Perubahan Iklim: Polusi Tak Tereksekusi, Lara untuk Negeri

Buangan emisi mengudara, polusi merajalela. Tak ubahnya kita disodorkan dengan racun setiap harinya. Hidup  di kota Industri tentu berbeda dengan kehidupan di desa. Area hijau dan gemerlap langit malam oleh bintang menjadi hal langka. Hidup di desa dengan mudahnya kita bisa menghirup udara segar, suasana alam dengan tanaman hijau menyejukkan mata dan lainnya. Saat di kota besar, langit bahkan berkabut, tak tampak keindahannya karena terhalang polusi asap yang mengepul dari cerobong udara.

Salah satu penyuplai emisi di Gresik

Dunia kini semakin panas, tidak lagi hangat. Ketika berada di luar rumah, pukul 9 pagi udara sudah terasa menyengat. Apatah lagi bagi mereka yang bekerja di tempat terbuka setiap hari, yang punggungnya harus terpanggang dengan terik panas matahari. Namun, apa daya; jika tidak bekerja tidak ada sesuap nasi yang bisa dinikmati. Apalagi bulan puasa seperti saat ini, betapa berat perjuangan yang mereka lalui dari sekedar bertahan untuk tidak berhenti.


Saat ini, perubahan iklim sangat terasa, terasa 'sumuk' meskipun malam hari. Khususnya jika kamu anak kost yang tinggal di Gresik Kota, kamu pasti bisa merasakan bagaimana hidup beberapa menit saja tanpa kipas angin. Saat malam hari pun jika tidak tersedia kipas, maka bermandikan peluh menjadi hasilnya. Iklim yang tidak bersahabat ini merupakan pengaruh dari bumi yang kian memanas akibat dari Greenhouse Gases. 


Apa itu Greenhouse gases?
Greenhouse gases atau efek rumah kaca merupakan suatu fenomena di mana sinar matahari (infrared) sebagian dipantulkan kembali dan sebagian terjebak di atmosfer bumi sehingga menyebabkan suhu bumi menjadi hangat. Gas-gas yang ada di atmosfer yang mampu menangkap sinar matahari adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), freon (SF6, HFC dan PFC), nitrogen oksida (N2O) dan  zat lainnya. Gas-gas inilah yang disebut dengan gas rumah kaca.


Gas rumah kaca dalam jumlah normal sebenarnya bagus untuk bumi, karena bumi menjadi hangat tidak beku karena tidak adanya gas rumah kaca. Namun, akibat perkembangan teknologi yang semakin maju, hal ini mengakibatkan jumlah emisi buangan gas rumah kaca di bumi semakin tinggi, sehingga sinar matahari (infrared) yang ditangkap semakin tinggi pula. Maka tidak heran jika saat ini global warming sudah semakin terasa.


Apa penyebab dari Gas Rumah Kaca (GRK)?
Sejak pertengahan tahun 1800, para ilmuwan mengetahui bahwa karbondioksida merupakan gas yang mempengaruhi keseimbangan di bumi. Pengukuran karbondioksida di atmosfir dan di udara yang terperangkap di es, menunjukkan adanya pingakatan karbondioksida sebesar 40% dari tahun 1800 sampai tahun 2019.


Peningkatan karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya merupakan akibat dari berbagai aktivitas manusia. Menurut Pratama (2019) aktivitas manusia yang mempengaruhi peningkatan gas rumah kaca, antara lain:


1. Peternakan dan Pertanian
GRK pada sektor ini di hasilkan dari pembusukan kotoran ternak dan pembusukan sisa-sisa pertanian dan penggunaan pupuk. Gas yang paling tinggi di hasilkan sektor ini adalah gas metana.

Sumber GRK dari aktivitas manusia (sumber: ipa.pelajaran.co.id)

2. Sampah
Sampah plastik memerlukan waktu yang lama untuk terurai, mulai dari 10 sampai 500 tahun atau bisa juga lebih. Maka, untuk mengurangi jumlah sampah yang terus menumpuk setiap harinya, masyarakat melakukan pembakaran sampah. Cara ini dinilai paling cepat untuk mengatasi permasalahan sampah, namun ternyata menimbulkan permasalahan baru yang lebih serius.


Pengelolaan sampah memberikan kontribusi 4% dari  GRK dunia. Pembakaran sampah secara terbuka dapat memberikan dampak yang cukup besar bagi lingkungan. Dari pembakaran ini beberapa gas dihasilkan seperti nitrogen oksida, gas metana, karbon dioksida yang merupakan gas utama yang menjadi penyumbang GRK.


3. Pemanfaatan Energi
Penggunaan Bahan Bakar Minyak, fosil dan gas bumi lainnya menjadi penyumbang GRK. Aktivitas manusia yang banyak menyumbang gas adalah asap dari pabrik, pesawat, kendaraan bermotor, dan pembangkit tenaga listik.


4. Kehutanan
Pembakaran dan penggundulan hutan menjadi penyebab meningkatnya GRK. Hutan merupakan tempar dimana terjadi penyerapan karbon dioksida saat fotosintensis. Ketiadaan hutan akibat perluasan lahan, menyebabkan tidak adanya pepohonan yang berperan dalam penyerapan GRK. Udara menjadi tercemar dan panas matahari semakin terik menyengat.


Apa Efek dari Gas Rumah Kaca?

Semakin memanasnya bumi, semakin tinggi efek yang diakibatkan. Berikut diataranya:
1. Iklim yang tidak menentu

Musim hujan dan musim kemarau menjadi ciri khas dari negara tropis seperti Indonesia. Musim hujan di beberapa kota di Indonesia bagian selatan meningkat, sementara itu di bagian utara kekeringan akibat musim kemarau juga semakin tinggi. Di desa saya yang biasanya jarang sekali mengalami kekurangan air saat musim kemarau, kami mengalami hal itu. Jumlah debit air sumur berkurang drastis, sehingga mau tidak mau kami harus berhemat. Udara pun semakin panas menyengat. Bahkan, bagi para petani yang bekerja di ladang atau sawah mereka harus kembali ke rumah sebelum dhuzur tiba, padahal sebelumnya baik-baik saja.


Di beberapa daerah di Indonesia mungkin lebih parah, mereka harus mengambil air bersih dengan jarak berkilometer jauhnya. Jika ketersediaan air cukup mungkin bisa diterima, namun jika setiap orang membutuhkan pasokan air bersih, maka bisa dipastikan terjadi kelangkaan air bersih pada saat musim kemarau.


Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) musim kemarau di Indonesia dimulai pada bulan April hingga Agustus 2022. Perhitungan musim kemarau ini mundur di beberapa wilayah di Indonesai, ada yang sama dengan tahun sebelumnya, serta lebih maju di beberapa wilayah. Pada tahun 2021, BMKG juga melaporkan telah terjadi Hari Tanpa Hujan (HTH) di beberapa wilayah di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan kategori  musim kemarau ekstrem panjang dengan lama kemarau 149 hari.


Di negara sub tropis yang memiliki empat musim, saat winter udara semakin hangat, dan saat musim panas udara kering atau kemarau parah melanda. Saat musim panas ini terjadi fenomena heat wave (gelombang panas). Pada tahun 2021 berdasarkan berita dari BBC.Com, gelombang panas menyerang Kanada bagian barat. Disebutkan rekor suhu udara di Kanada telah menigkat sebelumnya 45°C namun meningkat menjadi 49.6°C, kejadian langka yang diperkirakan terjadi 1000 tahun sekali oleh para ilmuwan. Hal ini mengakibatkan hangusnya desa Lytton di Provinsi British Columbia akibat dari kebakaran hutan. Jika pemanasan global terus meningkat, bisa saja hal ini terjadi 5-10 tahun sekali, tidak menunggu 1000 tahun lagi.


Kasus lain terjadi di Afrika Utara. Sebuah air terjun besar, air terjun Victoria berhenti mengalir pada tahun 2019. Berhentinya aliran terjun ini merupakan akibat dari aliran sungai Zambezi berkurang tiga kali lipat yang kemudian menjadikan air terjuan Victoria mengering. Padahal air terjun ini menjadi salah satu tempat wisata yang menjadi sumber pendapatan bagi warga setempat. Selain itu, masyarakat juga memanfaatkan keberadaan air terjun untuk pembangkit listrik tenaga air.

Mengeringnya air terjun Victoria di Afrika (sumber:bbc indonesia)

Saat tulisan ini dibuat, kondisi di Gresik sangat panas, menurut suhu yang tertera di layar handphone, suhu menunjukkan 32°C namun terasa 41°C dengan kabut asap yang berasal dari pabrik yang paling utama. Untungnya hari ini tidak ada agenda di siang hari yang mengharuskan ke luar dari kost, kalau tidak pasti ke luar dengan mengenakan perlengkapan 'perang' seperti sarung tangan, jaket, kaca mata dan sun block, menjadi barang utama yang diperlukan.


2. Naiknya permukaan laut
Menurut nationalgeographic.co.id, Gletzer Thwaites (GT) seluas 120 kilometer dengan kedalaman 800 hingga 1200 meter yang berada di Antartika akan menyebabkan kiamat gletser atau doomday glacier jika semua es yang dimiliki Thwaites Glacier mencair.  Jika GT mencari, maka permukaan laut akan ikut naik lebih dari 65 sentimerer. Keadaan ini akan lebih parah jika mencairnya GT juga mengakibatkan mencairnya sebagian besar glacier di wilayah Antartika yang dapat menyebabkan naiknya permukaan laut hinga 3 meter. 

Thwaites glacier (sumber:bbc)

Bagi Indonesia yang memiliki wilayah perairan lebih besar daripada wilayah daratan tentu akan mengakibatkan kerugian banyak hal. Naiknya permukaan laut ini memaksa masyarakat untuk pindah rumah, yang kemudian memperburuk permasalahan sosial lain lagi. Negara lain yang juga terancam dari naiknya permukaan laut ini diantaranya Tokyo, Tiongkok, Amerika, Miami, Mumbai dan negara lain yang memiliki wilayah yang berbatasan dengan laut.


Dampak Lain dari perubahan iklim:
Memanasnya bumi mengakibatkan perubahan iklim, semakin mengancam kehidupan makhluk di bumi. Manusia, hewan, tumbuhan semua terkena dampak. Dari dua dampak yang saya sebutkan di atas masih banyak lagi dampak yang cukup mengerikan. Menurut Word Wide Fund for Nature (WWF) berikut dampak dari perubahan iklim yang terjadi, diantaranya:


3. Punahnya keberagaman dan eksosistem (seperti bleaching terumbu karang, jumlah biota air yang berkurang atau bahkan punah).


4. Naiknya permukaan laut (volum air laut naik menjadikan jumlah air asin yang masuk ke sungai tinggi, sehingga ketersediaan air tawar berkurang).


5. Kesehatan manusia menurun (gelombang panas menyebabkan sakit dan kematian, meningkatnya penyakit (malaria, diare, penyakit menular, penyakit pernapasan akibat dari buruknya udara).


6. Meningkatnya penyakit lain yang ditularkan dari air seperti yang disebabkan oleh bakteri Giardia, Salmonella, dan Cryptosporidium).


7. Kemarau panjang yang mengakibatkan berkuranganya jumlah produsi pangan atau bahkan mengalami kelangkaan. Kelangkaan pangan ini juga bisa mengakibatkan makhluk hidup, khususnya manusia kekurangan nutrisi. 

Kelangkaan air bersih saat kemarau (sumber:suarasurabaya.net)

8. Perubahan iklim ini juga mengakibatkan banjir di berbagai wilayah di Indonesia yang sebelumnya aman dari terjangan banjir. Seperti di daerah Kalimantan dan Batu.


Hal yang bisa kita lakukan #UntumuBumiku  

Membaca dampak dari perubahan iklim di atas, sangat mengerikan bukan?. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dari dampak pemanasan global yang terjadi sehingga kemudian bisa menyelamatkan bumi #UntukmuBumiku. Berikut di antaranya:


1. Mengikuti kegiatan pelestarian lingkungan
Salah satu kegiatan yang bisa kita lakukan adalah dengan menanam mangrove. Di Gresik, sejauh ini terdapat empat wilayah hutan mangrove yang cukup terkenal di kalangan masyarakat, seperti Mangrove Ujungpangkah, Mangrove Kali Mireng, Mangrove Karang Kiring, Mangrove Lumpur dan Mangrove Mengare. 


Persiapan bibit mangrove sebelum ditanam

Saya sudah pernah datang di semua tempat mangrove tersebut, yang paling luas areanya terdapat di Ujungpangkah. Di Ujungpangkah luas mangrove di lokasi ini lebih dari 1.500 ha, cukup luas namun letaknya jauh dari area industri utama yang ada di Kota Gresik. Menurut saya keberadaan mangrove di Gresik dengan geliat industri yang terus tumbuh, wajib ditambah dan terus digalakkan.


Penggalakan ini dapat dilakukan dengan penanaman mangrove. Seperti yang saya lakukan beberapa bulan lalu dalam program 'Tandur Mangrove'. Kegiatan ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa. Bersama dengan beliau, mahasiswa, aktivis lingkungan, dinas kehutanan dan elemen masyarakat lainnya ikut berperan dalam proses penamanan mangrove.


Mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon yang dihasilkan dari berbagai proses yang dihasilkan dalam kehidupan. Mangrove menyimpan karbon jauh lebih banyak daripada ekosistem lain di bumi (Dinilhuda et al., 2018).  


Ayo bergerak untuk #TeamUpforImpact, untuk kamu yang peduli dengan lingkungan, bisa juga ikut berperan dalam pelestarian lingkungan. Sehingga akan muncul #TeamUpforImpact di setiap daerah yang dapat membantu mengendalikan perubahan iklim, agar bumi menjadi lebih baik.


2. Batasi Penggunaan Plastik

Tahukah kamu, bahwa Indonesia mengimport sampah plastik dari negara lain?. Permasalahan sampah di dalam negeri saja belum 100% teratasi, ditambah lagi sampah dari negara lain yang sengaja didatangkan. Padahal timbunan sampah nasional di Indonesia mencapai 1,6 juta ton sampah pada tahun 2021 (Kementerian Lingkungan Hidup), jumlah ini didapatkan hanya dari 223  Kabupaten/Kota se-Indonesia.  Dari sumber lain, jumlah sampah di Indonesia mencapai 21.45 juta ton pada tahun 2021 (katadata.co.id).


Sampah ini digunakan oleh berbagai aktivitas industri, salah satunya sebagai bahan bakar pembuatan tahu. Tahu yang diolah dengan bahan bakar sampah mengandung senyawa berbahaya Dioksin. Jika, makanan yang mengandung dioksin (racun) ini dikonsumi secara terus menerus maka dapat mengakibatkan kanker. Penggunaan sampah plastik secara tidak langsung meracuni rantai makanan di Indonesia.


Sebagai #TeamUpforImpact yang bisa kita lakukan dari diri sendiri adalah mengurangi penggunaan sampah. Kurangi atau bahkan ganti penggunaan plastik sekali pakai dengan bahan lain yang bisa digunakan beberapa kali. Misalnya menggunakan tumbler air minum, tas belanja lipat yang mudah dan ringan dibawa. Mulai dari langkah kecil untuk perubahan #UntukmuBumiku yang lebih besar.


3. Hemat Listrik

Salah satu sumber penghasil listrik adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bahan Bakar Fosil. Sesuai dengan namanya, bahan bakar utama yang digunakan seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam. Selain itu terdapat juga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar pengoperasiannya. 


Agar listrik tersedia dan bisa mencukupi kebutuhan semua masyarakat, penggunaan bahan bakar fosil ini masih dilakukan. Untuk mengatasi emisi dari pembangkit listrik, sudah ada pembangkit listrik yang menggunakan tenaga surya, air, angin, dan biomassa (pengolahan sampah). Namun, sejauh ini keberadaan pembangkit listrik tenaga terbarukan belum diproduksi dalam jumlah massal.


Maka, upaya yang #TeamUpforImpact yang bisa kita lakukan adalah dengan berhemat listrik. Seperti mematikan lampu jika bepergian, mencabut kontak listrik jika tidak digunakan, gunakan perlengkapan listrik dengan watt yang rendah. Menghemat listrik sama halnya dengan menghemat biaya untuk membayar pengeluaran listrik. Jadi win win situation. #UntukmuBumiku menjadi sehat, kantong juga aman.


4. Bijak dalam Penggunaan Tissue dan Kertas
Kedua produk ini menggunakan bahan dasar kayu. Jika penggunaan kertas dan tissue tidak terkendali maka akan semakin tinggi kayu yang akan ditebang. Berkurangnya jumlah pohon, berkurang pula ekosistem yang dapat menyerap emisi GRK. Hal yang bisa kita lakukan adalah mengganti tissue dengan lap kain atau sapu tangan. Keduanya mudah dicuci ulang. Jika tidak mau repot-repot, carilah bahan yang mudah untuk dibawa dan dibersihkan.


Saat ini, penggunaan kertas di lingkungan pendidikan sedikit berkurang. Saat pandemi, tugas-tugas sekolah banyak yang dikirimkan melalui email. Sehingga hal ini dapat mengurangi penggunaan kertas serta lebih ramah lingkungan. 


Selain peran-peran di atas, kamu juga bisa melakukan peran lain dalam menjaga kelestarian lingkungan. Misalnya bersepeda, jalan kaki, menggunakan kendaraan umum, menggunakan pupuk organik, mengolah kotoran ternak sebagai sumber biogas dan lain sebagainya.


Peran Pemerintah
Selain peran individu tersebut, peran pemerintah pun sangat penting dalam mengurangi gas rumah kaca yang sudah semakin mengkhawatirkan akibatnya. The Group of Twenty (G20) merupakan suatu forum kerjasama multilateral yang terdiri dari 19 negara dan Uni Eropa dan Indonesia menjadi bagian dari forum ini.


Pada tahun 2021 telah diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi  (KTT) anggota G20 ke-16 dengan topik pembahasan perubahan iklim. Hal penting yang menjadi kesepakatan besama adalah 'Zero Net Emission' nol persen emisi atau pencemaran pada tahun 2050. Emisi ini dikeluarkan oleh berbagai aktivitas kehidupan manusia, maka untuk mencapai target tersebut, pemerintah Indoensia khususnya harus menggunakan tenaga terbarukan yang lebih ramah lingkungan.


Selain pertemuan tersebut pemimpin dunia yang tergabung dalam G20 pada tahun yang sama juga menghadiri KTT CPO 26 di Glasgow, Skotlandia. Pada pertemuan ini diambil kesepakatan tentang upaya untuk mencegah kenaikan suhu bumi pada batas 1.5°C. Menurut WWW, suhu udara di Indonesia saat ini sudah naik menjadi 1.3°C. Kenaikan suhu bumi ini akan mengakibatkan berbagai kerusakan dan kehancuran yang lebih besar bagi ekosistem makhluk hidup di bumi.


Pelaksanaan KTT Ke-16 telah dilakukan pada tanggal 30-31 Oktober 2021 di Italy. Kemudian tuan rumah selanjutnya pada KTT G20-17 adalah Indonesia yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 9-10 November 2022 di Bali. Tema utama yang diangkat dalam pelaksanaan G20 Ke-17 adalah 'Recover together, Recover stonger'.


Bergerak bersama untuk dunia yang lebih baik memang harus dilakukan, baik dari kalangan individu, masyarakat, dan pemerintah. Perubahan iklim akibat pemanasan global dapat diatasi jika upaya-upaya penanggulaan dan pencegahan dilakukan, tidak hanya sekedar wacana yang melenakan. Maka #TeamUpforImpact perlu digerakkan, agar bumi bisa bernafas #UntukmuBumiku dengan lega.


#Tulisan ini merupakan bagian dari Blog Competition dengan tema "Perubahan Iklim yang Aku Rasakan" yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network

Referensi:
Bbc.com: Perubahan Iklim Ketika Air Terjun di Afrika Berhenti Mengalir
Bbc.com: Perubahan Iklim: Gelombang Panas Maut di AS dan Kanada 'hampir tidak mungkin' Tanpa                     Pemanasan Global Akibat Ulah Manusia
Bmkg.go.id: Musim Kemarau Di Indonesia
Case M, Ardiansyah F, Spector E. 2007. WWF: Climate Change in Indonesia-Implications for Humans                 and Nature
Cnbcindonesia.com: KTT COP26 Kasih Angin Ke Batu Bara,Kiamat Masih Lama
Databoks.katadata.co.id: Timbunan Sampah Nasional Capai 21.45 Juta Ton Pada 2021 Jawa Tengah                     Terbanyak
Dinilhuda A, Akbar AA, Jumiati. 2018. Peran Ekosistem Mangrove Bagi Mitigasi Pemanasan Global
Ipa.pelajaran.co.id: Pemanasan Global
Nationalgeographic.grid.id: Gletser Thwaites yang Seukuran Britania Raya Terancam Mencair
Pratama R dan Parinduri L. 2019. Penanggulanan Pemanasan Global. Jurnal Buletin Utama Teknik.
Sipsn.menlhk.go.id: Capaian Kinerja Pengelolaan Sampah
Tirto.id: Impor Sampah Antara Kebutuhan Industri dan Pencemaran Lingkungan
Youtube Channel: Kurzgesagt-In a Nutshell : Climate Change


Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon