The Unexpected Journey: Mencoba Kereta Commuter Lokal, Stasiun Indro-Pasar Turi

Tags

Jalanan masih cukup ramai. Weekend seperti ini, beberapa orang biasanya berolahraga seperti, cycling, jogging dan senam bersama. Tidak seperti minggu lalu, hari ini saya memutuskan untuk senam di kost saja. Selain karena ingin melipir ke tempat lain, senam di kost jauh lebih leluasa bagi  perempuan menurut saya :D.

Terima kasih Pak Satpam yang sudah membantu memfotokan saya :D


Seusai senam, saya berencana ke Stasiun Indro yang ada di Gresik. Jaraknya sekitar lima belas menit dari kost, berdasarkan info yang saya dapatkan dari google. Setelahnya, saya ingin mampir ke penjual sayur dan melakukan aktivitas lain kemudian.


Setelah beberapa kali tersasar, tak menemukan rute yang tepat menuju stasiun, akhirnya saya menggunakan cara lama, bertanya kepada orang letak stasiun yang sebenarnya. Ini memang bukan pertama kalinya saya pergi ke stasiun Indro, namun di memori saya, entah mengapa lokasi stasiun ini sudah menguap, tak meninggalkan sisa, karena sudah berlalu berberapa tahun yang lalu saya bepergian dibonceng seorang teman (biasanya memang seperti itu, kita tidak peduli dengan jalan yang kita lalui, jika kita bukan yang berkendara di depan).


Akhirnya saya ditunjukkan dengan jalan yang benar, setelah sebelumnya saya malah putar balik di jalan yang sudah benar menuju stasiun tersebut :D. Saat memasuki stasiun, warga akan menanyakan apa tujuan kita. Misalnya hanya mengantarkan saja atau memang akan pergi menggunakan kereta. Jika hanya mengantarkan saya, pengunjung akan dikenai biaya dua ribu rupiah. Jika parkir di dalam untuk bepergian, kita akan dikenai biaya parkir dua ribu di awal masuk dan tiga ribu saat kita mengambil motor kita, total lima ribu rupiah. Untuk mobil lima ribu saat mengantar saja dan sepuluh ribu rupiah jika kita parkir tetap di dalam area parkir.


Perjalanan tak terduga akhirnya dimulai. Begitu melihat gerbong kereta yang seakan menunggu kedatangan saya, hati saya tergoda :D. Bimbang. Berangkat, mencoba naik kereta ini atau tidak. Sesuai dengan rencana yang saya uraikan di atas. Saya hanya ingin mengetahui lokasi stasiun, agar nanti ketika saya ingin bepergian ke mana saja dari stasiun ini, saya tidak tersasar. Namun, godaan terlalu berat ternyata.


Saya kemudian memutuskan untuk membeli tiket kereta. Pembelian tiket ini dapat menggukanan KTP/SIM/Kartu Vaksin atau bisa juga membeli tiket secara online menggunakan aplikasi KAI. Pada tiket yang saya dapatkan, terdapat keterangan apakah saya sudah melakukan vaksinasi atau tidak. Saya kurang tahu, apakah bagi teman-teman yang belum mendapatkan vaksin bisa tidak untuk mencoba moda transportasi ini.

Jadwal Operasional Kereta Api Komuter

Kereta Api Komuter, begitu petugas KAI menyebut kereta yang akan saya tumpangi. Kereta ini tidak berbeda dengan kereta ekonomi yang mungkin pernah kamu coba ketika bepergian. Jika pada kereta ekonomi, misalnya kereta Darmawangsa, terdapat tempat duduk yang berisi penumpang tiga orang di sebelah kanan, saling berhadapan, dan dua orang di sebelah kiri berhadapan. Maka di kereta commuter ini, tempat duduk hanya berisi dua orang, empat orang total dengan posisi duduk saling berhadapan.


Kereta berangkat mulai pukul 8.45 WIB. Kereta ini hanya menyediakan empat gerbong. Beberapa stasiun yang dilewati seperti St. Indro, Kandangan, Tandes, Surabaya Pasar Turi, Surabaya Gubeng, Wonokromo, Waru, Gedangan, dan Sidoarjo. Harga tiket untuk semua tujuan sama, lima ribu rupiah.
Kereta Api Komuter ini berbeda dengan  Kereta Commuter Line yang beroperasi di Jabodetabek. Stasiun yang dilewati juga tidak banyak. Maklum saja, KA Komuter ini baru beroperasi tahun 2020, saat covid menyerang beberapa tahun lalu. Stasiun Indro ini memang sudah dibangun sejak lama, namun saya kurang tahu diperuntukkan untuk apa stasiun ini sebelumnya.

Bebas memilih tempat duduk

Jika kita ingin mengeksplore lebih jauh lagi, menurut info dari beberapa mahasiwa  yang  kami sempat bercakap-cakap di dalam gerbong. Kita harus turun di Stasiun Gubeng. Dari stasiun ini kita bisa mencoba kereta lokal jurusan Mojokerto dan Tulungagung (Semoga suatu saat saya bisa mencobanya juga :D).


Selain keberadaan Bus Trans Jatim, keberadaan KA Komuter di kota Gresik memberikan kemudahan untuk bepergian bagi warga. Saat saya mencoba moda transportasi ini, beberapa anak kecil dengan orang tua atau sanak saudara, tampak ramai memenuhi stasiun. Berpergian, liburan, atau sekedar menyenangkan hati sang anak, mungkin saja. Beberapa lainnya, mungkin ingin bepergian menonton cosplay yang saat itu berlangsung di Wonokromo (tujuan perjalanan dari rombongan mahasiswa yang duduk di samping-depan saya), berbelanja ke Pasar Turi, atau hanya ingin jalan-jalan saja seperti saya :D.


Saat kembali ke kota Gresik, saya mengambil kereta dengan keberangkatan pukul 11.30 WIB (cukup singkat dari jadwal waktu kedatangan saya di St. Pasar Turi). Sebenarnya ada tiga jam keberangkatan lain, pukul 11.30, 13. 30 dan 16.30 WIB. Jika perjalanan ini sudah direncanakan sebelumnya, mungkin saya memilih waktu kembali yang terakhir. Mungkin.


Berbeda dengan kereta yang kami gunakan saat berangkat, saat kembali ke Gresik, kami menggunakan  KA Komuter dengan warna yang berbeda, warna hijau. Pada bagian tengah terdapat gantungan yang digunakan untuk berpegangan. Mirip dengan yang ada di dalam KRL atau Bus Trans Jatim. Kereta ini (warna hijau) mungkin dioperasikan pada pagi hari saat hari kerja. Waktu di mana penumpang yang berangkat kerja membludak.


Bepergian sendirian memang bukan hal baru bagi saya. Namun tidak dengan tanpa persiapan sama sekali. Sebuah goody bag dengan isi dompet lengkap (padahal hanya ada uang tujuh puluh ribu di dalamnya), sebuah kamera poket dan hp dengan baterai yang hanya tersisa lima puluh tujuh persen menemani perjalanan tak terduga kemarin. Tidak lupa, pakaian yang layak untuk berpergian jauh juga saya kenakan. Entah kenapa kemarin berbeda. Padahal biasanya, kalau hanya ke penjual sayur, saya sering mengenakan jilban langsungan yang dipadukan dengan jaket (ciri anak kost, hihi).

Kereta Api Komuter

Namun, perjalanan yang Allah rencakan untuk saya ini, ternyata sangat mengasyikkan. Padahal sebelumnya, saya berencana ingin bepergian dengan teman-teman. Namun, Allah mempunyai jalan cerita lain.

 
Oh ya. Setelah sampai di stasiun Pasar Turi, saya langsung melipir ke luar stasiun. Saya mencari kios penjual buku bekas yang infonya saya dapatkan malam hari sebelumnya. Ternyata banyak toko buku bekas di luar stasiun. Toko buku bekas 'Kampung Ilmu' yang sudah sangat terkenal di kalangan para pencinta buku menjadi tujuan saya. Lokasinya berjarak sekitar seratus lima puluh meter dari stasiun Pasar Turi. Perjalan menuju toko buku ini, insyaAllah akan saya tuliskan pada artikel berikutnya.


Rute mudah menuju stasiun Indro: Dari lampu merah perempatan Mac Donald (meskipun sekarang sudah tutup), atau perempatan tugu Wilmart, ambil jalan lurus. Jauh sebelum sampai pabrik Wilmart, ada perempatan, ambil jalan lurus. Stasiun Indro ada di sebelah kanan. Semoga rute ini memudahkan :D.

Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon