Di antara Jutaan Manusia dalam Reuni Akbar 212

Tags

Perjalanan menuju Monas Jakarta kami mulai pada pukul 03.30 dini hari dengan menggunakan angkutan umum menuju stasiun Bogor. Bersama dengan 27 orang teman, terbagi menjadi 2 kelompok kami berangkat. Jalanan terasa lengang berbeda dengan siang hari yang terbiasa dengan lalu lintas yang padat, hanya butuh 30 menit untuk mencapai stasiun.

Reuni damai 212

Stasiun penuh dengan masyarakat yang sama-sama akan menuju Monas. Sebagian mengantri membeli kartu THB (kartu untuk naik KRL), sebagian hanya berdiri menunggu sanak keluarga ataupun rekan untuk berangkat bersama dan sebagian sholat subuh berjamaah di plataran stasiun, karena memang mushola tidak muat menampung jama'ah yang membludak.

KRL (Commuter line) menuju Jakarta Kota menjadi pilihan kami. Berjalan sempoyongan melewati antar gerbong, mencoba mencari kursi yang kosong dan beberapa dari kami bahkan terpisah dengan rombongan. Kereta berhenti di beberapa stasiun. Tampak beberapa jama'ah  berlarian untuk dapat masuk kereta, sebagian tidak jadi naik karena kereta penuh.
Menunggu anggota lainnya di stasiun Gondangdia

Stasiun Gondangdia, kami turun di stasiun ini. Turun di peron, terhimpit di sana sini, tengok kanan kiri depan belakang mencari wajah-wajah teman rombongan, bersholawat bersama, sejenak rasa haru merasuk, ya Nabi kami rindu padamu. Pagi itu indah.

Berdesakan, kami mencoba masuk lokasi utama di depan Monas (monumen nasional). Tidak heran karena pintu yang dibuka hanya satu. Bapak-Bapak dari arah berlawanan menyarankan untuk ibu-ibu yang membawa anak-anak sebaiknya balik arah jangan memaksakan masuk, karena di depan Monas penuh. Selama berdesakan menuju lokasi utama, tampak rombongan dari Gubernur DKI Bapak Anis Baswedan melewati antrean. Pekik takbir dari para Jamaah terdengar menggema mengikuti langkah beliau (sebenarnya beliau menggunakan moli-mobil listrik, karena tidak memungkinkan masuk menggunakan kendaraan tersebut, beliau berjalan kaki). Setelah kami berhasil masuk, barulah satu pintu yang lainnya dibuka.

Mencoba mencari tempat untuk mengisi perut yang kosong, bersama dengan para jama'ah lainnya berteduh di bawah pohon rindang. Alhamdulillah. Kami hanya bertujuh orang, jumlah yang tersisa dari keseluruhan rombongan, yang lainnya terpisah saat memasuki Monas dan untuk memastikan keberadaan anggota lainnya kami hanya bisa memberi kabar melalui WA (Whatsapp).

Tampak kibaran bendera Merah-Putih, bendera Palestina, bendera Ar-Rayah dan Al-Liwa memenuhi halaman Monas. Anak kecil, tua muda memenuhi area pelataran Monas. Saling berbagi tempat duduk, makanan dan minuman. Pekik takbir bergema, lantunan sholawat di mana-mana. Untuk mencapai lokasi utama sangat sulit, sehingga kami memutuskan untuk duduk di depan layar besar bersama  dengan jama'ah lainnya. Mendengarkan sambutan dari Bapak Gubernur, nasihat dari para ulama dan mendengarkan alunan alquran yang dibacakan Ahmad-Kamil. Alhamdulillah meskipun suara terdengar sangat pelan, karena sound system yang dipasang di samping layar tersebut tidak berfungsi, kami masih dapat melihat dari tampilan layar.
Menyaksikan sambutan dari Bapak Gubernur DKI
Panas kian terik, pukul 10 kami memutuskan untuk keluar dari Monas, mengantisipasi jika keluar terlalu siang akan terhimpit barisan masa yang sama-sama ingin keluar. Ternyata, kondisinyapun sama, kami harus berdesakan untuk bisa keluar. Haus, macet, panas, capek jadi satu, beberapa jamaah bahkan ada yang pingsan. Untuk mencapai stasiun Gondangdia membutuhkan waktu 2 jam, selain karena kami salah jalan, kami juga harus bersabar untuk mengantre jalan.

Beristirahat sejenak di Masjid Cut Meutia untuk sholat, makan siang dan melepas lelah sambil menunggu info dari beberapa teman lainnya. Akhirnya pukul 13.30 WIB kami memutuskan untuk ke stasiun Gondangdia, meskipun kondisi masih sangat penuh dengan jama'ah yang akan kembali ke tujuan masing-masing. Untuk mengantisipasi kereta yang penuh dan berdesak-desakan kami naik kereta jurusan Jakarta Kota, berlawanan arah dengan kereta Bogor. Dari Jakarta Kota kereta akan kembali melewati stasiun Gondangdia dan melaju ke arah Bogor.  Pukul 17.45 kami sampai Dramaga, beberapa teman ada yang sampai kos lebih awal dan lebih lama dari kami, beberapa lainnya ada yang masih bersama dengan rombongan dan bahkan pulang sendirian karena terpisah.
Antrean penumpang ke arah Bogor
Bersabar kembali ke Bogor.

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon