Review Film: Ranah 3 Warna

Tags

Assalamu'alaikum semuanya. Setelah kemarin saya menulis cerpen perdana, kali ini saya akan mereview film yang berjudul 'Ranah 3 Warna' yang diangkat dari judul buku yang sama karya A. Fuadi.
Film ini merupakan trilogi dari buku Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. Karya pertama juga difilmkan beberapa tahun yang lalu. Film Ranah 3 Warna mulai tayang di bioskop tanggal 30 Juni 2022.


Review
Film dibuka dengan menampilkan dua orang anak laki-laki yang mengobrol di tepi sebuah danau (Danau Maninjau kalau di novel).
'Mau kuliah di mana setelah lulus Pesantren?' tanya Randai 'kamu kan tidak punya ijazah SMA, mau ikut SMPTN pakai apa?.' Tawanya mengejek Ali.

'Kalau aku berusaha ya bisa.' jawab Alif dengan nada tinggi, kesal melihat tampang songong Randai yang saat itu sudah di terima kuliah di Institut Teknologi Bandung.
 

Sementara beberapa anak laki-laki lain yang berada di atas pohon menyahut '' Jadi guru ngaji saja lif, ngga usah kuliah.' yang lainnya juga menambahkan 'atau jadi nelayan saja lif' mereka tergelak bersama kecuali Alif.


Tidak mendapatkan ijazah saat lulus dari Pesantren, membuat Alif harus berjuang keras untuk mengikuti ujian paket C yang kemudian dilanjut dengan ujian SMPTN. Berbekal tekat kuat, kerja keras untuk belajar materi-materi pelajaran yang belum pernah Ia dapatkan membuatnya berjibaku dengan buku-buku.


Sebuah bus Harmoni yang dinanti tak kunjung datang. Pasalnya pengumuman ujian SMPTN dimuat di koran, sang ayah pesankan ke pak sopir yang datang dari kota. Lama yang ditunggu kemudian datang, satu per satu nama diperiksa, namun tak jua mereka menemukan nama Alif pada daftar mahasiswa yang diterima. Merasa bahwa Alif tidak diterima, sang ayah memberikan koran sepenuhnya ke Alif.


'Kita pulang saja' Sang Ayah terlihat tidak bersemangat.
Alif masih mencoba memeriksa koran tersebut
'Ayah, masih ada halaman yang belum kita periksa' Ia berteriak mencegah ayahnya berjalan lebih jauh lagi.
 

Bersama-bersama mereka memeriksa halaman tersebut dan ternyata nama 'Alif Fikri' tertera. Serentak mereka melakukan sujud syukur di tepi jalan raya, tempat mereka menunggu bis Harmoni yang terbiasa lewat.


Perjalanan Alif menuju Bandung untuk melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro pun dimulai, Ia mengambil jurusan Hubungan Internasional. Sang ayah membekalinya sebuah sepatu yang didapatkan dari menjual motor butut satu-satunya yang Ia miliki. Perpisahan yang mengharukan terjadi. Sang ayah memeluk Alif sangat lama sekali, seperti merasakan bahwa itulah pelukan terakhir untuk anaknya. Sang ibu juga berpesan "Di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung. Berbuat baiklah di tempat lain."
 

Sebuah payung berwarna merah tiba-tiba terlempar menghampiri Alif. Hujan yang cukup deras membuatnya ingin memakai payung tersebut. "Itu payung saya" sebuah suara perempuan membuatnya mendongakkan kepala. Perempuan yang kemudian Ia kenal dengan nama Raissa.


Sebuah majalah kampus menjadi tujuan Alif untuk bergabung dengan kelompok Unit Kegiatan Mahasiswa tersebut. Berbekal dengan kemampuan yang Ia miliki saat masih menimba ilmu di Pondok Madani. Ia pun memberanikan diri mendaftar.


"Kamu yakin mau menulis?" Bang Tohar pimpinan dari unit tersebut bertanya tanpa menatap Alif yang sudah duduk di ruangan.
"Saya ingin pergi ke Amerika Bang, seperti foto Abang itu" tangannya menunjuk foto  Bang Tohar yang terpampang di atas lemari. Sebuah foto yang memiliki daya tarik bagi Alif
"Itu bukan Amerika, itu Australia."
"Iya bang, saya ingin ke luar negeri."
"Baiklah aku akan melihat kemampuanmu. Sekarang kamu bisa menulis di sini."
"Sekarang bang?" Alif mencoba meyakinkan
"Ya sekarang, mau besok?"


Alif mulai menulis pada sebuah lembar kertas, yang kemudian mendapatkan predikat tulisan 'sampah' oleh Bang Tohar. Ia pun diberikan kesempatan lagi untuk menulis, namun harus menggunakan referensi yang tepat sehingga tulisan itu nantinya tidak hanya terbit di majalah kampus melainkan media cetak. Kesungguhan dan usaha keras Alif membuahkan hasil. Tulisannya kini dimuat di koran.


Sebuah telegram datang, mengabarkan bahwa sang ayah sakit keras. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang sementara waktu. Takdir tak dapat dielakan lagi, sang ayah akhirnya meninggal dunia meninggalkan keluarga mereka. Demi melihat sang ibu yang berjuang keras mencukupi kebutuhannya dan adik-adik, Alif berencana untuk tidak melanjutkan kuliah yang tengah Ia jalani. 


"Ayahmu itu selalu menenteng tulisanmu ini ketika bertemu dengan teman-temannya. Ia merasa bangga dengamu Lif." Sebuah potongan koran terpampang di sebuah figora. Tulisan Alif di dalamnya.
"Ibu bisa bekerja keras kebutuhan kalian atau ibu juga bisa berhutang ke siapapun untuk mencukupi kebutuhan kalian. Jadi jangan berhenti Lif. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai."


Segala macam pekerjaan Alif lakukan untuk membantu biaya kuliah dan kebutuhan adik-adiknya di rumah. Mulai dari menjadi pelayan di rumah makan dan berjualan kain khas Padang yang Ia jual di ibu-ibu PKK. Malang tak dapat dihindar. Ia mendapatkan perampokan, semua barang dan uang yang Ia bawa ludes.


Hal ini yang menjadikan Alif berada pada titik terendah hidupnya. Ia mulai kalut dengan apa yang terjadi. Nelangsa hidupnya semakin memuncak. Ditinggal pergi sang ayah dan kesialan yang dialami membuatnya tidak semangat menjalan hari-harinya. Ia putus asa.



Raissa mencoba membujuk Alif untuk kembali kuliah. Namun Ia masih bergeming. Bang Tohar kemudian memberikan sepucuk surat kepada Alif saat Ia berkunjung ke Unit Bang Tohar. Ia baca, air matanya kemudian mengalir. Itu adalah sebuah surat yang ayahnya kirimkan langsung ke Bang Tohar. Sebagi bentuk terima kasih telah mau menerima Alif menulis di tempatnya. Sejak saat itu Alif bersemangat kembali untuk memperjuangkan apa yang Ia cita-citakan.


Waktu terus berjalan, sebuah informasi pertukaran pelajar sedang diadakan.
"Wah bagus sekali ini Lif, kamu mau ikut ini ngga?" Rusdi teman Alif mengambil sebuah selebaran yang menempel di dinding kos mereka.
"Kemana?" tanya Alif tidak bersemangat.
"Kanada"
"Ngga tertarik. Aku maunya ke Amerika bukan ke Kanada."
"Kamu bagaimana sih. Kanada kan bagian dari benua Amerika" tergelak Rusdi menertawakan tanggapan dari Alif.


Setelah melalui seleksi ketat, Alif, Raissa, dan Rusdi akhirnya menjadi bagian dari mahasiswa yang menerima kesempatan untuk pertukaran pelajar. Jordan menjadi tempat mereka transit untuk beberapa saat. Di sana ternyata Alif bertemu dengan ust. Salman yang merupakan gurunya saat di pesantren dulu.
Sang ustadz membawa ALif, Rusdi dan Raissa pergi ke barak pengungsi. Di sana mereka membagikan bantuan. Saat akan kembali seorang Ibu menangis meminta dicarikan anaknya yang terpisah kepada Raissa. Selembar foto menjadi petunjuk bagaimana rupa anak yang Ia cari tersebut. 


Sebuah bom terdengar ketika rombongan Alif beranjak dari barak. Rentetan senopi tak kalah mengagetkan mereka. Sebuah peluru tiba-tiba merangsek mengenai tepat kepala salah satu relawan yang ikut di dalam mobil. Raissa menangis ketakutan. Kejadian yang baru saja mereka alami membuat agenda mereka di Jordan dipercepat.


Kanada menjadi tujuan utama dari kegiatan pertukaran perlajar itu. Alif ditempatkan di sebuah lokasi peternakan. Tempat yang sangat tidak Ia sukai, Ia ingin bekerja di dunia pertelevisian meliput berita seperti Raissa, atau Rusdi di pemerintahan. Nyatanya sudah terbang jauh ke Kananda, Ia hanya mendapatkan kesempatan membersihkan kandang dan memberi makan ternak.


Setelah beberapa waktu berlalu, Alif memutuskan untuk mundur daripada harus terus berurusan dengan kotoran sapi. Segera Ia pergi pertemu si pemilik, tak sengaja Ia mendengar jika peternakan akan segera disita. Ia yang merasa kasihan dengan pemilik peternakan tak berani lagi mengajukan mundur dari aktivitas yang telah ia lakukan sejak datang meskipun akhirnya Ia tahu jika posisinya tertukar oleh Francois Pepin. Seharusnya Ia yang berada di dunia pertelevisian, namun Ia masih tidak  mau bertukar tempat. Ia sudah bisa menerima.


Untuk mencegah disitanya lahan peternakan, Alif meminta Raissa dan Pepin untuk mewancarai pemilik. Setelah tayangan wawancara mereka mengudara, peternakan tersebut tidak jadi disita. Yang lebih mengagumkan lagi ternyata pemilik peternakan mengenal seseorang yang ada di foto yang mereka miliki. 


Diantarkan oleh Pepin, Raissa dan Alif akhirnya pergi ke rumah orang yang telah mengadopsi Laila, gadis yang mereka cari selama ini. Gadis yang sangat di rindukan ibunya, yang mampu mereka temukan melalui selembar foto yang Raissa dapatkan di barak pengungsian.


Long story short. Mereka akhirnya lulus dari perkuliahan. Alif melanjutkan hidupnya dengan menjadi seorang wartawan. Sedangkan Raissa dan Randai melanjutkan hidup mereka di Jepang. Mereka berencana menikah dan melanjutkan kerja serta kuliah di sana. Film pun ditutup dengan seorang wanita yang menggandeng tangan Alif di sebuah gedung putih Amerika.


**

PoV
Menurut saya, buku asli memiliki cerita yang lebih komplek. Banyak bagian yang diganti, yang mungkin menyesuaikan dengan durasi film dan kesesuaian cerita. Meskipun inti dari film masih sama dengan buku, namun ada baiknya kita juga membaca bukunya jika ingin mendapatkan cerita yang sebenarnya

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon