Cara Mudah Mendaftar PayPal

Dewasa ini, proses transaksi pembayaran digital kian mudah kita lakukan. Beberapa diantaranya sudah sangat familiar di telinga kita. Bahkan, mungkin dari kita banyak yang sudah menggunakan aplikasi tersebut. 


Di Indonesia terdapat berbagai aplikasi pembayaran digital, seperti OVO, GoPay, DANA, ShopeePay, dan jenis lainnya. Aplikasi tersebut hanya terbatas penggunaanya di Indonesia atau mungkin juga dapat digunakan di beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Bebeda dengan aplikasi pemabayaran melalui Paypal ini.

Saldonya masih seuprit :D


Paypal merupakan aplikasi pembayaran digital yang berbasis di California Amerika Serikat. Aplikasi ini dapat kita gunakan untuk transaksi keuangan dengan berbagai negara di dunia. 


Kamu pasti pernah mendengar berita bagaimana ramainya reaksi masyarakat akan pemblokiran PayPal beberapa bulan lalu. Tentu saja banyak masyarakat yang kecewa, karena memang PayPal menjadi salah satu rekeningan digital di mana para pekerja kreatif biasanya menggunakan rekening ini.

Cara pendaftaran PayPal ini saya masukkan dalam kategori Freelance karena saya akan (insyaAllah) menambahkan menu berbagai jenis survey atau aplikasi yang bisa menghasilkan uang secara online. Beberapa survey, biasanya akan memberikan imbalan dalam bentuk poin yang dapat ditukarkan dengan uang. Uang tersebut harus dimasukkan atau dikumpulkan di rekening PayPal sampai dengan batas minimal nominal yang dapat ditarik. (Baca: Daftar Survey Berhadiah, Rakuten Survey)

So, berikut tahapan pedaftaran akun PayPal:
Langkah pertama:
1. Masuk pada browser paypal.com
2. Pilih tulisan menu, kemudian klik 'Aktifkan secara gratis'

Pilih tulisan yang dilingkari


3. Pilih 'Rekening Pribadi' dan klik 'berikutnya'
4. Pilih 'Kedua hal di atas' dan klik 'berikutnya'
5. Masukkan nomor telpon yang masih aktif, dan klik 'berikutnya'
6. Isi 'data diri'
7. Klik 'Buat rekening'
8. Tunggu verifikasi yang dikirimkan ke nomor ponsel dan alamat email


Langkah kedua:
1. Setelah kita memasukkan kode OTP, kita diminta untuk memasukkan alamat email dan pasword akun PayPal (contoh pasword: S3nj@tib4, sandi merupakan gabungan dari berbagai angka, huruf, atau numerik lainnya).
2. Isi profil sesuai dengan yang dibutuhkan
3. Pada jenis dokumen, pilih menggunakan KTP
4.Isi Nomor Dokumen dengan NIK KTP kita, klik 'berikutnya'
5. Isi alamat tinggal kita. Jika alamat tinggal tidak muncul, kita bisa isi secara manual pada menu edit. Baris 1 diisi dengan Dusun atau Kelurahan, Baris 2 diisi dengan nama kecamatan, Kota diisi dengan Kabupaten, dan Provisi diisi nama provinsi tempat kita tinggal
6. Klik tanda centang, dan pilih 'Setujui dan Buat Rekening'
7. Kita bisa mengabaikan kartu debit atau kartu kredit
8. Buka email yang kita daftarkan tadi, lakukan konfirmasi dengan meng-klik link yang diberikan di email
9. Maka kita akan masuk secara otomotasi ke halaman Paypal
10. Masukkan email dan password yang sudah kita buat sebelumnya
11. Kita akan diminta untuk 'Menghubungkan metode pembayaran', pilih 'Hubungkan rekening bank'
12. Lanjutkan langkah-langkah untuk mengisi rekening bank yang kita miliki (BNI, BSI, BRI, dan jenis bank lainnya). Fungsi dari rekening bank ini adalah untuk penarikan uang yang ada di PayPal. Uang akan ditransfer ke nomor rekening kita, sehingga uang tersebut bisa kita tarik/ambil.

Pilih sesuai tanda panah

Pendaftaran sudah selesai. Rekening PayPal sudah berhasil dibuat. Kita bisa mengeceknya dengan masuk browser atau download aplikasi PayPal di Play Store. Masukkan email dan Password untuk mengecek ulang. Maka kita akan mendapatkan tampilkan layar dengan lambang dolar.


Nomor rekening pada PayPal ini adalah alamat email yang kita daftarkan tadi. Bukan nomor dengan deret angka seperti pada bank-bank konvensional pada umumnya.

3 Perbedaan Buku Ori dan Buku Bajakan

Assalamu'alaikum, book lovers. Apa judul buku yang akhir-akhir ini sedang kamu baca?. Kalau saya masih menyelesaikan membaca buku Salihah Mom's Diary dan 9 Summers 10 Autum (seomoga kalau sudah selesai baca, bisa saya review) Buku yang terakhir merupakan buku yang saya dapatkan saat berkunjung ke Kampung Ilmu Surabaya kemarin.


Sesuai dengan judul yang akan saya tuliskan kali ini. Banyak dari kita mungkin sudah mengetahui apa saja perbedaan buku asli aka ori dengan buku bajakan aka kw itu. Namun, beberapa di antara kita juga, mungkin bahkan tidak tahu jika buku yang selama ini kita beli ternyata adalah buku bajakan

.
Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan sendiri. Berikut ciri-ciri yang membedakan antara buku ori dan buku bajakan:


1. Harga
Harga buku ori tentu jauh berbeda dengan buku bajakan. Harga buku bisa di atas 70.000 rupiah, bisa lebih rendah atau lebih mahal tergantung dari kualitas, ketebalan dan pertimbangan lainnya. Di lapak sang penulis asli baik di ig atau di toko asli mereka di e-commerce, biasanya penulis akan memberikan bonus tambahan, seperti tandatangan penulis dan potongan harga jika masih dalam masa promo. 


Buku bajakan biasanya dijual dengan harga di bawah 30.000 rupiah. Bahkan di e-commers yang sudah sangat terkenal di negeri ini, penjual memberikan promo, 100.000 rupiah dapat 5 buku, ada juga yang menjual buka 10.000/eksemplarnya. Mengerikan bukan?. Memang benar kita bisa mendapatkan buku dengan harga yang jauh lebih murah. Namun, secara tidak langsung kita telah 'membunuh' perlahan para penulis buku itu.


Di sebuah ig penulis terkenal, saya pernah membaca postingan beliau tentang banyaknya buku beliau yang beredar. Buku bajakan lebih tepatnya. Pada postingan tersebut, penulis menyebutkan bahwa pembeli buku yang mengaku menyukai tulisannya adalah pembohong. Karena jika benar menyukai, tak mungkin para pembeli itu menyakiti penulis dengan membeli karya bajakan mereka. 

Buku bajakan dari penulis yang sedang naik daun


Banyak orang yang dirugikan. Para penulis itu sendiri, para editor, penerbit dan pihak terkait lainnya. Selain itu, tenaga, fikiran, daya imajinasi penulis yang tak terhitung  jumlahnya juga turut mengalami kerugian. Sepengetahuan saya, penulis hanya mendapatkan 10-15% (bisa lebih tinggi atau lebih rendah) royalti dari buku yang mereka terbitkan. Jika buku tersebut dibajak dan masyarakat lebih memilih buku bajakan, maka para penulis asli tidak mendapatkan keuntungan apapun karena tidak ada lagi yang membeli buku mereka. Atau mungkin penjualan buku mereka akan turun dratis dari target penjualan.


Saya masuk dalam kategori pembohong tersebut. Jujur saat kuliah, saya pernah membeli buku bajakan. Selain itu, terkadang di media sosial, tersebar bebas karya penulis dalam bentuk pdf. Sejak saat itulah saya tidak membeli buku bajakan lagi. Semoga bertahan sampai akhir. Dulu saya tidak berfikir sepanjang ini. Saya hanya berfikir bagaimana cara memuaskan rasa haus saya akan buku yang saya inginkan dengan cara yang salah. Ternyata imbasnya sangat fatal sekali.


2. Bentuk fisik buku
Yang pertama adalah cover. Cover buku bajakan biasanya tidak begitu cerah atau lebih buram. Namun, jika para penerbit bajakan itu lebih lihai, mereka biasanya akan mengupayakan cover buku yang digandakan sama persis dengan buku dari penulis asli. Apakah menggunakan softcover atau hardcover, mereka akan menyamakan. Semakin sama persis cover bajakan yang mereka buat, semakin tinggi peluang buku bajakan itu dijual dengan harga yang tinggi. 


Yang kedua, jenis kertas. Jika ada buku bajakan yang sudah dibuka, kita akan tahu jenis kertas yang digunakan. Namun, jika buku tersebut masih dalam keadaan rapi alias masih terbungkus plastik. Maka untuk memastikan jika buku itu adalah buku bajakan, bisa dilihat dari harganya. Tidak mungkin penulis memberikan potongan yang gila-gilaan di luar toko mereka asli atau toko buku yang bekerjasama dengan mereka. Pun ketika di toko buku asli, mereka memberikan diskon 15-25%, bisa juga sampai 50% tergantung promo yang sedang berlaku.


Kembali lagi dengan jenis kertas. Novel atau buku asli biasanya mereka menggunakan kertas book paper, dengan warna high krem. Kertas ini lebih ringan jika dibandingkan dengan kertas HVS biasa yang berwarna putih. Kertas yang ringan membuat pembaca lebih nyaman untuk berlama-lama memegang dan membaca buku. Buku asli mayoritas menggukan jenis kertas tersebut, namun tidak semuanya. Sedangkan untuk buku bajakan, mereka menggunakan kertas koran yang warnaya agak keabu-abuan. Kertas ini biasanya kita gunakan untuk corat-coret ketika ada ujian hitungan.

Duh, pengen banget sebenarnya :D.

Yang ketiga adalah kualitas hasil print. Kita akan dengan mudah membaca tulisan yang tercetak dengan jelas pada buku asli. Berbeda dengan buku kw, kualitas tulisan buku ini sangat jelek. Beberapa tulisan bahkan raib, hilang, tidak terbaca. Bekas tinta print juga belepotan di mana-mana. Cukup menyakitkan mata. 


Yang keempat adalah tahan lama. Buku ori lebih tahan lama, tidak mudah rusak dibanding buku bajakan. Buku bajakan itu rapuh :D, mudah copot lem perekat antar halamannya. Tentu saja buku itu tidak bisa bertahan lama di lemari buku. Jika buku ini disimpan dalam waktu lama, bisa juga tulisan yang ada di dalamnya akan menghilang perlahan sesuai dengan usia penyimpanan buku. Maka buku ori lebih unggul, dapat bertahan dalam waktu yang lebih lama tentunya.

Selain itu, buku-buku bajakan biasanya diberi sampul dengan plastik yang tipis, mudah sobek. Seperti plastik wrap. Maka buku ori lebih rapi lagi bungkus plastik yang digunakan. 


3. Aroma Buku
Aroma buku yang khas terkadang memberikan efek calming. Aroma ini-lah yang membuat para pecinta buku berlama-lama dengan buku yang mereka baca. Jika kita pergi ke perpustakaan, kita akan disapa dengan aroma buku yang khas ini sebelum kita benar-benar masuk mencari buku yang kita inginkan. Jika buku bajakan, aroma yang diberikan adalah aroma tinta bekas print, bukan aroma khas tersebut.


Tidak mudah memang untuk lepas dari buku bajakan ini. Tawaran menggiurkan seakan-akan menari-nari di depan mata. Apalagi bagi kita yang sangat ingin membaca buku, namun uang kita belum cukup untuk membeli karya asli mereka. Menurut saya, ada banyak cara untuk mendapatkan buku asli dengan harga yang murah (Baca: Cara Memperoleh Buku Ori dengan Harga Murah).


Jika memang buku tersebut sangat ingin sekali kita baca. Maka cara terbaiknya adalah menabung terlebih dahulu. Dahaga akan buku terbayar ketika kita bisa membeli buku-buku tersebut dengan kualitas yang sebenarnya. Pun kalau kita sudah sangat ingin membaca buku, kita bisa membeli buku-buku bekas ori yang banyak di jual di media sosial, atau jika tempat tinggal kamu dekat dengan Surabaya, kamu bisa hunting buku-buku bekas tersebut di Kampung Ilmu.


Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para penulis. Saya mengaku pernah membeli buku mereka dalam bentuk bajakan T.T. Tidak akan saya ulangi lagi, insyaAllah. Terima kasih untuk karya-karya yang sangat menginspiratif yang sudah anda tuliskan. Teruslah berkarya. Dari kami para pecinta karya anda yang masih labil ini.


Semoga dari sedikit penjabaran di atas, kita akan lebih mudah untuk membedakan antara buku ori dan buku bajakan. Dan semoga kita kuat untuk tidak membeli buku kw yang menggiurkan itu.

Berburu Buku Bekas Di Kampung Ilmu Surabaya

Waktu menunjukkan pukul sembilan lebih sembilan belas menit saat Kereta Api Commuter yang saya naiki tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Riuh suara anak-anak kecil terdengar ramai saat tahu mereka sudah sampai tujuan.


Setelah secara impulsif mencoba KA Commuter ini, saya melangkahkan kaki menuju Kampung Ilmu yang terkenal dengan kawasan penjualan buku-buku bekas. Tepat di sebelah kanan dari arah keluarnya kendaraan, kita akan menjumpai kios-kios penjual buku. Di antara kios tersebut, juga terdapat para penjual furnitur, beberapa di antaranya tampak sedang mendempul meja yang terlihat cantik akibat efek dari pemberian furnish.

Menggiurkan bukan, koleksi bukunya?

Kios buku yang berada di trotoar, di samping kanan jalan ini, memang bukan tempat yang sebenarnya saja tuju. Malam sebelumnya, saya iseng mencari informasi berapa jarak dari Stasiun Pasar Turi menuju Kampung Ilmu. Ternyata cukup dekat, hanya tujuh menit dengan berjalan kaki berdasarkan informasi dari mbah google.


Belum pernahnya saya ke kawasan ini, membuat saya mengira jika barisan toko buku yang ada di samping jalan merupakan Kampung Ilmu yang sebenarnya sedang saya cari. Sehingga, saya memutuskan untuk mampir ke sebuah kios dengan koleksi buku-buku yang tertata rapi di banding dengan kios-kios lainnya. Buku yang disajikan juga terlihat lebih banyak.


Ada banyak buku terkenal di kios ini, seperti karya dari Dee Lestari, Fiersa Besari, Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata dan banyak buku dari penulis terkenal lainnya. Mata saya pun langsung awas menyisir, mencari buku-buku yang sekiranya menarik untuk dibaca. 


Saat mencari buku, tangan kita akan merasakan debu-debu yang menempel pada permukaan buku. Cukup mengganggu sebenarnya, namun mau bagaimana lagi, kalau tujuan kita adalah mencari buku bekas, maka seperti inilah keadaanya. Meskipun masih ada buku-buku yang bersampul plastik. Namun kondisinya tidak jauh berbeda. 


Setelah berkeliling mencari buku bekas ori, akhirnya saya menemukan buku dengan judul '9 Summer 10 Autums-Dari Kota Apel Ke The Big Apple'. Merupakan sebuah novel yang dituliskan oleh Iwan Setyawan. Seseorang yang pernah tampil dalam acara Kick Andy di Metro TV. Buku yang Ia tulis ini, juga pernah difilmkan. Saya sudah melihat tayangan filmnya, namun belum pernah membaca cerita dari novel aslinya.

Gusti, kuatkan aku dari buku-buku yang menggoda ini :D

Kondisi buku yang saya beli ini, terlihat kotor dan berdebu pada bagian sampul. Tak apa, bisa dibersihkan nanti ketika sudah sampai di kost. Yang terpenting buku itu ori dan cerita di dalamnya menarik. Pun harganya juga murah, hanya sepuluh ribu rupiah. 


Sebelum menemukan buku ini, saya sebenarnya sudah menemukan buku menarik lainnya. Ketika saya tanya ke penjual, harganya lima belas ribu. Sambil menimbang apakah saya akan membeli buku tersebut, saya mencoba mencari buku lain, dan akhirnya bertemulah dengan buku '9 Summer' tersebut.
Di kios tersebut saya hanya mendapatkan satu buku. Sebenarnya banyak sekali buku yang ingin saya baca, namun kembali bahwa di toko buku bekas seperti ini, mereka tidak benar-benar menjual buku ori bekas. Melainkan, buku bajakan dari penulis terkenal dengan harga yang jauh lebih murah. 


Setelah mendapatkan buku, saya mulai melipir ke Kampung Ilmu. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari penjual buku tersebut, lokasinya sekitar seratus meter dari kios tempat saya membeli buku yang pertama. 


Akhirnya saya tiba di sebuah kawasan dengan barisan kios buku yang jauh lebih rapi dibandingkan dengan kios-kios buku sebelumnya. Banyak sekali buku yang menggiurkan untuk dibaca. Namun, kembali lagi. Saya berusaha untuk tidak tergoda dengan buku-buku bersampul rapi yang ditawarkan dengan harga jauh lebih murah dari buku yang dijual oleh toko aslinya. Sudah pasti, buku-buku ini adalah buku bajakan, buku kw yang entah kenapa tumbuh subur keberadaanya.


"Ada buku bekas Tere Liye mbak?" Mungkin di antara buku kw yang mereka pajang, mereka juga memiliki buku bekas ori.
"Ini mbak." Saya memeriksa sebuah buku dari Tere Liye degan judul 'Bulan'. Judul yang sudah pernah saya baca sebelumnya. Ternyata buku yang saya pegang ini pun kw dan bekas. Lengkap sudah.
"Judul lainnya ada ngga mbak?" Saya masih mencoba bertanya.
"Yang baru ada mbak." buku Tere Liye dengan judul lain 'Si Putih' dengan bungkus plastik yang masih rapi terlihat di barisan buku-buku tersebut. Saya pun pamit pergi untuk tidak membeli buku tersebut.


Sebuah kawasan yang berisi lebih dari lima belas kios buku menjadi ciri lokasi yang akhirnya saya temukan ini. 


Menurut saya semakin best seller sebuah buku, maka kemungkinan pembajakan tulisan tersebut akan semakin tinggi. Padahal, di setiap buku selalu tertulis apa saja pidana yang akan diterima ketika menggandakan buku-buku. Melanggar hak cipta yang hukuman dan dendanya saja membuat kita bergidik ngeri. 

Saya beli buku '9 summers 10 autumns' di sini

Seingat saya, saya belum pernah melihat tayangan berita pada media sosial tentang penangkapan para pengganda buku bajakan. Duh, miris sekali. Susah payah sang penulis menuangkan idenya pada sebuah buku yang pastinya membutuhkan waktu lama untuk dibukukan. Mereka dengan santainya menggandakan, mengedarkan, tanpa memperdulikan perasaan dari sang penulis.(Baca: Perbedaan Buku Asli Vs Bajakan).


Para pembeli banyak berdatangan di toko buku ini, baik toko buku yang ada di samping jalan di sebelah stasiun, pun dengan toko buku di kampung ilmu. Kampung Ilmu merupakan tempat yang sudah terkenal dengan banyak kalangan. Bagi mereka yang sangat menyukai buku, tempat ini adalah surganya.


Saat mencoba memilah dan memilih buku, saya bertemu dengan beberapa pembeli yang langsung menunjukkan layar hpnya kepada penjual, menanyakan jika buka yang dimaksud ada tidak di kios mereka. 


Seorang bapak berasal dari Bandung yang saya temuai di penjual buku pertama dan di Kampung Ilmu, rupanya sedang mencari buku. Berulang kali saya mendengar beliau menanyakan buku-buku yang berkaitan dengan sejarah masjid yang ada dibeberapa tempat di Indonesia. Namun tak jua kunjung ia dapatkan. Memang lokasi ini gudangnya buku, namun tetap tidak bisa menyediakan semua buku yang diingankan penjual yang selera bukunya beragam.


Masuk di Kampung Ilmu ini harus benar-benar menata hati :D. Kalau salah perhitungan, bisa jadi kita kalap dan membelanjakan semua uang yang kita miliki dengan buku-buku yang menarik. Selain itu, membeli buku kw aka bajakan juga harus kita pertimbangkan matang-matang. Bisa jadi tindakan membeli buku kw tersebut yang kita anggap enteng, malah membuat sang penulis berhenti dari profesinya. Hatinya sakit akibat dari penggemar tulisannya sendiri, yang katanya cinta ternyata malah menusuknya dari belakang. Apasih :D.


Menulis satu artikel di blog dengan jumlah delapan ratus sampai seribu kata saja, membutuhkan waktu lebih dari dua jam (maklum penulis amatir). Apalagi jika referensi yang dimiliki kurang, sehingga tulisan itu harus bersemayam di folder draft, bisa jadi tulisan itu baru jadi setelah beberapa hari. Bagaimana dengan penulis kawakan? pasti jauh membutuhkan banyak waktu, tenaga, referensi, biaya dan hal lainnya sehingga karya itu bisa diterbitkan.

 
Perburuan buku yang saya lakukan ini hanya mendapatkan satu judul buku. Selain waktunya terlalu sempit karena saya menjadwalkan kembali ke Gresik pukul setengah dua belas, uang yang tanpa persiapan saya bawa pun terlalu cekak :D. Mungkin nanti diperburuan yang ke-2, saya harus mengalokasikan waktu yang cukup, kalau untuk uang bawa sedang saja, jangan bawa terlalu banyak, takut khilaf:D.


Rute menuju Kampung Ilmu Surabya:
Setelah ke luar dari Stasiun Pasar Turi, ambil arah kanan menuju jalan keluar kendaraan. Belok ke kanan, jalan lurus kira-kira seratus lima puluh meter, Kampung Ilmu ada di sebelah kanan. Lokasinya agak masuk, jadi agar kamu tidak keblabasan jalan terlalu jauh, bisa tanya orang-orang yang kamu temui di sana saja untuk memastikan. Selamat berbelanja buku.

The Unexpected Journey: Mencoba Kereta Commuter Lokal, Stasiun Indro-Pasar Turi

Jalanan masih cukup ramai. Weekend seperti ini, beberapa orang biasanya berolahraga seperti, cycling, jogging dan senam bersama. Tidak seperti minggu lalu, hari ini saya memutuskan untuk senam di kost saja. Selain karena ingin melipir ke tempat lain, senam di kost jauh lebih leluasa bagi  perempuan menurut saya :D.

Terima kasih Pak Satpam yang sudah membantu memfotokan saya :D


Seusai senam, saya berencana ke Stasiun Indro yang ada di Gresik. Jaraknya sekitar lima belas menit dari kost, berdasarkan info yang saya dapatkan dari google. Setelahnya, saya ingin mampir ke penjual sayur dan melakukan aktivitas lain kemudian.


Setelah beberapa kali tersasar, tak menemukan rute yang tepat menuju stasiun, akhirnya saya menggunakan cara lama, bertanya kepada orang letak stasiun yang sebenarnya. Ini memang bukan pertama kalinya saya pergi ke stasiun Indro, namun di memori saya, entah mengapa lokasi stasiun ini sudah menguap, tak meninggalkan sisa, karena sudah berlalu berberapa tahun yang lalu saya bepergian dibonceng seorang teman (biasanya memang seperti itu, kita tidak peduli dengan jalan yang kita lalui, jika kita bukan yang berkendara di depan).


Akhirnya saya ditunjukkan dengan jalan yang benar, setelah sebelumnya saya malah putar balik di jalan yang sudah benar menuju stasiun tersebut :D. Saat memasuki stasiun, warga akan menanyakan apa tujuan kita. Misalnya hanya mengantarkan saja atau memang akan pergi menggunakan kereta. Jika hanya mengantarkan saya, pengunjung akan dikenai biaya dua ribu rupiah. Jika parkir di dalam untuk bepergian, kita akan dikenai biaya parkir dua ribu di awal masuk dan tiga ribu saat kita mengambil motor kita, total lima ribu rupiah. Untuk mobil lima ribu saat mengantar saja dan sepuluh ribu rupiah jika kita parkir tetap di dalam area parkir.


Perjalanan tak terduga akhirnya dimulai. Begitu melihat gerbong kereta yang seakan menunggu kedatangan saya, hati saya tergoda :D. Bimbang. Berangkat, mencoba naik kereta ini atau tidak. Sesuai dengan rencana yang saya uraikan di atas. Saya hanya ingin mengetahui lokasi stasiun, agar nanti ketika saya ingin bepergian ke mana saja dari stasiun ini, saya tidak tersasar. Namun, godaan terlalu berat ternyata.


Saya kemudian memutuskan untuk membeli tiket kereta. Pembelian tiket ini dapat menggukanan KTP/SIM/Kartu Vaksin atau bisa juga membeli tiket secara online menggunakan aplikasi KAI. Pada tiket yang saya dapatkan, terdapat keterangan apakah saya sudah melakukan vaksinasi atau tidak. Saya kurang tahu, apakah bagi teman-teman yang belum mendapatkan vaksin bisa tidak untuk mencoba moda transportasi ini.

Jadwal Operasional Kereta Api Komuter

Kereta Api Komuter, begitu petugas KAI menyebut kereta yang akan saya tumpangi. Kereta ini tidak berbeda dengan kereta ekonomi yang mungkin pernah kamu coba ketika bepergian. Jika pada kereta ekonomi, misalnya kereta Darmawangsa, terdapat tempat duduk yang berisi penumpang tiga orang di sebelah kanan, saling berhadapan, dan dua orang di sebelah kiri berhadapan. Maka di kereta commuter ini, tempat duduk hanya berisi dua orang, empat orang total dengan posisi duduk saling berhadapan.


Kereta berangkat mulai pukul 8.45 WIB. Kereta ini hanya menyediakan empat gerbong. Beberapa stasiun yang dilewati seperti St. Indro, Kandangan, Tandes, Surabaya Pasar Turi, Surabaya Gubeng, Wonokromo, Waru, Gedangan, dan Sidoarjo. Harga tiket untuk semua tujuan sama, lima ribu rupiah.
Kereta Api Komuter ini berbeda dengan  Kereta Commuter Line yang beroperasi di Jabodetabek. Stasiun yang dilewati juga tidak banyak. Maklum saja, KA Komuter ini baru beroperasi tahun 2020, saat covid menyerang beberapa tahun lalu. Stasiun Indro ini memang sudah dibangun sejak lama, namun saya kurang tahu diperuntukkan untuk apa stasiun ini sebelumnya.

Bebas memilih tempat duduk

Jika kita ingin mengeksplore lebih jauh lagi, menurut info dari beberapa mahasiwa  yang  kami sempat bercakap-cakap di dalam gerbong. Kita harus turun di Stasiun Gubeng. Dari stasiun ini kita bisa mencoba kereta lokal jurusan Mojokerto dan Tulungagung (Semoga suatu saat saya bisa mencobanya juga :D).


Selain keberadaan Bus Trans Jatim, keberadaan KA Komuter di kota Gresik memberikan kemudahan untuk bepergian bagi warga. Saat saya mencoba moda transportasi ini, beberapa anak kecil dengan orang tua atau sanak saudara, tampak ramai memenuhi stasiun. Berpergian, liburan, atau sekedar menyenangkan hati sang anak, mungkin saja. Beberapa lainnya, mungkin ingin bepergian menonton cosplay yang saat itu berlangsung di Wonokromo (tujuan perjalanan dari rombongan mahasiswa yang duduk di samping-depan saya), berbelanja ke Pasar Turi, atau hanya ingin jalan-jalan saja seperti saya :D.


Saat kembali ke kota Gresik, saya mengambil kereta dengan keberangkatan pukul 11.30 WIB (cukup singkat dari jadwal waktu kedatangan saya di St. Pasar Turi). Sebenarnya ada tiga jam keberangkatan lain, pukul 11.30, 13. 30 dan 16.30 WIB. Jika perjalanan ini sudah direncanakan sebelumnya, mungkin saya memilih waktu kembali yang terakhir. Mungkin.


Berbeda dengan kereta yang kami gunakan saat berangkat, saat kembali ke Gresik, kami menggunakan  KA Komuter dengan warna yang berbeda, warna hijau. Pada bagian tengah terdapat gantungan yang digunakan untuk berpegangan. Mirip dengan yang ada di dalam KRL atau Bus Trans Jatim. Kereta ini (warna hijau) mungkin dioperasikan pada pagi hari saat hari kerja. Waktu di mana penumpang yang berangkat kerja membludak.


Bepergian sendirian memang bukan hal baru bagi saya. Namun tidak dengan tanpa persiapan sama sekali. Sebuah goody bag dengan isi dompet lengkap (padahal hanya ada uang tujuh puluh ribu di dalamnya), sebuah kamera poket dan hp dengan baterai yang hanya tersisa lima puluh tujuh persen menemani perjalanan tak terduga kemarin. Tidak lupa, pakaian yang layak untuk berpergian jauh juga saya kenakan. Entah kenapa kemarin berbeda. Padahal biasanya, kalau hanya ke penjual sayur, saya sering mengenakan jilban langsungan yang dipadukan dengan jaket (ciri anak kost, hihi).

Kereta Api Komuter

Namun, perjalanan yang Allah rencakan untuk saya ini, ternyata sangat mengasyikkan. Padahal sebelumnya, saya berencana ingin bepergian dengan teman-teman. Namun, Allah mempunyai jalan cerita lain.

 
Oh ya. Setelah sampai di stasiun Pasar Turi, saya langsung melipir ke luar stasiun. Saya mencari kios penjual buku bekas yang infonya saya dapatkan malam hari sebelumnya. Ternyata banyak toko buku bekas di luar stasiun. Toko buku bekas 'Kampung Ilmu' yang sudah sangat terkenal di kalangan para pencinta buku menjadi tujuan saya. Lokasinya berjarak sekitar seratus lima puluh meter dari stasiun Pasar Turi. Perjalan menuju toko buku ini, insyaAllah akan saya tuliskan pada artikel berikutnya.


Rute mudah menuju stasiun Indro: Dari lampu merah perempatan Mac Donald (meskipun sekarang sudah tutup), atau perempatan tugu Wilmart, ambil jalan lurus. Jauh sebelum sampai pabrik Wilmart, ada perempatan, ambil jalan lurus. Stasiun Indro ada di sebelah kanan. Semoga rute ini memudahkan :D.

Bus Trans Jatim, Cara Baru Untuk Menikmati Perjalanan

Beberapa halte baru tampak sudah terpasang di samping kanan kiri jalan. Bentuknya yang tidak begitu besar dengan warna hitam dan hijau membuat saya penasaran. Halte baru ini, bahkan letaknya tidak jauh dari halte lama yang warga gunakan untuk menunggu angkutan kota. Beberapa lainnya memang dipasang di lokasi baru.


Bus Trans Jatim menjadi jawaban atas rasa penasaran saya akan penggunakan halte bus yang baru tersebut. Ternyata peruntukannya untuk moda transportasi baru ini.  Seperti bus Trans Jakarta yang sudah cukup lama dirasakan oleh warga ibu kota, kehadiran bus Trans Jatim nyatanya memberikan oase baru bagi para pengguna angkutan umum. 


Pemberhentian pemberian subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) memberikan dampak pada kenaikan BBM dan harga bahan pokok lainnya. Terlebih, tarif untuk kendaraan umum juga akan ikut meningkat. 

Sedikit oase di saat BBM mulai naik

Bus Trans Jatim menjadi salah satu solusi yang diberikan pemerintah. Tarif yang diberikan cukup murah hanya 5000 rupiah untuk umum dan 2500 rupiah untuk pelajar. Tarif yang jauh lebih murah daripada menggunakan moda transportasi yang lain. Tarif ini sama untuk semua tujuan, dekat ataupun jauh. 


Bus ini melayani rute Gresik-Surabaya-Sidoarjo. Beberapa halte keberangkatan/pemberhentian bus mudah kita temui di beberapa titip di Gresik dan Sidorarjo. Namun tidak dengan Surabaya. Ketika bus melaju keluar dari wilayah Gresik, bus hanya akan berhenti di Surabaya (saya kurang tahu nama halte yang ada di Surabaya. Sebab halte tempat naik penumpang saat itu masih belum jadi ketika saya mencoba bus ini pada saat masa uji coba. Selanjutnya bus akan berhenti di terminal Bungurasih).


Antusias warga cukup besar saat pertama kali bus ini dioperasikan (sampai saat ini pun masih sama). Pada awal pengoperasiannya, penumpang tidak dikenai biaya alias gratis selama satu minggu. Warga yang telah lama berdiam diri di dalam rumah saat pandemi, tentu tertarik untuk sekedar 'jalan-jalan' menjelajah kota Gresik, Surabaya dan Sidoarjo. Saya salah satunya :D.


Akhir bulan Agustus lalu saya mencoba bus Trans Jatim dari kota Gresik sampai Sidoarjo. Di sepanjang jalan, tempat halte bus ini berada, selalu penuh dengan para penumpang yang sedang menunggu. Karena masih dalam masa percobaan, para penumpang yang jumlahnya banyak diperbolehkan masuk ke dalam bus. 


Konsekuensinya ada beberapa yang harus duduk di lantai bus, bukan lagi berdiri. Berbeda dengan sekarang saat bus ini sudah resmi beroperasi, tentu saja dibatasi jumlah penumpang untuk setiap bus. Masyarakat berbondong-bondong mengajak teman, sanak saudara untuk mencoba bus ini.
Ketika saya sampai di terminal di Porong-Sidoarjo, beberapa penumpak tampak mengantri untuk bisa masuk bus. Beberapa anak kecil yang ikut orang tua atau saudara mereka malah baru pulang dari sekolah dan oleh orang tua mereka diajak langsung untuk mencoba bus ini.

Tiket Bus Trans Jatim

Beberapa warga tampak membawa bekal. Air minum, snack, dan jenis lainnya. Layaknya ingin berwisata. Memang benar. Sejauh ini, moda transportasi yang sering diakses oleh warga adalah bus dan angkutan kota. Tarif yang diterapkan sesuai dengan kebijakan masing-masing daerah. Meskipun ada beberapa oknum yang menarikkan tarif lebih mahal juga.


Berbeda dengan bus lokal yang sering ngetem bermenit-menit (terkadang lebih dari tiga puluh menit, bisa kurang) untuk menunggu bus penuh dengan penumpang.  Bus Trans Jatim akan segera berlalu pergi saat di halte tidak  didapati seorang penumpang. Hal ini mungkin yang menjadi alasan tambah lain yang menarik minat para penumpang untuk menggukan moda transportasi ini.


Perjalanan Gresik-Sidoarjo memakan waktu sekitar dua jam lima belas menit. Perjalanan terasa cepat ketika bus melaju dari Gresik menuju Surabaya melalui jalan tol. Sebelum berhenti di terminal Bungurasih/Purabaya, bus hanya berhenti satu kali setelah ke luar dari tol. 


Sejak bus ini dioperasikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur sudah menyediakan aplikasi Trans Jatim pada Playstore. Aplikasi ini dapat digunakan untuk memantau lokasi bus, baik yang sedang beroperasi serta nama-nama halte pada setiap lokasi. Selain itu kita juga bisa top up saldo tiket bus pada aplikasi ini. Jika ada perubahan rute, maka akan ada informasi juga pada aplikasi tersebut.


Pembayaran tiket bus Trans Jatim juga melayani cashless e-money, q-ris serta aplikasi e-wallet lainnya sepreti OVO, Go Pay, Shopee Pay dan lainnya.


Hadirnya bus Trans Jatim memberikan kemudahan mobilitas bagi warga Gresik-Surabaya-Sidoarjo. Semoga tidak hanya tiga kota ini saja, daerah lain juga bisa merasakan kemudahan dengan menggukana moda transportasi jenis ini.


Bagi kamu yang ingin menjelajah tiga kota tersebut dengan menggunakan bus Trans Jatim, sangat bisa sekali. Kamu bisa mencoba untuk mengeksplore berbagai tempat menarik di sekitar lokasi halte bus itu berhenti. Seperti kulineran yang saya lakukan di terminal Porong Sidoarjo. Bus mulai beroperasi pukul 5 pagi sampai pukul 9 malam. Jumlah armada bus yang tersedia 22 unit, dengan 20 unit bus yang beroperasi setiap hari, 2 lainnya sebagai cadangan.


Kalau kamu sudah mencoba bus Trans Jatim ini, bagaimana menurutmu?

Review Buku: Bidadari Tak Suci

Assalamu'alaikum semuanya, selamat pagi, sore dan malam sesuai dengan waktu teman-teman membaca tulisan saya ini :D.


Oke, kali ini saya akan menuliskan review buku novel "Bidadari Tak Suci" yang ditulis oleh Fissilmi Hamida. Buku ini diterbitkan oleh Nea Publishing pada tahun 2020. Buku yang saya baca ini merupakan cetakan yang ke-3 dengan jumlah 320 halaman. Tidak begitu tebal bagi kamu yang menyukai membaca buku. Oke langsung saja masuk ke bagian review buku.


Review buku (saya menggunakan bahasa bebas agar tidak terkena coppyright, namun tidak jauh dari isi buku yang sebenarnya)

Kembang Mayang namanya, seorang gadis yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga. Pekerjaan yang merupakan sumber penghasilan utama ini Ia gunakan untuk membantuk mencukupi kebutuhan orang tuanya di desa. Namun malang tak dapat dihindar, kejadian yang menyakitkan menimpanya, sehingga memaksanya untuk kembali ke kampung halaman dengan berbadan dua.


Seluruh warga, tua muda mencemooh, memojokkan, menganggap Ia pendosa yang hina, bahkan tak segan-segan melukainya. Orang tua Mayang pun tak menerima keadaan sang anak yang telah mencoreng kehormatan mereka. Pun ketika Mayang mengaji, hinaan demi hinaan Ia terima. Ia yang tidak suci dianggap tidak pantas untuk mengaji lagi. Dan akhirnya seorang ketua RT beserta istrinya dengan suka rela dan senang hati menyediakan tempat tinggal untuk Mayang. Mereka menganggap Mayang anak mereka sendiri, tersebab anak mereka merupakan teman bermain Mayang saat kecil.


Semua orang di desa penasaran siapa ayah dari si jabang bayi yang dikandung oleh Mayang. Sampai kemudian tibalah waktu kelahiran. Seorang bayi tampan dengan mata kehijauan dan rambut keemasan membuat geger warga desa. Oleh pak RT bayi mungil itu diberi nama Seno Aji. Seluruh warga penasaran bagaimana rupa dari bayi bule tersebut. Mereka yang semula datang mengecam, kini mereka ngantri untuk melihat wajah tampan anak Mayang.


Demi melihat tampang sang bayi, gunjingan warga desa kian menjadi. Pak RT pun meminta warga desa untuk berkumpul di balai desa. Ia ingin menjelasan kepada warga desa siapa ayah dari sang bayi sebenarnya. Hal yang harus Ia lakukan, agar Mayang bisa terlepas dari prasangka dan kejahatan warga.


Setelah semua warga berkumpul, Pak RT mulai menjelaskan asal usul dari sang bayi yang ternyata merupakan anak hasil dari korban pem******. Semua warga kini bersimpati dan iba, meminta maaf atas apa yang mereka lakuan, termasuk kedua orang tua Mayang yang kemudian bisa menerimanya dengan rasa simpati serta rasa sedih yang tak terkira.


Oscar William Dexter merupakan majikan yang telah melakukan pem****** itu. Tersebab pengaruh alkohol yang Ia minum, Ia mengira jika Mayang yang saat itu mencoba pakaiaan pemberian Clara, merupakan istrinya. Sehingga terjadilah hal yang memilukan.


Menjadi buruh di sawah Mayang lakukan demi mencukupi kebutuhan sang anak yang kini sudah beranjak besar. Namun pekerjaan itu ternyata tidak mencukupi kebutuhan untuk keluarganya. Hingga akhirnya Ia menerima tawaran untuk bekerja sebagai pembantu kembali di Jogja. Ia akan bekerja menemani sang majikan yang lumpuh tidak bisa berjalan.


Alexander merupakan majikan baru Mayang yang lumpuh akibat kecelakaan. Lara sang majian kian besar akibat kehilangan sang istri dan anak sekaligus dalam kecelakaan tersebut. Hal yang membuat Ia terpuruk dengan keadaan. Semangat hidupnya kian redup.


Beberapa bulan setelah bekerja di majikan baru, Seno Aji ingin mampir ke tempat kerja sang ibu. Pak RT dan sang istri yang ingin mengunjungi anak mereka yang kuliah di Jogja ingin mengajak Seno serta untuk bertemu dengan ibunya. Sebagai seorang majikan yang telah kehilangan anak, kehadiran Seno ternyata mampu mengobati sedikit rasa sepi yang Alexander rasakan. Seno dan Alexander kemudain saling menyanyangi, termasuk kini Alexander mulai menyimpan rasa dengan Mayang.


Bagaimana ending dari cerita ini? Apakah Mayang akan menikah dengan Alexander ataukah malah menikah dengan Oscar? Teman-teman bisa membaca langsung bukunya ya.


PoV


Menurut saya novel ini recomended untuk dibaca. Bagi kamu yang suka membaca novel, judul buku ini bisa masuk dalam list buku yang akan dibaca. Buku ini sangat menarik, bahkan saya menamatkan buku ini kurang dari 12 jam:D.


Maaf saya tidak mereview sampai tuntas. Semoga spoiler tentang buku ini akan menambah rasa penasaran teman-teman tentang buku sebenarnya yang sangat jauh lebih lengkap, lebih baik, dan lebih mendebarkan jika dibandingkan dengan sinopsis yang 'seuprit' ini. 


Membaca buku secara langsung merupakan cara kita menghargai penulis. Penulis yang telah menuangkan ide, gagasan, waktu, tenaga dan semuanya yang membuat tulisan ini hadir di tangan kita. Agar para penulis lebih semangat dalam berkarya yang karyanya bisa dinimati oleh masyarat pembaca.
Jika teman-teman ingin membeli bukunya, bisa langsung pesan melalui instagram Neapublishing. Happy reading.

Botol Bekas dan Selang Bensin

 Matahari kian menyengat. Pakaian yang aku kenakan terasa basah oleh keringat yang mengalir deras seperti air hujan. Ini bukan kali pertama aku harus menuntun motor yang tiba-tiba mogok di tengah jalan. Terhitung sudah tiga kali selama bulan ini. Huft, aku kesal, kesal dengan diri sendiri kenapa dulu aku membeli motor ini.


    Motor butut yang aku beli saat mendapatkan gaji pertama ini, ternyata tidak bisa diajak kompromi. Permasalahannya hampir sama, sangat moody, sering ngambek tidak mau jalan. Keputusan untuk membeli motor second memang tiba-tiba aku lakukan. Pekerjaan menjadi seorang sales dengan aktivitas di luar memaksaku untuk segera mengambil pilihan ini. 


    Jika aku hanya menawarkan peralatan memasak di area kos tempatku tinggal, maka pendapatkan yang aku peroleh akan lebih sedikit dibandingkan pekerja yang memilih menawarkan produk mereka ke daerah lain yang lebih jauh. Sehingga aku memutuskan untuk membeli motor butut ini setelah mendapat gaji pertama. Berbekal dengan pengetahuan yang tidak ada sama sekali tetang otomotif, aku tertarik dan membeli motor yang terlihat cantik saat ditawarkan di media sosial.


    Tanpa perlu survey terlebih dahulu, besoknya aku meminta penjual untuk mengirimkan motornya ke kos tempatku tinggal. Terlihat sempurna awalnya, ternyata motor itu benar-benar ‘sakit’, hal yang baru aku ketahui setelah motor aku terima. Mau komplain juga tidak bisa, penjual sudah mengeblock nomorku, apesnya aku sudah terlanjur melunasi pembayaran motor ini. Asas percaya ternyata membawa kecewa karena ketledoranku dan tentu saja berbuah omelan dari kedua orang tuaku.


    Setengah jam sudah aku menuntun motor. Sesekali aku naiki motor dengan mengayuhkan kaki. Saat jalanan turun, perjalanan terasa ringan. Namun, ketika jalan sedikit menanjak, barulah terasa betapa beratnya motor ini. Jarak rumah dan kostku memang  tidak jauh, hanya dua jam jika ditempuh dengan motor dan akan lebih lama jika aku menggunakan kendaraan umum yang biasanya akan ngetem cukup lama sampai bus penuh dengan penumpang.


    Jalan yang aku lalui ini memang bukan jalan raya yang ramai dilewati oleh lalu lalang kendaraan, hanya beberapa penduduk desa yang pergi bekerja ke ladang. Namun, saat ini aku berada di tengah-tengah hutan yang jauh dari area pedesaan. Kakiku sudah tak kuat lagi melangkah sehingga aku putuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon rindang di tepi jalan.


    Sejuk, semilir angin bertiup lembut. Nyanyian burung menambah lengkap suasana. Perlahan aku pejamkan mata. Memoriku berkelana mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
“Ayah kenapa selalu bawa botol bekas dan selang di jok motor?” tanyaku penasaran.
“Coba tebak?” yang tanya malah balik tanya.
“Ya sudah Nina ngga mau tau.” Jawabku dengan pura-pura memasang wajah kesal. Ayahku terkekeh melihat tingkah lakuku.
“Duh cah ayu. Begitu saja nesu.” Sambil tangan kanannya menepuk-nepuk pelan kepalaku.
“Jadi, botol bekas ini buat wadah bensin dan selang ini untuk menyedot bensin yang ada di tangki motor.”
Aku masih diam tidak tahu maksud jawaban Ayah.
“Ayah mau jualan bensin?” tanyaku dengan pede-nya
    Ayahku terpingkal-pingkal mendengar jawabannku. Sampai-sampai tubuhnya ikut bergetar. Aku hanya melihat dengan tatapan sinis. Merasa kalau anaknya mulai marah, Ayah cepat-cepat menjelaskan lagi.


“Bensin itu bukan Ayah jual. Melainkan Ayah berikan kepada orang yang membutuhkan. Misalnya saja di tengah-tengah jalan ada orang yang kehabisan bensin, maka Ayah bisa menawarkan bantuan memberikan bensin yang Ayah miliki. Meskipun Ayah tidak bisa berbuat banyak kebaikan seperti orang lain yang mampu memberikan sedekah berjuta-juta atau bahkan milyaran rupiah, Ayah hanya ingin melakukan sedikit kebaikan yang bisa Ayah lakukan untuk orang lain” 


    Aku mengakat keempat jari jempolku, termasuk jempol jari kaki, sambil mengucapkan “Keren”.
    Ayah yang melihat responku, bersikap seolah-olah menyibak rambut poninya, yang sebenarnya tidak ada karena baru saja Ia cukur plontos rambutnya. Tidak tertinggal Ia menjawab “Ayah siapa dulu dong”


    Aku hanya terkekeh melihat tingkah polah Ayah yang usianya terpaut 40 tahun denganku itu. Ia memang menjadi sosok Ayah yang mencoba membaur dengan anak-anaknya. Berkaitan dengan bensin tersebut, aku jadi teringat sebelum Ayah ke luar rumah, Ia selalu memastikan tangki bensin motor yang Ia kendarai selalu penuh. Ternyata ini alasannya.


“Jadi, Kakak bisa meniru apa yang Ayah lakukan ini. Siapa tahu di tengah jalan nanti Kakak bertemu dengan orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan” Ayah memintaku dengan senyum simpul diwajahnya.
    Aku hanya tersenyum mengiyakan. Hal yang belum aku lakukan sampai saat ini.
Tiba-tiba pundakku ditepuk perlahan
“Nduk, bangun” lamat-lamat terdengar suara laki-laki asing terdengar.
Aku masih memejamkan mata, setengah tertidur.
“Nduk, bangun nak” kini berganti dengan suara seorang perempuan.
Aku membuka mata. Karena wajah mereka hanya berjarak lima belas senti dari wajahku, aku berteriak dengan kencang yang membuat kesadaraanku kembali sepenuhnya.
“Bapak Ibu siapa?” Suaraku masih terdengar parau
“Oh kami tadi baru pulang dari sawah ketika kami melihati adik tertidur di bawah pohon. Kami kira adik tadi terluka” Sang ibu paruh baya mencoba menjelaskan.
Dengan wajah yang menahan malu, aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Oalah, padahal jalan sepuluh menit lagi, adik bisa bertemu dengan bengkel di sebelah sana.” Sang lelaki mencoba menunjukkan lokasi bengkel dengan arah tanggannya.
“Wah dekat ya pak. Tapi saya terlajut capek Pak tadi, jadi saya mencoba istirahat, ternyata malah kebablasan dua jam” jawabku dengan tersenyum.
“Ya sudah nak, kamu naik motor bapak saja. Bocengan dengan Ibu, nanti Bapak yang akan bawa motormu ke bengkel.”
“Jangan Pak, biar saya sendiri” jawabku segan merepotkan orang yang baru aku temui juga tidak aku kenal.
“Nggak papa Nak. Kami juga punya anak yang merantau. Kami membayangkan anak kami berada di posisi adik, pasti sangat kesulitan” Sang istri mencoba meyakinkanku.


    Setelah melihat kesungguhan wajah kedua orang asing tersebut, Aku akhirnya meng-iyakan bantuan mereka.


    Kami pun kemudian bergegas berkendara menuju bengkel yang mereka maksud. Tiga puluh menit kemudian motorku berhasil dinyalakan. Ternyata bensinku benar-benar habis, ditambah lagi dengan oli yang sekarat yang membuatku harus menggati dengan oli baru.


    Rumah pasangan suami istri yang menolongku ternyata berada tepat di samping bengkel. Mereka mengajakku mampir kerumah mereka dan memberiku makan siang saat motorku diperbaiki. Mungkin mereka merasa iba dengan tampang melasku.


“Terima kasih pak bu untuk bantuannya” Kataku sebelum berpamitan
“Ngga usah sungkan besok-besok mampir ya kalau pas pulang”
“Bawa ini juga. Bisa dimakan bareng-bareng di kos dengan teman lain” Sang ibu menyodorkan tas yang terlihat sangat berat.
“Nggak usah bu. Terima kasih banyak sudah membantu saya” Jawabku dengan cepat, mencoba untuk tidak merepotkan mereka lagi.
“Nggak boleh menolak rezeki nak. Ayo diterima”
    Aku pun menerima tambahan kebaikan yang mereka berikan. Motor yang aku kendarai mulai melaju, meninggalkan bengkel dan orang baik tersebut. Di tengah jalan aku menguatkan niat di dalam hati “aku juga akan berbuat baik seperti Ayahku dan berbuat kebaikan lain yang bisa aku lakukan, seperti bapak ibu tadi.” 


    Kendaraan pun melaju meninggalkan rasa kecewa yang berganti dengan rasa syukur atas kejadian yang sudah menimpa.

Review Film: Ranah 3 Warna

Assalamu'alaikum semuanya. Setelah kemarin saya menulis cerpen perdana, kali ini saya akan mereview film yang berjudul 'Ranah 3 Warna' yang diangkat dari judul buku yang sama karya A. Fuadi.
Film ini merupakan trilogi dari buku Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. Karya pertama juga difilmkan beberapa tahun yang lalu. Film Ranah 3 Warna mulai tayang di bioskop tanggal 30 Juni 2022.


Review
Film dibuka dengan menampilkan dua orang anak laki-laki yang mengobrol di tepi sebuah danau (Danau Maninjau kalau di novel).
'Mau kuliah di mana setelah lulus Pesantren?' tanya Randai 'kamu kan tidak punya ijazah SMA, mau ikut SMPTN pakai apa?.' Tawanya mengejek Ali.

'Kalau aku berusaha ya bisa.' jawab Alif dengan nada tinggi, kesal melihat tampang songong Randai yang saat itu sudah di terima kuliah di Institut Teknologi Bandung.
 

Sementara beberapa anak laki-laki lain yang berada di atas pohon menyahut '' Jadi guru ngaji saja lif, ngga usah kuliah.' yang lainnya juga menambahkan 'atau jadi nelayan saja lif' mereka tergelak bersama kecuali Alif.


Tidak mendapatkan ijazah saat lulus dari Pesantren, membuat Alif harus berjuang keras untuk mengikuti ujian paket C yang kemudian dilanjut dengan ujian SMPTN. Berbekal tekat kuat, kerja keras untuk belajar materi-materi pelajaran yang belum pernah Ia dapatkan membuatnya berjibaku dengan buku-buku.


Sebuah bus Harmoni yang dinanti tak kunjung datang. Pasalnya pengumuman ujian SMPTN dimuat di koran, sang ayah pesankan ke pak sopir yang datang dari kota. Lama yang ditunggu kemudian datang, satu per satu nama diperiksa, namun tak jua mereka menemukan nama Alif pada daftar mahasiswa yang diterima. Merasa bahwa Alif tidak diterima, sang ayah memberikan koran sepenuhnya ke Alif.


'Kita pulang saja' Sang Ayah terlihat tidak bersemangat.
Alif masih mencoba memeriksa koran tersebut
'Ayah, masih ada halaman yang belum kita periksa' Ia berteriak mencegah ayahnya berjalan lebih jauh lagi.
 

Bersama-bersama mereka memeriksa halaman tersebut dan ternyata nama 'Alif Fikri' tertera. Serentak mereka melakukan sujud syukur di tepi jalan raya, tempat mereka menunggu bis Harmoni yang terbiasa lewat.


Perjalanan Alif menuju Bandung untuk melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro pun dimulai, Ia mengambil jurusan Hubungan Internasional. Sang ayah membekalinya sebuah sepatu yang didapatkan dari menjual motor butut satu-satunya yang Ia miliki. Perpisahan yang mengharukan terjadi. Sang ayah memeluk Alif sangat lama sekali, seperti merasakan bahwa itulah pelukan terakhir untuk anaknya. Sang ibu juga berpesan "Di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung. Berbuat baiklah di tempat lain."
 

Sebuah payung berwarna merah tiba-tiba terlempar menghampiri Alif. Hujan yang cukup deras membuatnya ingin memakai payung tersebut. "Itu payung saya" sebuah suara perempuan membuatnya mendongakkan kepala. Perempuan yang kemudian Ia kenal dengan nama Raissa.


Sebuah majalah kampus menjadi tujuan Alif untuk bergabung dengan kelompok Unit Kegiatan Mahasiswa tersebut. Berbekal dengan kemampuan yang Ia miliki saat masih menimba ilmu di Pondok Madani. Ia pun memberanikan diri mendaftar.


"Kamu yakin mau menulis?" Bang Tohar pimpinan dari unit tersebut bertanya tanpa menatap Alif yang sudah duduk di ruangan.
"Saya ingin pergi ke Amerika Bang, seperti foto Abang itu" tangannya menunjuk foto  Bang Tohar yang terpampang di atas lemari. Sebuah foto yang memiliki daya tarik bagi Alif
"Itu bukan Amerika, itu Australia."
"Iya bang, saya ingin ke luar negeri."
"Baiklah aku akan melihat kemampuanmu. Sekarang kamu bisa menulis di sini."
"Sekarang bang?" Alif mencoba meyakinkan
"Ya sekarang, mau besok?"


Alif mulai menulis pada sebuah lembar kertas, yang kemudian mendapatkan predikat tulisan 'sampah' oleh Bang Tohar. Ia pun diberikan kesempatan lagi untuk menulis, namun harus menggunakan referensi yang tepat sehingga tulisan itu nantinya tidak hanya terbit di majalah kampus melainkan media cetak. Kesungguhan dan usaha keras Alif membuahkan hasil. Tulisannya kini dimuat di koran.


Sebuah telegram datang, mengabarkan bahwa sang ayah sakit keras. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang sementara waktu. Takdir tak dapat dielakan lagi, sang ayah akhirnya meninggal dunia meninggalkan keluarga mereka. Demi melihat sang ibu yang berjuang keras mencukupi kebutuhannya dan adik-adik, Alif berencana untuk tidak melanjutkan kuliah yang tengah Ia jalani. 


"Ayahmu itu selalu menenteng tulisanmu ini ketika bertemu dengan teman-temannya. Ia merasa bangga dengamu Lif." Sebuah potongan koran terpampang di sebuah figora. Tulisan Alif di dalamnya.
"Ibu bisa bekerja keras kebutuhan kalian atau ibu juga bisa berhutang ke siapapun untuk mencukupi kebutuhan kalian. Jadi jangan berhenti Lif. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai."


Segala macam pekerjaan Alif lakukan untuk membantu biaya kuliah dan kebutuhan adik-adiknya di rumah. Mulai dari menjadi pelayan di rumah makan dan berjualan kain khas Padang yang Ia jual di ibu-ibu PKK. Malang tak dapat dihindar. Ia mendapatkan perampokan, semua barang dan uang yang Ia bawa ludes.


Hal ini yang menjadikan Alif berada pada titik terendah hidupnya. Ia mulai kalut dengan apa yang terjadi. Nelangsa hidupnya semakin memuncak. Ditinggal pergi sang ayah dan kesialan yang dialami membuatnya tidak semangat menjalan hari-harinya. Ia putus asa.



Raissa mencoba membujuk Alif untuk kembali kuliah. Namun Ia masih bergeming. Bang Tohar kemudian memberikan sepucuk surat kepada Alif saat Ia berkunjung ke Unit Bang Tohar. Ia baca, air matanya kemudian mengalir. Itu adalah sebuah surat yang ayahnya kirimkan langsung ke Bang Tohar. Sebagi bentuk terima kasih telah mau menerima Alif menulis di tempatnya. Sejak saat itu Alif bersemangat kembali untuk memperjuangkan apa yang Ia cita-citakan.


Waktu terus berjalan, sebuah informasi pertukaran pelajar sedang diadakan.
"Wah bagus sekali ini Lif, kamu mau ikut ini ngga?" Rusdi teman Alif mengambil sebuah selebaran yang menempel di dinding kos mereka.
"Kemana?" tanya Alif tidak bersemangat.
"Kanada"
"Ngga tertarik. Aku maunya ke Amerika bukan ke Kanada."
"Kamu bagaimana sih. Kanada kan bagian dari benua Amerika" tergelak Rusdi menertawakan tanggapan dari Alif.


Setelah melalui seleksi ketat, Alif, Raissa, dan Rusdi akhirnya menjadi bagian dari mahasiswa yang menerima kesempatan untuk pertukaran pelajar. Jordan menjadi tempat mereka transit untuk beberapa saat. Di sana ternyata Alif bertemu dengan ust. Salman yang merupakan gurunya saat di pesantren dulu.
Sang ustadz membawa ALif, Rusdi dan Raissa pergi ke barak pengungsi. Di sana mereka membagikan bantuan. Saat akan kembali seorang Ibu menangis meminta dicarikan anaknya yang terpisah kepada Raissa. Selembar foto menjadi petunjuk bagaimana rupa anak yang Ia cari tersebut. 


Sebuah bom terdengar ketika rombongan Alif beranjak dari barak. Rentetan senopi tak kalah mengagetkan mereka. Sebuah peluru tiba-tiba merangsek mengenai tepat kepala salah satu relawan yang ikut di dalam mobil. Raissa menangis ketakutan. Kejadian yang baru saja mereka alami membuat agenda mereka di Jordan dipercepat.


Kanada menjadi tujuan utama dari kegiatan pertukaran perlajar itu. Alif ditempatkan di sebuah lokasi peternakan. Tempat yang sangat tidak Ia sukai, Ia ingin bekerja di dunia pertelevisian meliput berita seperti Raissa, atau Rusdi di pemerintahan. Nyatanya sudah terbang jauh ke Kananda, Ia hanya mendapatkan kesempatan membersihkan kandang dan memberi makan ternak.


Setelah beberapa waktu berlalu, Alif memutuskan untuk mundur daripada harus terus berurusan dengan kotoran sapi. Segera Ia pergi pertemu si pemilik, tak sengaja Ia mendengar jika peternakan akan segera disita. Ia yang merasa kasihan dengan pemilik peternakan tak berani lagi mengajukan mundur dari aktivitas yang telah ia lakukan sejak datang meskipun akhirnya Ia tahu jika posisinya tertukar oleh Francois Pepin. Seharusnya Ia yang berada di dunia pertelevisian, namun Ia masih tidak  mau bertukar tempat. Ia sudah bisa menerima.


Untuk mencegah disitanya lahan peternakan, Alif meminta Raissa dan Pepin untuk mewancarai pemilik. Setelah tayangan wawancara mereka mengudara, peternakan tersebut tidak jadi disita. Yang lebih mengagumkan lagi ternyata pemilik peternakan mengenal seseorang yang ada di foto yang mereka miliki. 


Diantarkan oleh Pepin, Raissa dan Alif akhirnya pergi ke rumah orang yang telah mengadopsi Laila, gadis yang mereka cari selama ini. Gadis yang sangat di rindukan ibunya, yang mampu mereka temukan melalui selembar foto yang Raissa dapatkan di barak pengungsian.


Long story short. Mereka akhirnya lulus dari perkuliahan. Alif melanjutkan hidupnya dengan menjadi seorang wartawan. Sedangkan Raissa dan Randai melanjutkan hidup mereka di Jepang. Mereka berencana menikah dan melanjutkan kerja serta kuliah di sana. Film pun ditutup dengan seorang wanita yang menggandeng tangan Alif di sebuah gedung putih Amerika.


**

PoV
Menurut saya, buku asli memiliki cerita yang lebih komplek. Banyak bagian yang diganti, yang mungkin menyesuaikan dengan durasi film dan kesesuaian cerita. Meskipun inti dari film masih sama dengan buku, namun ada baiknya kita juga membaca bukunya jika ingin mendapatkan cerita yang sebenarnya

Pilihan

 “Bu, maaf, apakah saya bisa mengambil gajian saya lebih awal?” gugup, jantungku berdetak tak karuan.
“Mau buat apa?. Kamu di sini baru kerja dua bulan lho” Ibu bos tempatku bekerja masih tak mengalihkan pandangan dari struk pembelian barang yang sedang Ia hitung jumlahnya dengan kalkulator.
“I..itu bu, ibu saya masuk rumah sakit. Jadi saya butuh uang untuk saya kirimkan” Sepi tidak ada jawaban. Dua bulan sudah aku bekerja di toko bahan bangunan ini. Seorang tetangga mengenalkanku dengan pemilik toko yang sedang membutuhkan karyawan. Jarak dari rumahku cukup jauh, sekitar enam jam dengan menggunakan bus.
“Gajimu tidak bisa aku berikan semua. Hanya setengahnya saja. Bagaimana?” Aku masih terdiam berfikir  jika menggunakan semua gaji saja masih belum bisa menutupi semua biaya rumah sakit apalagi hanya setengah saja. Tabunganku juga hanya ada dua ratus ribu. Itu pun untuk biaya makanku bulan ini.
“Mau nggak? Aku ngga mau ambil resiko ya. Jangan sampai setelah aku berikan gaji full, kamu malah kabur ngga lanjut kerja lagi. Seperti dua anak yang kabur kemarin” kesal, aku ingin berteriak demi mendengar jawaban darinya. Benar, aku ingin berhenti kerja, tapi tidak dengan melarikan diri.
“Baik bu. Setengah dari gaji saja.” Otakku berputar, harus pinjam uang dari siapa untuk melunasi biaya opname ibu. Karena penyakit lambungnya, tiga hari sudah Ibuku di rumah sakit. Satu-satunya harta yang kami miliki di rumah hanya sebidang sawah dan induk kambing, yang anaknya ibu jual sebagai bekalku bekerja. Tak mungkin juga kami menjual sawah satu-satunya yang kami miliki. Pilihannya hanya menjual induk kambing yang tersisa.
    Langit temaram mulai datang menghalau kilau cahaya matahari. Bunyi klakson kendaran di lampu merah saling bersahutan, seakan-akan ingin menerobos saling mendahului. Aku duduk di sebuah kursi di samping jalan menikmati lalu-lalang kendaraan.
    Kota ini seakan tidak pernah tidur. Hilir mudik kendaraan tak pernah sepi. Tak heran mengapa  kota ini dijuluki sebagai kota Industri yang upah tenaga kerjanya saja setara dengan UMR Ibu kota. Jangan tanya mengenai gajiku. Hanya lulusan SMP dan tak memiliki pengalaman kerja sama sekali, membuatku tidak bisa menawar besaran gaji yang diberikan. Diterima kerja saja sudah untung bagiku.
    Bekerja di toko ini sebenarnya membuatku tidak nyaman. Lalu lalang sopir yang membeli bahan bangunan yang terkadang menggoda membuatku risih. Bahkan secara terang-terangan mereka meminta nomor handphone ku ke ibu bos sebab tak pernah aku gubris ketika mereka meminta nomorku secara langsung.
**
    Minggu dini hari. Mataku masih tak jua mau terpenjam. Sepi, hanya detik jarum jam yang terdengar jelas.  “Duh Gusti, bagaimana ini. Aku harus cari pekerjaan yang lain.” Aku sungguh ingin ke luar dari pekerjaan ini. Dua minggu lagi, lima bulan sudah aku bekerja di toko ini. Aku sudah berusaha untuk bertahan, namun aku sudah tidak kuat lagi.
“Halo mba, boleh kenalan” seorang laki-laki yang sedang menaiki motor tiba-tiba ada disamping trotoar tempatku jalan.
“Maaf siapa ya?”
“Mba ngga ingat saya ya. Itu lho yang kemarin kita bertemu di toko bangunan.” Ia menyeringai, membuat bulu kudukku berdiri.
“Maaf saya tidak ingat.”
“Boleh minta nomor hpnya mba?. Mba orang mana?” Aku bergeming tidak menjawab.
“Jangan jual mahal mba. Nanti ngga laku lho.” Tiba-tiba Ia menarik tanganku. Mencegahku untuk berjalan lebih cepat lagi. Jantungku berdetak kencang. Tanganku mengepal ketakutan. Warning tanda bahaya sudah menyala.
“Ayo mba saya antarkan pulang pakai motor. Capek nanti kalau jalan kaki.” Ia masih memaksaku. Kini Ia menarikku ke arah motor bagian belakang agar aku mau duduk di sana.
“Maaf mas, saya sudah pesan ojek.” Aku yang tidak sedang memesan ojek, tiba-tiba melambaikan tangan pada abang ojek yang kebetulan lewat. Mungkin karena Ia iba melihat tampangku yang ingin menangis, Ia akhirnya berhenti. Tanpa ba bi bu aku minta abang ojek untuk tancap gas. Motor pun melaju meninggalkan supir yang mencoba menggodaku tadi.
“Mba maaf kalau tidak pakai aplikasi saya tidak bisa mengantarkan.” Aku yang masih gemetaran tersadar.
“Maaf bang, saya turun di depan saja ya. Saya bayar sesuai tarif di aplikasi.” Suaraku masih bergetar. Tidak ada jawaban dari abang ojek. Kendaraan pun masih melaju

Hidup adalah sebuah pilihan (Pict Jolijolidesign)


“Turun di sini bang. Berapa ongkosnya?”
“Ngga usah mba. Saya baru sadar dengan apa yang mba alami tadi. Lain kali hati-hati ya mba. Mba bisa berteriak minta tolong ke orang-orang yang ada di sekitar jika ada hal yang membahayakan. Atau bisa juga seperti yang mba lakukan tadi.”
    Jalanan yang aku lalui saat pulang memang sepi, jarang sekali ada kendaraan yang lewat. Beruntung hari ini ada abang ojek yang kembali dari mengantarkan penumpang.
“Mungkin mba bisa pindah kos saja. Kalau-kalau orang tadi masih mengikuti mba besoknya.”  Ia kemudian pergi tanpa mau aku bayar.
    Segera aku berlari memasuki kos. Takut jika sang sopir masih mengikutiku. Kejadian beberapa minggu yang lalu itu membuatku yakin untuk segera mengundurkan diri. Meskipun aku tahu ibu bos akan marah besar karena aku mengundurkan diri secara tiba-tiba, namun setidaknya aku sudah menginfokan lebih awal.
**
    Matahari kian menyengat, udara pun tak mengirimkan angin segarnya. Dua hari sudah aku mencari pekerjaan, namun tak jua kunjung aku dapatkan. Tiga hari lalu aku memutuskan untuk berhenti kerja. Seperti yang sudah aku kira, ibu bos masih tidak mengizinkanku, meskipun sudah aku infokan sejak lama namun tetap saja responnya sama.
“Itu hanya masalah kecil La. Kamu sudah besar pasti bisa jaga diri. Masa karena digoda seperti itu saja kamu mau berhenti kerja.”
“Maaf bu.” Aku hanya meminta maaf. Sekedar formalitas yang harus aku lakukan. Aku yakin jika anak ibu bos yang mengalami hal yang sama, pasti Ia sudah melaporkan pelaku ke polisi.
“Kamu itu sekolahnya ngga tinggi. Mana ada yang mau menerimamu bekerja. Paling-paling nanti juga jadi babu. Sudah untung kamu aku terima bekerja di sini. Namanya bekerja pasti ada resiko.” Ibu bos masih mencoba menahanku dengan kata-kata menyakitkan yang Ia lontarkan.
“Kerja di sini gajinya lebih besar daripada tempat lain. Kamu juga bisa mengirim uang ke desa. Kurang apa lagi? kejadian kemarin kan masih aman, kamu juga tidak kenapa-napa.”
“Maaf bu. Kalau misalnya anak ibu yang ada di posisi saya. Apa ibu juga akan berfikiran sama?” Diam tidak ada balasan.
“Ya sudah kamu bisa berhenti”
“Terima kasih bu sudah mau menerima saya bekerja di sini sebelumnya. Saya pamit. Semoga usaha toko ibu semakin lancar.”
“Kalau anakku pasti ngga akan kerja rendahan seperti ini. Dia pasti berkerja di tempat yang bagus dan aman. Dasar ngga tau berterima kasih” pelan, namun suara ibu bos sudah cukup jelas di telingaku. Inginku berlari dan menghampirinya, namun sudahlah. Lupakan saja. Toh bisa ke luar dari tempat kerja ini sangat aku syukuri.
    Namun, ternyata tidak semudah itu mendapatkan perkerjaan. Dua hari ini sudah lima tempat aku datangi, namun tidak ada yang menghubungi nomor hp ku setelah aku menitipkan lamaran pekerjaan di tempat itu.
“Mba, es jeruknya satu ya” udara sangat terik, membuatku ingin menikmati minuman dingin. Sebuah warung makan menjadi tujuanku. Warung ini terlihat ramai dengan pembeli. Bahkan ada banyak pelayan wanita yang seumuran denganku.
“Ini mba”  kuperhatikan sekeliling. Untuk warung yang berukuran tidak terlalu besar seperti ini saja, pemilik mempekerjakan lima orang. Pasti warung ini sangat ramai pembeli.
“Mba, warungnya ramai sekali ya” tanyaku penasaran.
“Wah kalau malam biasanya tambah ramai mba” aku hanya mengangguk.
“Mba sudah lama kerja di sini?”
“Baru sebulan mba. Kenapa, mba tertarik kerja di sini?” aku diam, berfikir, mungkin aku bisa berkerja di sini juga.
“Gajinya berapa mba?”
“Satu juta” mataku mengernyit. Itu nominal yang besar tidak jauh berbeda dengan pekerjaanku sebelumnya.
“Sebenarnya gaji dari warung kecil. Tapi ada bonusnya kalau mau melakukan hal lain” Jawabnya dengan tersenyum.
“Apa mba?” Ia kemudian berbisik, “kita haru mau memangku pelanggan.”
Aku terdiam tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh si pelayan.
“Kalau ada pelanggan yang mau karaoke, mereka akan memberikan kita bonus, asalkan kita mau duduk dipangkuan mereka.” Ia menjelaskan dengan suara lirih.
“Bonusnya terserah mereka. Kita juga bisa memasang tarif kalau kita sudah bekerja di sini selama satu tahun. Jadi, gaji satu juta itu hanya untuk anak baru. Untuk pelayan yang lama, mereka bahkan dapat dua juta lebih”
Otakku berputar. Mencerna segala informasi yang diberikan si pelayan.
 “Kalau gajinya besar, kenapa tidak ada info lowongan kerja di depan warung?”
Si pelayan terkekeh, “Kalau kami memasang info lowongan kerja, yang ada kami langsung di tangkap polisi mba”
Aku edarkan pandanganku kembali ke dalam warung.
“Itu, tidak ada orang yang pangku-pangkuan mba?”
“Ya ngga kelihatan kalau dari luar. Tempat karaoke plus plusnya ada di dalam.”
    Tik...tok..tik..aku mulai tersadar dengan apa yang terjadi. Aku pun langsung menghabiskan es jeruk yang tinggal setengah, kemudian pamit pergi setelah membayar minuman yang aku pesan.
“Sama saja jatuh ke dalam jurang yang sama kalau aku kerja di sini. Bahkan di sini lebih menakutkan dari tempat sebelumnya.” Kataku di dalam hati.
    Tepat hari kesepuluh barulah aku mendapatkan perkerjaan di sebuah konveksi kecil. Gaji yang ditawarkan lebih kecil jika dibandingkan dengan tempat sebelumnya, karena tugas ku bukan sebagai penjahit melainkan membantu membuang benang yang masih menempel pada baju yang dijahit.
    Yang membuatku nyaman bekerja di tempat ini adalah pekerja di tempat ini semuanya perempuan serta sang pemilik menawaran tempat tinggal untuk karyawan yang rumahnya jauh. Sehingga hal ini bisa mengurangi biaya hidup untuk tempat tinggal dan untuk biaya makan, aku bisa memasak di tempat ini. Siang harinya, pemilik juga menyediakan makan siang gratis.
    Jika aku bekerja di tempat pertama dan menerima tawaran bekerja di tempat kedua, mungkin aku bisa mendapatkan gaji yang lebih besar. Namun, hatiku tidak tenang. Dan bisa saja gaji yang aku dapatkan malah menjadi sumber bencana untuk keluargaku juga. Berawal dari buang benang, aku berharap juga bisa belajar menjahit di tempat ini. Hal baru yang aku cita-citakan agar nanti bisa membuka konveksi juga saat kembali ke kampung halaman nanti.
    Hidup ini tentang pilihan, kita sendiri yang akan menentukan, pilihan mana yang membuat kita nyaman dan bahagia.

Review Buku: Hijrah Ektrem

 Assalamu'alaikum, kembali lagi dengan topik review buku. Kali ini saya mereview buku dengan judul 'Hijrah Ekstrem'. Sesuai dengan judulnya, buku ini memang benar-benar 'ekstrem', seperti jalan cerita dalam dunia persinetronan yang penuh dengan drama. Bahkan begitu dramanya perjalanan kehidupan Penulis, Ia menambahkan kata 'Drama' pada setiap bab yang Ia tuliskan.


Hijrah Ekstrem merupakan sebuah buku non fiksi karya Mirani Mauliza. Berisikan kisah inspiratif, kisah nyata dari sang penulis. Buku best seller yang saya baca ini merupakan buku cetakan yang ke-8, diterbitkan pada bulan Mei 2021 dengan jumlah 198 halaman. Buku ini juga dilengkapi tabel riyadoh yang bisa digunakan untuk mengecek amalan ibadah yang kita kerjakan.
 

Hijrah untuk kehidupan dunia akhirat yang lebih baik

Review Buku
Mirani Mauliza atau lebih dikenal dengan sapaan Mira merupakan perempuan yang lahir di Kota Medan. Ayahnya merupakan seorang Kolonel dengan pangkat yang disegani dan sang ibu merupakan istri ke-3 yang sang ayah nikahi setelah menceraikan istri ke-2. Namun, keberadaan ibu Mira ini disembunyikan atau tidak diakui secara publik, hanya istri pertama saja yang diakui secara sah. 


Kesibukan sebagai abdi negara, kehidupan dengan istri pertama menjadikan hubungan sang ayah dengan Mira bersaudara 'terabaikan'. Peliknya hubungan yang tidak bisa ditunjukkan ke khalayak ramai serta kurangnya kasih sayang yang Ibu dan Mira dapatkan, membuat pernikahan kedua orang tua Mira harus berakhir. Sang Ibu harus memilih melanjutkan hubungan dengan sang Ayah yang tidak ada kejelasan akan kebahagiaan atau harus rela melepaskan dan berjuang sendirian.


Perpisahan ini membuka drama kehidupan yang mengiris hati. Setelah kedua orang tua Mira bercerai, sang ayah merasa tidak rela kehilangan Mira dan sang adik (Mira saat itu masih sekolah di Taman Kanak-Kanak). Sehingga pada suatu hari terjadi penculikan yang dilakukan sang ayah terhadap Mira dan sang adik. Dengan berdalih mengajak main ke rumah saudara, sang Ayah malah membawa Mira dan sang adik selama tiga hari tanpa memberi kabar telebih dahulu kepada ibu Mira. Dan hal ini baru Mira ketahui ketika sang ibu dan polisi menjemput mereka.


Kehidupan kemudian membawa Mira dan keluarga ke Kota Pontianak. Di kota inilah akhirnya sang ibu menemukan tambatan hati dan akhirnya menikah kembali dengan seorang yang kelak Mira dan sang kakak panggil 'Buya' (adik Mira meninggal dunia beberapa hari setelah penculikan). Di Kota ini, keluarga Mira harus berjuangan keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga memaksa Mira harus ikut berjualan keripik di pasar dengan sang Ibu.


Perasaan bersalah sang Ayah karena pernah menelantarkan Mira dan kakak sewaktu kecil membuatnya memberikan fasilitas terbaik ketika Mira (saat SMP) dan sang kakak untuk melanjutkan sekolah di Medan. Uang saku yang berlimpah, rumah yang besar membuat kehidupan dua bersaudara berubah total. Kurangnya pengawasan membuat kehidupan Mira bebas, bahkan Ia menjadi pengunjung diskotek diusianya yang masih belia. Kehidupan malam dan minuman keras menjadi hal biasa yang Ia lakukan, bahkan hingga perkuliahan.


Kehidupan yang Ia jalani di Medan, ternyata tidak membuat Mira bahagia. Akhirnya Ia memutuskan untuk pindah ke Pekanbaru, kota yang menjadi tempat Umi dan Abahnya kemudian tinggal. Ia mencoba melupakan segala rasa sakit yang Ia alami selama di Medan dan mencoba memulai babak kehidupan baru, setelah sebelumnya Ia mencoba mengakhiri hidupnya atas permasalahan yang Ia hadapi di sana.


Setelah lulus Ia mencoba bisnis Multi Level Marketing (MLM) yang menempatkan Ia menjadi sosok yang sangat sukses, hingga Ia sering diundang stasiun televisi untuk menceritakan kisah suksesnya. Namanya sangat terkenal, sepak terjangnya tidak diragukan lagi. Namun, kehidupan membawa cerita yang berbeda. Setelah berada pada puncak kejayaan, Ia harus merasakan perihnya terjatuh dalam kepiluan.


Bisnis yang Ia jalani megalami kebangkrutan. Penipuan dari rekan kerja membuat Mira harus menanggung puluhan milyar hutang, yang menjadikan Ia buronan para debt collector sewaan dari para investor. Hingga akhirnya Ia harus menerima pil pahit untuk dipenjara menebus apa yang Ia lakukan. Ia dipenjara saat usia pernikahannya baru berumur satu bulan. Jika dulu namanya terkenal dengan sebuatan pebisnis muda, namun berubah sebagai seorang 'penipu' yang menggelapkan dana.

Drama perjalanan kehidupan yang Mira alami ternyata tidak sampai di sini. Setelah keluar dari penjara, Ia harus kembali terseok kembali. Mira mengalami penipuan senilai 1 Milyar, saat Ia dan sang suami ingin membangun rumah. Tidak sampai di sini, Mira juga didiagnosis mengidap Leukimia yang membuat kehidupannya semakin berat.

Tabel riyadoh, catatan ibadah yang dilakukan penulis


Setelah mengalami jatuh bangun dalam kehidupan, saat ini Mira tumbuh menjadi sesosok pengusaha yang telah banyak menginspirasi banyak kalangan, termasuk di dalamnya memberikan motivasi kepada para narapidana di penjara. Ia juga aktif dalam kegiatan keagaaman dan telah banyak hal positif lainnya yang Ia lakukan.


My Point of View
Membaca buku ini membuat saya berfikir, cerita kehidupan seseorang terkadang lebih 'kejam' daripada cerita-cerita yang banyak difilmkan di televisi. Selain itu, kisah 'happiness' seseorang ternyata hanya tampak ujungnya saja, di balik itu semua ada liku perih perjalanan yang harus dilewati. 


Apa yang saya tuliskan di dalam review ini tidak cukup merangkumkan semua kisah yang penulis sampaikan. Jika kamu ingin larut dalam kisah kehidupan yang membuat hati teraduk serta termotivasi, maka kamu wajib membaca buku ini. Selamat membaca