Review Film: Mimpi Ananda Raih Semesta (MARS)

Film Mimpi Ananda Raih Semesta merupakan sebuah film motivasi yang diadapatasi dari novel dengan judul yang sama. Film ini dirilis pada tanggal 4 Mei 2016 yang dibintangi oleh Acha Septriasa, Kinaryosih, Cholidi Asadil Alam, Teuku Rifnu Wikana, dan Chelsea Riansy.
Lansung saja ke sinopsis film MARS


Film dibuka dengan menampilkan sebuah gedung Sheldonian Theatre, Oxford di England. Terdengar kemudian suara seorang perempuan yang sedang membacakan pidato kelulusan. Sambil meneteskan air mata Ia mencoba menceritakan bagaimana pentingnya pendidikan dan orang yang berperan banyak dalam pendidikan yang Ia capai. "My mom always believe I can reach Mars (Lintang Latik) with my knowledge (Ibuku selalu percaya bahwa saya bisa mencapai planet Mars)". Dengan berlinang air mata, Ia menyampaikan pidatonya.

Teruslah berjuang menggapai apa yang kamu cita

Scene kemudian berubah saat senja hari di mana seorang anak perempuan bernama Sekar Palupi dan seorang anak laki-laki, Jono sedang bercakap-cakap. 


Sekar:Aku g mau pulang, Aku g mau kambing ini di jual
Jon: Eh Kar, kowe (kamu) jangan sedih begitu. Kowe seharusnya seneng, kamu sebentar lagi mau sekolah to ?
Sekar: Sekolah iku opo (apa) yo Jon?
Jon: Sekolah itu tempat kita belajar, biar pinter, biar g bodo
Sekar: Kalau ke sekolah boleh bawa kambing g
Jon: Kowe pikir kambing bisa sekolah?. Ngawor kowe (ada-ada saja kamu)
Sekar+Jon: Mereka akhirnya tertawa bersama
Sebuah percapakan antara Sekar dan Jono di sebuah padang rumput saat mereka mengembalakan kambing milik Sekar. Kambing satu-satunya milik Sekar yang akan dijual untuk biaya sekolah.


Seorang guru ngaji mengucapkan istighfar saat melihat beberapa orang tampak sedangan mengelilingi sebuah pohon besar, menyalakan kemenyan yang kemudian dipandu dukun yang sedang merapalkan mantra. Klenik (mistis) masih menjadi kepercayaan sebagaian besar warga saat itu.


Saat malam hari, Sekar dan keluarga sedang makan malam. Sang ayah menyampaikan jika Ia harus pergi malam nanti untuk bekerja di Wonogiri. Sekar menolak jika harus berpisah kembali dengan ayahnya. Sang ibu menjelaskan bahwa ayah bekerja untuk mengumpulkan uang yang banyak untuk bisa menyekolahkan sekar setinggi mungkin. Untuk meyakinkan Sekar, sang ayah berjanji akan menemani sekar bermain saat kembali dari berkerja.

 
Keesokan harinya Tupon dan Sekar naik mobil truk bersama warga desa yang lain. Mereka ingin menjual kambing yang mereka miliki satu-satunya. Seorang laki-laki yang membantu menjualkan kambing mereka menghampiri, dengan alasan pasar yang sepi, seseorang membeli kambing mereka dengan harga murah. Tidak beraninya Tupon membuat Ia membiarkan saja hal tersebut. Setelah mendapatkan uang, mereka kemudian pergi ke pasar untuk membelikan sekar seragam.


Disebuah ruangan saat beberapa walimurid dan anak mereka mendaftar untuk masuk SD. Semua orang tua kemudian mengumpulkan formulir pendaftaran yang sudah mereka isi, namun tidak dengan Tupon. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Lembar formulir ditangannya masih kosong. Petugas pendaftaran pun membantu mengisikan formulir. 


Saat ditanya beberapa data, Tupon tidak bisa menjawab. Petugas kemudian marah karena menganggap Tupon tidak 'kooperatif'. Sambil tergagap Tupon mencoba meyakinkan kalau anaknya, Sekar ingin sekolah. Ia pun meminta kesempatan kepada Petugas untuk menunggunya mengambil Kartu Tanda Penduduk dari rumah. Tupon dan Sekar kemudian mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga, tidak pedulikan panas dan rasa lapar yang mereka rasakan.


Sekar tidak diterima disekolah tersebut dengan alasan umur belum cukup untuk masuk kelas 1 Sekolah Dasar. Setelah sang ibu melalui banyak hal, memohon-mohon kepada kepala sekolah, akhirnya Sekar bisa sekolah. Namun, hal tersebut tidak berlanjut lama. Sekar akhirnya dikeluarkan dari sekolah karena sering bolos dan berantem dengan seorang siswa. 


Beberapa waktu berlalu, sebelum berangkat kerja sang ayah mengantarkan Sekar sekolah. Tidak lupa sang ibu pun ikut menemani dengan membawa rantang yang berisi bekal untuk suaminya. Sebelum Sang ayah dan ibu pulang, Sekar tiba-tiba memeluk sang ayah. Ia kemudian memeluk sang ayah dan bilang bahwa Ia sangat menyayangi ayahnya. Sang ayah kemudian memeluk sekar dan bilang 'Jadilah kebanggan kebanggan bapak dan ibu'.  Tidak berlangsung lama, terjadi kecelakan ditambang batu di mana tempat ayah Sekar bekerja. Atas kejadian itu, sang ayah kehilangan nyawanya. Kesedihan mendalam mereka rasakan, namun sang ibu ingat pesan sang suami tentang harapannya untuk pendidikan Sekar. Sekar pun berjanji untuk bersungguh-sungguh sekolah.


Waktu berlalu beberapa tahun kemudian, saat sekar sudah berumur 17 tahun. Sebuah tawaran untuk menikah datang kepadanya. Dengan tergagap Ia menyampaikan kalau Ia masih mau kuliah. Sang ibu bahagia setelah mendengar jawaban dari Sekar. Namun, Ia memiliki permasalahan lain, Ia harus menyampaikan berita itu ke kepala desa yang menjodohkan Sekar dengan seseorang yang sudah mapan.


Kepala desa & istri (KS): Kuliah ? Coba diulangi lagi mbak?
Tupon: Sekar Palupi ingin kuliah pak. Anak saja mau jadi sarjana.
KS: Sarjana ? Mereka tertawa meremehkan. 'Tolong jangan bercanda mbak, g usah macam-macam'. 'Iya mbak yu. Kamu itu g usah macam-macam. Harus sadar diri. Kuliah itu biayanya banyak lo. Memangnya kamu mau membayar pakai apa? pakai uang apa?' Istri kepala desa tidak kalah menyudutkan Tupon.


Tiba-tiba datang seorang tamu yang sangat dihormati oleh kepala desa dan istri. Sang tamu penasaran kenapa ada Tupon di rumah mereka. Kepala desa akhirnya menjelaskan kalau Sekar menolak lamaran yang mereka tawarkan karena ingin kuliah. Bukannya mendukung Tupon, mereka semua tertawa bersama menjatuhkan Tupon, dan mengatakan bahwa orang kecil seperti Tupon tidak layak untuk punya impian yang tinggi. Tupon hanya menunduk, mencoba tersenyum, meskipun hatinya sakit atas penghinaan mereka.


Demi menggapai cita-citanya, keesokan harinya Sekar dan ibunya pergi dari rumah menuju Yogyakarta untuk menemui keluarga mereka. Setelah lama mencari tidak juga kunjung mereka temukan rumah saudara yang mereka tuju. Sambil melepas lelah, mereka istirahat di Masjid. Tidak ada clue kemana lagi mereka harus mencari. Kemudian mereka menemukan sebuah dompet di selokan saat mereka akan meninggalkan Masjid. Dibantu seorang imam masjid, akhirnya mereka mengembalikan dompet tersebut ke pemiliknya. 


Sang pemilik dompet tenyata istri dari guru ngaji waktu Sekar kecil dulu. Dengan perasaan senang, sang guru menawarkan agar sekar mau tinggal di rumah mereka. Sekar bisa bantu-bantu sang istri ketika Sekar pulang kuliah. Tawaranpun diterima dan Sekar masuk kuliah dengan beasiswa yang Ia dapatkan sebelumnya serta tinggal di rumah sang guru ngaji yang saat itu juga berprofesi menjadi seorang dosen. Sementara ibunya kembali ke desa.


Waktu berlalu, Sekar mendapatkan tawaran dari seorang astronom terkenal untuk menggantikannya dalam memberikan presentasi disebuah seminar. Sekar yang sadar diri tentu menolak. Namun, sang astronom yang juga tokoh astronot wanita yang Ia kagumi itu mencoba meyakinkannya. Dan akhirnya Sekar menerima tawaran tersebut. Seminar itu ternyata diliput banyak media dan tentu saja membuat sekar dikenal oleh banyak orang.


Scene kembali lagi saat ini. Sementara Sekar berjuang dengan impiannya di sebuah kampus top dunia, Oxford, sang ibu di Indonesia dengan badan ringkihnya masih berjuang keras juga. Sang ibu  memegangi dadanya yang sakit yang disertai dengan batuk darah. Kondisinya semakin parah akibat terjatuh di jalan saat mecari rumput.


Sementara itu, Sekar masih menjalankan aktivitasnya di kampus dan Ia menjadi salah satu mahasiswa pintar yang diakui keahliannya dalam bidang astronomi. Sehingga hal tersebut yang membuat Ia menjadi salah satu mahasiswa yang memberikan pidato kelulusan.


'Gunung Kidul  di mana tidak ada listrik, di sana saya tumbuh dalam kemiskinan. Hanya ada beberapa orang yang lulus SMA, sebagian besar membantu orangtuanya atau pindah ke kota lain. Para wanita di sana bekerja sebagai pembantu atau menikah pada usia dini.." penggalan dari pidato yang Sekar sampaikan dengan linangan air mata.


Setelah usai dengan studi, Sekar memutuskan untuk pulang. Namun yang Ia temui hanya rumah yang kosong tanpa ada penghuni, bahkan seperti tidak ditinggali dalam waktu yang lama. Kemudian Ia bertanya kepada tetangga yang berada tidak begitu jauh dari rumahnya. Dengan menahan tangis tentangga tersebut mencoba menguatkan Sekar. Sekar masih belum bisa menangkap apa yang sedang terjadi hingga kemudian Ia tersadar bahwa sang ibu telah tiada. 


Setelah tangisnya reda, Sekar langsung pergi ke puasa sang ibu. Dengan membaca ijazah, Ia mengatakan 'Mbok, Sekar sudah sampai di Lintang Latik (Mars) Mbok' dengan manangis Ia meminta maaf pada ibunya. Senja hari di sebuah laut, Sekar menuntun sepeda roda duanya 'Mbok ternyata kamu sudah sampai di Lintang Latik ya'. Film pun selesai
==
Ini pertama kalinya saya menulis review film. Cukup panjang ya :D. Menurut saya setiap bagian film ini penting untuk dituliskan, sehingga hal inilah yang membuat sinopsis film MARS ini tidak bisa singkat seperti yang biasa dituliskan oleh para ahli review.

Film ini sangat bagus. Ada perjuangan seorang ibu dan anak yang tidak mudah. Sang ibu yang rela bolak-balik mengantarkan Sekar sekolah dengan jarak 14 km tanpa mengeluh. Harapannya cuma satu, agar nantinya Sekar bisa sekolah setinggi mungkin.


Film ini sangat cocok ditonton apalagi bertepatan dengan Hari Kartini saat ini. Mereka merupakan contoh  Kartini-Kartini baru yang tetap berjuang dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Termasuk kita para Kartini yang saat ini terus melangkah menggapai apa yang kita citakan. Selamat berjuang.

#Tulisan ini merupakan bagian dari BPN 30 Ramadan Blog Challenge 2022 yang diselenggarakan oleh Blogger Network.

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon