Botol Bekas dan Selang Bensin

Tags

 Matahari kian menyengat. Pakaian yang aku kenakan terasa basah oleh keringat yang mengalir deras seperti air hujan. Ini bukan kali pertama aku harus menuntun motor yang tiba-tiba mogok di tengah jalan. Terhitung sudah tiga kali selama bulan ini. Huft, aku kesal, kesal dengan diri sendiri kenapa dulu aku membeli motor ini.


    Motor butut yang aku beli saat mendapatkan gaji pertama ini, ternyata tidak bisa diajak kompromi. Permasalahannya hampir sama, sangat moody, sering ngambek tidak mau jalan. Keputusan untuk membeli motor second memang tiba-tiba aku lakukan. Pekerjaan menjadi seorang sales dengan aktivitas di luar memaksaku untuk segera mengambil pilihan ini. 


    Jika aku hanya menawarkan peralatan memasak di area kos tempatku tinggal, maka pendapatkan yang aku peroleh akan lebih sedikit dibandingkan pekerja yang memilih menawarkan produk mereka ke daerah lain yang lebih jauh. Sehingga aku memutuskan untuk membeli motor butut ini setelah mendapat gaji pertama. Berbekal dengan pengetahuan yang tidak ada sama sekali tetang otomotif, aku tertarik dan membeli motor yang terlihat cantik saat ditawarkan di media sosial.


    Tanpa perlu survey terlebih dahulu, besoknya aku meminta penjual untuk mengirimkan motornya ke kos tempatku tinggal. Terlihat sempurna awalnya, ternyata motor itu benar-benar ‘sakit’, hal yang baru aku ketahui setelah motor aku terima. Mau komplain juga tidak bisa, penjual sudah mengeblock nomorku, apesnya aku sudah terlanjur melunasi pembayaran motor ini. Asas percaya ternyata membawa kecewa karena ketledoranku dan tentu saja berbuah omelan dari kedua orang tuaku.


    Setengah jam sudah aku menuntun motor. Sesekali aku naiki motor dengan mengayuhkan kaki. Saat jalanan turun, perjalanan terasa ringan. Namun, ketika jalan sedikit menanjak, barulah terasa betapa beratnya motor ini. Jarak rumah dan kostku memang  tidak jauh, hanya dua jam jika ditempuh dengan motor dan akan lebih lama jika aku menggunakan kendaraan umum yang biasanya akan ngetem cukup lama sampai bus penuh dengan penumpang.


    Jalan yang aku lalui ini memang bukan jalan raya yang ramai dilewati oleh lalu lalang kendaraan, hanya beberapa penduduk desa yang pergi bekerja ke ladang. Namun, saat ini aku berada di tengah-tengah hutan yang jauh dari area pedesaan. Kakiku sudah tak kuat lagi melangkah sehingga aku putuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon rindang di tepi jalan.


    Sejuk, semilir angin bertiup lembut. Nyanyian burung menambah lengkap suasana. Perlahan aku pejamkan mata. Memoriku berkelana mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
“Ayah kenapa selalu bawa botol bekas dan selang di jok motor?” tanyaku penasaran.
“Coba tebak?” yang tanya malah balik tanya.
“Ya sudah Nina ngga mau tau.” Jawabku dengan pura-pura memasang wajah kesal. Ayahku terkekeh melihat tingkah lakuku.
“Duh cah ayu. Begitu saja nesu.” Sambil tangan kanannya menepuk-nepuk pelan kepalaku.
“Jadi, botol bekas ini buat wadah bensin dan selang ini untuk menyedot bensin yang ada di tangki motor.”
Aku masih diam tidak tahu maksud jawaban Ayah.
“Ayah mau jualan bensin?” tanyaku dengan pede-nya
    Ayahku terpingkal-pingkal mendengar jawabannku. Sampai-sampai tubuhnya ikut bergetar. Aku hanya melihat dengan tatapan sinis. Merasa kalau anaknya mulai marah, Ayah cepat-cepat menjelaskan lagi.


“Bensin itu bukan Ayah jual. Melainkan Ayah berikan kepada orang yang membutuhkan. Misalnya saja di tengah-tengah jalan ada orang yang kehabisan bensin, maka Ayah bisa menawarkan bantuan memberikan bensin yang Ayah miliki. Meskipun Ayah tidak bisa berbuat banyak kebaikan seperti orang lain yang mampu memberikan sedekah berjuta-juta atau bahkan milyaran rupiah, Ayah hanya ingin melakukan sedikit kebaikan yang bisa Ayah lakukan untuk orang lain” 


    Aku mengakat keempat jari jempolku, termasuk jempol jari kaki, sambil mengucapkan “Keren”.
    Ayah yang melihat responku, bersikap seolah-olah menyibak rambut poninya, yang sebenarnya tidak ada karena baru saja Ia cukur plontos rambutnya. Tidak tertinggal Ia menjawab “Ayah siapa dulu dong”


    Aku hanya terkekeh melihat tingkah polah Ayah yang usianya terpaut 40 tahun denganku itu. Ia memang menjadi sosok Ayah yang mencoba membaur dengan anak-anaknya. Berkaitan dengan bensin tersebut, aku jadi teringat sebelum Ayah ke luar rumah, Ia selalu memastikan tangki bensin motor yang Ia kendarai selalu penuh. Ternyata ini alasannya.


“Jadi, Kakak bisa meniru apa yang Ayah lakukan ini. Siapa tahu di tengah jalan nanti Kakak bertemu dengan orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan” Ayah memintaku dengan senyum simpul diwajahnya.
    Aku hanya tersenyum mengiyakan. Hal yang belum aku lakukan sampai saat ini.
Tiba-tiba pundakku ditepuk perlahan
“Nduk, bangun” lamat-lamat terdengar suara laki-laki asing terdengar.
Aku masih memejamkan mata, setengah tertidur.
“Nduk, bangun nak” kini berganti dengan suara seorang perempuan.
Aku membuka mata. Karena wajah mereka hanya berjarak lima belas senti dari wajahku, aku berteriak dengan kencang yang membuat kesadaraanku kembali sepenuhnya.
“Bapak Ibu siapa?” Suaraku masih terdengar parau
“Oh kami tadi baru pulang dari sawah ketika kami melihati adik tertidur di bawah pohon. Kami kira adik tadi terluka” Sang ibu paruh baya mencoba menjelaskan.
Dengan wajah yang menahan malu, aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Oalah, padahal jalan sepuluh menit lagi, adik bisa bertemu dengan bengkel di sebelah sana.” Sang lelaki mencoba menunjukkan lokasi bengkel dengan arah tanggannya.
“Wah dekat ya pak. Tapi saya terlajut capek Pak tadi, jadi saya mencoba istirahat, ternyata malah kebablasan dua jam” jawabku dengan tersenyum.
“Ya sudah nak, kamu naik motor bapak saja. Bocengan dengan Ibu, nanti Bapak yang akan bawa motormu ke bengkel.”
“Jangan Pak, biar saya sendiri” jawabku segan merepotkan orang yang baru aku temui juga tidak aku kenal.
“Nggak papa Nak. Kami juga punya anak yang merantau. Kami membayangkan anak kami berada di posisi adik, pasti sangat kesulitan” Sang istri mencoba meyakinkanku.


    Setelah melihat kesungguhan wajah kedua orang asing tersebut, Aku akhirnya meng-iyakan bantuan mereka.


    Kami pun kemudian bergegas berkendara menuju bengkel yang mereka maksud. Tiga puluh menit kemudian motorku berhasil dinyalakan. Ternyata bensinku benar-benar habis, ditambah lagi dengan oli yang sekarat yang membuatku harus menggati dengan oli baru.


    Rumah pasangan suami istri yang menolongku ternyata berada tepat di samping bengkel. Mereka mengajakku mampir kerumah mereka dan memberiku makan siang saat motorku diperbaiki. Mungkin mereka merasa iba dengan tampang melasku.


“Terima kasih pak bu untuk bantuannya” Kataku sebelum berpamitan
“Ngga usah sungkan besok-besok mampir ya kalau pas pulang”
“Bawa ini juga. Bisa dimakan bareng-bareng di kos dengan teman lain” Sang ibu menyodorkan tas yang terlihat sangat berat.
“Nggak usah bu. Terima kasih banyak sudah membantu saya” Jawabku dengan cepat, mencoba untuk tidak merepotkan mereka lagi.
“Nggak boleh menolak rezeki nak. Ayo diterima”
    Aku pun menerima tambahan kebaikan yang mereka berikan. Motor yang aku kendarai mulai melaju, meninggalkan bengkel dan orang baik tersebut. Di tengah jalan aku menguatkan niat di dalam hati “aku juga akan berbuat baik seperti Ayahku dan berbuat kebaikan lain yang bisa aku lakukan, seperti bapak ibu tadi.” 


    Kendaraan pun melaju meninggalkan rasa kecewa yang berganti dengan rasa syukur atas kejadian yang sudah menimpa.

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon