Rekreasi Di Tengah Polusi

Tags

Polusi, hasil lain dari kemajuan teknologi yang tidak dapat terelakan lagi. Jika tidak ditangani dengan baik, tumbuhan, hewan, bahkan manusia akan terkena dampak yang tak terkira. 


Jika kamu pernah pergi ke kota Gresik, pasti tidak asing lagi jika melihat deretan pabrik di sepanjang jalan pantura, meskipun sebagian banyak juga yang masuk ke wilayah-wilayah yang tidak terlihat dari jalan utama. Menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2015, jumlah pabrik yang ada di kota Gresik mencapai 603 perusahaan dengan serapan tenaga kerja mencapai 93.942 orang. 

Semoga kelak ada kebaikan yang bisa kita berikan untuk sesama

Selain menjadi kota tujuan bagi para pekerja, keberadaan pabrik-pabrik ini akan sangat terasa jika kita berada di lokasi utama pabrik-pabrik besar beroperasi. Misalnya pabrik pupuk, semen, mie instan dan lain sebagainya. Aroma dari emisi yang dikeluarkan oleh pabrik sangat terasa. Bahkan dengan cerobong asap yang tinggi menjulang tampak mengepul dengan gagahnya mengeluarkan emisi CO2 yang sejak lama menjadi persoalan pelik yang harus diatasi.


Dulu, saya tidak tahu mengapa perusahaan besar memiliki area hijau di wilayah perusahaan mereka. Saya dengan sederhana berfikir bahwa area hijau bisa digunakan masyarakat untuk berolahraga dan melakukan aktivitas alam lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai paham jika fungsi dari area hijau di perusahaan mereka tidak hanya untuk sekedar area rekreasi saja.


Pepohonan yang di tanam di area pabrik, menjadi 'tokoh utama' dalam menyerap polusi dalam bentuk gas dan menjerap polutan dalam bentuk debu yang dihasilkan oleh pabrik. Jadi tidak heran jika kita menemukan banyaknya pepohonan besar di sekitar pabrik. Duduk di bawah atau berada di area pepohonan ini tentu sejuk, namun berbeda halnya dengan di perkampungan yang letaknya tidak jauh dari pabrik.

Bagaimana rasanya hidup di lokasi seperti ini?

Aroma menyengat dari asap pabrik sangat terasa, bahkan mata terasa perih saat saya bersama dengan teman-teman mengadakan wawancara dengan para nelayan. Ada area pohon mangrove, area wisata geladak Balai Keling yang biasanya digunakan warga untuk berwisata,  dan pelabuhan  meskipun tidak benar-benar berwisata karena ditemani dengan polusi udara, polusi air dan polusi suara.


Dibandingkan mangrove yang terdapat di Banyuurip Mangrove Center dan mangrove di Kali Mireng, jumlah mangrove yang terdapat di wilayah ini jauh lebih sedikit, padahal jumlah pabrik besar banyak terdapat di area pemukiman warga. Jumlah vegetasi yang tidak memadai tentu mengakibatkan efek yang secara langsung mempengaruhi kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar pabrik. Selain itu, keberadaan biota perairan terutama ikan yang  menjadi komoditas utama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar juga sangat sulit didapatkan.


Banyaknya pabrik yang beroperasi di wilayah ini, menjadikan nelayan harus menangkap ikan jauh dari pelabuhan tempat perahu mereka bersandar. Alasannya apalagi kalau bukan karena pencemaran yang mengakibatkan biota air khususnya ikan konsumsi tidak dapat tumbuh optimal di wilayah tersebut. Selain itu, terkadang jika mereka bertemu dengan para nelayan dari wilayah Madura, mereka diancam dengan celurit, karena dianggap mengambil ikan di wilayah mereka. Padahal toh masih satu wilayah Indonesia menurut saya. Namun, memang begitulah yang terjadi.

Sedikit oase di tengah polusi

Baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 1-12 November 2021 telah diadakan CPO26 (Conference of the Parties) yang ke-26 berlokasi di Glasgow, Skotlandia,  Inggris Raya. Merupakan pertemuan yang membahas perubahan iklim sebagai isu utama. Jargon yang diambil dari pertemuan ini adalah Net Zero Emission/NZE emisi nol bersih pada tahun 2050. 


Sejak Revolusi Industri pada tahun 1760 sampai tahun 2020 pemanasan global telah meningkat sebanyak 1.3°C. Jumlah yang tampak tidak signifikan, namun menimbulkan bencana alam nan menakutkan. Dalam tayangan film dokumenter dalam channel The Economist bencana alam yang besar akan dihadapi manusia ketika pemanasan global naik menjadi 3°C.

Para nelayan yang mulai merapat


Pada saat ini, kenaikan 1.3°C mengakibatkan banyak bencana seperti kekeringan, naiknya permukaan laut yang mengakibatkan banyaknya wilayah tenggelam, mencairnya es di kutub, gelombang panas (heat wave), banjir, kebakaran hutan dan dampak buruk lainnya. Apatah lagi nanti ketika pemanasan global naik menjadi 3°C, bencana apalagi yang akan manusia hadapi?


Apakah Net Zero Emission akan benar-benar tercapai atau hanya janji kosong yang tidak berarti?

 
#PrayforSemeru. Teruntuk saudara kita yang terkena dampak akibat letusan gunung Semeru, semoga Allah SWT  memberikan kekuatan, kesabaran, kesembuhan dan keikhlasan bagi keluarga yang ditinggalkan.


Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon