Dampak Mengerikan Polusi Terhadap Perubahan Iklim

Di Indonesia, saat ini sudah memasuki musim hujan. Dibeberapa wilayah bahkan mengalami banjir dan longsor sehingga mengakibatkan kerusakan dan kehilangan harta benda, bahkan kehilangan nyawa sanak saudara. Berbeda dengan kota lain, di kota kami--Kota Industri begitu kami menyebutnya, hujan masih ragu-ragu untuk turun ke bumi. Kota dengan tujuan investasi nomor 2 di Indonesia ini memiliki pabrik yang jumlahnya ribuan. Semakin banyak pabrik, maka semakin banyak juga kendaraan para pekerja yang memenuhi jalan raya yang juga menyumbang polusi di kota ini yang mengakibatkan ketidakmerataan curah hujan yang merupakan salah satu sebab dari pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim.

Air terjun yang berubah warna saat banjir

Perubahan iklim adalah fenomena perubahan iklim global yang disebabkan oleh pemanasan global akibat meningkatnya kosentarasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Kosentrasi GRK yang lebih tinggi membuat atmosfer lebih tebal. Lapisan atmosfer yang lebih tebal meningkatkan jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer, sehingga meningkatkan suhu planet yang dikenal dengan pemanasan global. Dalam 30 tahun terakhir terjadi peningkatan GRK yang disebabkan semakin meningkatnya aktivitas manusia (Ditjenppi). Selimut polusi membuat bumi semakin panas dan menyebabkan perubahan iklim.


GRK merupakan istilah kolektif untuk gas-gas yang memiliki efek rumah kaca, seperti Karbon Dioksida (CO2), Metana (CH4), Hidro Flurocarbon (HFCs), Dinitrogen Mono Oksida (N2O), Sulfur Hexaflorida (SF6), dan Perfluoro Karbon (PFCs) (Kusumawardhani dan Gernowo, 2015). Gas karbon dioksida dan metana merupakan dua kontributor utama dalam pembentukan efek rumah kaca dan gas metana memiliki efek rumah kaca 20-30% jauh lebih besar dibanding dengan karbon dioksida (Kusumawardhani dan Gernowo, 2015). Dalam kondisi normal, GRK memiliki dampak yang positif, namun saat ini jumlah GRK sudah sangat berlebih sehingga mengakibatkan berbagai macam kerugian bagi makhluk hidup di bumi (Ditjenppi).

Proses terbentuknya GRK (PPID)

Peningkatan GRK mengakibatkan semakin hangatnya suhu permukaan bumi yang menjadikan iklim di bumi menjadi tidak stabil. #SelimutBumi inilah yang menyebabkan berbagai dampak yang sangat merugikan. Diantaranya pada bidang pertanian, terjadi kegagalan panen akibat dari tingginya curah hujan atau kekeringan yang berkepanjangan; mencairnya es di kutub yang dapat mengakibatkan tenggelamnya rumah-rumah di wilayah pesisir; longsor dan bajir yang diakibatkan oleh pengundulan hutan yang diperuntukan untuk perluasan lahan pertanian dan area pemukiman.


Selain itu efek lain dari perubahan iklim meliputi meningkatnya jenis penyakit, meningkatnya frekuensi bencana alam, ketersediaan air bersih menjadi langka, pergantian musim yang tidak pasti, meningkatnya suhu bumi yang mengakibatkan gelombang panas dan kebakaran hutan dan berbagai dampak lainnya. Dampak tersebut akan mengakibatkan dampak turunan yang dialami oleh masyarakat antara lain kelangkaan pangan dan kemiskinan yang akan semakin dirasakan masyarakat.


Tambak ikan yang kering saat musim kemarau

Penelitian mengenai teknologi penangkapan emisi GRK sudah banyak dilakukan, namun teknologi tersebut sangat mahal serta belum memberikan bukti yang nyata. Hutan menjadi satu-satunya solusi aman dan alami yang dapat menangkap, menjerap dan menyimpan karbon dalam skala besar. Hutan memiliki dampak yang signifikan dalam penyerapan atau spons untuk menyerap emisi yang dikeluarkan oleh asap kendaraan bermotor, asap dan limbah pabrik, pembakaran sampah, tumpukan kotoran hewan ternak dan sumber emisi lainnya.

Pabrik, salah satu penyuplai polusi

Hutan tropis mampu menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar. Sehingga proses pembakaran dan penggundulan hutan dapat membuat karbon-karbon tersebut lepas ke atmosfer dan memperburuk perubahan iklim. Selain sebagai solusi untuk penyerapan emisi, keberadaan hutan juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan ketersediaan air bersih, udara bersih, mencegah banjir, erosi, longsor dan manfaat lainnya.


Sebanyak 195 negara telah menyepakati Perjanjian Paris yang menitiktekankan pada komitmen untuk menjaga suhu bumi tetap berada di bawah 2°C dan membatasi pemanasan global hingga 1.5°C (PPID). Menurut Katadata, suhu permukaan bumi selama satu dekade terakhir telah meningkat hingga 1.02°C yaitu pada tahun 2016 dan 2020. Peningkatan ini dipicu oleh semakin meningkatnya jumlah emisi di atmosfer bumi. Upaya nyata perlu dilakukan, agar peningakatan suhu bumi bisa dicegah demi menjaga perubahan iklim yang dapat menyebabkan kerusakan dan kerugian bagi semua makhluk hidup.

Hutan mangrove salah satu solusi untuk polusi

Upaya pencegahan ini tentu tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah. Sehingga perlu adanya kolaborasi semua pihak, termasuk para #MudaMudiBumi. Hal yang bisa kita lakukan seperti menanam pohon, mengurangi sampah--sehingga mengurangi GRK yang bersumber dari pembakaran sampah, mengurangi penggunaan tisue dan kertas--semakin banyak tisue dan kertas yang digunakan maka semakin banyak pohon yang ditebang.


Selain itu, masyarakat juga dapat menghemat listrik, tidak membuang sampah sembarangan, memanfaatkan kotoran hewan ternak sebagai sumber gas yang dapat menggantikan gas elpiji dan listri, dan kegiatan pencegahan lainnya. Kegiatan ini dapat memberikan dampak yang sangat besar jika dilakukan oleh semua pihak--semua masyarakat turut serta berupaya untuk menjaga agar pemanasan global ini tidak berpkepanjangan. Kegiatan #UntukmuBumiku ini diharapkan dapat memberikan efek positif bagi penurunan GRK di bumi.


Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan jika dapat memiliki suara untuk membuat kebijakan yang dapat mengurangi perubahan iklim sebagai bentuk dari #TeamUpForImpact, diantaranya:
1. Sosialisasi kepada masyarakat akan dampak mengerikan dari perubahan iklim
Informasi mengenai dampak mengerikan dari perubahan iklim dan penyebab yang melatarbelakanginya hanya diketahui oleh beberapa kalangan saja, terutama kalangan pemerhati lingkungan, kementerian atau dinas, dan para pelajar atau mahasiswa.


Ketidaktahuan inilah yang mengakibatkan masyarakat tidak peduli dengan bencana yang mengancam. Hal-hal yang mereka lakukan--yang mereka anggap biasa ternyata memiliki dampak yang sangat berbahaya pada perubahan iklim. Ketika semua masyarakat tahu apa saja yang  menjadi penyebab, dampak, dan cara mengatasi perubahan iklim ini, maka semua pihak dapat bekerja dengan tujuan yang sama.


2. Peraturan pembangunan ruang hijau bagi perusahaan
Kurangnya ruang hijau di kota besar atau kota industri membuat polusi tidak terserap secara sempurna. Selain dokumen Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) saat mendirikan perusahaan, perusahaan juga harus menyepakati pembuatan area hijau di lingkup perusahaan mereka. Semakin luas area perusahaan didirikan, semakin luas juga area hijau pada perusahaan itu harus dibangun.
Area hijau tersebut dapat menjadi solusi untuk penyerapan polusi yang dihasilkan oleh perusahaan mereka, melestarikan lingkungan, serta menjadi salah satu area yang dapat digunakan oleh masyarat untuk berolahraga.


3. Sanksi pembuangan limbah sembarangan
Pembuangan limbah pabrik secara ilegal ke badan air dapat menyebabkan kematian biota air di wilayah tersebut. Hal ini dikarenakan sebagian besar pabrik tidak mau rugi untuk melakukan pengolahan limbah yang biasanya membutuhkan biaya yang besar. Selain ikan, biota air lain yang bisa mengalami kematian adalah fitoplankton. Fitoplankton merupakan penyumbang oksigen terbesar di bumi. Jika perairan tercemar, maka akan semakin sedikit fitoplankton yang hidup dan akibatnya akan semakin sedikit oksigen yang tersedia di udara bebas.


4. Pembatasan penggunaan plastik

Pembatasan penggunan plastik memang sudah sejak lama digalakkan oleh pemerintah. Namun faktanya peraturan tersebut hanya berlangsung beberapa waktu saja. Di area perbelanjaan, masih banyak penjual yang menggunakan kantong plastik. Harga tas belanja yang mahal bagi sebagian kalangan, membuat masyarakat lebih suka membeli barang menggunakan kantong plastik yang sudah disediakan oleh penjual. Pemberian potongan atau tas belanja lipat perlu dilakukan agar masyarakat juga mulai terbiasa untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Kalau perlu, pemerintah dapat membagikan tas lipat gratis bagi masyarakat demi mempercepat penanggulangan perubahan iklim.


5. Sanksi pembuangan sampah sembarangan
Banyak dari masyarakat yang tidak peduli dengan dampak dari pembuangan sampah sembarangan. Beberapa bahkan dengan sengaja membuang sampah beserta dengan karungnya ke sungai, bahkan sampah dalam bentuk besar seperti kasur, bantal, guling, tempat tidur, motor dan lain sebagainya. Tidak adanya sanksi yang tegas membuat masyarakat acuh tak acuh saat membuang sampah mereka secara sembarangan. Bahkan mereka dengan beraninya membuang sampah dari kendaraan mereka, seperti bungkus dan puntung rokok, bungkus makanan minuman, dan sampah lainnya saat kendaraan mereka melaju di jalan.


6. Blasting informasi pemanasan global ke semua media
Perlu kerjasama semua pihak agar perubahan iklim saat ini dapat segera diatasi. Semua media sosial, media cetak, radio, televisi, wajib memberikan informasi tentang pemanasan global yang semakin menakutkan ini. Informasi yang disampaikan diharapkan dapat menjangkau semua kalangan, baik yang ada di perkotaan dan pelosok desa.


Pustaka:
Databoks. NASA: Suhu Permukaan Bumi Naik 0.85°C pada tahun 2021. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/06/09/nasa-suhu-permukaan-bumi-naik-085-c-pada-2021.


Ditjenppi (Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim). Perubahan Iklim. http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/info-iklim/perubahan-iklim.


Kusumawardhani ID dan Gernowo R. 2015. Analisis Perubahan Iklim Berbagai Variabilitas Curah Hujan Dan Emisi Gas Metana (CH4) Dengan Metode Grid Analysis And Display System (GrADS) Di Kabupaten Semarang. Youngster Physical Journal.


PPID. MENLKHK (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). http://ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/298#:~:text=Perjanjian%20Paris%20merupakan%20kesepakatan%20global,%2C%20ditambah%20aksi%20pra%2D2020.


Artikel ini merupakan bagian dari lomba yang diadakan oleh Blogger Perempuan Network dengan tema "Selimut Polusi Membuat Bumi Semakin Panas dan Menyebabkan Perubahan Iklim".



Terima kasih atas komentar dan masukkannya :)
EmoticonEmoticon