Kilas Balik Perjuangan 2020

Di penghujung tahun 2020. Alhamdulillah Allah yang Maha Pengasih masih memberikan saya dan keluarga kesehatan. Apalagi di musim pandemi Covid-19 seperti saat ini, sehat menjadi barang mahal yang diharapkan oleh semua orang. Bersyukur Allah masih mengumpulkan saya dengan orang-orang yang saya cintai.


Ini kali pertama saya membuat kilas balik perjuangan di akhir tahun. Banyak hal yang sangat saya syukuri, banyak perjuangan yang menguras peluh dan air mata, tapi begitulah sepertinya episode perjuangan hidup yang harus saya lewati.


Pencapaian yang saya dapatkan juga tidak sebanyak pencapaian yang mungkin kamu dapatkan. Namun, bukankah setiap orang memiliki kisah perjuangan yang berbeda ?

Wajah-wajah eksotis akibat terpapar angin laut selama 25 hari (Sail Wakatobi Belitong)

Jadi, perjuangan apa yang sudah saya lalui selama tahun 2020 ini ?  Check these out


1. Lulus Studi
Ini menjadi pencapaian terbesar saya. Setelah melalui aneka ombak terjal, akhirnya berakhir juga perjuangan saya di Bogor. Yah, meskipun belum benar-benar berakhir, karena masih ada wisuda online yang menanti bulan Februari nanti. Insyaa Allah


Hal ini dimulai dari setelah kolokium (kolokium? baca di sini ya). Hal yang membuat penelitian saya tidak jalan adalah saya terlalu fokus untuk mencari Laboratorium yang bisa menguji kandungan bahan aktif dari daun kayu manis. Bahan utama yang menjadi pokok penelitian saya. 

Pencarian Laboratorium uji yang cocok pun dilakukan, mulai dari Laboratorium Saraswanti Indo Genetech (SIG), Laboratorium IPB yang ada di Taman Kencana, Laboratorium IPB  yang ada di Leuwikopo, berlanjut lagi ke Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Cimanggu Bogor, dan perjuangan ini berakhir pada Labratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jakarta Pusat. Mungkin ini tidak seberapa dengan perjuangan yang kamu alami.


Pencarian laboratorium ini berlangsung selama tiga bulan, belum lagi dengan mood yang naik turun, yang kadang-kadang datang menyerang. Sehingga lengkap sudah satu semester rencana penelitian yang sudah saya tuliskan saat Kolokium, mundur tanpa arah.


Perjuangan saat penelitian ini juga memaksa saya untuk tidak mudik ke kampung halaman, Saya mencoba untuk fokus dengan penelitian yang saat itu masih running, bahkan menariknya lagi, saat itu setelah selesai shalat Idul Fitri, saya ke Kolam Percobaan untuk memberikan pakan ikan penelitian. Hmmm... seperti inilah kebanyakan anak kost yang masih memiliki hewan uji penelitian.


Saat penelitian selesai dan kemudian melakukan uji di Laboratorium Nutrisi Ikan yang ada di Program Studi, saya sempat vakum sebulan penuh tidak bertemu sama sekali dengan dosen.  Alasannya ? Apalagi kalau bukan karena hasil uji tidak sesuai dengan beberapa referensi yang saya baca. Selain itu, badan terasa lelah, terkuras karena harus setiap hari melakukan uji di Lab, bahkan seringnya pulang malam. 


Sampai di suatu waktu Dosen Pembimbing pertama dan kedua menghubungi lewat WhatsApp. "Triana, bagaimana kabarnya.? (Pembimbing pertama). "Triana, bagaimana hasil uji Lab nya ?" (Pembimbing kedua). Pada saat itu, butuh waktu untuk membalas pesan beliau, yang pada intinya saya membalasa dengan "Alhamdulillah baik Bu/Pak, in syaa Allah hari Senin saya akan menghadap untuk menyerahkan hasil uji saya". Padahal pada saat itu hari Kamis, dan saya belum melakukan analisis Anova dengan benar. Alhasil saya harus begadang untuk menyiapkan data-data yang akan saya serahkan kepada dosen Pembimbing. Menarik bukan ? Mungkin benar dengan kata bijak yang sering saya dengar "Tekanan membuat kita berkembang. Ala bisa karena terpaksa" dan ini berlaku pada kasus yang saya alami.


Setelah mengajukan hasil analisis data, ternyata saya harus melakukan uji ulang beberapa data dan bahkan setelah selesai sidang komisi ketiga, saya harus menguji ulang. Selain mengujikan sendiri, ada beberapa parameter uji yang saya ujikan di luar prodi, yang mana hal ini juga sangat menguras kesabaran. Mulai dari menghubungi petugas lab, melakukan proses pengujian (yang mana saya harus ikut, meskipun sudah bayar) dan menunggu hasil uji, yang terkadang lebih menegangkan karena berhasil tidaknya penelitian tergantung pada uji lab ini. 


Dan perjuangan terus berlanjut sampai Ijazah sampai di tangan. (Meskipun belum wisuda, ijazah sudah saya didapatkan:D)


2. Mengabdi
Mendapat kesempatan untuk menyalurkan sedikit pengetahuan dengan mengajar menjadi hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kesempatan langka dan wajib untuk saya coba. Mengajar menjadi salah satu media untuk meningkatkan kapasitas yang saya miliki.


Terbiasa menjadi murid, dan sekarang menjadi mentor, tentu sangat berbeda. Banyak hal yang harus saya pelajari dan banyak hal yang harus saya upayakan ketersediaanya. Ternyata slogan "Longlive Learning " Belajar sepanjang hayat itu menjadi slogan yang baru saya pahami maknanya saat ini. Ternyata setelah kita lulus, banyak hal lainnya yang tidak kita ketahui, sehingga proses belajar itu akan terus berlanjut kapan pun itu. Sehingga hal ini yang menjadikan kita pribadi yang upto date dengan ilmu-ilmu terbaru atau ilmu lainnya yang ingin kita pelajari.


Dapat mengabdi, belajar bersama, menjadi hal yang sangat saya syukuri.

3. Keluarga Sehat
Saat melakukan perjalanan ke Thailand beberapa tahun lalu. Ada hal yang sangat saya sesalkan, yaitu saat di mana saya kehilangan kakek yang saya cintai dan hal itu dua hari menjelang hari raya Idul Fitri. Menangis pun  di negeri orang. Mau menjelaskan pun, saya tidak bergitu paham dengan bahasa mereka. Mau menghubungi orang rumah tidak bisa, karena provider yang saya gunakan saat itu tidak sedang trouble sehinga tidak ada sinyal sama sekali.


Pada saat itu, handphone yang saya miliki juga tidak compatible dengan Skipe dan  WhatsApp pun saya belum menggunakan aplikasi ini. Alhasil saat lebaran tahun itu, menjadi lebaran tersepi yang pernah saya rasakan. Sejak saat itu, saya berazam, jika nantinya saya mendapatkan pekerjaan, saya ingin lokasinya tidak jauh dengan keluarga, sehingga bisa dengan mudah pulang ketika ada keluarga yang sakit. Qodarullah saat ini Allah memberikan kesempatan untuk mengajar, yang jarak tempat kerja hanya dua jam dari rumah. (Jadi anak kost lagi :D)


Pada saat covid seperti saat ini, keadaan keluarga yang sehat menjadi hal yang sangat saya syukuri. Kamu mungkin tahu bagaimana rasanya ketika di tanah rantau ternyata ada orang tua atau saudara yang sakit. Pasti ada rasa ingin sekali untuk pulang pada saat itu juga, dan serta merta meninggalkan pekerjaan, kuliah atau bahkan penelitian yang saat itu masih proses tentu saja tidak mungkin. Sehat sakitnya keluarga menjadi salah satu faktor yang membuat semangat saya menjadi tinggi dan rendah. 


Tentu masih banyak hal yang saya syukuri selama tahun 2020 ini, sangat banyak sekali. Namun ketiga hal di atas menjadi hal terbesar yang bisa saya tuliskan dalam artikel ini. 


Mungkin tahun ini kita banyak kehilangan orang-orang terkasih akibat dampak dari Pandemi atau karena hal lainnya. Ada tangis, duka lara dan manis yang kita rasakan. Semua hal tersebut menjadi bagian dari episode kehidupan setiap orang, dan setiap orang memiliki kisah kehidupan yang berbeda. 


Semoga Allah kuatkan langkah-langkah kaki kita untuk menapaki kisah perjuangan yang lebih baik lagi di tahun 2021 dan semoga tahun depan menjadi tahun kebangkitan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


Terima kasih untuk pembaca setia artikel yang saya tulis. Masih banyak kekurangan yang saya miliki. Masih banyak hal yang harus saya tingkatkan lagi. Semoga ada karya lain yang bisa saya terbitkan di tahun 2021 nanti. Byee... Sampai jumpa tahun depan. Insya Allah.

1 comment:

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon