Tiga Hari Melewati Laut China Selatan dengan Kapal Perang

Tags

Suara lenguh kapal mulai terdengar nyaring. Para anak buah kapal (ABK) yang berasal dari TNI AL tampak begitu sibuk mengangkat jangkar yang sudah dilemparkan sejak kapal ini mulai berlabuh. Kami para peserta yang tergabung dalam agenda Sail Wakatobi Belitung sudah sejak tadi bersiap-siap menyaksikan keberangkatan kapal yang kami tumpangi dari Jakarta, pelabuan Tanjungpriok. KRI Makassar, itulah nama kapal perang yang akan kami gunakan dalam perjalanan ini. Kapal ini berukuran sangat besar dengan panjang 125 meter dan lebar 22 meter.
KRI Makassar 590 yang kami tumpangi (Pit by hobbymiliter.com)
Ini pertama kalinya saya berpergian menggunakan kapal dengan ukuran yang sangat besar dan dalam waktu yang sangat lama, dua puluh lima hari. Selama waktu itu kami gunakan untuk mengarungi pulau barat Indonesia. Itinerary perjalanan ini meliputi Jakarta, Pulau Natuna, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Dumai, Belitung dan berlabuh kembali ke Jakarta.

Laut China Selatan

Tak pernah terbayangkan sedikitpun, saya bisa mengikuti agenda keren ini. Begitu ada tawaran dari kampus, langsung saja saya dan seorang teman mendaftarkan diri dengan proses pendaftaran yang sangat mudah saat itu, hanya menyetorkan biodata dan pas foto. Sail Wakatobi Belitung merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora). Nama kegiatan ini berubah-ubah sesuai dengan destinasi perjalanan yang berbeda setiap tahunnya.
Laut China Selatan, Jalur yang harus di lalui menuju Natuna (Pict bywartakotatribunnews.com)
Laut China Selatan menjadi rute perjalanan kami menuju Pulau Natuna. Selama tiga hari kami berada di tengah lautan luas, terombang ambing memecah ombak dengan ketinggian enam meter. Memang rute ini terkenal dengan ketinggian ombaknya. Saya yang tidak terbiasa dengan moda transportasi jenis ini, mulai merasa mabuk laut. Begitu mabuknya, perpaduan laut dan langit indah saat senja pun terlewatkan karena lebih memilih untuk beristirahat di tempat tidur yang sudah disediakan untuk peserta. Pun ketika kami harus sholat berjamaah di lokasi yang berdekatan dengan helideck. Sebisa mungkin kami berdiri tegak, agak miring terkadang, karena pengaruh ombak.

Kurangnya jalan-jalan dan membaca menjadikan pengetahuan yang saya miliki sangat minim #Alibi :D. Laut China Selatan, ini pun saya juga baru tahu ketika kegiatan berlayar ini berlangsung. Bagaimana ombaknya, perjalanan kegiatan ini atau pun yang lainnya sama sekali tidak saya searching, sehingga mau tidak mau apa yang ada di depan mata itu yang kami jalani.

Pulau Natuna
Pagi setelah sholat subuh, kami mulai bersiap-siap untuk menyaksikan kapal berlabuh. Bagaikan menikmati air dingin ketika panas terik. Mungkin seperti itulah rasanya ketika kami akhirnya bertemu dengan daratan, Pulau Natuna. Deretan pulau-pulau kecil lainnya tampak terlihat, menyapa kami yang tak sabaran untuk turun. Satu dua rumah panggung mulai bermunculan. Setelah mendapat komando, kami akhirnya turun ke darat. Beberapa pejabat setempat tampak menyambut kedatangan kami, sementara wajah-wajah penasaran dari warga dan anak-anak kecil tampak terlihat jelas menyapa kami dengan senyuman mereka.
Natuna adalah Indonesia
Air laut di pulau ini sangat jernih. Beberapa ikan hias terlihat menggiurkan untuk ditangkap :D. Barisan pohon kelapa memenuhi bukit yang terletak di belakang rumah-rumah penduduk. Sebuah masjid besar berwarna kuning turut melengkapi bangunan desa.
Para peserta turun ke darat dan berkumpul di sebuah lapangan. Upacara penyambutan kemudian dilakukan. Selesai itu, kami pun mulai berkunjung ke rumah penduduk setempat, menikmati keindahan pulau dan akhirnya kembali lagi ke kapal. Di pulau ini, kami hanya tinggal selama dua hari, dan kegiatan banyak dilakukan di dalam kapal.

Batam

Upacara kemerdekaan kami lakukan di pulau ini di sebuah lapangan yang letaknya berdekatan dengan icon "Welcome to Batam", selesai upacara kami kemudian berkumpul di kantor pemerintahan Batam untuk menerima sambutan dan pengetahuan segala hal tentang Batam. 
Welcome to Batam
Beberapa kegiatan yang kami lakukan di pulau ini: menanam mangrove, bersih-bersih pantai, dan terakhir kami dapat kesempatan untuk main di sebuah mall yang saya lupa apa namanya. Dan di tempat inilah saya baru mengetahui istilah barang black market #hadeh.

Kepulauan Riau
Saya lupa kegiatan apa saja yang kami lakukan di pulau ini. Yang saya ingat hanya audiensi dengan pemerintah setempat dan minuman yang kami dapatkan. Ko minuman? Iya karena makanan minuman kemasan di sini banyak didatangkan dari Malaysia  atau Singapura karena letaknya memang lebih dekat dan mungkin harganya lebih terjangkau jika dibandingkan dengan harga barang-barang yang dibeli dari ibu kota Jakarta.
Mari menanam
Dumai
Udara tak cukup enak untuk dihirup, sedikit sesak, suasana tampak berkabut meskipun siang hari. Setelah kapal merapat di pelabuhan, kami bergegas naik ke bus menuju kantor sebuah perusahaan minyak besar, Chevron tepatnya di PT.Chevron Pasific Indonesia.
Barisan panitia yang menyambut terlihat dengan senyumya mempersilahkan kami untuk masuk di sebuah gedung yang cukup besar. Tak begitu lama, Sang pemimpin perusahaan memberikan materi tentang bagaimana minyak mentah di olah, dari mana sumber minyak di dapatkan, program CSR untuk masyarakat setempat dan banyak ilmu lainnya yang sangat bermanfaat.
Tari Sekapur Sirih Dumai
Belitung
Saat itu hujan turun ketika sebuah tarian khas kepulaun Belitung menyambut kami. Iya, ini pulau terakhir yang kami kunjungi selama berlayar. Acara seremonial pun dilakukan seperti di pulau-pulau sebelumnya. Selanjutnya kami menikmati suguhan yang menu utamanya ikan segar dan jenis seafood lainnya. Lepas makan, kami lanjutkan pergi ke Universitas Bangka Belitung untuk belajar beberapa hal. Di pulau ini pula kami melakukan bakti sosial tanam mangrove dan bersih pantai. Dan tibalah dengan hal yang sangat saya nantikan yaitu berkunjung ke pantai Laskar Pelangi, pantai Tanjung Tinggi.
Pantai Tanjung Tinggi
Sebuah papan bertuliskan "Lokasi Syuting Laskar Pelangi" menjadi tempat foto favorite yang banyak diincar para pengunjung, termasuk kami :D. Selain papan tersebut, batu granit besar yang banyak terdapat di pantai menjadi tempat foto menarik selanjutnya. Beberapa peserta tampak tak sabaran untuk berenang di tepian pantai. Yang lainnya memilih untuk menggunakan perahu karet karena memang tidak semuanya membawa pakaian ganti.
Ketika perahu karet kami hanya berputar dan tak mau kembali ketepian :D
Selama dua puluh lima hari, apa yang kami lakukan selain berkunjung ke pulau-pulau yang sudah ditentukan? Selama tidak berlabuh di daratan, aktivitas kami di dalam kapal tidak jauh berbeda dengan kegiatan perkuliahan, ada beberapa materi seputar ketahanan NKRI, kemaritiman, kebudayaan, bagaimana cara menyelamatkan diri ketika kapal bermasalah, dan berbagai materi lainnya. Selain itu ada juga tampilan kesenian dari masing-masing kelompok, liga persahabatan dengan tim sepak bola pulau yang dikunjungi dan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya.

#Kilas balik perjalanan Sail Wakatobi Belitung 2011

1 comment:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon