Ada Cinta di Situ Patengan

Mobil melaju meninggalkan penginapan. Berbelok ke arah kiri, berjalan lurus perlahan.  Tampak di kanan kiri jalan perkebunan sayuran dan buah strawberry terhampar, tersusun rapi layaknya lukisan. Beberapa petani terlihat mengolah lahan kosong mereka, mencangkul dan menanami bibit sayuran. 

Kendaraan terus melaju, sesekali berbelok mengikuti alur jalan,  melewati barisan pepohonan dan perkebunan teh kemudian. Situ Patengan menjadi tujuan perjalanan pagi ini.
Saatnya berangkat menuju batu cinta
Sekilas sejarah tentang Situ Patengan. Situ Petengan berasal dari bahasa Sunda pateangan-teangan yang memiliki arti saling mencari. Menurut mitos kisah dibalik Situ Patengan mengisahkan cinta Ki Santang dan Dewi Rengganis. Mereka berpisah untuk sekian lama, karena cinta mereka yang begitu dalam mereka saling mencari dan akhirnya dipertemukan kembali di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan Batu Cinta.  Dewi Rengganis pun meminta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara / Pula Sasoka). 
Sayangnya, vadalisme di mana-mana
Situ Patengan merupakan tempat wisata yang wajib dikunjungi jika bepergian ke kota Bandung. Bukan hanya karena danau cantiknya, melainkan juga ada beberapa spot menarik yang menambah daya tarik wisata ini.

Dua perahu kami gunakan untuk menyeberangi Situ Patengan, menikmati sejenak kecipak air danau yang dingin, sesekali berlomba mendayung antar perahu. Dan akhirnya kami sampai di pulau seberang tempat Batu Cinta berada. 

Batu Cinta. Sebuah monumen setinggi kurang lebih satu meter dengan tulisan Batu Cinta berada di lokasi ini. Barisan warung kecil yang menjual aneka gorengan, jagung manis tiga rasa dan buah-buahan terlihat rapi, meski sebagian masih tutup tak beroperasi. Berjalan perlahan sejauh 15 meter kami menjumpai sebuah kapal besar a.k.a Pinisi Resto terbuat dari kayu yang sudah dimodif sedemikian indah dengan fungsi yang berbeda. Saya dan seorang teman berpisah dari rombongan besar, berjalan menyusuri keindahan kapal tersebut.
Mau beli yang mana?
Di bagian lambung kapan, kami melihat galery seni lukis dengan berbagai tema. Terlihat cantik meski berada di bagian pojok dekat tangga. Di depan galery ini terdapat sebuah jembatan kayu dengan anyaman tali tambang di sini kanan kirinya, selain itu sebagai penguat jembatan, pengelola mengaitkan dengan kawat besi. Jembatan ini membentang sepanjang 10 meter (kurang lebih), menghubungkan antara kapal dan spot lainnya di sebelah ujung. 
Hati-hati guys
Pada bagian haluan, terdapat resto dan cafe. Di sini, para pengunjung bisa menikmati view indah Situ, penginapan, dan perkebunan teh. Oh iya, para pengunjung yang ingin merasakan suasana indah Situ di malam hari dapat juga memesan penginapan (Glamping Lakeside) yang terletak di antara perkebunan teh dan tepi Situ Patengan.
Glamping Lakeside
Terdapat sebuah toko souvenir yang menyediakan aneka oleh-oleh dari Bandung bisa juga anda kunjungi. Yang tak kalah penting, sebuah mushola yang terletak tak jauh dari Pinisi Resto juga turut melengkapi.
Tempat asyik untuk berlibur
Harga tiket:
Senin s/d Jum'at : Rp 18.000/orang (lokal), Rp 135.000/orang (wisatawan asing)
Sabtu s/d Ahad    : Rp 20.500/orang (lokal), Rp 185.000/orang (wisatawan asing)
Tarif parkir : Roda dua Rp 3.500, Roda empat Rp 11.500, Bus/truk Rp 22.500
Waktu operasional Situ Patenggang mulai pukul 08.00-17.00 WIB

Alamat Situ Patenggang : Jl. Raya Ciwidey- Ranca Bali

Cara menuju Situ Patenggang:
Angkutan umum: Terminal Leuwi Panjang, naik angkot jurusan Leuwi Panjang-Ciwidey, naik lagi angkot jurusan Situ Patenggang

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon