Curug Daun dan Kesempatan Hidup Kedua

The angkoters (Sebutan untuk para penumpang angkot :D) memasuki satu per satu dari empat barisan angkot (angkutan perkotaan) yang kami gunakan. Perjalanan ini memakan waktu sekitar satu jam dari Dramaga. Tidak begitu jauh memang. Udara cukup bersahabat, langit terlihat cerah, kicau burung terdengar merdu dan sekawanan monyet tampak bekejaran satu sama lain menyambut kedatangan kami di kawasan wisata Curug Nangka. (gpp lah ke ge-er-an ya :D)
Kenalan yuuk :)
Wisata air terjun  atau lebih dikenal dengan sebutan curug jika di Jawa Barat menjadi salah satu wisata air dan alam yang sering dikunjungi wisatawan di kota Bogor. Tempat wisata yang kami kunjungi ini memiliki tiga jenis curug berdasarkan ketinggiannya. Paling bawah dikenal dengan sebutan Curug Nangka, kemudian Curug Kaung dan yang paling ujung atau yang paling tinggi adalah Curug Daun. Harga tiket masuk kawasan wisata ini setiap orang sekitar Rp 25.000 dan parkir mobil Rp 10.000. 

Tampak sebuah tulisan di antara pepohonan 'disewakan hammock' menarik perhatian saya. Yah, dengan barisan pepohonan yang menjulang tinggi, udara yang sejuk serta gemericik suara air yang mengalir memang tepat sekali digunakan untuk bersantai bergelung dalam hammock yang dipasang. Selain daya tarik utama yang berasal dari curug, lokasi ini juga banyak digunakan pengunjung untuk camping bermalam di tenda-tenda yang banyak kami jumpai di sekitar pepohonan rindang. 
Mau camping? Tetap waspada ya, banyak monyet mengintai
Sebelum kami menikmati keindahan curug, panitia mengadakan games untuk kekompakan. Suasana berlangsung ramai, di tengah lapangan luas yang kami gunakan. Setiap kelompok tampak berlarian mengejar balon yang sudah diisi dengan air, melentingkan setinggi mungkin balon kemudian menangkapnya dengan kain sarung yang dibentangkan. Ada juga games dancing dragon, setiap peserta yang terbagi menjadi empat kelompok, harus menutup matanya dengan kain sarung. Ketua masing-masing kelompok akan memberikan instruksi kepada anggotanya untuk berjalan perlahan, duduk kemudian mencari harta karun (makanan ringan) yang disebar panitia di lokasi games. Tak kalah seru dengan games yang pertama, di games yang kedua ini peserta juga tertawa  di antara kebingungan yang mereka rasakan karena harus menjaga konsentrasi mengikuti instruksi dari ketua kelompok.

Lepas games, kami memutuskan untuk pergi ke Curug Daun yang lokasinya sekitar 1-1.5 km dari lokasi permainan. Sebagian anggota memutuskan kembali ke tempat berkumpul pertama kali, di mana tas dan barang-barang yang kami bawa berada, dan berusaha menjaga dari aksi jahil barisan monyet yang berlarian mengambil sisa-sisa makan siang kami. 
Menikmati indahnya air terjun
Barisan tangga kami lewati perlahan, berhati-hati melangkah karena jalanan cukup licin akibat gerimis yang mulai turun, perlahan. Tampak sebagian pengunjung berenang di ceruk-ceruk landai yang berada di bawah curug, kami berteduh di bawah tenda penjual gorengan, mie instan dan minuman hangat. Berteduh sejenak dari tempias air hujan yang mulai ramai berdatangan. Belum sampai di curug utama dan hujan mulai reda, rombongan memutuskan untuk mendaki ke lokasi yang lebih tinggi, Curug Daun.

Seperti biasa, tampak para pengunjung berfoto ria di bebatuan di bawah air terjun yang mengalir. Saya tidak membawa pakaian ganti karena tidak berniat bermain air terjun, sehingga saya memutuskan untuk mencari lokasi bebatuan yang memungkinkan untuk mendapatkan foto dengan angel yang menarik. Beberapa teman tampak asyik bergaya, dan saya asyik menjepret empat enam foto mereka.

Gemuruh, air terjun yang tadinya putih bersih dan indah berubah menjadi air bah. Saya yang tidak menyadari kondisi sebenarnya, karena memang sedang membelakangi air terjun, berusaha menyelamatkan diri, berlari mencari posisi aman. Menggigil, gemetar ketakutan. Beberapa anggota rombongan masih terjebak di antara bebatuan. Tampak mereka mengeratkan tangan pada bebatuan atau apapun yang bisa dijadikan pegangan. Seorang bapak penjual makanan yang berjualan tepat di samping air terjun, melompat mencoba menyelamatkan mereka. Tak pedulikan air terjun yang mengalir sangat deras, berusaha menolong satu persatu. 
Terima kasih bapak, sudah membantu kami
Kami, anggota rombongan yang sudah menepi hanya bisa berdoa di dalam tenda warung bapak penjual makanan tadi, semoga Allah memberikan kami keselamatan. Evakuasi berlangsung cepat, beberapa teman yang terjebak sudah bergabung dengan kami yang ada di tepi. Namun, masih ada tiga teman yang masih bertahan di atas bebatuan besar yang lokasinya jauh dari tempat rombongan kami. Dua orang teman dari sisi yang berbeda mengulurkan sebilah bambu, berusaha menarik mereka. Dengan tempias air terjun yang sangat deras, alhamdulillah akhirnya semua selamat. 
Jernihnya air terjun berganti dengan air bah yang menakutkan
Jalan pulang yang kami lalui tertutup oleh derasnya arus, bapak penjual makanan dibantu dengan penjual lainnya berusaha membuat jalur baru. Perlahan, kami berjalan melewati tanah lumpur, hati-hati, karena sebagian dari kami kehilangan alas kaki, kemudian berjalan kembali melewati arus yang deras. Tangan kami terjulur, berusaha membantu teman-teman perempuan  dan ibu-ibu pengunjung  lainnya untuk menyebrangi arus. Sepanjang jalan, kami bergandengan tangan berusaha saling menguatkan dan mengucapkan rasa syukur karena masih diberikan Allah kesempatan hidup.

Beberapa hal yang harus diperhatikan jika berkunjung ke curug atau air terjun:
1. Baca Doa
Sebagai seorang muslim, dimanapun kita akan berpergian, mau ke warung di dekat rumah sekalipun, kita diharuskan untuk membaca doa, sebagai salah satu bentuk permohonan penjagaan kepada Allah.

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.
Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa di atas, maka disampaikan kepadanya: ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setanpun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya,’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ (HR. Abu Daud).
2. Gunakan alas kaki yang nyaman atau sandal gunung (sepatu/sandal khusus untuk mendaki). Tidak menggunakan alas kaki yang licin bagian bawahnya.
3. Untuk muslimah. Bawa pakaian ganti, kaos kaki double dan jaket. Untuk mengantisipasi jika pakaian basah dapat segera ganti dengan pakaian yang kering.
4. Jika sedang hujan atau sekedar gerimis sebaiknya tidak mendekat ke wilayah air terjun. Bisa saja di bagian hulu yang tidak terlihat sedang hujan deras dan banjir sehingga nantinya akan mengakibatkan air bah pada air terjun.
5. Membawa plastik khusus hp dan kamera. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, peralatan elektronik tersebut dapat dimasukkan ke dalam palstik agar aman.
6. Selalu waspada dan berhati-hati.

===Mohon maaf atas ketidaknyamanan  postingan artikel yang double. Template masih dalam proses perbaikan===

4 comments:

  1. Syukron untuk cerita singkatnya mba. Alhamdulillah...

    ReplyDelete
  2. Smoga g kapok ya mba main2 k curug lagi 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. In syaa Allah g trauma, tpi harus tetep waspada..

      Delete

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon