Fenomena Krisis Bahasa Daerah (Kromo Inggil) Di Kalangan Pemuda

Tags

Pernahkah kamu mengalami, ketika sedang asyik-asyiknya bercakap-cakap dengan orang sepuh (orang tua dengan usia di atas 50th) tiba-tiba berhenti karena lupa kosakata bahasa daerahnya ?. Kalau saya sering. :D. Fenomena seperti ini mungkin banyak sekali dialami oleh anak rantau  yang suatu waktu pulang ke kampung halaman. Lama di tanah rantau yang jarang menggunakan bahasa daerah sebagai basa sehari-hari menjadikan perlahan kosakata bahasa daerah tersebut terlupakan.


Alih-alih menggunakan bahasa nasional, saya sendiri lebih prefer untuk menggunakan bahasa daerah jika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Ada kesan lebih santun, serta di desa jarang sekali masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia, kecuali para pendatang dari luar Jawa.


Sebagai orang Jawa tentu kamu sudah tahu jika bahasa yang saya maksud adalah bahasa Jawa halus atau lebih dikenal dengan Kromo Inggil. Di Jawa terdapat dua tipe bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa Ngoko dan bahasa Jawa Kromo Inggil. Bahasa Jawa Ngoko biasanya kita gunakan untuk percakapan dengan teman-teman sebaya atau dengan yang lebih muda umurnya. Sementara Kromo Inggil digunakan dalam percakapan dengan orang yang lebih tua atau orang yang lebih dihormati.

Bahasa Daerah atau Bahasa Indonesia ?

Bahasa Jawa menjadi bahasa daerah yang digunakan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sehingga ketika kita bepergian ke daerah yang menggunakan basa Jawa, kita dapat dengan mudah berkomunikasi dengan warga setempat. Namun, lagi-lagi mungkin kita akan sedikit mengalami kesulitan jika berkomunikasi dengan orang yang tinggal di kota Solo ataupun Yogyakarta. Kedua kota ini terkenal dengan bahasa Kromo Inggil-nya yang menurut saya sudah berada pada level yang sangat tinggi. 


Selain bahasa Jawa, ada juga aksara Jawa yang sekilas mirip dengan huruf Tagalog-Thailand. Aksara Jawa ini biasanya kita pelajari dalam pelajaran bahasa daerah pada saat duduk di Sekolah Dasar. Bentuk huruf yang sama sekali berbeda dengan huruf latin, menuntut kita untuk belajar menghafalkan huruf serta pasangan pendukung lainnya. Untuk membuat satu paragraf dengan menggunakan aksara Jawa lebih membutuhkan konsentrasi yang tinggi jika dibandingkan dengan menuliskan kalimat dalam bahasa Inggris. Karena, penggunaan aksara hanya sebatas pada saat Sekolah Dasar, maka saat ini jarang sekali kita bisa membaca tulisan dengan aksara Jawa, kecuali jika kamu benar-benar sudah hafal aksara tersebut di luar kepala atau bisa juga membuka google untuk belajar kembali.


Jika di pulau Jawa, kita hanya mengenal dua tipe bahasa Jawa, berbeda dengan bahasa daerah yang ada di Sulawesi misalnya. Menurut cerita seorang teman yang berasal dari Kendari, setiap suku memiliki bahasa daerah yang berbeda. Sehingga terkadang Ia merasa kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang yang berasal dari suku lain. Berdasarkan Wikipedia, jumlah suku yang ada di Pulau Sulawesi Tengah saja berjumlah 29 suku, tentu akan semakin banyak lagi jika ditambahkan dengan suku lain yang ada diseluruh Sulawesi.


Menurut sensus Badan Pusat Statistika (BPS) pada tahun 2010, Indonesia memiliki 1.340 suku. Jumlah yang sangat amat banyak. Hal ini bisa juga diasumsikan bahwa jumlah bahasa daerah sama banyaknya dengan jumlah suku, meskipun mungkin lebih banyak lagi karena kurangnya data yang kita miliki.  

Ha Na Ca Ra Ka...

Beruntungnya sebagai warga Indonesia, kita memiliki bahasa nasional sebagai bahasa pemersatu bangsa. Sehingga dibagian daerah mana pun di Indonesia kita dapat menggunakan bahasa ini. Namun, tentu berbeda ketika kita berkomunikasi menggunakan bahasa nasional dengan orang-orang yang tidak pernah sekali pun dalam hidupnya menggunakan bahasa Indonesia, misalnya saja orang-orang yang hidup di pedalaman/suku anak dalam. Sehingga agar proses komunikasi tetap berjalan efektif, mungkin bisa menyewa jasa interpreter (penerjemah) atau jika tetap tidak menggunakan jasa tersebut, paling optimal kita bisa menggunakan body language (bahasa tubuh).:D


Kalau kamu, lebih suka menggunakan bahasa daerah atau bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua?

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon