Mengenal Budidaya Ikan Kerapu di Bumi Wali;Tuban

 Pagi, pukul 7.05 WIB, kendaraan melaju meninggalkan Kota Pudak. Perlahan, mulai membelah jalanan yang mulai ramai dengan pengendara yang tampak berangkat menuju tempat kerja. Rush hour seperti ini, memang rawan untuk macet, karena semua orang bergegas agar tidak terlambat mencapai tempat tujuan. Namun, kemacetan yang terjadi masih dianggap wajar, tidak seperti ibu kota Jakarta atau pun Bogor yang sangat terkenal dengan trafic jam yang sangat menggugah rasa sabar :D. 


Perjalanan kali ini menuju Bumi Wali, Tuban. Salah satu kota yang ingin saya explore lebih jauh mengenai potensi wisata, kuliner dan berbagai hal menarik lainnya. Namun, pada kesempatan ini budidaya keramba jaring apung (KJA) ikan kerapu menjadi obyek yang kami kunjungi.

Pengukuran panjang tubuh ikan

Ini kali kedua saya melakukan perjalanan ke KJA setelah sebelumnya di Kota Situbondo beberapa tahun lalu. Di Situbondo pembudidaya menggunakan kerangka KJA dari pohon bambu dengan atap rumbia sebagai peneduh, sedangkan di Tuban petani menggunakan kerangka KJA dari bahan plastik tanpa atap peneduh. Dua pengalaman yang berbeda namun memberikan tambahan wawasan tentang potensi KJA di Jawa Timur.


Keramba jaring apung (KJA), merupakan sistem budidaya yang dilakukan di waduk, laut atau pun dalam skala massal dilakukan secara lepas pantai, budidaya offshore. Di Indonesia budidaya secara offfshore pertama kali dibangun pada tahun 2018 yang terdapat di Kota Pangandaran, Jawa Barat. Dan sejauh ini merupakan satu-satunya budidaya lepas pantai yang terdapat di Indonesia. Faktor utama yang mempengaruhi tentu saja dari biaya yang dibutuhkan. Dalam pembuatan KJA Offshore pemerintah menghabiskan dana sebesar 131,451 miliar rupiah.


Kembali ke budidaya KJA di Tuban, tepatnya di Desa Bancar Kecamatan Bancar. Merupakan satu-satunya lokasi budidaya KJA ikan kerapu cantang (hasil persilangan antara ikan kerapu macan dan kertang) yang terdapat di kota ini. Kecepatan arus yang sesuai dengan persyaratan budidaya dan kondisi perairan yang jauh dari polusi menjadikan alasan dipilihnya lokasi budidaya.

Berpanas ria di atas KJA, jangan lupa sunblock :D

Benih ikan kerapu didatangkan langsung dari kota Situbondo. Ikan akan diadaptasikan atau dibesarkan terlebih dahulu di bak-bak beton selama satu bulan. Setelah ukuran ikan mencapai 9 cm (umumnya mereka membeli benih ikan ukuran 6-7 cm), ikan kemudian ditebar di perairan terbuka (laut). Ikan dipanen dengan ukuran 500-1000 g (waktu budidaya 6 bulan - 1 tahun).


Di lokasi ini terdapat empat unit KJA. Setiap KJA memiliki enam sampai delapan petak budidaya. Pada unit yang paling kecil, pembudidaya yang tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) 'Kerapu Lestari Bancar' menghabiskan dana kurang lebih 125 juta rupiah. Dengan biaya yang besar, pengelola sangat mengharapkan 'suntikan' dana dari pemerintah atau dari para investor.


Pada musim pandemi seperti saat ini, kondisi budidaya juga mengalami penurunan. Bak-bak beton yang biasanya penuh dengan benih-benih ikan, sampai saat ini banyak yang kosong tidak terisi. Sehingga pengelola menginisiasi dengan membudidayakan ikan lele dan udang vanamei, agar kegiatan produksi tetap bisa berjalan dan tentu saja agar pengelola tetap mendapatkan keuntungan dari budidaya ikan jenis lainnya. Selain itu, pengelola juga menjual ikan teri, ikan asin dan jenis ikan lainnya yang telah dikeringkan, sebagai sarana untuk menghidupkan kegiatan budidaya.

Terima kasih Pak Yanuar dan tim untuk ilmunya hari ini

Terdapat di jalur pantura menjadikan lokasi KJA mudah ditemukan. Tempat ini sangat cocok bagi mahasiswa atau masyarakat umum yang ingin menambah pengetahuan tentang budidaya KJA ikan kerapu.


Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon