Seumur Hidup Harus Transfusi Darah, Thalasemia

Tags

Beberapa tahun yang lalu, saya berkenalan dengan seorang anak Sekolah Mengengah Pertama (SMP), Ania namanya. Kala itu di tanah perantauan di negeri seberang. Karena tidak memungkinkan untuk pulang kampung saat lebaran, maka saya meminta ijin ke orang tua Ania untuk bisa mampir bersilaturahmi ke rumah mereka. Namun, orang tua Ania menjelaskan jika selama satu minggu, Ania akan berada di rumah sakit untuk menjalankan pengobatan. Penasaran, saya pun bertanya perihal sakit sang anak, yang menurut saya ia baik-baik saja. Sang ibu menjelaskan jika Ania mengalami thalasemia. Dan hari ini saya baru paham apa itu thalasemia.
Skema penurunan gen thalasemia (Pict by thalasemia.org)
Thalasemia merupakan penyakit keturunan/penyakit kelainan darah akibat penurunan produksi atau pembentukan hemoglobin di dalam darah. Secara klinis penderita thalasemia dibedakan atas thalasemia minor (trait), intermedia dan thalasemia mayor. Sedangkan secara molekuler dibedakan atas thalasemia alfa (α) dan beta (β). Thalasemia minor (trait)/pembawa sifat memiliki gejala anemia ringan, normal secara fisik dan mental, tidak bergejala dan membutuhkan transfusi darah. Namun, penyakit thalasemia akan diwariskan kepada anak keturunan jika penderita talasemia minor menikah dengan sesama penderita talasemia minor dengan peluang 25% keturunannya akan mengalami thalasemia mayor, 50% akan mengalami talasemia minor dan 25% anak keturunannya akan memiliki darah normal. Sedangkan jika salah satu orang tua thalasemia mayor, maka sang anak akan 100% membawa sifat thalasemia mayor.

Thalasemia β mayor akan menimbulkan berbagai keluhan bagi penderitanya, diantarnya anemia akut akibat proses hemolisis, kelaianan organ tubuh akibat dari pengobatan yang dilakukan ataupun akibat dari peyakit itu sendiri, keterbelakangan pertumbuhan, kelainan bentuk tulang terutama di wajah, pembesaran limpa, kerentanan terhadap infeksi dan berbagai gejala klinis lainnya. Gejala thalasemia yang dialami setiap orang berbeda, tergantung pada tingkat keparahan dan tipe thalasemia yang diderita. Beberapa contoh lain gejala talasemia adalah berat badan yang rendah, sesak napas, mudah lelah dan sakit kuning.

Hal utama yang diperlukan oleh penderita thalasemia adalah transfusi darah. Tansfusi ini memberikan sel darah merah yang sehat dengan hemoglobin normal. Namun, transfusi darah ternyata dapat mengakibatkan penumpukan zat besi, sehingga bagi penderita thalasemia, mereka juga harus melakukan tepai kelasi besi dengan mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang telah diresepkan oleh dokter. Jika kelebihan zat besi ini tidak ditangani, maka penderita talasemia dapat mengalami kerusakan hati, jantung, dan beberapa organ tubuh lainnya. Transfusi darah ini  dilakukan seumur hidup oleh penderita thalasemia mayor dengan frekuensi 2-4 minggu (1-2 kali sebulan) sekali dan obat pendamping lainnya. Penderita thalasemia intermedia membutuhkan  transfusi darah tetapi tidak secara rutin.

Kebutuhan tansfusi darah ditentukan oleh berat badan dan usia. Setiap kenaikan satu tahun, kebutuhan darah akan naik menjadi 0.816 ml. Ia menyebutkan bahwa semakin bertambah usia, frekuensi transfusi darah setiap bulan juga meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambah usia, semakin memburuk kondisi penyakit sehingga kebutuhan transfusi darah semakin meningkat. Untuk melakukan transfusi darah dan membeli obat-obatan lainnya, para penderita thalasemia biasanya akan mengeluarkan uang hinga puluhan juta.

Tanpa transfusi darah, seorang penderita thalasemia akan dapat hidup 3-4 tahun, namun jika dilakukan transfusi darah setiap bulan, usia penderita thalasemia diprediksikan dapat bertahan hingga 30-40 tahun.

Maka sebagai orang yang diberikan Allah kesehatan, sudah seharusnya saya banyak bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Semoga nantinya akan ada dampak sosial yang bisa saya lakukan untuk masyarakat sekitar. Dan teruntuk para sahabat sekalian yang saat ini sedang mengalami sakit, termasuk thalasemia ini. Semoga Allah karuniakan kekuatan, kesabaran dan keikhlasan. Semoga dengan sakitnya menjadi terhapusnya dosa dan terangkatnya derajad di dunia dan akhirat kelak. 

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan."

*Tulisan disusun dari berbagai sumber. Penjelasan lebih lengkap bisa dibaca di jurnal penelitian dan keterangan lebih lengkap bisa anda tanyakan ke dokter.

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon