2. Merantau Bagian 2

 Aku melihat sekilas jam tangan warna silver yang secara resmi aku kenakan sejak pagi tadi. Sebenarnya aku, tidak biasa memakai jam tangan, karena bekas jam akan terasa gatal, tidak ada alasan lain, namun karena ini hadiah pemberian orang tua saat aku berulang tahun yang ke-17, aku sengaja memakainya. Agar perasaanku tenang, seakan-akan mereka menemaniku saat bepergian ini.  

 

Jam menunjukkan pukul 12. 45. Waktu shalat dhuhur sudah lewat sejak lama tadi. Ku tengok kanan-kiri mencoba mencari mushola terdekat. Tampak, sebuah mushola dengan banyak orang yang sedang tidur-tiduran atau sekadar duduk, terlihat di depannya. Beberapa di antaranya terlihat mengambil air wudhu.


"Lin, ayo sholat dulu ya. Sekalian di jamak nanti, sepertinya kita nanti sampai di Malang sore, ngga kekejar waktu sholat ashar." Lina hanya mengangguk "Kamu bisa sholat jamak?" Ia berusaha memastikan



"Bisa, tadi belajar dari Youtube. " Kataku sampil tersenyum tanpa rasa bersalah." Nanti kita sholat berjamaah ya. Barang bawaan kita taruh di depan, biar aman." Imbuhku dengan pedenya, seperti sudah hafal sekali bagaimana tata cara sholat jamak yang baru beberapa menit tadi aku pelajari.


Mushola berwarna toska-putih yang terletak di pojok terminal Bungurasih Surabaya itu ramai, penumpang, penjual makanan, orang yang meminta-minta, petugas terminal terlihat diantaranya. Mungkin, mushola itu tidak pernah sepi, karena aktivitas hilir mudik penumpang antar kota besar yang memang banyak dilakukan di terminal sanggat tinggi. Tak pernah lengang walau sebentar.


"Cang ci men... cang ci men, kacang kwaci permennya mba." Dengan suara lantangnya seorang penjual asongan berusaha menawarkan barang dagangan mereka.
"Tahu..Tahu, manisan mangga, air minum dinginnya mas." Penjual lainnya tidak mau kalah.
"Mau beli minum dengan camilan ngga Ka?" Lina menyoba menawarkan saat aku sedang merapikan jilbab yang aku kenakan.
"Titip air putih satu sama manisan mangga satu ya." Kataku tanpa menoleh, sibuk memasukkan mukena yang selesai aku pakai untuk sholat tadi ke dalam tas, kemudian menyodorkan uang sepuluh ribu.
"Oke." Jawabnya sambil berlalu, berlari kecil.


Ku sandarkan punggungku pada dinding masjid. Aku pejamkan mataku sebentar.  Banyangan apa yang sudah aku alami akhir-akhir ini berkelebat. Berputar seperti film tanpa jeda. Mulai dari kehilangan orang tua, belajar mejadi kepala keluarga, membayar hutang-hutang keluarga, dan meninggalkan Sheila yang baru berumur tiga belas tahun untuk hidup mandiri di rumah.


Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku bisa menjadi kakak yang baik? Apakah aku bisa menjadi kakak yang dibanggakan Sheila? Apakah aku bisa menyekolahkan adik ku sampai ke bangku kuliah?. Dadaku sesak, air mataku mengalir, menetes mengenai tanganku. Segera aku menyeka air mataku dengan ujung kerudung yang aku kenakan, malu bila dilihat orang. 


Masih ingat dengan jelas, tangis haru bapak ibu, saat aku lolos SNMPTN diterima di sebuah kampus negeri di Bandung. Sebuah kampus bergengsi tempat orang-orang hebat menimba ilmu di sana. Ibu memelukku dengan erat. Kulihat mata bapak berembun, Ia kemudian dengan pelan menepuk pundakku. 


"Ya Allah gusti. Alhamdulillah. Selamat ya nduk. Semoga kamu bisa menjadi orang yang hebat seperti mereka. Bisa memberi manfaat yang banyak untuk kebaikan manusia, terutama bagi orang-orang di desa kecil kita." Suara bapak terdengar pelan, tercekat oleh sesuatu yang menggumpal di tenggorokan.


"Bapak Ibu bangga, bagaimana mungkin anak seorang petani yang tidak lulus SD seperti kami, bisa kuliah di kampus besar tempat wakil presiden itu nduk. Tentu kami sangat sangat bangga" Ibu menambahkan, dengan pelukannya yang semakin erat.
Aku hanya mengangguk pelan. Tidak tahu bagaimana harus berekspresi.


Keesokan harinya, rumah kami ramai dengan hajatan, selamatan sebagai bentuk rasa syukur atas kelulusanku diterima di kampus itu. Ibu membagikan nasi dan kue kepada para tetangga serta pengajian dilakukan sebelum acara hajatan dimulai. Dan sejak saat itu, banyak sekali tetangga yang mengucapkan selamat ketika aku tidak sengaja berpapasan di jalan atau ketika aku menyapu halaman depan rumah. Benar saja, jumlah warga di desa ku yang hanya lima puluh kepala keluarga tentu membuat berita ini cepat tersebar.


Ironi, sungguh begitulah kehidupan, dengan misterinya yang tidak pernah bisa dibayangkan. Dua bulan kemudian, seperti hari biasanya, selepas shalat subuh bapak mengantarkan ibu ke pasar untuk berjualan. Saat itu sendang pasaran Minggu Pon, hari pasaran di mana ramainya para penjual dan pembeli berdatangan. Tidak heran, kali ini ibu membawa dua buah keranjang besar berisi jajanan pasar dan sebuah tas kresek berisi daun jati untuk membungkus makanan itu. Satu keranjang ibu letakkan di pangkuan, sedangkan keranjang lainnya ditaruh di motor bagian depan, sementara tas kresek ibu jinjing di samping motor. Setelah mengantarkan ibu, bapak biasanya akan langsung pulang untuk kemudian pergi ke sawah. 


Namun, saat itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh seharusnya bapak sudah sampai di rumah sejak jam setengah enam lalu. Perasaanku tidak enak, namun aku abaikan, budhe Sri, tetangga samping rumah tiba-tiba memelukku ketika aku sedang menjemur pakaian di depan rumah.


"Ya Allah nduk... ya Allah nduk... yang sabar ya nak... " bude Sri teman ibu ku berjualan di pasar,  memelukku dengan erat, dengan  matanya yang  memerah karena menangis. Aku terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
"Kenapa bude?" tanyaku penasaran
"Ya Allah nduk...." Kata-katanya terhenti.
Sekejap kemudian, tetangga yang lain pun berdatangan.
"Ka, yang sabar ya nduk." ku alihkan pandanganku ke orang-orang yang tiba-tiba berkerumun di dekatku, mereka secara serempak juga menangis. Aku yang masih tidak tahu apa yang terjadi, di ajak bude Sri masuk ke dalam rumah, didudukkan di sebuah kursi kayu yang ada di ruang tamu.
"Ka..." Sunyi senyap. Hanya isak tangis sebagian orang terdengar. "Ibu bapak, kecelakaan. Saat ini kondisinya sedang kritis di rumah sakit. Sebuah truk menabrak mereka di tanjakan jalan Selo. Sopir dan keneknya bilang kalau mereka tidak melihat motor bapak melaju, karena tidak ada sorot lampu dari motornya. Sehingga bapak ibu tertabrak terpental menabrak pembatas jalan." Budhe Sri menjelaskan perlahan.


Tiba-tiba tirai pembatas ruang tengah terbuka. "Mba, kenapa ramai sekali?" Sheila yang baru bangun tidur dengan rambut yang masih acak-acakan dan mata sedikit merah,  telihat kebingungan mendapati banyaknya orang di rumah. Belum sempat aku menjawab, speaker masjid berbunyi . "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah meningal dunia bapak Satrio dan ibu Sukma pagi ini di rumah sakit. Jenazah akan disemayamkan siang ini di pemakanan Kenanga, setelah sholat dhuhur. Bagi bapak-ibu yang tidak berhalangan, bisa membantu kelancaran pemakaman di rumah duka."


Begitu mendengar pengumuman tersebut, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Sheila yang mulai sadar apa yang terjadi berlari kearahku, memelukku, menangis tidak kalah histerisnya. 


"Mbaa, bapak ibu mba... " tangis Sheila pecah. " Mba, kita sekarang sendirian mba."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya tangis yang semakin kencang. Tetangga yang lain mencoba menengkanku. Suara sirene ambulan tiba-tiba terdengar semakin dekat, jenazah bapak ibu tiba di rumah. Pandanganku tiba-tiba gelap, aku tak sadarkan diri.


Sayup-sayup terdengar alunan surat Yasin dibacakan. Mataku masih terpejam. Mencoba memastikan bahwa yang baru aku alami hanya mimpi belaka. Pelan, perlahan aku membuka mata, demi melihat Sheila memeluk jenazah bapak ibu, aku tersadar bahwa inilah kenyataaan pahit yang memang sedang terjadi.\


Tiba-tiba lamunanku terusik oleh sentuhan air minum dingin yang sengaja Lina tempelkan di tanganku. Kusipitkan mata ku berpura-pura baru bangun tidur, agar Lina mengira bahwa mataku yang merah bukan karena menangis tetapi karena tertidur.


"Yuk cari bus yang ke arah Malang." Ajak ku kemudian setelah selesai meneguk air minum yang baru Lina beli.


"Sebentar, aku mau makan tahu dulu." Kata Lina sambil memasukkan tahu dan menggigit cabe ke dalam mulutnya. "Mau, ngga?" Ia mencoba menyodorkan tahu goreng yang sedang Ia pegang.


"Nanti saja sekalian di bus." 


"Ya sudah kalau begitu." Ia masih melanjutkan menggigit tahu goreng yang tadi Ia beli.
"Malang.. Malang.. yang mau ke Malang." Seorang kenek bus mencoba mencari penumpang.

 "Ayo Malang mba mas. Bus Ac, tarif normal." Ia mencoba meyakinkan.


"Ayo, Ka." Lina kini sudah siap dengan tas ransel yang sudah menempal di punggungnya. Aku menangguk, kemudian kami berlari kecil bersama menuju bus yang kami tuju.


"Alhamdulillah dapat tempat duduk. Kita bisa tidur Lin." Aku tersenyum. Lina hanya mengacungkan jempolnya.


Sepuluh menit berlalu, kursi bus yang kosong sudah terisi dengan para penumpang. Bus kemudian melaju perlahan, meninggalkan terminal Bungurasih.


"Mba, berangkat. Do'a kan mba ya." Icon hati aku tambahkan kemudian aku tekan tombol send. "Bapak ibu, do'akan Soka ya." Kata ku lirih, kemudian mataku terpejam. 


Baca Merantau Bagian 1 di sini

This Is The Newest Post

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon