Street Food Ala Thailand; Ekstrim Vs Biasa

Street food menjadi kuliner 'jalanan' yang banyak diburu oleh para wisatawan. Harganya yang lebih murah dan mudah didapatkan menjadi pilihan. Di Indonesia sendiri jenisnya sangat beragam, mulai dari cimol, seblak, kue serabih, kue putu, klepon dan banyak lainnya. 

Nah, kali ini saya ingin me-share beberapa street food ala negeri gajah putih dari yang terekstrim sampai yang biasa kita temui di Indonesia. Ini diantaranya:
1. Serangga Goreng
Street food ekstrim ini sudah sangat terkenal di kalangan para wisatawan. Gorengan serangga ini beragam jenisnya, ada kalajengking, ulat daun pisang, ulat kelapa, jangkrik, belalang, dan lainnya. Di Thailand makanan ini banyak dijajakan di samping-samping jalan atau pusat keramaian. Mudah sekali mendapatkannya. Bagi yang pertama kali melihat makanan ini, pasti akan terasa mual melihat bentuk ulat-ulat yang digoreng, apalagi ulat kelapa yang ukurannya lebih besar. Hiii :(.  
Gimana guys?
2. Yum MamaYum mama atau mie rebus campur begitu saya menyebutnya. Jika di indonesia, mie rebus biasa dinikmati dengan campuran telor, sawi atau kol. Di Thailand, yum mama dicampur dengan jamur kuping, jamur enoki, jamur putih, ceker ayam, kerang dan cumi. Mie di rebus bersamaan dengan bahan-bahan pelengkap. Untuk bumbu yang digunakan, bumbu bawaan dari mie instan tersebut. Harga satu porsinya 30 Bath. Satu porsi yum mama ini sudah sangat mengenyangkan. Meskipun mie, tolong dipastikan bahwa mie yang digunakan halal ya.
Campuran untuk Yum Mama. Hmm..manta surantap
3. Cha Yen
Cha Yen atau disebut juga dengan Thai Tea menjadi minuman pertama yang saya coba ketika tiba di Thailand. Seorang teman merekomendasikan minuman ini. Perpaduan dari teh Thailand yang sangat kuat dan susu memang unik. Saat ini di Indonesia sudah banyak booth minuman yang menjual aneka jenis minuman Thai Tea. Rasanya sangat berbeda dengan yang asli, beberapa ada yang sama namun dengan harga yang lebih mahal.

4. Nasi Krabu
Ketukan  pintu terdengar. Seorang nenek pemilik sekolah menghampiri kamar tempat saya tinggal saat itu. Ternyata Ia mengajakku sarapan dengan menggunakan bahasa isyarat karena saat itu saya buta aksara dan bahasa (masih sampai sekarang:D). Sarapan belum siap. Tampak sang nenek mempersiapkan berbagai bahan yang cukup saya kenal, sereh dan kacang panjang. Ia memotong kecil-kecil, kemudian ditumbuk  menjadi satu dan dicampurkan ke nasi yang sudah matang. Tetapi, karena aroma serehnya terlalu kuat, saya tidak begitu menyukai makanan ini.
Menarikkan warna nasinya? (pict by tastesatlas,com)
Nasi Kerabu aka nasi urap ala Thailand berwarna biru yang dihasilkan oleh warna bunga telang. Dalam penyajiannya, makanan ini disajikan dengan lauk pelengkap seperti telur asin, ikan goreng/ayam goreng, sambal dabu (berbentuk seperti kuah), irisan kacang panjang, tauge dan kerupuk. Nasi kerabu ini banyak di jual di rumah-rumah makan/warung.

5. Nasi Lemak

Menurut saya rasa nasi lemak mirip dengan nasi uduk, namun memiliki rasa yang lebih manis. Dalam proses memasak nasi ini dicampur sekalian dengan ayam. Satu porsi nasi lemak yang paling simpel hanya berisi nasi, ayam yang di 'kubur' di dalam nasi dan baby mentimun. Nasi lemak ini sangat terkenal di Thailand dan Malaysia.

6. Ayam Goreng
Mengapa harus ayam goreng? Menurut saya ayam goreng di Thailand berbeda. Warnanya merah dan cara menyajikannya juga berbeda. Satu porsi ayam goreng disajikan dengan nasi ketan (nasi puluk) yang sangat keras menurut saya serta taburan bawang goreng dan sambal manis, mirip saus tomat. Sangat simpel bukan?. Pertama kali saya merasakan ayam goreng ini yaitu sebagai menu berbuka puasa, bisa dibayangkan betapa kerasnya tekstur nasi. Namun tetap enak untuk dinikmati. Bagi kalian yang tidak bisa makan jika tidak ada sayur, mungkin dapat disiasati dengan menyiapkan air minum yang cukup sebelum menikmati ayam goreng. Sama halnya dengan di Indonesia, ayam goreng ini juga banyak dijual di samping-samping jalan.
Yummy (Pict by listikel.com)
7. Tom Yum
Tom Yum menjadi makanan Thailand yang saya sukai. Rasanya yang mirip rasa soto mudah diterima lidah. Mungkin yang belum terbiasa adalah taburan daun ketumbar yang rasanya sangat masam. Campuran dari udang, cumi, ayam, ikan dan jenis seafood lainnya serta kuah pedas masam sangat menggugah selera. Ketika di kampus, saya mencoba memesan tom yum. Ternyata rasanya sangat jauh dengan tempat asalnya.
Rasanya suegeer (pict by valerieskeeper.com)
Itulah beberapa jenis makanan Thailand yang pernah saya coba, tentu saja kecuali serangga goreng. Makanan lainnya (nomor 2-6) bisa saja tidak halal ketika bahan-bahan yang digunakan tidak halal serta tempat makan yang menjual makanan tersebut menjual serta makanan lain yang tidak halal. Meskipun kamu membeli ayam goreng, tetap harus hati-hati ya.

Untuk mengetahui makanan yang dijual halal tidaknya, salah satunya dapat dilihat dari penjual makanan. Jika penjual mengenakan jilbab, kemungkinan besar makanan yang di jual halal. Hal ini berdasarkan cerita seorang supir yang mengantarkan kami untuk memperpanjang visa di Malaysia. Pada suatu waktu beliau dan istri pergi ke Indonesia. Namun karena sang penjual tidak mengenakan jilbab, sang istri memilih untuk makan ditempat lain. Padahal bisa saja sang empunya memang seorang muslim yang belum berhijab. Karena di Thailand cara untuk membedakan muslim tidaknya orang tersebut ialah dari berhijab tidaknya.

Cara lain yaitu jika pada rumah makan tersebut sudah ada label halal maka dapat diasumsikan penjual tersebut hanya menjual makanan halal. Apalagi dinegara lain yang kita buta aksara dan bahasanya, maka memilih tempat makan yang ada label halal atau penjual yang menggunakan jilbab lebih aman. Oh ya, kalau di Thailand, penjual non muslim biasanya mengenakan kalung dengan liontin patung (kebanyakan). 

Dalam suatu kesempatan, rombongan kami berkunjung ke Bangkok (selama di Thailand kami tinggal di Thailand bagian selatan). Ketika itu, karena kelaparan dan sulitnya mencari makanan halal, kami hanya menikmati rujak mangga/jambu, yang hanya berisi dua jenis mangga/jambu dan cabai bubuk dan garam dan itu pun kami nikmati selama seharian. Duh.

Label halal pada makanan mudah ditemukan dan font yang digunakan lebih besan serta mudah ditemukan, tidak seperti di Indonesia yang terkadang label halal terletak di belakang, font kecil dengan warna yang sama dengan bungkus makanan tersebut, sehingga pembeli harus jeli mencari tanda halal tersebut. Padahal jika diletakkan di kemasan bagian depan, konsumen akan cepat membeli makanan/barang tersebut.

Hmm..jadi pengen ke Thailand lagi :D.

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon