Sedekah Bumi

Tags

Gamelan ditabuh, satu dua Sinden tampak mulai berlenggak-lenggok menari seraya menyanyikan kidung Jawa. Beberapa warga desa telah berduyun-duyun datang, mengelilingi sungai tempat di mana acara ini digelar. Mereka membawa berbagai makanan yang dibawa menggunakan tampah (nampan berukuran besar dan bulat terbuat dari bambu) yang dilapisi dengan daun jati, kemudian ditata rapi berjejer di sebuah terpal besar. Tampak beberapa anak kecil yang sudah pulang sekolah mulai duduk  di depan nampan tersebut, dengan sumringah menanti acara dimulai. Sementara orang dewasa duduk di bibir sungai.
Tayub, Kesenian Jawa Timur-an (Pict by budayajawa.id)
Iya, ini adalah serangkaian pesta adat masyarakat di desa tempat saya tinggal. Satu tahun sekali, tepatnya pada hari Kamis Legi (tanggalan Jawa) acara ini diadakan di sebuah sungai besar yang pernah menjadi sumber mata air untuk berbagai keperluan pertanian dan rumah tangga. Belakangan ini, pemanfaatan sungai lebih banyak digunakan untuk pengairan sawah dan ladang, sementara untuk keperluan mandi dan mencuci, warga sudah mulai banyak yang memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing. Sungai ini berukuran kira-kira dua puluh meter dengan kedalaman sepinggang orang dewasa, dipagar dengan menggunakan beton, mirip kolam renang jika di kota besar.

Sedekah Bumi. Begitu kami menyebutnya. Sedekah berasal dari bahasa Arab Sadakah yang memiliki arti pemberian sukarela dari seorang muslim kepada orang lain secara ikhlas, Bumi berarti bumi. Dengan kata lain Sedekah Bumi adalah bentuk terima kasih masyarakat kepada Allah atas limpahan kebaikan alam yang telah diberikan berupa hasil panen. Jika di daerah lain di Pulau Jawa, Sedekah Bumi diadakan dengan membawa berbagai hasil pertanian seperti arak-arakan buah-buahan dan sayuran, di desa kami lebih sederhana. Masyarakat akan membuat makanan biasa seperti nasi, lauk ayam/ikan, sayuran, mie, dan beberapa potong buah, yang kemudian disusun rapi di sebuah tampah besar, dan tidak ada keharusan membuat makanan dalam bentuk tumpeng.
Di bawah teduh pohon beringin, tempat Gamelan ditabuh
Pukul dua belas tepat, suara kentongan terdengar, sayup-sayup, karena memang kentongan ini di tabuh oleh kepala desa  yang rumahnya jauh dengan sungai tempat acara ini berlangsung. Dipukulnya kentongan ini menandakan acara ini telah siap dimulai. Sesepuh desa dan seorang imam masjid kami bergantian membacakan doa. Sesepuh desa dengan doa bahasa Jawanya, sementara imam masjid dengan doa menggunakan bahasa Arab. Perpaduan dua doa yang berisi ucapan terima kasih atas kebaikan yang Allah berikan dan pengharapan akan hasil panen yang baik ketika musim panen nanti tiba.

Begitu doa-doa selesai dipanjatkan. Para warga akan saling berebut makanan. Anak-anak kecil yang sudah men-tag wilayah kekuasaaanya akan dengan mudahnya mengambil makanan yang ada di depan mereka, sementara beberapa warga yang tidak mendapatkan tempat duduk, akan saling berebut makanan, meskipun di depan nampan tersebut sudah ada yang menguasai. Para warga dan pengunjung lainnya beberapa diantaranya membawa karung beras, kantong kresek besar yang mereka fungsikan untuk mengangkut makanan. Bisa jadi dalam satu kantong, antara nasi,lauk-pauk, kue dan buah-buahan akan tercampur, karena memang siapa cepat yang dapat mengambil makanan itu. Warga yang datang di acara tidak hanya dari warga asli setempat, beberapa berasal dari desa tetangga. Sedekah Bumi seperti ini akan bergilir setiap desa, dengan waktu yang berbeda. Para pengunjung biasanya juga berasal dari desa-desa tentangga.
Makanan siap diangkut :D
Perebutan makanan ini berlangsung cepat, kurang dari tiga puluh menit. Selesai acara, para warga akan membersihkan daun-daun jati dan bungkus-bungkus makanan yang berserakan,  dan kembali ke rumah masing-masing, sementara para pelaku kesenian yang sejak tadi mengiringi acara (Tayub-kesenian asli Jawa Timur yang terdiri dari peyanyi-sinden dan para kru penabuh gamelan, gong dan alat musik lainnya) akan tinggal melanjutkan nyanyian sampai setengah jam kemudian dan selanjutnya pindah tempat di balai desa.

Malam hari, saatnya warga berkumpul menikmati hiburan seni Tayub. Beberapa penjual makanan, minuman dan mainan dadakan telah banyak datang sejak sore tadi, mencari tempat strategis yang banyak dilalui warga dan anak-anak kecil. Para warga tampak menikmati pertunjukan seni, beberapa lainnya memilih istirahat di rumah karena lelah seharian kerja di sawah ladang. Hiburan seni ini berlanjut hingga pukul dua belas malam, yang kemudian ditutup dengan tari ular yang dibawakan oleh Sinden.

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon