Lauk Kiriman Ibu

Malam semakin larut, kelip lampu kampus tentu saja sudah menyala menerangi. Hari ini terasa berat. Sudah sebulan lamanya saya melakukan Uji Proksimat (Protein, Lemak, Karbohidrat, Kadar Serat dan Kadar Air) untuk pakan dan daging ikan nila. Dua bahan penting yang saya gunakan saat penelitian. Namun, Uji di laboratorium sepertinya tak kunjung usai. Melakukan prosedur pengujian lagi, lagi dan lagi sampai data yang diperoleh sesuai. Bahkan hal ini masih berlanjut meskipun saya sudah selesai melakukan seminar hasil dan menuju sidkom ke-3 (baca ceritanya di sini)


Idul Fitri tahun 2019, saya memutuskan untuk tidak mudik ke kampung halaman. Alasan utama apalagi kalau bukan menyelesaikan penelitian yang tidak bisa ditinggalkan. Pun bisa ditinggalkan, tetap saja hati tidak tenang meninggalkan ikan penelitian yang sewaktu-waktu mengalami kendala yang tidak diinginkan.

Semoga Lelahmu Beroleh Surga Firdaus Ibu  (Pic Kompasiana.com)

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri tahun 1440 H dilakukan di halaman rektorat Kampus IPB University. Ternyata jama'ah dari kelompok mahasiswa banyak sekali yang tidak pulang, beberapa diantaranya teman satu kelas yang saya kenal. Usai shalat, Video Call keluarga di rumah wajib dilakukan. Ada mata sembab karena tak bisa menahan rindu, ada suara lirih tangis tak terucap, hanya tergugu mendengarkan suara dari seberang telpon. Namun, begitulah perjuangan harus ada bagian lain yang dikorbankan.


Momen Idul Fitri jauh dari keluarga ini, memang bukan momen yang pertama kali bagi saya. Pertama kalinya saya rasakan saat berada di Negeri Gajah Putih. Namun, tetap saja, waktu istimewa bagi Umat Muslim ini, tidak afdhol rasanya jika tidak dirasakan bersama keluarga.


Salah satu hal yang sangat dirindukan ketika mudik ke kampung halaman adalah masakan ibu. Rasa masakan yang menurut saya spesial, menjadi hal yang sangat saya rindukan sebagai anak  rantau. Bahkan terkadang saat masih perjalanan menuju kampung halaman (belum sampai rumah), saya sering pesan makanan kesukaan, masakan kenangan yang menemani kehidupan selama masa sekolah.


Berhubung lebaran Idul Fitri tahun itu saya tidak pulang. Ada momen kebersamaan dengan orang tua, sanak saudara atau bahkan dengan tetangga di kampung halaman terlewatkan. Iya termasuk  dengan tetangga di desa tempat saya tinggal yang hanya berjumlah 80 kepala keluarga, tentu rasa kekeluargaan kental terasa.


Lauk kiriman ibu menjadi pengobat rindu. Memang sebenarnya saya bisa memasak sendiri untuk lauk yang dikirimkan, namun tetap saja ada yang berbeda jika dimasakkan oleh ibu. Selain rasa masakan tentu saja rasa rindu menikmati masakan tersebut. Seorang teman yang berasal dari Kendari yang sama-sama tidak pulang, bahkan meminta kiriman Ikan asin khas daerah tersebut. Sederhana bukan, namun dapat mengobati sedikit rasa rindu yang terpendam.


Hari ibu tahun ini, mungkin ada hal berbeda dari biasanya. Ada yang masih tinggal jauh dari keluarga dan bahkan mungkin berpisah selamanya di dunia ini untuk sementara. Teriring doa semoga Allah memberikan tempat kembali terbaik untuk beliau dan untukmu semoga Allah  memberikan kesabaran dan kekuatan untuk menapaki episode perjalanan selanjutnya. Untuk kamu yang saat ini masih bersama dengan orang tua. Mari, kita sayangi keduanya. Dua orang yang telah berjuang tanpa lelah mendukung, mengasihi dan menyayangi kita tanpa pamrih dan tulus apa adanya. Sosok yang selalu ada untuk kita saat bahagia atau duka lara melanda.


Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2020. Untuk Ibuku, nenekku dan ibu-ibu hebat lainnya di luar sana, terima kasih untuk perjuangan hebat yang telah engkau lakukan untuk kami. Semoga ada waktu dan kemampuan untuk bisa membahagiakanmu. I Love You Mom.

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon