Islam, baik dari asalnya (babi, alkohol, darah dan lain jenisnya) ataupun makanan yang berasal dari hewan yang disembelih tidak sesuai dengan syariat Islam.

So, be aware dalam memilih makanan ya, karena ke-halal-an makanan menjadi syarat terkabulnya doa.

NB: Mohon maaf jika artikel ini menjengkelkan (sudah untung dapat oleh-oleh:XD) dan terima kasih banyak sudah menjadikan saya bagian dari orang yang menerima oleh-oleh tersebut :D.

5,5 Ton Ikan Nila untuk Karyawan IPB

Gimana, THR (Tunjangan Hari Raya) sudah cair belum? :D. Jika THR yang umumnya didapatkan oleh karyawan pada saat bulan puasa dalam bentuk sembako dan uang. Namun ada yang berbeda dengan tambahan paket sembako (BHR-Bingkisan Hari Raya) yang diberikan oleh IPB kepada karyawan yaitu IHR (Ikan Hari Raya), begitu istilah yang kami mahasiswa menyebutnya. 
Ini ikan, bukan marjan :D
IHR menjadi program tahunan yang dilakukan oleh Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan untuk semua karyawan IPB (Institut Pertanian Bogor). Jumlah yang dibagikan pun fantastis, 5500 kg (5.5 ton), satu orang mendapatkan 1kg ikan dengan ukuran per kg nya 2-3 ekor (besar ya) dan kami juga baru tahu ternyata karyawan IPB sebanyak itu :D.

Proses pemanenan ikan dilakukan oleh kurang lebih 20 orang dengan posisi pekerjaan yang berbeda. Beberapa diantaranya memanen ikan nila dari kolam yang berukuran 20mx10m sebanyak 5 kolam (lupa 5 atau 6 kolam), mengangkut ke tempat pengumpulan, menimbang dan menyiapkan es untuk menyimpan ikan. Saya bersama dengan seorang teman dari Faperta (Fakultas Pertanian) yang saat itu sedang memberikan makan ikan penelitian, segera merapat untuk menyaksikan proses pemanenan. Alhamdulillah ikut senang menyaksikan kecipak air dan ikan yang segar-segar.
Mung iso nyawang ..heheh
Proses pemanenan ikan dimulai pukul 16.30 sore. Ikan yang dipanen kemudian dimasukan kedalam tandon (tempat penampungan) yang berisi air yang berukuran cukup besar, yang sebelumnya sudah diberi es ke dalam tandon tersebut, tujuannya agar ikan agar tetap segar. Setelah ikan terkumpul, beberapa orang dengan sigap menimbang 1kg ikan per kantong plastik dan terakhir proses penyimpanan di dalam tandon yang diisi dengan bongkahan es. Dan proses ini dilakukan hingga jam 4.30 pagi..Hmmm..lama syekali.
Ikan Hari Raya
Keesokan harinya, barisan mobil dan motor perwakilan dari setiap departemen sudah mengantre di Kolam Percobaan IPB. Petugas yang akan mengambil ikan harus menyerahkan form pengambilan BHR, termasuk diantaranya ikan sebagai salah satu jenis bingkisan, satu departemen bisa saja lebih dari 50 bungkus. Pembagian ini berlangsung sejak pagi hari hingga siang sebelum dhuhur. Pada Ramadhan tahun ini, pemanenan ikan dilakukan pada tanggal 21 Mei 2019.

Bagaimana? menarik bukan. Ternyata ikan pun bisa menjadi bingkisan hari raya selain sembako yang biasa didapatkan lho.

Kali Ini, Saya Berbuka Puasa di Vihara Kim Tek Le Glodok

Bagaimana teman, masih kuat puasa kan :). Alhamdulillah yah, meskipun sudah dipenghujung ramadhan tetep harus semangat puasanya. Berbicara tentang buka puasa, kali ini ada yang berbeda, saya berbuka puasa di sebuah Vihara di kawasan Jakarta Barat lho,  ko' bisa? Ini ceritanya.
Vihara Kim Tek Le

Vihara Kim Tek Le atau disebut juga dengan Vihara Dharma Bhakti terletak di Jalan Kemenangan III RT 03 RW 02 No.19 Taman Sari Jakarta Barat. Berada di kawasan Pecinan, Petak Sembilan. Tempat ini sudah cukup terkenal dikalangan travel blogger, selain karena kawasan dengan  bangunanya yang unik tentu saja karena kulinernya yang berbeda dengan tempat lainnya. Dan saya sendiri, baru pertama kalinya datang di kawasan Pecinan ini untuk turut menyaksikan acara buka bersama. Bukan hanya menyaksikan sih, menikmati hidangan yang disediakan juga :D.

Tahun ini, Vihara Kim Tek Le  bersama dengan radio Elshinta serta Komunitas Muslim Tionghoa Indonesia mengadakan buka bersama gratis sejak tanggal 7 Mei sampai 29 Mei 2019. Rasa penasaran saya muncul ketika sebuah chanel Youtube menayangkan agenda buka bersama yang diadakan oleh sebuah Vihara. Karena penasaran, akhirnya saya mencoba datang berkelana mencari letak lokasi tersebut #halah berkelana.

Awalnya ragu untuk masuk ke dalam Vihara, karena dari luar tampak sepi. Namun, sekilas tampak beberapa orang dengan tripod kameranya berkerumun di bagian dalam Vihara. Ternyata mereka kumpulan para reporter dari stasiun televisi swasta dan mahasiswa yang tergabung dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Tampak dari mereka mewawancarai beberapa orang yang ikut menjadi bagian dari panitia acara berbuka puasa bersama tersebut. Terlihat profesional sekali dengan membawa kamera pro yang tak seperti saya, ala kadarnya nya, kamera paling mungil bahkan :D. 
Terima kasih Bapak Ibu :)
Dari sekilas informasi yang juga saya dapatkan, Vihara ini sudah mengadakan acara berbuka bersama gratis sejak tahun 2018. Jumlah makanan yang disediakan sekitar 350 porsi takjil dan makan berat. Program ini khusus diadakan untuk kaum duafa, tidak hanya untuk muslim duafa, tetapi dari agama lain turut serta menikmati agenda berbuka puasa ini. Untuk makanan yang disajikan, dibeli oleh panitia dari para penjual kaki lima yang ada di sekitar Vihara. "Biar  perekonomian tetap berjalan lancar, jadi kami membeli makanan itu dari mereka, beberapa dari catering juga" kata seorang bapak yang sempat saya wawancarai (lupa menanyakan nama beliau #maafkeun pak).
Buka puasa dengan siapa hari ini? :D
Tiba saatnya berbuka puasa, tampak orang tua, anak-anak kecil mengantri dengan sumringah menunggu giliran mendapatkan segelas kolak kacang hijau, panitia sibuk membagikan makanan minuman, sedangkan kami sibuk foto-foto dokumentasi acara. Dalam waktu 20 menit, makanan ludes. Kami, juru foto menyempatkan minum air putih, secepat mungkin takut kehilangan moment foto yang oke (meskipun foto yang saya dapatkan masih standar, kalah cepat shutter speednya, banyak yang nge-blur).

Setelah selesai foto-foto, saatnya melaksanakan shalat magrib. Tak jauh dari Vihara terdapat sebuah Mushola yang mudah untuk ditemukan. 

Tertarik untuk mengikuti buka bersama di Vihara Kim Tak Le? Tenang, masih ada waktu 2 hari lagi ko. Untuk lokasinya, tidak terlalu jauh dari stasiun Jakarta Kota, 15 menit jika tidak macet.