Selain Pasir Putih, Ada BPBAP di Situbondo

Pagi dini hari, pukul 00.30 WIB jalan raya terlihat lengang. Satu dua kendaraan masih terlihat melewati, yang kemungkinan besar mereka baru pulang atau berangkat bekerja. Perjalanan kali ini akan memakan waktu sekitar 3-4 jam atau lebih. Sehingga sebagai antisipasi kemacetan dan lainnya, kami memutuskan untuk berangkat dini hari sehingga agenda yang dijadwalkan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo menjadi destinasi tujuan.

Bersama sebagian peserta yang mengikuti kunjungan

Namun, keberangkatan perjalanan ini terlambat, yang seharusnya berangkat pukul 01.00 menjadi 02.30 WIB. Alasannya? Adanya miskomunikasi antara panitia dan sopir. Menurut pak sopir, keberangkatan dilakukan pada hari Senin malam bukan Ahad malam, padahal sudah diingatkan pada siang harinya. Alhasil, ketika panitia menelepon pada jam 01.00, mereka (sopir dan kenek) baru sadar dan tentu saja langsung bersiap-siap. Selain itu, pak sopir juga baru datang dari perjalanan Wali Limo, sehingga butuh waktu juga untuk bersiap.


Perjalanan di malam hari tentu berbeda dengan siang hari. Selain suasana lengang jalan raya, atmosfer di dalam bus juga berbeda. Bertepatan dengan jam-jam tidur, seharusnya mata bisa terpejam. Namun, karena keramaian di dalam bus, suasana yang baru, serta tenaga yang masih 'on' karena beraktivitas, membuat waktu tidur terlewatkan. Setelah subuh, barulah kantuk menyerang.

Sortasi induk kerapu di kolam beton

Alhamdulillah perjalanan lancar. Menurut rundown acara kami diharuskan sampai di BPBAP SItubondo pada pukul 08.00 (mengikuti apel pagi di sana). Selumnya sampai di BPAP, kami berhenti sebentar untuk bersih diri di salah satu SPBU di Situbondo, yang menurut saya sejauh ini menjadi satu-satunya SPBU yang luas dan cantik. Di lokasi ini, terdapat pusat perbelanjaan untuk baju dan oleh-oleh khas Situbondo, penginapan, mushola dan kamar mandi yang jumlahnya lebih dari lima belas (ada dua lokasi kamar mandi yang berbeda dengan jumlah yang banyak). Pada saat kami sampai di sana, tampak beberapa petugas kebersihan (4 sd 5 orang) sedang mengepel area depan toilet (area yang luas yang dibersihkan oleh beberapa  petugas).


Kembali ke topik utama tulisan ini, BPBAP Situbondo.
Ini kali kedua saya menginjakkan kaki di BBAP. Sebelumnya, saat saya masih menjadi mahasiswa baru. Jarak yang lama dari kunjungan awal, membuat saya sedikit lupa jalan masuk menuju lokasi ini. Namun setelah sampai di pintu utama, barulah kenangan lama itu hadir.

Bak pembesaran benih, warna hijau akibat pakan alami

Sesuai dengan namanya, balai ini berkonsentrasi dalam pengembangan komoditas air payau. Komoditas yang menjadi unggulan adalah ikan kerapu, yang harganya bisa mencapai 600ribu perkg-nya bisa lebih atau kurang tergantung dari jenis kerapu yang dijual. Salah satu jenis kerapu yang menjadi primadona di lokasi ini adalah kerapu cantang. Selain jenis tersebut, balai ini juga mengembangkan kerapu hydrid lainnya seperti kerapu sunu, tikus, batik, kertang, yang merupakan hasil perkawinan silang.


Balai ini beroperasi sejak tahun 1995 yang memiliki berbagai kegiatan seperti menyediakan benih udang/ikan, melakukan pendampingan kepada masyarakat, produksi pakan alami, produksi pakan buatan, pemantauan kesehatan ikan dan lingkungan, penyebaran informasi, pelayaan pengujian laboratorium, kultur jaringan rumput laut dan lain sebagainya.

Tambak Milenial

Begitu tiba di balai, kami diarahkan oleh petugas menuju auditorium. Di lokasi ini diadakan pembukaan dan pemberian materi oleh petugas balai, materi yang diberikan seputar BPBAP Situbondo, pembenihan dan tambak milenial setelah itu kami diarahkan ke beberapa kegiatan yang ada di sana.
Unit yang kami tuju pertama kali adalah unit pemeliharaan benih. Ada beberapa bak beton berbentuk persegi panjang dengan air berwarna hijau yang mengandung pakan alami (e.g chlorella sp). Setelah itu, kami diarahkan ke unit pembesaran induk. Induk dipelihara pada bak beton berkuran super besar, yang akan sangat sulit kita jumpai pada unit pemeliharaan di luar balai.


Saat kami berkunjung, bertepatan dengan pemilihan (perkawinan ikan) induk kerapu untuk dipijahkan. Kami bisa menyaksikan para petugas dan anak magang sedang memilih induk kerapu. Induk kemudian ditimbang (berat induk perekor sekitar 7 kg), induk kemudian dibius pada air yang diberi larutan ethylene glycol. Agar ikan siap untuk memijah, petugas menyuntikkan Ovaprim. Ovaprim merupakan hormon yang berfungsi untuk merangsang dan memacu hormon gonadothropin pada tubuh ikan sehingga dapat mempercepat ovulasi dan pemijahan. 

Bagian belakang balai yang berbatasan dengan laut

Di lokasi balai yang utama ini, kami juga berkunjung ke tambak budidaya udang vannamei. Beberapa tambak digunakan untuk budidaya udang, tambak lainnya tidak diisi dan sebuah tambak yang digunakan untuk budidaya bandeng. Area budidaya ini tidak seluas area untuk ikan kerapu.


Setelah selesai ishoma, kami diajak petugas untuk mengunjungi kolam milenial yang letaknya sekitar 3km dari lokasi balai yang utama. Sesuai dengan namanya 'kolam milenial', kolam ini dilengkapi dengan pemberi pakan ikan otomatis, namun ketika kami berkunjung alat tersebut tidak digunakan karena proses perawatan. Di lokasi ini terdapat lebih dari 10 kolam berbentuk bulat yang terbuat dari besi dan terpal. 


BPBAP Situbondo terletak di Jl. Raya Pecaron KM.5 Desa Klatakan, Kecamatan Kendir, Kabupaten Situbundo. Jika kamu berminat untuk melaksanakan penelitian, magang atau PKL, Kamu bisa datang ke Balai ini. Ketersediaan laboratorium dan hewan uji yang memadai serta bentang alam yang indah menjadikan lokasi ini patut kamu jadikan destinasi tujuan.

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon