1. Merantau Bagian 1

Pengap, sesak berjejal. Bau asap rokok bercampur dengan keringat, menyeruak menusuk hidung, memberikan aroma yang membuat perut ku mual. Wajah-wajah layu dengan mata setengah terpejam terlihat di sebagian penumpang yang mendapatkan tempat duduk, sebagian lainnya berdiri berdesakan hingga tidak ada celah di koridor bus yang kami tumpangi.



“Terminal Bungurasih... Bungurasih, masih ada yang kosong.” Suara kenek bus terdengar nyaring


“Ayo mba, ibu, masih ada yang kosong.” Sekali lagi Ia mencoba meyakinkan para pejalan yang lewat.

“Sudah penuh pak sopir, ayo berangkat. Ini sudah menunggu dari tadi. Sudah tidak ada tempat lagi.” Seorang ibu-ibu terdengar tidak sabaran karena harus menunggu dalam waktu yang sangat lama hingga bus berangkat.

“Berangkat Pir,” Penumpang yang lain ikut menambahkan.

Benar saja, kata ku dalam hati. Aku sudah di dalam bus ini sekitar setengah jam lalu, dan tidak mendapatkan tempat duduk. Apalagi penumpang lainnya yang sudah sejak tadi menunggu. Tentu sudah sangat kesal sekali.

Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya bus melaju perlahan. Sebuah lagu lawas “Stasiun Balapan” karya almarhum Didi Kempot di putar. Mengalun, membuai  para penumpang yang terlelap dan yang lainnya terkantuk-kantuk dengan tetap terjaga mengapit barang bawaan mereka.

Ini kali pertama aku merantau ke tempat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Berpegian bersama dengan seorang teman yang berasal dari desa yang sama. Kami mencoba merantau, mencari peruntungan nasib yang lebih baik. Kota Malang menjadi tujuan kami.

Sejak lulus SMA dua bulan lalu, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Meskipun sebelumnya aku sudah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan, namun kecelakaan yang mengakibatkan meninggalnya kedua orang tua ku, membuat langkah ku berhenti sementara.

Uang tabungan yang tidak seberapa yang kami miliki, aku gunakan untuk menutup hutang keluarga, dan sisanya untuk biaya sekolah adikku yang mulai masuk sekolah menengah atas. Kini posisiku telah berubah menjadi kepala keluarga, mau tidak mau aku harus bisa menghidupi dan menyekolahkan adik semata wayang, satu-satunya keluarnya yang aku miliki.

Setelah ijazah SMA keluar aku memutuskan untuk bekerja di Malang, menjadi pembantu rumah tangga. Tidak mengapa, bagiku selama itu halal akan aku lakukan apapun untuk bisa memenuhi kebutuhan adikku. Kini tanggungjawabku semakin besar. Tidak ada lagi ego untuk diri sendiri.

“Bungurasih.. Bungurasih.. terminal terakhir. ...Bapak, Ibu mohon diperiksa kembali barang bawaanya. Hati-hati banyak copet” Suara kencang kenek membuyarkan lamunanku.

“Lin..Lina... bangun, mau sampai.” Kataku sampil menepuk punggu Lina perlahan, yang terlelap sejak tadi saat Ia mendapat kesempatan untuk duduk, saat ada penumpang yang turun di Romokalisari.  "Ayo siap-siap, hati-hati barang bawaan."  Kata ku menambahkan. 


 

Bersambung Merantau Bagian 2


Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon