Makan Beralaskan Daun Jati itu NIKMAT

Tags

Kampung halaman menjadi tempat yang selalu dirindukan, sejauh apa pun kita pergi. Suasana alam yang asri, sawah ladang membentang hijau, udara yang segar, kuliner yang murah meriah, saling sapa antar tetangga, mudahnya mengambil sayuran gratis di hutan atau bahkan yang tumbuh di pekarangan tetangga merupakan kehidupan lumrah masyarakat desa. Hal-hal seperti ini menjadi sebagian kecil hal yang selalu dikenang oleh anak rantau, selain itu beberapa hal di bawah ini, menurut saya pribadi menjadi hal lain yang dirindukan: 

Makan Beralaskan Daun Jati
Pagi itu kebetulan ada beberapa orang yang membantu membersihkan ladang. Satu baskom besar nasi putih dengan asap yang masih mengepul, sambal terasi, tempe goreng dan kopi pahit siap dikirim ke ladang. Dengan berjalan kaki melewati pematang ladang yang pagi itu tidak begitu berembun karena memang sedang musim kemarau, kami bergegas berjalan. Dari kejauhan tampak beberapa orang termasuk Bapak sedang mencangkul tanah, membuat lubang tempat benih labu kuning yang nanti akan ditanam saat musim hujan tiba. Setelah melihat kami datang, pekerjaan sementara dihentikan. Sepuluh menit berlalu, makanan sederhana itu pun ludes, hanya tersisa sedikit untuk saya makan, (secara ngga ikut kerja, ngga mungkin kan ikut makan bareng :D). Makan dengan beralaskan daun jati seperti ini sangat enak dinikmati ketika berada di landang atau sawah dengan pemandangan alam yang akan susah sekali didapatkan ketika nanti kembali di tanah rantau. 
Sudah pernah coba makan beralaskan daun jati?
Makanan Enak dan Murah
Adik saya merupakan penggemar mie ayam sejati, mau dimanapun yang Ia cari juga mie ayam :).  Siang itu sebelum berangkat mengantarkan Ia sekolah, kami makan mie ayam terlebih dahulu, di tempat yang Ia rekomendasikan. Sampailah kami di warung mie ayam yang letaknya tepat di depan rumah pemilik mie ayam tersebut. Sepuluh menit menunggu akhirnya pesanan mie ayam kami datang. Mie ayam komplit Rp 6.000  (mie, sawi, ayam, pangsit goreng) dengan minuman Marimas Rp 1.000 jadi total berdua kami hanya menghabiskan Rp 14.000 (coba di kota besar, Dramaga Bogor misalnya, dengan harga segitu mungkin begitu warung buka langsung ludes). Dilain kesempatan saya coba menikmati kuliner seblak, penasaran apakah rasanya sama dengan seblak yang dijual di Bogor, ternyata sangat berbeda, namun tetap saja enak di lidah saya yang saat itu sangat lapar. Untuk harga satu porsi seblak mie-kerupuk-telor Rp 7.000, ditambah sayap ayam Rp 3.000, lima biji ceker ayam pedas Rp 5.000, jus mangga Rp 7.000. Murah bukan.
Satu porsi mie ayam + air minum Rp 7000
Jajanan Pasar
Kue tradisional atau biasa kami menyebutnya dengan jajanan pasar memang tak semenarik makanan kekinian yang beragam variasinya, namun karena ketradisionalannya itulah menjadikan makanan jadul yang banyak jenisnya itu dicari ketika berada di pasar tradisional. Sebut saja macamnya seperti getuk lindri, canil, serabi, klepon, tiwul, dawet, lapis beras dan berbagai jenis lainnya.  

Masakan Ibu
Kalau yang ini pasti tidak tersedia dimanapun kecuali di rumah. Makanan sederhana buatan ibu tercinta. Seenak apapun makanan di luar sana, masakan ibu selalu menjadi hal yang dirindukan ketika pulang ke kampung halaman. Bahkan ketika kita ingin pulang, terkadang saya pesan ibu untuk memasakkan nasi jagung, bakwan jagung, sambal teri, sayur daun kelor. Iya makanan sederhana seperti itu, karena memang di tanah rantu sangat jarang sekali ditemukan penjual nasi jagung dan lauk pauk serta bala tentara pelengkapnya. Hmm jadi lapar.
Nasi jagung, mantaap (Pict by food.detik.com)
Renang Gratis
Gratis karena milik desa :). Biasanya di suatu desa terdapat sungai yang dipakai oleh anak-anak untuk bermain. Termasuk di kampung halaman saya, terdapat sebuah sungai besar dengan kedalaman sepinggang orang dewasa dengan panjang lima belas meter, dibendung menyerupai kolam renang, yang sampai saat ini banyak difungsikan untuk mengairi ladang-sawah, mencuci pakaian atapun berenang. Ini merupakan tempat berlatih renang yang menyenangkan, bahkan anak TK di desa sudah dengan lihainya berenang karena seringnya bermain di sungai ini, jadi ngga perlu les renang :D.
Sejauh apa pun kaki melangkah pergi, kampung halaman menjadi tempat yang dirindukan untuk kembali

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon